Share

Chapter 4.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-03-11 17:08:02

Yuna menegang di tempatnya, mata melebar menatap pria di depannya.

Dokter Firas Adiyaksa.

Pria yang seharusnya jadi magnet romansa untuk Alya, bukan untuknya.

Di novel asli, Firas pertama kali muncul saat Alya mengalami kecelakaan kecil dan dirawat di rumah sakit ini, di mana dia jadi dokter yang menyelamatkan sang tokoh utama.

Yuna Rein yang cuma figuran antagonis, hanya bertemu sekali-dua kali langsung dengannya selama plot utama berlangsung.

Tapi sekarang ... dia sudah ketemu duluan. Di sini, di depan matanya, karena ibunya.

Ya Tuhan, seharusnya Yuna belum bertemu dengan dia! Kalau Yuna jadi dekat dengan Firas, ia semakin terseret lebih dalam ke plot. Dan endingnya … benar-benar mengenaskan!

Di novel, Yuna mati tragis setelah bikin skandal besar, ditinggal semua orang, bahkan ibunya sudah tidak ada.

Ia bertekad tidak ingin berakhir tragis. Tujuannya sekarang cuma ingin berjuang, jauhi semua tokoh kunci.

Yuna pun buru-buru geleng pelan, mundur setengah langkah. “Eh, nggak ... nggak apa-apa, Dok. Saya cuma mau tanya kondisi Ibu aja. Tapi ... eh, saya harus balik ke kamar dulu. Maaf!”

Tanpa menunggu jawaban, Yuna langsung berbalik. Langkahnya cepat menyusuri koridor, hampir seperti berlari.

Kalau begitu, satu-satunya cara adalah lebih berhati-hati. Ia tidak boleh terlalu dekat dengan Firas … maupun Kai, lebih dari yang benar-benar diperlukan.

Dengan langkah yang terasa lebih berat, Yuna kembali menuju kamar ibunya.

Ia menutup pintu pelan dan memaksa dirinya menenangkan diri.

Untuk saat ini, fokusnya harus pada ibunya. Soal yang lain bisa dipikirkan nanti.

***

Pagi di Firma Hukum Verazo & Associates terasa lebih berat dari biasanya. Udara ruangan dipenuhi aroma kopi pekat dan suara ketikan keyboard yang tak henti.

Yuna duduk di meja kerjanya, mata menatap layar laptop tapi pikirannya melayang jauh. Di benaknya, sekarang atau tidak sama sekali, Yuna harus resign.

Lebih baik keluar sekarang. Ia harus mencari pekerjaan lain—pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Alya maupun para pria dalam lingkaran cerita itu.

Dengan begitu, setidaknya ia masih punya kesempatan menjauh dari takdir buruk yang sudah ditulis untuk Yuna yang asli.

Yuna sudah menyiapkan surat resign di email draft-nya. Sederhana, sopan, tanpa alasan panjang lebar. Hanya "terima kasih atas kesempatannya, tapi saya memutuskan untuk mundur karena alasan pribadi." Dia tarik napas dalam, jari hampir klik send.

Tapi sebelum itu, suara tawa sinis terdengar dari belakang. Rosie dan dua senior lain mendekat, membawa map tebal dan secangkir kopi yang masih mengepul.

“Wah, Yuna lagi-lagi melamun ya? Pasti lagi mikirin gimana caranya dekatin Pak Kai lagi, kan? Kemarin malam lembur sendirian, eh pagi-pagi udah glowing. Jangan-jangan ada apa-apa nih?” ejek Rosie sambil melempar map itu ke meja Yuna dengan kasar.

“Iya tuh. Kamu kan spesialisnya flirting sama bos. Baju hari ini juga rok pendek lagi. Mau pamer kaki mulus ke siapa?”

“Oh ya! Kamu kan juga biasa suka nyerobot proyek senior biar keliatan hebat di mata Pak Kai, sekarang malah diem aja?”

Yuna menahan napas, tangannya mengepal di bawah meja. Ada rasa kesal yang mulai naik ke dadanya.

Dalam hati ia menggerutu. Ia tahu Yuna yang asli memang sering bersikap seolah penuh maksud tersembunyi, tetapi itu bukan dirinya sekarang. Ia sama sekali tidak berniat melakukan hal-hal seperti itu.

Namun Yuna juga sadar satu hal: jika ia menanggapi atau melawan, situasinya justru bisa berubah menjadi konflik yang lebih besar.

Ia memejamkan mata sejenak, memaksa dirinya menenangkan diri.

Toh rencananya sudah jelas. Cepat atau lambat ia akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini, lalu menjauh dari semua drama yang melibatkan mereka. Setelah itu, semuanya akan selesai.

Dia tersenyum paksa, menggeleng pelan. “Nggak kok, Mbak. Ini map apa? Saya kerjain ya.”

Rosie menyeringai. “Iya, kerjain aja. Itu riset kasus lama yang males aku selesain. Kamu kan junior, tugasnya bantu senior. Jangan protes, nanti aku bilang ke Pak Kai kalau kamu males-malesan.”

Yuna mengangguk diam, tangannya sudah meraih map tebal itu tanpa protes.

Tapi dalam hati, dia memperhitungkan setelahnya: 'Kerjain ini cepet, kirim resign, pulang, cari lowongan baru. Selesai!'

Yuna menghela napas panjang dan kembali menatap layar laptop. Draft email resign masih terbuka.

Tapi sebelum jarinya menyentuh tombol send, suara langkah tegas terdengar lagi.

Kai Verazo muncul di pintu, jas hitamnya rapi sempurna, mata hitamnya menyapu ruangan seperti elang mencari mangsa.

Semua orang langsung diam, aura dinginnya membekukan suasana.

Tatapannya berhenti di Yuna. “Yuna. Antar kopi hitam ke ruangan saya. Sekarang.”

Yuna membeku sejenak. Jantungnya langsung berdegup cepat.

Kenapa harus dia? Padahal masih ada asisten lain di ruangan itu. Ia menelan ludah, perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya.

Dia bangkit cepat, ambil secangkir kopi dari pantry, dan ikut Kai ke ruang pribadinya.

Ruangan Kai masih seperti biasa: luas, minimalis, dengan pemandangan gedung-gedung yang megah. Kai duduk di kursi kulit besarnya, menyilangkan tangan di dada.

Yuna meletakkan kopi di meja dengan hati-hati, tangannya sedikit gemetar. “Ini kopinya, Pak.”

Kai tidak langsung ambil. Matanya menatap Yuna tajam, seperti menusuk langsung ke jiwa. “Duduk.”

Yuna ragu, tapi akhirnya duduk di kursi depan meja. Firasat buruk mulai menggerogotinya.

Kai condong ke depan sedikit, suaranya rendah dan dingin.

“Malam itu di basement. Kamu melihat yang seharusnya tidak kamu lihat.”

Yuna menelan ludah keras, wajahnya memucat. Benar saja, Kai memanggilnya untuk mengungkit hal itu, dan ... ia memang sudah ketahuan. Ketika akhirnya ia membuka suara, ucapannya keluar terbata-bata dengan nada yang tidak bisa ia sembunyikan lagi kepanikannya.

“P–pak, saya ... nggak sengaja. Saya cuma lewat, dan ... maaf, Pak. Saya nggak akan bilang ke siapa-siapa.”

Kai menyeringai tipis, seperti predator yang sedang bermain-main.

“Kamu mengintip. Dan sekarang, kamu kelihatan gelisah setiap kali lihat saya. Kenapa? Takut dipecat? Atau ... ada yang lain?”

Yuna menggeleng cepat, tapi panas naik ke wajahnya. Bayangan malam itu … Kai yang berciuman panas, tangannya yang agresif masih menempel di pikiran.

“Nggak, Pak! Saya cuma terkejut. Di novel—eh, maksud saya, Pak Kai kan image-nya dingin. Saya nggak nyangka ….”

Kai angkat alis, tatapannya semakin intens. “Image? Kamu pikir kamu tahu saya? Itu urusan pribadi saya. Tapi sekarang, karena kamu tahu, saya harus pastikan kamu diam. Atau ... konsekuensinya bisa lebih buruk dari pemecatan.”

Yuna merasa terpojok, napasnya pendek. Konfrontasi ini bikin dia semakin yakin untuk resign segera, sebelum semakin terlalu dalam!

Dia tarik napas dalam, memberanikan diri. “Pak, sebenarnya, saya mau ajuin surat resign. Saya merasa nggak cocok di sini. Maaf.”

Kai diam sesaat, matanya menyipit. Lalu, alih-alih marah, dia bersandar ke sandaran kursi, menyilangkan tangan.

“Resign? Kenapa sekarang? Kamu tahu, resign mendadak bisa bikin reputasi kamu hancur di dunia hukum. Apalagi dengan performa kamu yang biasa-biasa saja.”

Yuna menunduk. “Saya punya alasan pribadi, Pak. Keluarga ... maksud saya, ibu saya sakit parah. Saya perlu fokus ke situ.”

Kai diam lagi, tapi tatapannya berubah. Seolah ada perhitungan di sana. Akhirnya dia bicara dengan suara lebih rendah.

“Ibu kamu sakit jantung, kan? Biaya operasi bypass mahal. Hutang menumpuk. Kamu pikir resign bakal selesain masalah?”

Yuna terkejut, matanya melebar. “P-Pak, Bapak tahu dari mana?”

Kai tersenyum tipis. “Saya punya cara. Dan sekarang, saya tawarkan kesepakatan. Kamu tetap kerja di sini, tapi saya naikkan gaji kamu dua kali lipat. Plus, bonus khusus untuk biaya medis ibu kamu. Tapi ... dengan syarat.”

Yuna membeku, otaknya berputar kencang.

Kai melanjutkan. “Kamu harus jadi budak saya. Full time. Dan … partner di ranjang saya selama satu bulan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 118.

    Yuna menarik napas tajam. Emosinya sudah berada di ujung tanduk. “Tidak, Darren. Saya masih banyak kerjaan. Kalau ada yang penting, bilang saja lewat telepon.” Darren terdiam sebentar, lalu tiba-tiba suaranya sedikit naik. “Kalau begitu saya naik ke lantai kamu sekarang.” Yuna langsung panik. Bayangan Alya melihatnya bersama Darren, rekan kerja yang sedang memperhatikan, dan gosip yang akan menyebar membuat darahnya serasa surut. “Jangan!” potongnya cepat. “Baik, saya turun. Tunggu di parkiran saja. Jangan masuk ke lobi.” Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban Darren, lalu berjalan cepat menuju lift dengan jantung berdegup kencang. Beberapa menit kemudian, Yuna sampai di lantai lobi. Ia langsung menemukan mobil SUV hitam milik Darren yang diparkir di area parkiran tamu. Ia membuka pintu penumpang dan langsung masuk. Darren menyapa dengan hangat. “Yuna, yuk. Kita mak—” “Langsung ke intinya saja,” potong Yuna dingin. “Saya nggak mau pergi makan siang. Bicara di

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 117.

    Yuna merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Apa ia harus terus berbohong? Apa ia boleh menyakiti orang yang tulus seperti Alya hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri? Yuna menarik napas pelan sambil berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. “Eh? Enggak kok, Alya,” jawab Yuna cepat sambil berusaha terdengar ringan. “Saya juga heran kenapa dia jadi nanya-nanya soal saya. Padahal kita jarang banget ketemu, apalagi sampai dekat.” Alya tidak langsung mengangguk. Matanya masih menyipit penasaran seolah belum sepenuhnya percaya. “Beneran, Kak? Tapi… kok rasanya aneh. Dia sering nanya soal Kakak, tapi kalau nggak bahas Kakak, malah hampir nggak pernah chat aku.” Yuna merasa dadanya semakin sesak. Ironis sekali. Ia sendiri yang masuk ke dalam sandiwara ini, ia sendiri yang berbohong berkali-kali pada Alya, tapi sekarang justru berusaha mati-matian menjaga hubungan Alya dan Darren tetap utuh. Ia meng

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 116.

    Yuna langsung merasa dadanya sesak. Tawaran itu seharusnya melegakan, tapi justru membuatnya panik. Bayangan ancaman Kai semalam langsung muncul—lisensi Firas yang bisa hilang dalam sekejap hanya karena terseret ke dalam hidupnya. “Tidak usah, Firas,” jawab Yuna cepat, nada suaranya sedikit terlalu tinggi. “Saya bisa urus sendiri. Terima kasih.” Firas terdiam sesaat di seberang sana. “Kenapa?” tanyanya pelan, ada kekhawatiran yang jelas. “Kamu tiba-tiba terdengar … tegang.” Yuna menelan ludah. Tangan kirinya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Suara Kai yang dingin terus terngiang-ngiang dipikirannya mengenai Firas. “Nggak apa-apa,” jawabnya cepat dengan suara bergetar. “Benar-benar nggak apa-apa. Saya cuma … lagi banyak pikiran soal Ibu saya.” Firas diam lebih lama kali ini. Yuna bisa merasakan perubahan di nada suaranya ketika pria itu akhirnya berbicara. “Yuna … kamu lagi menghindar lagi ya seperti dulu? Seolah kamu takut terlalu dekat dengan saya.” Yuna m

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 115.

    Cahaya pagi menyusup lemah melalui tirai kamar utama Kai. Yuna terbangun dengan tubuh Kai yang masih memeluknya dari belakang. Lengan pria itu melingkar longgar di pinggangnya. Untuk sesaat ia hanya diam sambil merasakan hangat napas Kai di tengkuknya. Namun pikirannya tidak bisa tenang. Ucapan Kai semalam terus terngiang jelas mengenai keputusan yang harus ia berikan hari ini. Dada Yuna terasa sedikit sesak. Perlahan, ia melepaskan diri dengan hati-hati agar tidak membangunkan pria itu, lalu bangkit dari ranjang king-size tersebut. Dan seperti biasa, ia memilih mandi dan bersiap di kamar tamu. Setelah mandi cepat, Yuna mengenakan setelan kerja formalnya, lalu rambutnya diikat rapi, dan memoles wajah dengan makeup tipis. Yuna juga sudah ke dapur dan membuat sarapan sederhana untuk Kai. Saat Yuna sedang menuangkan kopi hitam ke cangkir, Kai keluar dari kamar utama. Pria itu hanya mengenakan celana chino hitam dan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih se

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 114.

    Lampu kamar utama sudah diredupkan. Hanya cahaya samar dari lampu tidur yang menyisakan kehangatan kuning lembut di dinding. Yuna berbaring miring di ranjang besar, punggungnya menghadap Kai. Selimut tipis menutupi tubuh mereka berdua. Udara malam terasa sejuk, meski hangat tubuh Kai di belakangnya tetap menyelimuti punggungnya. Kai tidak langsung tidur. Satu lengannya melingkar longgar di pinggang Yuna. Jarinya sesekali mengusap pelan kulit pinggang Yuna melalui kain tipis baju tidur. Hening cukup lama. Lalu Kai memanggil dengan suara rendah dan agak serak karena lelah. “Yuna.” “Hm?” Kai terdiam sejenak. “Kenapa belakangan ini kamu semakin emosional seperti makan malam tadi?” Pertanyaan itu datang pelan, tanpa nada menuduh. Hanya rasa ingin tahu yang jarang sekali muncul dari Kai. Yuna tidak langsung menjawab. Matanya menatap kosong ke dinding kamar yang samar. Dibenaknya yang paling dalam, ia lelah. Karena setiap hari ia merasa seperti sedang berjalan di tali yan

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 113.

    Kai tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Yuna dengan tatapan yang sulit dibaca, seolah sedang memprediksi reaksi gadis itu terhadap tawaran yang akan ia lontarkan. “Kamu pasti setuju, karena ini lebih baik daripada kamu harus capek bolak-balik setiap hari.” Yuna tercekat. Firasat buruk langsung menjalar di dadanya. “Setuju?” ulangnya pelan. “Saya nggak butuh solusi dari Anda, Kai. Tolong … cukup,” ujar Yuna dengan suara lebih kecil dan bergetar. Beberapa detik kemudian, Yuna tertawa getir. Beban hidup yang ia pikul selama ini seolah tidak pernah berhenti, terus berputar dan menekan tanpa jeda. Ia meletakkan sendok dan piringnya di meja sebelum ambruk di kursi. Bahunya bergetar pelan. “Kai, saya … benar-benar kewalahan dengan semua ini,” lanjutnya pelan, suaranya pecah di akhir kalimat. “Semua syarat maupun solusi Anda … semuanya terasa seperti saya nggak boleh hidup dengan cara saya sendiri.” Ia menarik napas menahan sesak. “Saya cuma pengen Ibu sembuh, Kai. Itu aja. Ken

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 47.

    Yuna menunggu jawaban Kai dengan napas tertahan. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin kencang. Kai terdiam lama. Matanya masih tertutup, tapi Yuna bisa merasakan bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Pikir Yuna, toh dalam cerita aslinya memang Kai akan

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 43.

    Yuna membeku. Pandangannya langsung tertuju pada Alya. Dan benar saja, gadis itu hanya diam, tapi Yuna bisa melihat bagaimana bahunya menegang pelan dan sorot matanya semakin sulit dibaca. Darren akhirnya membalas dengan nada yang masih terdengar santai tapi kali ini lebih sarkastik. “Baik, Bos b

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 41.

    Koridor rumah sakit yang semula sunyi mendadak terasa sempit. Yuna berdiri terpaku di tempatnya, napasnya tercekat saat pandangannya menangkap satu per satu sosok di hadapannya. Alya di sisi kanan dengan wajah penuh khawatir, Darren sedikit di depannya dengan tatapan tajam pada Kai, dan … Kai, berd

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 39.

    Koridor lantai dua rumah sakit terasa terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang sedang mempertaruhkan nyawa seseorang. Di ujung lorong, lampu merah bertuliskan Operasi Berlangsung masih menyala dan tak berkedip. Yuna duduk diam di kursi tunggu dengan tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status