Share

Chapter 2.

Author: Amaleo
last update Last Updated: 2026-03-11 17:06:58

Yuna membeku di tempat. Otaknya blank dan melongo.

Wanita itu menarik Kai lebih dalam. Kai membalas dengan gerakan agresif, tangan besarnya naik ke dada besar wanita itu dan meremasnya dengan nafsu.

Mobil itu sampai berguncang pelan akibat pergulatan panas mereka di dalam.

Yuna tersentak, buru-buru mundur, tapi tumit sepatunya tersandung kabel listrik kecil di lantai. Suara klek pun terdengar.

Kai mendongak tiba-tiba. Mata hitamnya langsung menangkap bayangan Yuna di kegelapan basement.

Tatapannya dingin, tajam, tapi ada seringai tipis di sudut bibirnya. Seolah dia tahu Yuna sudah melihat semuanya.

“Mampus aku!” desis Yuna, sebelum lari dengan tubuh gemetar hebat, jantungnya berdegup sampai terasa di telinga.

Sudah terpaksa lembur, kini ia harus memergoki skandal malam bosnya dengan seorang wanita?!

Mengenal Kai Verazo, tidak akan aneh jika hal kecil ini membuatnya dipecat!

Sebelum menyaksikan lebih banyak, Yuna segera masuk mobil sedan murahnya, menyalakan mesin dengan tangan gemetar, dan langsung melaju keluar dari basement.

Wajah Yuna panas. Malu campur kesal. Bayangan bibir Kai yang basah tadi, tangannya yang meremas tubuh wanita itu dengan kuat, terus berputar-putar di kepala seperti film rusak.

Ia hampir lupa. Di dalam novel, Kai Verazo memang digambarkan seperti itu. Di depan orang lain ia selalu terlihat dingin, tenang, dan terkendali.

Tapi di balik itu, sifatnya justru sangat menghanyutkan. Saat nanti bersama Alya, auranya bahkan digambarkan berubah total. Lebih intens, penuh gairah, seperti predator yang sedang mempermainkan mangsanya.

Tapi tetap saja, membaca deskripsinya di novel dan melihatnya langsung adalah dua hal yang sangat berbeda!

Ia sama sekali tidak menyangka akan menyaksikan adegan seperti itu dengan mata kepalanya sendiri.

Jadi, kenapa justru Yuna yang melihatnya?!

Tiba-tiba HP Yuna berdering di dashboard. Nomor dari Rumah Sakit Cardio Center Permata.

Yuna angkat telepon itu dengan tangan sedikit gemetar, suara perawat di seberang terdengar serius.

“Selamat malam, Mba Yuna. Ini dari RS Permata. Kondisi Ibu Yuvita ... menurun tiba-tiba semalam. Dokter bilang, sebaiknya Anda segera datang. Kami khawatir ... waktu Ibu sudah tidak lama lagi.”

Yuna membeku di tempatnya, ponsel masih menempel di telinga meski panggilan dari rumah sakit sudah mati.

“Baik, saya kesana sekarang.”

Yuna langsung tancap gas. Sedan murahnya berpacu secepat mungkin ke Rumah Sakit Cardio Center Permata.

Jalanan sudah relatif sepi, tapi jantung Yuna berdegup seperti lalu lintas macet di jam sibuk.

Sampai di rumah sakit, Yuna langsung lari ke lantai 5, koridor rawat inap. Bau antiseptik menusuk hidungnya, membuatnya semakin gelisah.

Dia dorong pintu kamar ibunya pelan.

Yuvita terbaring lemah di ranjang, selang oksigen terpasang di hidungnya. Wajahnya pucat seperti kertas, tapi saat melihat Yuna, matanya menyala tipis.

“Yuna, kamu datang,” bisik Yuvita, suaranya serak tapi penuh kasih.

Yuna mendekat, duduk di pinggir ranjang, memegang tangan ibunya yang dingin dan rapuh.

Tubuh Yuna Rein ini punya ingatan yang begitu dalam tentang Yuvita. Seolah-olah dia benar-benar anaknya, meski jiwa aslinya dari dunia lain.

Di novel asli, ibu Yuna cuma disebut sekilas sebagai latar belakang tragis untuk membangun karakter antagonis Yuna.

Yuna yang seorang pengacara junior yang tumbuh tanpa ayah, dibesarkan oleh ibu single parent yang bekerja keras sebagai pengacara.

Yuvita pernah menjadi pengacara sukses di masa mudanya, tapi sakit jantung kronis membuatnya pensiun dini, meninggalkan hutang medis yang menumpuk.

Yuna kecil sering ditinggal sendirian di rumah saat Yuvita lembur, tapi ikatan mereka kuat.

Tapi sekarang, Yuna yang sekarang merasakan semuanya secara langsung. Rasa bersalah, takut kehilangan, dan beban emosional yang seperti batu di dada.

'Kenapa sih novel ini harus punya subplot tragis kayak gini? Kalau ibu mati, plot utama nggak terganggu, tapi ….’

Ia tak sanggup melanjutkan alur cerita selanjutnya di pikirannya sendiri.

Sekarang, Yuna harus tanggung semuanya. Dan sebagai antagonis, nasibnya pasti lebih buruk lagi—mati konyol setelah bikin masalah dengan Alya dan tiga tokoh pria alpha itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 7.

    Beberapa orang bertepuk tangan pelan, senyum ramah terpasang. Rosie memperhatikan Alya dengan mata berbinar dengan rasa tertarik yang jelas. Dan Alya… matanya bergerak pelan, menyapu ruangan. Sampai akhirnya berhenti tepat di arah Yuna. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tapi bagi Yuna, rasanya seperti waktu berhenti. Alya tersenyum kecil, sopan, tak tahu apa-apa. Senyum yang di novel asli selalu bikin hati para pria alpha meleleh—dan hati Yuna asli terbakar iri. Yuna buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk membuka map di depannya. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa di telinga. ‘Jangan … jangan dekati aku. Jangan bicara denganku. Jangan buat aku jadi bagian dari ceritamu.’ Pikirnya panik yang terus berulang. Tapi dalam hati, dia tahu: pertemuan pertama ini sudah terjadi. Dan di dunia novel, pertemuan pertama selalu jadi awal dari segalanya. Yuna menarik napas pendek. Tangannya gemetar. Perasaan terancam itu menekan dadanya. Lalu entah sejak kapan, suara lembut dan

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 6.

    Yuna menatap pria itu, mulutnya kering. Darren hanya mengangguk sopan sambil tersenyum tipis. “Wah, saya nggak tahu ini sial atau beruntung, tabrakan dengan perempuan cantik seperti Anda,” katanya dengan nada santai. Yuna menelan ludah berat. “B–bisa aja, Pak. Tapi saya yang salah. Maaf—” “Tidak apa-apa,” potong pria itu tenang. “Kecelakaannya juga ringan. Yang penting Anda tidak terluka.” Yuna memaksakan senyum kaku. “Terima kasih. Tapi tetap saja saya—” “Sudah,” katanya lembut sambil mengangkat tangan sedikit, menghentikan permintaan maaf itu. “Mobil bisa diperbaiki. Yang penting Anda selamat.” Kalimat sederhana itu membuat Yuna terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya—tenang, hangat—yang anehnya membuat jantungnya kembali berdegup cepat. Yuna mengumpat dalam hati. Ini gawat, benar-benar gawat. Darren Mahesa, aslinya adalah pewaris keluarga konglomerat yang namanya sering muncul di berita bisnis. Ia dikenal ramah dan santai, seolah tidak pernah benar-benar terikat pada apa

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 5.

    Yuna menatap Kai dengan mata membelalak, napanya tercekat. Kata-kata ‘partner di ranjang selama satu bulan’ masih bergema di telinganya seperti tamparan keras.Kepalanya terasa kosong beberapa detik.Ia benar-benar tidak menyangka. Pria itu … bisa mengucapkan hal seperti itu dengan wajah yang tenang, seolah sedang membicarakan kontrak kerja biasa.Ia merasakan emosinya bercampur aduk. Antara marah, malu, dan tidak percaya.Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang seperti Kai yang dikenal dingin, elegan dan profesional bisa blak-blak meminta hal seperti itu?! Bahkan tak ada sedikitpun terlihat ragu di kedua matanya.Yuna menggeram dalam hati. Pria ini … benar-benar bajingan. Dia sudah menginjak harga dirinya sebagai perempuan.“Ti–tidak, Pak. Maaf, tapi saya bukan orang yang bisa Bapak perlakukan seperti itu.”Suara Yuna sempat tersendat, tapi ia memaksa dirinya menatap Kai. “Saya menolak. Saya tetap akan resign.” Suaranya kali ini lebih tegas, bahkan sedikit bergetar oleh kemarahan.

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 4.

    Yuna menegang di tempatnya, mata melebar menatap pria di depannya. Dokter Firas Adiyaksa. Pria yang seharusnya jadi magnet romansa untuk Alya, bukan untuknya. Di novel asli, Firas pertama kali muncul saat Alya mengalami kecelakaan kecil dan dirawat di rumah sakit ini, di mana dia jadi dokter yang menyelamatkan sang tokoh utama. Yuna Rein yang cuma figuran antagonis, hanya bertemu sekali-dua kali langsung dengannya selama plot utama berlangsung. Tapi sekarang ... dia sudah ketemu duluan. Di sini, di depan matanya, karena ibunya. Ya Tuhan, seharusnya Yuna belum bertemu dengan dia! Kalau Yuna jadi dekat dengan Firas, ia semakin terseret lebih dalam ke plot. Dan endingnya … benar-benar mengenaskan! Di novel, Yuna mati tragis setelah bikin skandal besar, ditinggal semua orang, bahkan ibunya sudah tidak ada. Ia bertekad tidak ingin berakhir tragis. Tujuannya sekarang cuma ingin berjuang, jauhi semua tokoh kunci. Yuna pun buru-buru geleng pelan, mundur setengah langkah. “Eh, ng

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 3.

    Yuvita tersenyum lemah, tapi matanya berkaca-kaca. “Maaf, Nak. Ibu bikin kamu repot terus.” Yuna menggeleng. “Nggak, Bu. Aku yang harus lebih sering jenguk. Cerita dong, Bu. Dokter bilang apa?” Yuvita menghela napas panjang. “Penyempitan arteri semakin parah. Kalau nggak operasi bypass segera, bisa ... fatal. Tapi biayanya ... Ibu nggak mau bebanin kamu.” Yuna menelan ludah. Dari ingatan tubuh ini, dia tahu latar belakangnya: Yuvita dulu pengacara yang tangguh, menangani kasus-kasus dan ia berintegritas tinggi. Ayah Yuna meninggal saat Yuna kecil karena kecelakaan, meninggalkan Yuvita sendirian membesarkan anak sambil berjuang dengan sakit jantung yang muncul belakangan. Sekarang semua tabungan habis untuk obat dan check-up, bahkan gaji Yuvita dulu dipakai untuk sekolah Yuna di fakultas hukum. Kini Yuna yang harus balas budi. Tapi sebagai junior, gajinya pas-pasan. “Aku bakal cari cara, Bu. Tenang aja,” kata Yuna, suaranya bergetar tapi berusaha tegas. Setelah mengo

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 2.

    Yuna membeku di tempat. Otaknya blank dan melongo.Wanita itu menarik Kai lebih dalam. Kai membalas dengan gerakan agresif, tangan besarnya naik ke dada besar wanita itu dan meremasnya dengan nafsu. Mobil itu sampai berguncang pelan akibat pergulatan panas mereka di dalam.Yuna tersentak, buru-buru mundur, tapi tumit sepatunya tersandung kabel listrik kecil di lantai. Suara klek pun terdengar.Kai mendongak tiba-tiba. Mata hitamnya langsung menangkap bayangan Yuna di kegelapan basement.Tatapannya dingin, tajam, tapi ada seringai tipis di sudut bibirnya. Seolah dia tahu Yuna sudah melihat semuanya. “Mampus aku!” desis Yuna, sebelum lari dengan tubuh gemetar hebat, jantungnya berdegup sampai terasa di telinga.Sudah terpaksa lembur, kini ia harus memergoki skandal malam bosnya dengan seorang wanita?!Mengenal Kai Verazo, tidak akan aneh jika hal kecil ini membuatnya dipecat!Sebelum menyaksikan lebih banyak, Yuna segera masuk mobil sedan murahnya, menyalakan mesin dengan tangan gemet

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status