MasukYuna melangkah pelan memasuki lantai firma dengan tatapan kosong. Pagi masih terlalu sepi, dan ia memang sengaja datang lebih awal dengan ojek motor. Mobil sedannya masih terparkir di basement gedung, dan ia tidak ingin mengambil risiko bertemu Kai saat harus berangkat dari penthouse.Ia bahkan tidak tahu apakah Kai masih tidur atau sudah bangun. Yang ia tahu, ia tidak sanggup menghadapi pria itu setelah semua yang terjadi semalam.Yuna duduk di meja kerjanya. Pandangannya kosong menatap layar komputer yang belum dinyalakan. Kantuk berat menyerang lantaran ia tak bisa tidur semalaman. Pikirannya terus berputar mengenai pengakuan Kai soal Ayahnya, pelukan ambigu itu, ciuman yang ia balas tanpa sadar, dan obrolan di taksi tentang Kendric Verazo bersama Ibunya.Semuanya terasa … terlalu berat.Beberapa menit kemudian, rekan-rekan kerja mulai berdatangan. Bisik-bisik samar dan lirikan sinis sesekali mengarah padanya, tapi tidak ada yang berani mendekat atau ber
Kai terdiam cukup lama. Sorot matanya yang biasanya dingin sempat menunjukkan kilatan kejutan yang jarang terlihat.Ia tidak langsung melepaskan pelukan, malah menarik Yuna lebih erat ke dada bidangnya. Dagunya bertumpu di puncak kepala Yuna.“Jadi … kamu sudah tahu,” gumamnya rendah.Kai tidak mengelak. Ia mengakui dengan nada datar.“Ya. Saya tahu sejak awal. Ibu kamu pernah dekat dengan ayah saya.”Pria itu mulai menjelaskan dengan suara tenang tapi dingin.“Ayah saya pernah cerita tentang seorang pengacara perempuan yang ‘berbeda’. Saya tidak menyangka ibu kamu adalah orang itu.” Ia tersenyum tipis yang dingin. “Saat saya melihat kamu di basement malam itu … dan kemudian tahu siapa kamu sebenarnya, semuanya terasa seperti takdir yang lucu. Jadi, kontrak ini bukan cuma karena utang dan operasi, tapi saya juga mau tahu dan ingin mengontrol sesuatu yang pernah menjadi milik ayah saya.”Yuna merasa dunia semakin gelap. Tubuhnya menggigil hebat d
Beberapa jam kemudian, Yuna sadar dengan kepala yang masih berat dan pandangan yang samar. Ia berada di kamar utama penthouse. Lampu kamar diredupkan dan hanya menyisakan cahaya kuning lembut dari lampu tidur. Tubuhnya terbaring di ranjang besar yang familiar, dan selimut hangat menutupi hingga dada. Yuna mengerjap pelan. Bagaimana ia bisa sampai di sini …? Saat ia mencoba bangkit, terdengar suara rendah dari sisi ranjang. “Kamu sudah sadar?” Yuna tersentak kecil dan menoleh ke asal suara. Kai duduk di kursi di samping tempat tidur. Kemejanya sudah dilepas, dan hanya menyisakan kaos hitam ketat yang menempel di tubuh atletisnya. Matanya menatap Yuna dengan sorot yang sulit dibaca—dingin, tapi ada sesuatu yang lebih lembut di baliknya. Yuna refleks bangkit dan mundur sedikit hingga punggungnya menyentuh headboard. “Kenapa … saya di sini?” suaranya serak dan lemah. Kai tidak langsung menjawab. Ia bangkit dan mengambil mangkuk bubur hangat yang sudah disiapkan di meja samping.
Yuna merasa dunia berhenti berputar sejenak. Nama “Verazo” yang keluar dari mulut ibunya seperti petir yang menyambar tepat di dada. Tubuhnya langsung dingin, dan wajahnya memucat dalam sekejap. Ini tidak mungkin …. Dalam novel yang ia baca dulu, tidak pernah ada latar belakang sedetail ini tentang Yuvita. Tidak ada cerita masa lalu ibunya yang melibatkan seorang hakim duda. Tidak ada pula hubungan dekat dengan pihak Verazo, apalagi sampai menyebut nama putranya. Semuanya … semakin melenceng terlalu dalam. Yuna merasa napasnya tersengal. Dadanya naik turun cepat, tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung baju sendiri hingga kusut. “Bu …” suaranya keluar lemah, hampir hilang. “Nama hakim itu … siapa?” Yuvita menoleh, sedikit heran melihat wajah anaknya yang tiba-tiba pucat pasi. “Namanya Kendric. Kendric Verazo,” jawab Yuvita polos, seolah tidak menyadari dampak kata-katanya. “Hakim yang cukup terkenal waktu itu. Dingin sekali orangnya, tapi tampan. Putranya juga mirip. Namanya
Beberapa saat kemudian, Yuna membantu Yuvita keluar dari kamar rawat inap. Tas kecil di pundaknya terasa jauh lebih berat dari biasanya seolah bukan hanya berisi barang, tapi juga semua rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat. Firas berdiri di samping pintu dengan sikap profesionalnya. “Ambulans sebenarnya bisa disiapkan, Bu. Tapi kalo Ibu merasa lebih nyaman, transportasi biasa juga nggak masalah. Kondisi Ibu juga sudah cukup stabil,” jelasnya tenang. Yuvita mengangguk pelan dengan senyuman ramah. “Nggak usah ambulans, Dok. Saya nggak mau terlalu mencolok.” Yuna hanya diam. Matanya sempat bertemu dengan Firas sekali lagi. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan padanya …. Apa motifnya? Apakah ia benar-benar hanya ingin melindungi Yuna, atau ada hal lain yang belum ia ketahui? Tapi semua itu tertahan di ujung tenggorokan. Namun di sisi lain, ia merasa lega karena Firas memilih untuk membantunya menutupi kebenaran di depan Yuvita. Sayangnya, kelegahan itu justru dibayan
Yuna tetap diam. Namun di dalam kepalanya, semuanya justru semakin kacau. Perkataan Yuvita tadi terus bergema di kepalanya hingga Yuna mulai ketakutan. Karena kalau Yuvita tak sengaja tahu dari orang lain … terutama Firas yang sudah mengetahuinya lebih dulu darinya …. Dadanya langsung terasa sesak. Napasnya memburu tanpa bisa ia kendalikan. Kalau Firas dengan segala empati yang ia tunjukkan, ditambah sisa amarah yang sempat terlihat di koridor tadi, benar-benar memilih untuk berbicara … semuanya bakal hancur berantakan. Bukan hanya kontrak, dan bukan juga hanya dirinya yang hancur. Tapi ibunya … dan Karier Firas. Yuna mengepalkan tangannya. Pikirannya berputar cepat untuk mencari celah, mencari alasan apa saja agar Yuvita percaya. “Ibu …” Yuna akhirnya membuka mulut. Suaranya sedikit serak. “Aku nggak mau Ibu sakit lagi kalau Ibu terus mikirin hal-hal seperti ini. Apalagi—” Tok. Tok Tok. Ucapan Yuna terpotong saat pintu ruang inap terbuka pelan, membuat Yuna dan Yuvit
Yuna menatap Alya dengan mata membelalak. Alya … kenapa? Kenapa dia malah bilang seolah ia yang tak suka dibela? Hati Yuna hancur lebur. Entah kenapa apa yang dikatakan sang tokoh utama itu membuat ia tambah merasa bersalah, bahkan merasa tak pantas dapat pembelaan darinya. Ruangan kembali he
Alya membeku di tempat. Matanya berkaca-kaca, napasnya bergetar, seolah kata-kata Yuna barusan masih menggema keras di kepalanya. “Kak … kenapa Kakak ngomong gitu? Aku cuma nggak mau liat Kakak diinjak terus. Aku punya salah apa sama Kakak sampai Kakak teriakin aku kayak gini?” Yuna langsung
Esok harinya di kantor, Yuna duduk di meja kerjanya dengan tatapan kosong ke layar laptop. Tumpukan dokumen litigasi yang baru saja dilempar Rosie pagi ini sudah menjulang tinggi. Tapi Yuna hanya menatapnya, tak bergerak. Rosie muncul dari belakang sambil tangannya disilang. Bibirnya melengkung si
Dunia Yuna langsung berhenti, napasnya tercekat.Hukuman.Kata itu bergema di kepala Yuna seperti lonceng kematian.Apa yang di maksud Kai? Apa mereka akan melakukan itu lagi di … ranjang? Tubuhnya yang masih nyeri dari malam sebelumnya langsung bere







