LOGINMendengar seruan parau dari Caspian yang terus memohon di bawah kaki ranjang dengan mata dipenuhi air mata, atmosfer di dalam kamar tidur utama itu kian terasa sesak oleh kebenaran emosi yang meluap. Belum sempat Scarlett memberikan balasan atas kekhawatiran sang Pendeta Agung, sebuah pergerakan kembali terjadi di sisi ranjangnya.Zayn langsung merangsek maju, mengambil posisi tepat di samping Valerian. Pangeran ras duyung berambut biru yang biasanya penuh dengan aura menggoda itu kini benar-benar telah kehilangan seluruhnya. Dengan napas yang memburu pendek, dia menggenggam erat selimut sutra yang menutupi tubuh Scarlett, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi dari pandangannya."Tuan... jangan tinggalkan aku lagi," ucap Zayn dengan nada suara yang lirih dan serak, sementara air matanya mulai meleleh deras membasahi pipinya tanpa bisa dia bendung lagi.Dia mempererat genggamannya pada selimut, lalu menambahkan dengan keputusasaan
Mendengar keputusan yang keluar dari bibir Scarlett, Pixie tidak langsung memproses perintah tersebut. Makhluk kecil itu berhenti tepat di depan wajah Scarlett. "Pikirkanlah baik-baik, Inang," ucap Pixie, nada suaranya kini dipenuhi oleh peringatan. "Ini adalah kesempatan terakhir. Begitu gerbang ini ditutup dan jiwamu dikirim kembali, kamu tidak bisa menyesal lagi untuk selamanya. Hak kepulanganmu ke dunia asal akan hangus total." Namun, segala bentuk ancaman dan peringatan logis dari sistem sama sekali tidak mampu menggoyahkan dinding pertahanan batin Scarlett. Sepasang mata ungunya justru memancarkan kilat keteguhan dan keyakinan yang jauh lebih pekat. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius, mengunci tatapan Pixie tanpa berkedip. "Aku sangat yakin." Pixie yang mendengar jawaban dari Scarlett hanya bisa menghel
Kelopak mata Scarlett perlahan terbuka kembali. Namun, sensasi pertama yang menyerang inderanya bukan lagi rasa sakit yang menusuk atau aroma anyir darah dari alun-alun takhta. Tidak ada juga suara tangisan histeris yang parau dari para suami binatangnya yang mengiringi kepergian jiwanya beberapa saat lalu.Saat pandangan matanya menjadi jelas, Scarlett menyadari bahwa dirinya saat ini sedang terbaring di tengah-tengah sebuah lingkup dunia yang asing—sebuah dimensi luas yang serba putih bersih tanpa ujung, tanpa dinding, dan tanpa batas cakrawala yang jelas. Tempat itu begitu sunyi, begitu damai, dan diselimuti oleh pendaran cahaya terang yang tidak menyilaukan mata. Scarlett sendiri benar-benar tidak tahu di mana dia berada saat ini.Dengan sisa-sisa tenaga yang entah bagaimana terasa telah pulih seutuhnya, Scarlett berusaha untuk mendudukkan tubuh rampingnya di atas hamparan ruang putih tersebut. Dia memijit pelan pelipisny
"Nona Scarlett... Dengar suaraku, kumohon jangan tutup matamu!" panggil Caspian lagi dengan nada parau yang kian menyayat hati. Valerian menggenggam sangat erat telapak tangan kanan Scarlett yang terasa sangat dingin di dalam genggamannya. Seluruh urat saraf di tubuh sang jenderal perang tampak menegang, dia mencoba mengerahkan seluruh energi internal emasnya untuk disalurkan masuk ke dalam tubuh Scarlett, berharap bisa menahan kepergian jiwanya. Namun, semua usaha keras itu sama sekali tidak membuahkan hasil sedikit pun; tubuh Scarlett menolak setiap pasokan energi luar karena inti spiritual mentalnya telah melebur habis. "Bertahanlah, Scarlett! Aku memerintahmu untuk tetap bertahan hidup!" teriak Valerian, suaranya yang biasa menggelegar di medan laga kini terdengar sangat pecah dan ketakutan. "Aku... aku akan segera membawamu pulang untuk berobat ke tabib terbaik di seluruh kekaisaran! Jadi, kumohon jangan menyerah!" Kondisi fisik Scarlett saat ini sudah benar-benar b
Dari arah jendela ruangan yang pengap dan terisolasi, Rosalie masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Namun, detik berikutnya, sepasang matanya yang dipenuhi kabut kegilaan melebar sempurna. Dia menyaksikan seberkas cahaya putih murni yang sangat berkilau, bercampur dengan kekuatan spiritual mental tingkat lima milik Scarlett, membumbung tinggi menembus langit Kota. Cahaya pemurnian itu begitu dahsyat, menelan seluruh kabut hitam kutukan yang dia kirimkan. Rosalie mengetatkan rahangnya dengan keras, giginya bergemeletuk menahan rasa tidak percayanya. 'Tidak... Bagaimana mungkin kekuatan wanita sialan itu bisa melampaui batas monster purba?!’ jeritnya dalam hati. Namun, konsekuensi dari kontrak darah terlarang tidak pernah berjalan sepihak. Bersamaan dengan lenyapnya seluruh energi kegelapan di dalam tubuh Monster Aura, ikatan kutukan yang menempel pada jiwa Rosalie berbalik menghantam dirinya sendiri. Efek serangan balik magis itu terasa seribu kali lipat
"Apa... Nyawaku sendiri?!"Scarlett mengulang kalimat dari sistem itu dengan bibir yang bergetar hebat. Rasa sakit yang menusuk pusat kesadarannya seakan memudar, digantikan oleh kekosongan yang mendadak melingkupi kepalanya. "Harga yang teramat mahal sekali..." lanjut Scarlett lirih, suaranya nyaris tenggelam di antara raungan beringas Monster Aura yang terus menghantam dinding pertahanan lima warna di depannya. TING! Monitor sistem berkedip agresif, menampilkan warna merah peringatan yang kian pekat. Suara Pixie kembali bergema, namun kali ini nadanya terdengar begitu dingin, menusuk, dan penuh dengan cemoohan yang tajam. "Inang jangan pernah melupakan identitas aslimu! Anda adalah Tuan dari Sistem Antagonis. Mengorbankan diri demi menyelamatkan entitas NPC virtual di dunia ini justru melanggar aturan inti sistem! Sadarlah, mereka semua hanyalah deretan kode dan karakter fiksi yang tidak perlu dipedulikan hidup maupun matinya! Fokuslah pada kepulanganmu!" Mendengar kal







