로그인Yuna membeku di tempat hingga otaknya blank seketika.
Wanita itu menarik Kai lebih dalam hingga Kai membalas dengan gerakan agresif. Tangan besarnya naik ke dada besar wanita itu dan meremasnya dengan nafsu. Mobil itu sampai berguncang pelan akibat pergulatan panas mereka di dalam. Yuna tersentak dan buru-buru mundur, tapi tumit sepatunya tersandung kabel listrik kecil di lantai. Suara klek pun terdengar. Kai mendongak tiba-tiba. Mata hitamnya langsung menangkap bayangan Yuna di kegelapan basement. Tatapannya dingin, tajam, tapi ada seringai tipis di sudut bibirnya. Seolah dia tahu Yuna sudah melihat semuanya. “Mampus aku!” desis Yuna, sebelum lari dengan tubuh gemetar hebat, jantungnya berdegup sampai terasa di telinga. Sudah terpaksa lembur, kini ia harus memergoki skandal malam bosnya dengan seorang wanita?! Mengenal Kai Verazo, tidak akan aneh jika hal kecil ini membuatnya dipecat! Sebelum menyaksikan lebih banyak, Yuna segera masuk mobil sedan murahnya, menyalakan mesin dengan tangan gemetar, dan langsung melaju keluar dari basement. Wajah Yuna panas. Malu campur kesal. Bayangan bibir Kai yang basah tadi, tangannya yang meremas tubuh wanita itu dengan kuat, terus berputar-putar di kepala seperti film rusak. Ia hampir lupa. Di dalam novel, Kai Verazo memang digambarkan seperti itu. Di depan orang lain ia selalu terlihat dingin, tenang, dan terkendali. Tapi di balik itu, sifatnya justru sangat menghanyutkan. Saat nanti bersama Alya, auranya bahkan digambarkan berubah total. Lebih intens, penuh gairah, seperti predator yang sedang mempermainkan mangsanya. Tapi tetap saja, membaca deskripsinya di novel dan melihatnya langsung adalah dua hal yang sangat berbeda! Ia sama sekali tidak menyangka akan menyaksikan adegan seperti itu dengan mata kepalanya sendiri. Jadi, kenapa justru Yuna yang melihatnya?! Tiba-tiba HP Yuna berdering di dashboard. Nomor dari Rumah Sakit Cardio Center Permata. Yuna angkat telepon itu dengan tangan sedikit gemetar, suara perawat di seberang terdengar serius. “Selamat malam, Mba Yuna. Ini dari RS Permata. Kondisi Ibu Yuvita ... menurun tiba-tiba semalam. Dokter bilang, sebaiknya Anda segera datang. Kami khawatir ... waktu Ibu sudah tidak lama lagi.” Yuna membeku di tempatnya, ponsel masih menempel di telinganya. “Baik, saya kesana sekarang.” Sambungan telepon putus. Yuna langsung tancap gas hingga sedan murahnya berpacu secepat mungkin ke Rumah Sakit Cardio Center Permata. Jalanan sudah relatif sepi, tapi jantung Yuna berdegup seperti lalu lintas macet di jam sibuk. Sampai di rumah sakit, Yuna langsung lari ke lantai 5 dan melewati koridor rawat inap. Bau antiseptik menusuk membuatnya semakin gelisah. Dia dorong pintu kamar ibunya pelan. Yuvita terbaring lemah di ranjang dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Wajahnya pucat seperti kertas, tapi saat melihat Yuna, matanya menyala tipis. “Yuna, kamu datang,” bisik Yuvita dengan suaranya yang serak tapi penuh kasih. Yuna mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Tangannya yang sedikit gemetar memegang tangan ibunya yang dingin dan rapuh. Tubuh Yuna Rein ini punya ingatan yang begitu dalam tentang Yuvita. Seolah-olah dia benar-benar anaknya, meski jiwa aslinya dari dunia lain. Di novel asli, ibu Yuna cuma disebut sekilas sebagai latar belakang tragis untuk membangun karakter antagonis Yuna. Yuna yang seorang pengacara junior yang tumbuh tanpa ayah, dibesarkan oleh ibu single parent yang bekerja keras sebagai pengacara. Yuvita pernah menjadi pengacara sukses di masa mudanya, tapi sakit jantung kronis membuatnya pensiun dini hingga meninggalkan hutang medis yang menumpuk. Yuna kecil sering ditinggal sendirian di rumah saat Yuvita lembur, tapi ikatan mereka kuat. Dan sekarang, Yuna yang sekarang merasakan semuanya secara langsung. Rasa bersalah, takut kehilangan, dan beban emosional yang seperti batu di dada. Kenapa novel ini harus punya subplot yang begitu tragis? Kalau Yuvita mati, plot utama pun tidak akan terganggu, tapi …. Ia tak sanggup melanjutkan alur cerita selanjutnya di pikirannya sendiri. Sekarang, Yuna harus tanggung semuanya. Dan sebagai antagonis, nasibnya pasti akan lebih buruk lagi—mati konyol setelah membuat masalah dengan Alya dan tiga tokoh pria alpha itu.“Firas?” suara Yuna terdengar kaku dan terkejut. “K-kenapa kamu di sini?” Pertemuan ini benar-benar datang di waktu yang salah. Firas berjalan mendekat dengan napas masih sedikit tidak beraturan seolah ia memang datang terburu-buru. “Tadi kamu menutup telepon terlalu cepat,” jawabnya. “Saya jadi khawatir.” Yuna langsung merasa bersalah. “Ah, maaf, Firas. Tadi ada sesuatu yang buat saya harus putusin panggilannya lebih dulu.” Firas terdiam sebelum matanya bergeser ke Kai di samping Yuna. Saat tatapannya langsung jatuh ke sudut bibir Kai yang masih berdarah, ekspresinya berubah. Firas memicingkan mata dan terkekeh pelan—suara tawa yang sarkastik dan tajam, sangat berbeda dari nada lembutnya yang biasa. “Bekas pukulan itu …” gumamnya sambil menatap Kai. “Saya nggak nyangka ternyata Anda malah terlibat masalah lagi di rumah sakit ini.” Yuna menegang keras di tempat dengan perasaan gelisah. “Firas, tolong … jangan bilang seperti itu,” ucap Yuna pelan. Firas menoleh ke Y
Jantung Yuna terasa diremas pelan. Untuk sesaat, ia hanya bisa menatap pria itu tanpa kata-kata. Karena Kai Verazo bukan tipe orang yang mudah meminta maaf, bahkan mungkin terlalu jarang. Namun kali ini, tidak ada kesombongan dan tidak ada pembelaan diri. Hanya penyesalan yang sederhana dan jujur. Yuna menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu. Langkah kaki Yuna terasa jauh lebih berat dibanding saat ia keluar dari kamar rawat inap tadi. Pikirannya berputar tanpa henti tentang Kai, kontrak yang tersisa delapan hari dan tentang dirinya sendiri, bahkan juga Firas yang mau menunggunya sampai kontrak selesai. Awalnya semua terasa sederhana. Ia tinggal menjalani kontrak tersebut, bertahan di roller coaster kehidupan yang tak ada habisnya. Asal bisa menyelamatkan ibunya dan dirinya sendiri, maka semuanya akan berakhir begitu saja. Tapi sekarang, semakin lama, semakin banyak hal yang bergerak keluar dari jalur cerita yang pe
Kai terdiam cukup lama setelah pertanyaan Yuna meluncur. Gadis itu langsung menyesal. Mungkin seharusnya ia tidak bertanya sejauh itu. Tapi pertanyaan itu sudah terlanjur keluar dan tidak bisa ditarik kembali. Kai hanya menatapnya tanpa berkedip. Lalu ia menghembuskan napas pelan dan menggeleng tipis. “Kalau kamu bertanya apakah saya menyukai kamu … atau bahkan mencintai kamu,” ucap Kai jujur, suaranya rendah, “saya tidak tahu. Saya tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya.” Ia terdiam sejenak, rahangnya menegang. “Yang saya tahu … saya tidak mau kehilangan kamu.” Tatapannya semakin dalam. “Saya tahu saya peduli. Saya tahu saya terus memikirkan kamu. Dan saya tahu … fakta bahwa kontrak ini tinggal delapan hari lagi berakhir, membuat saya jauh lebih terusik daripada seharusnya.” Kai menatap Yuna lekat. “Perasaan apa sebenarnya ini … saya sendiri belum punya jawabannya, Yuna.” Yuna berdiri membeku. Dadanya naik-turun tidak karuan. Ucapan Kai terlalu jujur, hingga
Dunia Yuna seolah berhenti berputar. Seluruh tubuhnya langsung membeku di tempat. Jadi itu alasan Kendrik memukul Kai? Kai ... sudah jujur soal kontrak satu bulan mereka? Bagaimana bisa? Dan … kenapa Kai justru memilih mengakui hal itu kepada Kendrik? Padahal pria itu selama ini selalu menutupi semuanya, meski kadang perhatiannya di depan beberapa orang memancing reaksi penasaran dan curiga pada mereka berdua. “Apa …?” “Ya,” ucap Kai dengan suara dalam. “Ayah saya sudah curiga sejak kita menginjakan kaki di sini, bahkan ketika beliau akhirnya tahu saya mengetahui kamu anak dari Tante Yuvita. Dan ditambah … saya bilang ‘tidak keberatan dijodohkan’ tadi.” Jantung Yuna terasa jatuh ke perutnya. Kendrik … benar-benar curiga? Memang tidak bisa dipungkiri, saat Kai tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya ‘tidak keberatan dijodohkan’ dengan wajah serius di tengah candaan Yuvita tadi, ucapan itu pasti langsung menarik perhatian Kendrik. Apalagi bagi seorang ayah yang mengenal putran
Beberapa menit berlalu setelah Kendrik meninggalkan kamar rawat inap, Kai belum juga kembali masuk. Suasana yang tadi hangat kini berubah menjadi lebih tenang. Televisi masih menyala pelan di sudut ruangan, tapi perhatian Yuna dan Yuvita sama sekali tidak lagi tertuju ke sana. Yuvita menatap pintu kamar beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil. "Yuna, kenapa Kai belum juga masuk, ya?" Yuna terdiam. Ia sebenarnya memikirkan hal yang sama sejak tadi. Sejak Kendrik masuk seorang diri dengan wajah tegang dan berpamitan secara mendadak. Belum lagi, Kai sama sekali tidak muncul kembali setelah itu. "Aku nggak tahu, Bu." Yuvita mengernyit kecil. "Lalu sebenarnya apa yang terjadi di luar tadi?" Yuna menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu." Namun bahkan saat mengucapkannya, perasaan tidak nyaman masih mengendap di dadanya. Karena firasatnya mengatakan bahwa sesuatu memang sedang terjadi yang berhubungan dengan percakapan Kai dan Kendrik tadi. Dan Yuna merasa dirinya harus
Yuna menelan ludah berat dan menjawab pelan."Firas, Bu."Yuvita lngsung tersenyum lebar seketika itu juga. “Angkat dong, Nak. Ibu kangen ngobrol sama Dokter Firas.”Yuna menelan ludah gelisah sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Layar menampilkan wajah Firas yang sedang duduk di kursi kemudi mobil. Wajahnya tersenyum lembut. Lampu jalan malam memantul samar di kaca jendela belakang."Halo."Yuna berusaha tersenyum normal."Halo. Firas, kamu lagi di jalan?""Iya, nih." Tatapan Firas lalu bergerak ke belakang Yuna. "Yuna, kamu lagi di mana? Kamu di rumah sakit?"Yuna mengangguk."Iya, lagi jenguk Ibu.""Oh,” ucap Firas mengerti.Lalu Yuna menggeser ponselnya ke arah Yuvita."Ibu juga di sini."Yuvita masuk ke frame layar ponsel, dan wajahnya langsung berbinar. "Halo, Dokter tampan."Firas langsung tertawa kecil."Halo, Ibu. Ibu terlihat makin sehat ya?"Senyum Yuvita semakin lebar. Mereka mulai mengobrol sambil Firas masih memperhatikan wajah Yuvita beberapa saat."Ada ke
Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b
Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati
Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah o
Pintu lift yang mengarah ke koridor Presidential Suite Hotel X terbuka pelan. Yuna melangkah keluar dengan dress hitam satin yang menempel dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan ia sudah memilihnya. Demi Yuvita. Demi operasi bypass. DP







