로그인Yuna menegang di tempatnya, mata melebar menatap pria di depannya.
Dokter Firas Adiyaksa. Pria yang seharusnya jadi magnet romansa untuk Alya, bukan untuknya. Di novel asli, Firas pertama kali muncul saat Alya mengalami kecelakaan kecil dan dirawat di rumah sakit ini, di mana dia jadi dokter yang menyelamatkan sang tokoh utama. Yuna Rein yang cuma figuran antagonis, hanya bertemu sekali-dua kali langsung dengannya selama plot utama berlangsung. Tapi sekarang ... dia sudah ketemu duluan. Di sini, di depan matanya, karena ibunya. Ya Tuhan, seharusnya Yuna belum bertemu dengan dia! Kalau Yuna jadi dekat dengan Firas, ia semakin terseret lebih dalam ke plot. Dan endingnya … benar-benar mengenaskan! Di novel, Yuna mati tragis setelah bikin skandal besar, ditinggal semua orang, bahkan ibunya sudah tidak ada. Ia bertekad tidak ingin berakhir tragis. Tujuannya sekarang cuma ingin berjuang, jauhi semua tokoh kunci. Yuna pun buru-buru geleng pelan, mundur setengah langkah. “Eh, nggak ... nggak apa-apa, Dok. Saya cuma mau tanya kondisi Ibu aja. Tapi ... eh, saya harus balik ke kamar dulu. Maaf!” Tanpa menunggu jawaban, Yuna langsung berbalik. Langkahnya cepat menyusuri koridor, hampir seperti berlari. Kalau begitu, satu-satunya cara adalah lebih berhati-hati. Ia tidak boleh terlalu dekat dengan Firas … maupun Kai, lebih dari yang benar-benar diperlukan. Dengan langkah yang terasa lebih berat, Yuna kembali menuju kamar ibunya. Ia menutup pintu pelan dan memaksa dirinya menenangkan diri. Untuk saat ini, fokusnya harus pada ibunya. Soal yang lain bisa dipikirkan nanti. *** Pagi di Firma Hukum Verazo & Associates terasa lebih berat dari biasanya. Udara ruangan dipenuhi aroma kopi pekat dan suara ketikan keyboard yang tak henti. Yuna duduk di meja kerjanya, mata menatap layar laptop tapi pikirannya melayang jauh. Di benaknya, sekarang atau tidak sama sekali, Yuna harus resign. Lebih baik keluar sekarang. Ia harus mencari pekerjaan lain—pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Alya maupun para pria dalam lingkaran cerita itu. Dengan begitu, setidaknya ia masih punya kesempatan menjauh dari takdir buruk yang sudah ditulis untuk Yuna yang asli. Yuna sudah menyiapkan surat resign di email draft-nya. Sederhana, sopan, tanpa alasan panjang lebar. Hanya "terima kasih atas kesempatannya, tapi saya memutuskan untuk mundur karena alasan pribadi." Dia tarik napas dalam, jari hampir klik send. Tapi sebelum itu, suara tawa sinis terdengar dari belakang. Rosie dan dua senior lain mendekat, membawa map tebal dan secangkir kopi yang masih mengepul. “Wah, Yuna lagi-lagi melamun ya? Pasti lagi mikirin gimana caranya dekatin Pak Kai lagi, kan? Kemarin malam lembur sendirian, eh pagi-pagi udah glowing. Jangan-jangan ada apa-apa nih?” ejek Rosie sambil melempar map itu ke meja Yuna dengan kasar. “Iya tuh. Kamu kan spesialisnya flirting sama bos. Baju hari ini juga rok pendek lagi. Mau pamer kaki mulus ke siapa?” “Oh ya! Kamu kan juga biasa suka nyerobot proyek senior biar keliatan hebat di mata Pak Kai, sekarang malah diem aja?” Yuna menahan napas, tangannya mengepal di bawah meja. Ada rasa kesal yang mulai naik ke dadanya. Dalam hati ia menggerutu. Ia tahu Yuna yang asli memang sering bersikap seolah penuh maksud tersembunyi, tetapi itu bukan dirinya sekarang. Ia sama sekali tidak berniat melakukan hal-hal seperti itu. Namun Yuna juga sadar satu hal: jika ia menanggapi atau melawan, situasinya justru bisa berubah menjadi konflik yang lebih besar. Ia memejamkan mata sejenak, memaksa dirinya menenangkan diri. Toh rencananya sudah jelas. Cepat atau lambat ia akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini, lalu menjauh dari semua drama yang melibatkan mereka. Setelah itu, semuanya akan selesai. Dia tersenyum paksa, menggeleng pelan. “Nggak kok, Mbak. Ini map apa? Saya kerjain ya.” Rosie menyeringai. “Iya, kerjain aja. Itu riset kasus lama yang males aku selesain. Kamu kan junior, tugasnya bantu senior. Jangan protes, nanti aku bilang ke Pak Kai kalau kamu males-malesan.” Yuna mengangguk diam, tangannya sudah meraih map tebal itu tanpa protes. Tapi dalam hati, dia memperhitungkan setelahnya: 'Kerjain ini cepet, kirim resign, pulang, cari lowongan baru. Selesai!' Yuna menghela napas panjang dan kembali menatap layar laptop. Draft email resign masih terbuka. Tapi sebelum jarinya menyentuh tombol send, suara langkah tegas terdengar lagi. Kai Verazo muncul di pintu, jas hitamnya rapi sempurna, mata hitamnya menyapu ruangan seperti elang mencari mangsa. Semua orang langsung diam, aura dinginnya membekukan suasana. Tatapannya berhenti di Yuna. “Yuna. Antar kopi hitam ke ruangan saya. Sekarang.” Yuna membeku sejenak. Jantungnya langsung berdegup cepat. Kenapa harus dia? Padahal masih ada asisten lain di ruangan itu. Ia menelan ludah, perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya. Dia bangkit cepat, ambil secangkir kopi dari pantry, dan ikut Kai ke ruang pribadinya. Ruangan Kai masih seperti biasa: luas, minimalis, dengan pemandangan gedung-gedung yang megah. Kai duduk di kursi kulit besarnya, menyilangkan tangan di dada. Yuna meletakkan kopi di meja dengan hati-hati, tangannya sedikit gemetar. “Ini kopinya, Pak.” Kai tidak langsung ambil. Matanya menatap Yuna tajam, seperti menusuk langsung ke jiwa. “Duduk.” Yuna ragu, tapi akhirnya duduk di kursi depan meja. Firasat buruk mulai menggerogotinya. Kai condong ke depan sedikit, suaranya rendah dan dingin. “Malam itu di basement. Kamu melihat yang seharusnya tidak kamu lihat.” Yuna menelan ludah keras, wajahnya memucat. Benar saja, Kai memanggilnya untuk mengungkit hal itu, dan ... ia memang sudah ketahuan. Ketika akhirnya ia membuka suara, ucapannya keluar terbata-bata dengan nada yang tidak bisa ia sembunyikan lagi kepanikannya. “P–pak, saya ... nggak sengaja. Saya cuma lewat, dan ... maaf, Pak. Saya nggak akan bilang ke siapa-siapa.” Kai menyeringai tipis, seperti predator yang sedang bermain-main. “Kamu mengintip. Dan sekarang, kamu kelihatan gelisah setiap kali lihat saya. Kenapa? Takut dipecat? Atau ... ada yang lain?” Yuna menggeleng cepat, tapi panas naik ke wajahnya. Bayangan malam itu … Kai yang berciuman panas, tangannya yang agresif masih menempel di pikiran. “Nggak, Pak! Saya cuma terkejut. Di novel—eh, maksud saya, Pak Kai kan image-nya dingin. Saya nggak nyangka ….” Kai angkat alis, tatapannya semakin intens. “Image? Kamu pikir kamu tahu saya? Itu urusan pribadi saya. Tapi sekarang, karena kamu tahu, saya harus pastikan kamu diam. Atau ... konsekuensinya bisa lebih buruk dari pemecatan.” Yuna merasa terpojok, napasnya pendek. Konfrontasi ini bikin dia semakin yakin untuk resign segera, sebelum semakin terlalu dalam! Dia tarik napas dalam, memberanikan diri. “Pak, sebenarnya, saya mau ajuin surat resign. Saya merasa nggak cocok di sini. Maaf.” Kai diam sesaat, matanya menyipit. Lalu, alih-alih marah, dia bersandar ke sandaran kursi, menyilangkan tangan. “Resign? Kenapa sekarang? Kamu tahu, resign mendadak bisa bikin reputasi kamu hancur di dunia hukum. Apalagi dengan performa kamu yang biasa-biasa saja.” Yuna menunduk. “Saya punya alasan pribadi, Pak. Keluarga ... maksud saya, ibu saya sakit parah. Saya perlu fokus ke situ.” Kai diam lagi, tapi tatapannya berubah. Seolah ada perhitungan di sana. Akhirnya dia bicara dengan suara lebih rendah. “Ibu kamu sakit jantung, kan? Biaya operasi bypass mahal. Hutang menumpuk. Kamu pikir resign bakal selesain masalah?” Yuna terkejut, matanya melebar. “P-Pak, Bapak tahu dari mana?” Kai tersenyum tipis. “Saya punya cara. Dan sekarang, saya tawarkan kesepakatan. Kamu tetap kerja di sini, tapi saya naikkan gaji kamu dua kali lipat. Plus, bonus khusus untuk biaya medis ibu kamu. Tapi ... dengan syarat.” Yuna membeku, otaknya berputar kencang. Kai melanjutkan. “Kamu harus jadi budak saya. Full time. Dan … partner di ranjang saya selama satu bulan.”“Firas?” suara Yuna terdengar kaku dan terkejut. “K-kenapa kamu di sini?” Pertemuan ini benar-benar datang di waktu yang salah. Firas berjalan mendekat dengan napas masih sedikit tidak beraturan seolah ia memang datang terburu-buru. “Tadi kamu menutup telepon terlalu cepat,” jawabnya. “Saya jadi khawatir.” Yuna langsung merasa bersalah. “Ah, maaf, Firas. Tadi ada sesuatu yang buat saya harus putusin panggilannya lebih dulu.” Firas terdiam sebelum matanya bergeser ke Kai di samping Yuna. Saat tatapannya langsung jatuh ke sudut bibir Kai yang masih berdarah, ekspresinya berubah. Firas memicingkan mata dan terkekeh pelan—suara tawa yang sarkastik dan tajam, sangat berbeda dari nada lembutnya yang biasa. “Bekas pukulan itu …” gumamnya sambil menatap Kai. “Saya nggak nyangka ternyata Anda malah terlibat masalah lagi di rumah sakit ini.” Yuna menegang keras di tempat dengan perasaan gelisah. “Firas, tolong … jangan bilang seperti itu,” ucap Yuna pelan. Firas menoleh ke Y
Jantung Yuna terasa diremas pelan. Untuk sesaat, ia hanya bisa menatap pria itu tanpa kata-kata. Karena Kai Verazo bukan tipe orang yang mudah meminta maaf, bahkan mungkin terlalu jarang. Namun kali ini, tidak ada kesombongan dan tidak ada pembelaan diri. Hanya penyesalan yang sederhana dan jujur. Yuna menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu. Langkah kaki Yuna terasa jauh lebih berat dibanding saat ia keluar dari kamar rawat inap tadi. Pikirannya berputar tanpa henti tentang Kai, kontrak yang tersisa delapan hari dan tentang dirinya sendiri, bahkan juga Firas yang mau menunggunya sampai kontrak selesai. Awalnya semua terasa sederhana. Ia tinggal menjalani kontrak tersebut, bertahan di roller coaster kehidupan yang tak ada habisnya. Asal bisa menyelamatkan ibunya dan dirinya sendiri, maka semuanya akan berakhir begitu saja. Tapi sekarang, semakin lama, semakin banyak hal yang bergerak keluar dari jalur cerita yang pe
Kai terdiam cukup lama setelah pertanyaan Yuna meluncur. Gadis itu langsung menyesal. Mungkin seharusnya ia tidak bertanya sejauh itu. Tapi pertanyaan itu sudah terlanjur keluar dan tidak bisa ditarik kembali. Kai hanya menatapnya tanpa berkedip. Lalu ia menghembuskan napas pelan dan menggeleng tipis. “Kalau kamu bertanya apakah saya menyukai kamu … atau bahkan mencintai kamu,” ucap Kai jujur, suaranya rendah, “saya tidak tahu. Saya tidak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya.” Ia terdiam sejenak, rahangnya menegang. “Yang saya tahu … saya tidak mau kehilangan kamu.” Tatapannya semakin dalam. “Saya tahu saya peduli. Saya tahu saya terus memikirkan kamu. Dan saya tahu … fakta bahwa kontrak ini tinggal delapan hari lagi berakhir, membuat saya jauh lebih terusik daripada seharusnya.” Kai menatap Yuna lekat. “Perasaan apa sebenarnya ini … saya sendiri belum punya jawabannya, Yuna.” Yuna berdiri membeku. Dadanya naik-turun tidak karuan. Ucapan Kai terlalu jujur, hingga
Dunia Yuna seolah berhenti berputar. Seluruh tubuhnya langsung membeku di tempat. Jadi itu alasan Kendrik memukul Kai? Kai ... sudah jujur soal kontrak satu bulan mereka? Bagaimana bisa? Dan … kenapa Kai justru memilih mengakui hal itu kepada Kendrik? Padahal pria itu selama ini selalu menutupi semuanya, meski kadang perhatiannya di depan beberapa orang memancing reaksi penasaran dan curiga pada mereka berdua. “Apa …?” “Ya,” ucap Kai dengan suara dalam. “Ayah saya sudah curiga sejak kita menginjakan kaki di sini, bahkan ketika beliau akhirnya tahu saya mengetahui kamu anak dari Tante Yuvita. Dan ditambah … saya bilang ‘tidak keberatan dijodohkan’ tadi.” Jantung Yuna terasa jatuh ke perutnya. Kendrik … benar-benar curiga? Memang tidak bisa dipungkiri, saat Kai tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya ‘tidak keberatan dijodohkan’ dengan wajah serius di tengah candaan Yuvita tadi, ucapan itu pasti langsung menarik perhatian Kendrik. Apalagi bagi seorang ayah yang mengenal putran
Beberapa menit berlalu setelah Kendrik meninggalkan kamar rawat inap, Kai belum juga kembali masuk. Suasana yang tadi hangat kini berubah menjadi lebih tenang. Televisi masih menyala pelan di sudut ruangan, tapi perhatian Yuna dan Yuvita sama sekali tidak lagi tertuju ke sana. Yuvita menatap pintu kamar beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil. "Yuna, kenapa Kai belum juga masuk, ya?" Yuna terdiam. Ia sebenarnya memikirkan hal yang sama sejak tadi. Sejak Kendrik masuk seorang diri dengan wajah tegang dan berpamitan secara mendadak. Belum lagi, Kai sama sekali tidak muncul kembali setelah itu. "Aku nggak tahu, Bu." Yuvita mengernyit kecil. "Lalu sebenarnya apa yang terjadi di luar tadi?" Yuna menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu." Namun bahkan saat mengucapkannya, perasaan tidak nyaman masih mengendap di dadanya. Karena firasatnya mengatakan bahwa sesuatu memang sedang terjadi yang berhubungan dengan percakapan Kai dan Kendrik tadi. Dan Yuna merasa dirinya harus
Yuna menelan ludah berat dan menjawab pelan."Firas, Bu."Yuvita lngsung tersenyum lebar seketika itu juga. “Angkat dong, Nak. Ibu kangen ngobrol sama Dokter Firas.”Yuna menelan ludah gelisah sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Layar menampilkan wajah Firas yang sedang duduk di kursi kemudi mobil. Wajahnya tersenyum lembut. Lampu jalan malam memantul samar di kaca jendela belakang."Halo."Yuna berusaha tersenyum normal."Halo. Firas, kamu lagi di jalan?""Iya, nih." Tatapan Firas lalu bergerak ke belakang Yuna. "Yuna, kamu lagi di mana? Kamu di rumah sakit?"Yuna mengangguk."Iya, lagi jenguk Ibu.""Oh,” ucap Firas mengerti.Lalu Yuna menggeser ponselnya ke arah Yuvita."Ibu juga di sini."Yuvita masuk ke frame layar ponsel, dan wajahnya langsung berbinar. "Halo, Dokter tampan."Firas langsung tertawa kecil."Halo, Ibu. Ibu terlihat makin sehat ya?"Senyum Yuvita semakin lebar. Mereka mulai mengobrol sambil Firas masih memperhatikan wajah Yuvita beberapa saat."Ada ke
Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b
Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati
Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah o
Pintu lift yang mengarah ke koridor Presidential Suite Hotel X terbuka pelan. Yuna melangkah keluar dengan dress hitam satin yang menempel dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan ia sudah memilihnya. Demi Yuvita. Demi operasi bypass. DP







