LOGINYuna membeku. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Pertanyaan Ibunya seperti pukulan pelan tepat di dada. Kali ini, ia tidak bisa menjawab jujur pada Ibunya. Kalau bisa Yuvita tidak boleh tahu. Kalau Yuvita tahu bahwa putrinya terjerat kontrak gelap dengan atasannya sendiri demi biaya operasi, Yuna tidak berani membayangkan reaksi ibunya. Ibunya yang sudah lemah ini pasti hancur, merasa bersalah, dan mungkin malah menolak pengobatan untuk selanjutnya. Yuna menelan ludah berat. Tenggorokannya terasa seperti tersumbat. “Ada … bonus dari firma, Bu,” jawab Yuna akhirnya, suaranya pelan dan sedikit bergetar. “Mereka bantu banyak selama aku kerja di sana. Katanya … karena aku sering lembur dan tangani kasus penting.” Yuna memaksakan senyum dengan lembut. “Jadi mereka kasih tunjangan khusus untuk biaya pengobatan keluarga karyawan.” Yuvita terdiam. Matanya menatap Yuna lekat-lekat, seolah sedang mencari kebenaran di balik perkataan putrinya. Lalu ia tersenyum lembut, penuh kebangg
Yuna melangkah masuk dengan tangan gemetar. Di dalam ruangan yang lebih terang dan nyaman, Yuvita terbaring di ranjang dengan mata setengah terbuka. Wajahnya masih pucat, tapi ada senyum kecil yang samar ketika melihat putrinya. “Yuna …” suara Yuvita lemah, tapi jelas penuh kasih. Yuna langsung mendekat dan memegang tangan ibunya dengan lembut. Air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan. “Ibu … Ibu sudah bangun? Syukurlah … aku takut sekali .…” Yuvita mengusap punggung tangan Yuna dengan jari yang lemah. “Maafkan Ibu … sudah bikin kamu khawatir.” Yuna menggeleng pelan. “Jangan minta maaf. Yang penting sekarang, Ibu sudah disini. Ibu juga harus sehat, ya.” Firas berdiri di belakang Yuna memberi ruang, tapi tetap mengawasi dengan tatapan lembut. Yuna menangis pelan sambil menempelkan pipinya ke punggung tangan ibunya. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya. Semua ini berawal dari keputusan Kai untuk melunasi biaya pengobatan Yuvita. Tapi Yuna tahu, di balik itu, ia justru
Alis Kai menukik sebelah dengan sorot mata heran karena pertanyaan Yuna.“Kamu masih saja mengkhawatirkan rekan kerja yang selalu merudungmu, Yuna?”Yuna mengerjap dengan perasaan gugup yang menyergapnya tiba-tiba. Tangannya refleks mempererat genggaman tas.“Seenggaknya saya mau tahu dia masih baik-baik saja. A–Anda … nggak pecat dia, kan?”Kai menghela napas pendek. “Saya tidak memecatnya. Tapi dia sudah menerima resikonya. Dia yang memulai gosip itu dan selalu membuat ulah. Saya tidak akan membiarkan siapapun mengacaukan lingkungan kerja saya.”Yuna tercekat. Jawaban Kai dingin dan tanpa emosi berlebih, tapi justru itu yang terasa menekan. Ia menatap pria itu cukup lama sambil mencoba mencerna.Biasanya, Kai hanya akan bertindak jika sesuatu langsung menyentuh reputasi atau kepentingannya. Hal sepele seperti perundungan di kantor bukan urusannya. Tapi kali ini … agak berbeda dari cerita asli Novel yang ia pernah baca
Yuna refleks menghentikan pergerakan kedua tangannya sebelum akhirnya, ia mendongak ke arah suara Kai. Alya, maupun para karyawan pun terdiam seketika.Rosie yang masih duduk di meja kerjanya seketika menegang sebelum akhirnya ia berdiri canggung sambil melihat kanan-kirinya dengan wajah bingung. Ia akhirnya berjalan pelan dan masuk ke ruang kerja Kai sebelum ia tutup pintu di belakangnya.Setelah Rosie masuk, bisik-bisik pun mulai mengudara.“Rosie dipanggil? Kok tiba-tiba banget sih?”“Nggak tahu tuh. Dia kan nggak ada buat masalah seharian ini.”“Apa jangan-jangan … Pak Bos udah denger gosip soal perempuan yang datang itu?”“Wah, kalo Pak Bos denger, bisa gawat!”Yuna menangkap setiap bisikan lirih di sekitar sebelum tiba-tiba HP-nya bergetar pelan di mejanya. Yuna menoleh sekilas sebelum ia mengernyit dalam saat baca isi pesan dari Kai. Jantungnya langsung berdegup cepat.Kai: “Langsung pulang. Bersihkan Pen
Yuna menelan ludahnya dengan susah payah saat ia mendengar kata ‘hukuman’ dan ‘sayang’ yang dilontarkan oleh Kai dengan jarak yang begitu dekat. Bisikan rendah pria itu membuat pipinya memerah lagi menahan malu. Jantungnya berdegup kencang. Yuna akhirnya berdehem keras sambil menyadarkan dirinya, lalu ia mundur setengah langkah untuk mengambil sedikit jarak. Pria ini benar-benar bahaya. Pagi-pagi buta begini dia malah berbisik-bisik dengan nada yang begitu menggoda …? Ia menunduk sedikit sambil menahan salah tingkah yang menyergap di dadanya. “A–Ayo, Kai. Nanti kita telat,” ajaknya dengan suara terbata-bata. Kai tersenyum tipis tak menjawab. Lalu ia mengulurkan tangan sambil menarik tangan kecil Yuna tanpa izin sebelum mereka keluar dari Penthouse menuju basement. Sampai di basement, tanpa membuang waktu Kai langsung masuk ke kursi kemudi mobil sportnya, sementara Yuna masuk ke kursi penumpang.
"Hei, bangun, pemabuk. Kamu berangkat kerja tidak?”Suara Kai yang sarkastik dan dingin langsung menyadarkan Yuna.Ia membuka mata pelan yang masih setengah sadar. Cahaya pagi menyelinap dari tirai kamar, dan hal pertama yang ia lihat adalah Kai yang … basah?Handuk melilit di pinggangnya dengan sempurna, hingga menampakkan garis otot tubuh yang tegas dan atletis. Rambutnya basah seperti baru selesai mandi, ekspresinya dingin seperti biasa—persis sosok pria yang ia kenal.Yuna membeku sesaat, disertai kepalanya yang masih ringan akibat sisa mabuk. Semalam … ia mabuk setelah meminum champagne. Dan ia lupa apa saja yang telah ia katakan.Dan sekarang … ia tertidur di kamar Kai? Apa dia yang membawanya kemari saat ia sudah tak sadar?Ia bangkit perlahan untuk duduk hingga selimut merosot turun dari bahu. Namun ia meringis pelan sambil refleks memijat pelipisnya karena denyut kepala yang tak tertahankan.“Sakit,” gumam Yuna







