Share

Chapter 3.

Penulis: Amaleo
last update Tanggal publikasi: 2026-03-11 17:07:26

Yuvita tersenyum lemah dengan mata berkaca-kaca.

“Maaf, Nak. Ibu bikin kamu repot terus.”

Yuna menggeleng. “Nggak, Bu. Aku yang harus lebih sering jenguk. Cerita dong, Bu. Dokter bilang apa?”

Yuvita menghela napas panjang. “Penyempitan arteri semakin parah. Kalau nggak operasi bypass segera, bisa ... fatal. Tapi biayanya ... Ibu nggak mau bebanin kamu.”

Yuna menelan ludah. Dari ingatan tubuh ini, dia tahu latar belakangnya: Yuvita dulu pengacara yang tangguh, menangani kasus-kasus dan ia berintegritas tinggi.

Ayah Yuna meninggal saat Yuna kecil karena kecelakaan, meninggalkan Yuvita sendirian membesarkan anak sambil berjuang dengan sakit jantung yang muncul belakangan.

Sekarang semua tabungan habis untuk obat dan check-up, bahkan gaji Yuvita dulu dipakai untuk sekolah Yuna di fakultas hukum.

Kini Yuna yang harus balas budi. Tapi sebagai junior, gajinya pas-pasan.

“Aku bakal cari cara, Bu. Tenang aja,” kata Yuna, suaranya bergetar tapi berusaha tegas.

Setelah mengobrol ringan sebentar, Yuna pamit sebentar ke konter administrasi di lantai bawah.

Dia harus bayar tagihan rawat inap yang sudah menumpuk. Setidaknya cicilan kecil dulu agar ibunya tidak dikeluarkan paksa.

Di konter, petugas administrasi menatap layar komputer.

“Tagihan sementara untuk Ibu Yuvita: 15 juta untuk rawat inap seminggu ini, plus obat-obatan. Mau bayar berapa dulu, Mbak?”

Yuna mengeluarkan kartu debit, tangannya gemetar. “Bayar 6 juta dulu, ya. Sisanya saya cicil minggu depan.”

Transaksi selesai, tapi Yuna merasa beban semakin berat. Hutang kartu kredit Yuvita, tagihan sewa rumah, dan operasi bypass yang bisa ratusan juta.

“Gila, gimana caranya? Lembur di firma Kai aja nggak cukup!” gerutu Yuna frustasi.

Sebelum kembali ke kamar, Yuna mampir ke ruang informasi perawat.

“Mbak, bisa minta kontak dokter yang tangani Ibu saya? Mau tanya detail kondisinya.”

Perawat mengecek catatan. “Oh, dokternya baru diganti kemarin, Mbak. Yang lama cuti mendadak. Sekarang ditangani Dokter Firas Adiyaksa. Spesialis kardiologi baru di sini. Kebetulan beliau lagi visit pasien sekarang. Mau saya panggil?”

Yuna mengangguk pelan, tetapi dadanya mulai terasa sesak oleh kepanikan yang tiba-tiba muncul.

Nama itu terus terngiang di kepalanya.

Dokter Firas.

Tunggu … Firas Adiyaksa?

Matanya sedikit melebar. Ia langsung mengenali nama itu.

Firas Adiyaksa. Dia salah satu tokoh pria dalam novel ini, pria kedua yang digambarkan tampan, lembut, namun penuh misteri.

Ia juga salah satu dari tiga pria alpha yang mengelilingi kehidupan Alya.

Tapi … kenapa justru dia yang menangani ibunya?!

Pikirannya berputar kacau.

Ia harus mengganti dokter itu.

Kalau benar Firas yang menangani ibunya, maka kemungkinan mereka akan sering bertemu sangat besar. Semua itu bisa dengan mudah menyeretnya kembali ke jalur cerita asli.

Yuna menelan ludah. Tidak. Ia tidak boleh membiarkan plot novel itu berjalan seperti semula.

Petugas perempuan dengan seragam biru, menatapnya heran saat Yuna terlihat berpikir keras.

Yuna kembali menoleh pada petugas setempat.

“Mbak, tolong. Saya mau minta ganti dokter untuk Ibu Yuvita di kamar 512. Dokter sebelumnya yang lama aja, atau siapa pun selain Dokter Firas.”

Petugas itu mengerutkan dahi dan kembali mengecek layar komputer.

“Maaf, Mbak, dokter sebelumnya lagi cuti panjang karena urusan keluarga selama dua bulan.

Yuna menegang. “Ta–tapi Dokternya nggak harus beliau kan, Mba?”

Petugas itu mengernyit kecil.

“Untuk spesialis kardiologi di sini, sekarang cuma Dokter Firas yang available untuk pasien dengan kondisi seperti Ibu Mbak. Rumah sakit lagi kekurangan tenaga spesialis karena ada yang resign mendadak bulan lalu.”

Yuna terdiam beberapa detik. Seolah perkataan petugas tadi belum benar-benar masuk ke kepalanya.

“... cuma Dokter Firas?” ulangnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

Petugas itu mengangguk.

“Iya, Mbak. Untuk kasus jantung seperti Ibu Mbak, saat ini hanya beliau yang bisa handle secara penuh di sini.”

Jantung Yuna seperti jatuh ke perutnya.

Ini bercanda, kan …?

Tangannya yang bertumpu di meja konter perlahan mengepal. Otaknya berputar cepat sambil mencoba mencari celah.

“Kalau … kalau pindah rumah sakit?” tanyanya lagi, suaranya sedikit kaku.

Petugas itu menatap layar sebentar dan menghela napas kecil.

“Secara teori bisa, Mbak. Tapi kondisi Ibu Mbak masih belum stabil untuk dipindahkan jauh. Resiko kalau dipindah sekarang cukup besar.”

Kalimat itu seperti palu yang memukul keras di kepala Yuna.

Artinya kalau dia memaksakan diri hanya demi menghindari seorang tokoh novel … yang terancam justru Yuvita.

Yuna menggigit bibir bawahnya.

Sial. Ini benar-benar di luar skenario yang dia ingat!

Dalam novel, dia tidak pernah berada di posisi seperti ini. Tidak pernah sampai harus dirawat intensif seperti sekarang.

Alur cerita sudah berubah karena Yuna dari awal mati-matian menjaga agar ibunya selamat.

Petugas itu memandangnya dengan sedikit khawatir. “Mba? Mba Yuna?”

Yuna tersentak, lalu buru-buru menarik napas panjang.

“Ah … iya. Maaf,” gumamnya.

Dia memaksa tersenyum tipis, meskipun rasanya kaku sekali. “Kalau memang begitu … nggak apa-apa. Tetap Dokter Firas saja.”

Petugas itu mengangguk lega.

“Baik, Mbak. Nanti kalau ada perkembangan dari dokter, biasanya beliau langsung ke kamar pasien.”

Yuna hanya mengangguk pelan dan berbalik meninggalkan konter.

Tak lama, suara langkah sepatu kulit terdengar mendekat. Seorang pria tinggi dengan jas putih dokter berdiri di depan Yuna. Rambutnya yang hitam rapi, mata coklat hangat, dan senyum tipisnya membuat dada Yuna berdebar.

Auranya lembut, tapi ada kekuatan tersembunyi di baliknya. Seperti seorang yang bisa menyembuhkan hati sekaligus mematahkan hati.

“Selamat malam, Nona Yuna Rein? Saya Dokter Firas Adiyaksa. Saya yang tangani Ibu Yuvita sekarang. Ada yang bisa saya bantu?” suaranya lembut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 214.

    “Firas?” suara Yuna terdengar kaku dan terkejut. “K-kenapa kamu di sini?” Pertemuan ini benar-benar datang di waktu yang salah. Firas berjalan mendekat dengan napas masih sedikit tidak beraturan seolah ia memang datang terburu-buru. “Tadi kamu menutup telepon terlalu cepat,” jawabnya. “Saya jadi khawatir.” Yuna langsung merasa bersalah. “Ah, maaf, Firas. Tadi ada sesuatu yang buat saya harus putusin panggilannya lebih dulu.” Firas terdiam sebelum matanya bergeser ke Kai di samping Yuna. Saat tatapannya langsung jatuh ke sudut bibir Kai yang masih berdarah, ekspresinya berubah. Firas memicingkan mata dan terkekeh pelan—suara tawa yang sarkastik dan tajam, sangat berbeda dari nada lembutnya yang biasa. “Bekas pukulan itu …” gumamnya sambil menatap Kai. “Saya nggak nyangka ternyata Anda malah terlibat masalah lagi di rumah sakit ini.” Yuna menegang keras di tempat dengan perasaan gelisah. “Firas, tolong … jangan bilang seperti itu,” ucap Yuna pelan. Firas menoleh ke Y

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 213.

    Jantung Yuna terasa diremas pelan. Untuk sesaat, ia hanya bisa menatap pria itu tanpa kata-kata. Karena Kai Verazo bukan tipe orang yang mudah meminta maaf, bahkan mungkin terlalu jarang. Namun kali ini, tidak ada kesombongan dan tidak ada pembelaan diri. Hanya penyesalan yang sederhana dan jujur. Yuna menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu. Langkah kaki Yuna terasa jauh lebih berat dibanding saat ia keluar dari kamar rawat inap tadi. Pikirannya berputar tanpa henti tentang Kai, kontrak yang tersisa delapan hari dan tentang dirinya sendiri, bahkan juga Firas yang mau menunggunya sampai kontrak selesai. Awalnya semua terasa sederhana. Ia tinggal menjalani kontrak tersebut, bertahan di roller coaster kehidupan yang tak ada habisnya. Asal bisa menyelamatkan ibunya dan dirinya sendiri, maka semuanya akan berakhir begitu saja. Tapi sekarang, semakin lama, semakin banyak hal yang bergerak keluar dari jalur cerita yang pe

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 212.

    Kai terdiam cukup lama setelah pertanyaan Yuna meluncur. Gadis itu langsung menyesal. Mungkin seharusnya ia tidak bertanya sejauh itu. Tapi pertanyaan itu sudah terlanjur keluar dan tidak bisa ditarik kembali. Kai hanya menatapnya tanpa berkedip. Lalu ia menghembuskan napas pelan dan menggeleng tipis. “Kalau kamu bertanya apakah saya menyukai kamu … atau bahkan mencintai kamu,” ucap Kai jujur, suaranya rendah, “saya tidak tahu. Saya tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya.” Ia terdiam sejenak, rahangnya menegang. “Yang saya tahu … saya tidak mau kehilangan kamu.” Tatapannya semakin dalam. “Saya tahu saya peduli. Saya tahu saya terus memikirkan kamu. Dan saya tahu … fakta bahwa kontrak ini tinggal delapan hari lagi berakhir, membuat saya jauh lebih terusik daripada seharusnya.” Kai menatap Yuna lekat. “Perasaan apa sebenarnya ini … saya sendiri belum punya jawabannya, Yuna.” Yuna berdiri membeku. Dadanya naik-turun tidak karuan. Ucapan Kai terlalu jujur, hingga

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 211.

    Dunia Yuna seolah berhenti berputar. Seluruh tubuhnya langsung membeku di tempat. Jadi itu alasan Kendrik memukul Kai? Kai ... sudah jujur soal kontrak satu bulan mereka? Bagaimana bisa? Dan … kenapa Kai justru memilih mengakui hal itu kepada Kendrik? Padahal pria itu selama ini selalu menutupi semuanya, meski kadang perhatiannya di depan beberapa orang memancing reaksi penasaran dan curiga pada mereka berdua. “Apa …?” “Ya,” ucap Kai dengan suara dalam. “Ayah saya sudah curiga sejak kita menginjakan kaki di sini, bahkan ketika beliau akhirnya tahu saya mengetahui kamu anak dari Tante Yuvita. Dan ditambah … saya bilang ‘tidak keberatan dijodohkan’ tadi.” Jantung Yuna terasa jatuh ke perutnya. Kendrik … benar-benar curiga? Memang tidak bisa dipungkiri, saat Kai tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya ‘tidak keberatan dijodohkan’ dengan wajah serius di tengah candaan Yuvita tadi, ucapan itu pasti langsung menarik perhatian Kendrik. Apalagi bagi seorang ayah yang mengenal putran

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 210.

    Beberapa menit berlalu setelah Kendrik meninggalkan kamar rawat inap, Kai belum juga kembali masuk. Suasana yang tadi hangat kini berubah menjadi lebih tenang. Televisi masih menyala pelan di sudut ruangan, tapi perhatian Yuna dan Yuvita sama sekali tidak lagi tertuju ke sana. Yuvita menatap pintu kamar beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil. "Yuna, kenapa Kai belum juga masuk, ya?" Yuna terdiam. Ia sebenarnya memikirkan hal yang sama sejak tadi. Sejak Kendrik masuk seorang diri dengan wajah tegang dan berpamitan secara mendadak. Belum lagi, Kai sama sekali tidak muncul kembali setelah itu. "Aku nggak tahu, Bu." Yuvita mengernyit kecil. "Lalu sebenarnya apa yang terjadi di luar tadi?" Yuna menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu." Namun bahkan saat mengucapkannya, perasaan tidak nyaman masih mengendap di dadanya. Karena firasatnya mengatakan bahwa sesuatu memang sedang terjadi yang berhubungan dengan percakapan Kai dan Kendrik tadi. Dan Yuna merasa dirinya harus

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 209.

    Yuna menelan ludah berat dan menjawab pelan."Firas, Bu."Yuvita lngsung tersenyum lebar seketika itu juga. “Angkat dong, Nak. Ibu kangen ngobrol sama Dokter Firas.”Yuna menelan ludah gelisah sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Layar menampilkan wajah Firas yang sedang duduk di kursi kemudi mobil. Wajahnya tersenyum lembut. Lampu jalan malam memantul samar di kaca jendela belakang."Halo."Yuna berusaha tersenyum normal."Halo. Firas, kamu lagi di jalan?""Iya, nih." Tatapan Firas lalu bergerak ke belakang Yuna. "Yuna, kamu lagi di mana? Kamu di rumah sakit?"Yuna mengangguk."Iya, lagi jenguk Ibu.""Oh,” ucap Firas mengerti.Lalu Yuna menggeser ponselnya ke arah Yuvita."Ibu juga di sini."Yuvita masuk ke frame layar ponsel, dan wajahnya langsung berbinar. "Halo, Dokter tampan."Firas langsung tertawa kecil."Halo, Ibu. Ibu terlihat makin sehat ya?"Senyum Yuvita semakin lebar. Mereka mulai mengobrol sambil Firas masih memperhatikan wajah Yuvita beberapa saat."Ada ke

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 36.

    Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 11.

    Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 29.

    Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah o

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 10.

    Pintu lift yang mengarah ke koridor Presidential Suite Hotel X terbuka pelan. Yuna melangkah keluar dengan dress hitam satin yang menempel dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan ia sudah memilihnya. Demi Yuvita. Demi operasi bypass. DP

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status