FAZER LOGINYuvita tersenyum lemah dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf, Nak. Ibu bikin kamu repot terus.” Yuna menggeleng. “Nggak, Bu. Aku yang harus lebih sering jenguk. Cerita dong, Bu. Dokter bilang apa?” Yuvita menghela napas panjang. “Penyempitan arteri semakin parah. Kalau nggak operasi bypass segera, bisa ... fatal. Tapi biayanya ... Ibu nggak mau bebanin kamu.” Yuna menelan ludah. Dari ingatan tubuh ini, dia tahu latar belakangnya: Yuvita dulu pengacara yang tangguh, menangani kasus-kasus dan ia berintegritas tinggi. Ayah Yuna meninggal saat Yuna kecil karena kecelakaan, meninggalkan Yuvita sendirian membesarkan anak sambil berjuang dengan sakit jantung yang muncul belakangan. Sekarang semua tabungan habis untuk obat dan check-up, bahkan gaji Yuvita dulu dipakai untuk sekolah Yuna di fakultas hukum. Kini Yuna yang harus balas budi. Tapi sebagai junior, gajinya pas-pasan. “Aku bakal cari cara, Bu. Tenang aja,” kata Yuna, suaranya bergetar tapi berusaha tegas. Setelah mengobrol ringan sebentar, Yuna pamit sebentar ke konter administrasi di lantai bawah. Dia harus bayar tagihan rawat inap yang sudah menumpuk. Setidaknya cicilan kecil dulu agar ibunya tidak dikeluarkan paksa. Di konter, petugas administrasi menatap layar komputer. “Tagihan sementara untuk Ibu Yuvita: 15 juta untuk rawat inap seminggu ini, plus obat-obatan. Mau bayar berapa dulu, Mbak?” Yuna mengeluarkan kartu debit, tangannya gemetar. “Bayar 6 juta dulu, ya. Sisanya saya cicil minggu depan.” Transaksi selesai, tapi Yuna merasa beban semakin berat. Hutang kartu kredit Yuvita, tagihan sewa rumah, dan operasi bypass yang bisa ratusan juta. “Gila, gimana caranya? Lembur di firma Kai aja nggak cukup!” gerutu Yuna frustasi. Sebelum kembali ke kamar, Yuna mampir ke ruang informasi perawat. “Mbak, bisa minta kontak dokter yang tangani Ibu saya? Mau tanya detail kondisinya.” Perawat mengecek catatan. “Oh, dokternya baru diganti kemarin, Mbak. Yang lama cuti mendadak. Sekarang ditangani Dokter Firas Adiyaksa. Spesialis kardiologi baru di sini. Kebetulan beliau lagi visit pasien sekarang. Mau saya panggil?” Yuna mengangguk pelan, tetapi dadanya mulai terasa sesak oleh kepanikan yang tiba-tiba muncul. Nama itu terus terngiang di kepalanya. Dokter Firas. Tunggu … Firas Adiyaksa? Matanya sedikit melebar. Ia langsung mengenali nama itu. Firas Adiyaksa. Dia salah satu tokoh pria dalam novel ini, pria kedua yang digambarkan tampan, lembut, namun penuh misteri. Ia juga salah satu dari tiga pria alpha yang mengelilingi kehidupan Alya. Tapi … kenapa justru dia yang menangani ibunya?! Pikirannya berputar kacau. Ia harus mengganti dokter itu. Kalau benar Firas yang menangani ibunya, maka kemungkinan mereka akan sering bertemu sangat besar. Semua itu bisa dengan mudah menyeretnya kembali ke jalur cerita asli. Yuna menelan ludah. Tidak. Ia tidak boleh membiarkan plot novel itu berjalan seperti semula. Petugas perempuan dengan seragam biru, menatapnya heran saat Yuna terlihat berpikir keras. Yuna kembali menoleh pada petugas setempat. “Mbak, tolong. Saya mau minta ganti dokter untuk Ibu Yuvita di kamar 512. Dokter sebelumnya yang lama aja, atau siapa pun selain Dokter Firas.” Petugas itu mengerutkan dahi dan kembali mengecek layar komputer. “Maaf, Mbak, dokter sebelumnya lagi cuti panjang karena urusan keluarga selama dua bulan. Yuna menegang. “Ta–tapi Dokternya nggak harus beliau kan, Mba?” Petugas itu mengernyit kecil. “Untuk spesialis kardiologi di sini, sekarang cuma Dokter Firas yang available untuk pasien dengan kondisi seperti Ibu Mbak. Rumah sakit lagi kekurangan tenaga spesialis karena ada yang resign mendadak bulan lalu.” Yuna terdiam beberapa detik. Seolah perkataan petugas tadi belum benar-benar masuk ke kepalanya. “... cuma Dokter Firas?” ulangnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Petugas itu mengangguk. “Iya, Mbak. Untuk kasus jantung seperti Ibu Mbak, saat ini hanya beliau yang bisa handle secara penuh di sini.” Jantung Yuna seperti jatuh ke perutnya. Ini bercanda, kan …? Tangannya yang bertumpu di meja konter perlahan mengepal. Otaknya berputar cepat sambil mencoba mencari celah. “Kalau … kalau pindah rumah sakit?” tanyanya lagi, suaranya sedikit kaku. Petugas itu menatap layar sebentar dan menghela napas kecil. “Secara teori bisa, Mbak. Tapi kondisi Ibu Mbak masih belum stabil untuk dipindahkan jauh. Resiko kalau dipindah sekarang cukup besar.” Kalimat itu seperti palu yang memukul keras di kepala Yuna. Artinya kalau dia memaksakan diri hanya demi menghindari seorang tokoh novel … yang terancam justru Yuvita. Yuna menggigit bibir bawahnya. Sial. Ini benar-benar di luar skenario yang dia ingat! Dalam novel, dia tidak pernah berada di posisi seperti ini. Tidak pernah sampai harus dirawat intensif seperti sekarang. Alur cerita sudah berubah karena Yuna dari awal mati-matian menjaga agar ibunya selamat. Petugas itu memandangnya dengan sedikit khawatir. “Mba? Mba Yuna?” Yuna tersentak, lalu buru-buru menarik napas panjang. “Ah … iya. Maaf,” gumamnya. Dia memaksa tersenyum tipis, meskipun rasanya kaku sekali. “Kalau memang begitu … nggak apa-apa. Tetap Dokter Firas saja.” Petugas itu mengangguk lega. “Baik, Mbak. Nanti kalau ada perkembangan dari dokter, biasanya beliau langsung ke kamar pasien.” Yuna hanya mengangguk pelan dan berbalik meninggalkan konter. Tak lama, suara langkah sepatu kulit terdengar mendekat. Seorang pria tinggi dengan jas putih dokter berdiri di depan Yuna. Rambutnya yang hitam rapi, mata coklat hangat, dan senyum tipisnya membuat dada Yuna berdebar. Auranya lembut, tapi ada kekuatan tersembunyi di baliknya. Seperti seorang yang bisa menyembuhkan hati sekaligus mematahkan hati. “Selamat malam, Nona Yuna Rein? Saya Dokter Firas Adiyaksa. Saya yang tangani Ibu Yuvita sekarang. Ada yang bisa saya bantu?” suaranya lembut.Yuna menarik napas tajam. Emosinya sudah berada di ujung tanduk. “Tidak, Darren. Saya masih banyak kerjaan. Kalau ada yang penting, bilang saja lewat telepon.” Darren terdiam sebentar, lalu tiba-tiba suaranya sedikit naik. “Kalau begitu saya naik ke lantai kamu sekarang.” Yuna langsung panik. Bayangan Alya melihatnya bersama Darren, rekan kerja yang sedang memperhatikan, dan gosip yang akan menyebar membuat darahnya serasa surut. “Jangan!” potongnya cepat. “Baik, saya turun. Tunggu di parkiran saja. Jangan masuk ke lobi.” Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban Darren, lalu berjalan cepat menuju lift dengan jantung berdegup kencang. Beberapa menit kemudian, Yuna sampai di lantai lobi. Ia langsung menemukan mobil SUV hitam milik Darren yang diparkir di area parkiran tamu. Ia membuka pintu penumpang dan langsung masuk. Darren menyapa dengan hangat. “Yuna, yuk. Kita mak—” “Langsung ke intinya saja,” potong Yuna dingin. “Saya nggak mau pergi makan siang. Bicara di
Yuna merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Apa ia harus terus berbohong? Apa ia boleh menyakiti orang yang tulus seperti Alya hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri? Yuna menarik napas pelan sambil berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. “Eh? Enggak kok, Alya,” jawab Yuna cepat sambil berusaha terdengar ringan. “Saya juga heran kenapa dia jadi nanya-nanya soal saya. Padahal kita jarang banget ketemu, apalagi sampai dekat.” Alya tidak langsung mengangguk. Matanya masih menyipit penasaran seolah belum sepenuhnya percaya. “Beneran, Kak? Tapi… kok rasanya aneh. Dia sering nanya soal Kakak, tapi kalau nggak bahas Kakak, malah hampir nggak pernah chat aku.” Yuna merasa dadanya semakin sesak. Ironis sekali. Ia sendiri yang masuk ke dalam sandiwara ini, ia sendiri yang berbohong berkali-kali pada Alya, tapi sekarang justru berusaha mati-matian menjaga hubungan Alya dan Darren tetap utuh. Ia meng
Yuna langsung merasa dadanya sesak. Tawaran itu seharusnya melegakan, tapi justru membuatnya panik. Bayangan ancaman Kai semalam langsung muncul—lisensi Firas yang bisa hilang dalam sekejap hanya karena terseret ke dalam hidupnya. “Tidak usah, Firas,” jawab Yuna cepat, nada suaranya sedikit terlalu tinggi. “Saya bisa urus sendiri. Terima kasih.” Firas terdiam sesaat di seberang sana. “Kenapa?” tanyanya pelan, ada kekhawatiran yang jelas. “Kamu tiba-tiba terdengar … tegang.” Yuna menelan ludah. Tangan kirinya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Suara Kai yang dingin terus terngiang-ngiang dipikirannya mengenai Firas. “Nggak apa-apa,” jawabnya cepat dengan suara bergetar. “Benar-benar nggak apa-apa. Saya cuma … lagi banyak pikiran soal Ibu saya.” Firas diam lebih lama kali ini. Yuna bisa merasakan perubahan di nada suaranya ketika pria itu akhirnya berbicara. “Yuna … kamu lagi menghindar lagi ya seperti dulu? Seolah kamu takut terlalu dekat dengan saya.” Yuna m
Cahaya pagi menyusup lemah melalui tirai kamar utama Kai. Yuna terbangun dengan tubuh Kai yang masih memeluknya dari belakang. Lengan pria itu melingkar longgar di pinggangnya. Untuk sesaat ia hanya diam sambil merasakan hangat napas Kai di tengkuknya. Namun pikirannya tidak bisa tenang. Ucapan Kai semalam terus terngiang jelas mengenai keputusan yang harus ia berikan hari ini. Dada Yuna terasa sedikit sesak. Perlahan, ia melepaskan diri dengan hati-hati agar tidak membangunkan pria itu, lalu bangkit dari ranjang king-size tersebut. Dan seperti biasa, ia memilih mandi dan bersiap di kamar tamu. Setelah mandi cepat, Yuna mengenakan setelan kerja formalnya, lalu rambutnya diikat rapi, dan memoles wajah dengan makeup tipis. Yuna juga sudah ke dapur dan membuat sarapan sederhana untuk Kai. Saat Yuna sedang menuangkan kopi hitam ke cangkir, Kai keluar dari kamar utama. Pria itu hanya mengenakan celana chino hitam dan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih se
Lampu kamar utama sudah diredupkan. Hanya cahaya samar dari lampu tidur yang menyisakan kehangatan kuning lembut di dinding. Yuna berbaring miring di ranjang besar, punggungnya menghadap Kai. Selimut tipis menutupi tubuh mereka berdua. Udara malam terasa sejuk, meski hangat tubuh Kai di belakangnya tetap menyelimuti punggungnya. Kai tidak langsung tidur. Satu lengannya melingkar longgar di pinggang Yuna. Jarinya sesekali mengusap pelan kulit pinggang Yuna melalui kain tipis baju tidur. Hening cukup lama. Lalu Kai memanggil dengan suara rendah dan agak serak karena lelah. “Yuna.” “Hm?” Kai terdiam sejenak. “Kenapa belakangan ini kamu semakin emosional seperti makan malam tadi?” Pertanyaan itu datang pelan, tanpa nada menuduh. Hanya rasa ingin tahu yang jarang sekali muncul dari Kai. Yuna tidak langsung menjawab. Matanya menatap kosong ke dinding kamar yang samar. Dibenaknya yang paling dalam, ia lelah. Karena setiap hari ia merasa seperti sedang berjalan di tali yan
Kai tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Yuna dengan tatapan yang sulit dibaca, seolah sedang memprediksi reaksi gadis itu terhadap tawaran yang akan ia lontarkan. “Kamu pasti setuju, karena ini lebih baik daripada kamu harus capek bolak-balik setiap hari.” Yuna tercekat. Firasat buruk langsung menjalar di dadanya. “Setuju?” ulangnya pelan. “Saya nggak butuh solusi dari Anda, Kai. Tolong … cukup,” ujar Yuna dengan suara lebih kecil dan bergetar. Beberapa detik kemudian, Yuna tertawa getir. Beban hidup yang ia pikul selama ini seolah tidak pernah berhenti, terus berputar dan menekan tanpa jeda. Ia meletakkan sendok dan piringnya di meja sebelum ambruk di kursi. Bahunya bergetar pelan. “Kai, saya … benar-benar kewalahan dengan semua ini,” lanjutnya pelan, suaranya pecah di akhir kalimat. “Semua syarat maupun solusi Anda … semuanya terasa seperti saya nggak boleh hidup dengan cara saya sendiri.” Ia menarik napas menahan sesak. “Saya cuma pengen Ibu sembuh, Kai. Itu aja. Ken
Dunia seolah berhenti berputar. Napasnya tersendat, tangannya gemetar hebat hingga HP-nya hampir jatuh. Air mata langsung menggenang di pelupuknya, mengaburkan pandangan. ‘Tidak … tidak boleh …’ pikirnya dalam hati, panik yang membuncah seperti gelombang dingin. Sekejap, ingatannya langsung meny
Yuna melongo, mulutnya terbuka kecil tanpa suara. Otaknya berusaha memproses kata-kata itu, tapi tubuhnya masih terasa lemas, panas, dan kosong akibat penghentian mendadak tadi. Yang benar saja?! Setelah semua yang baru saja terjadi, Kai malah bicara soal makan malam di tengah kondisi seperti in
Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b
Sesaat Yuna menelan ludah berat dengan jantungnya yang semakin berdegup kencang. Pandangannya refleks menatap Darren yang sedang memperhatikannya. “S–Saya … lagi sama temen lama di restoran, pak.” Yuna meringis dalam hati lantaran ia harus berbohong pada Kai, sambil berharap pria ini tak akan tahu







