Share

Bimbang

Author: Puti sunshine
last update publish date: 2026-09-30 16:30:23

Malam harinya, Hazel menghubungi Melati, satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk berbagi kekacauan pikirannya.

"Lo serius, Hazel?" suara Melati di seberang telepon terdengar tak percaya. "Dijodohin buat nutup utang? Ini bukan sinetron, kan?"

"Gue juga berharap ini cuma mimpi buruk," jawab Hazel lemas, suaranya juga sedikit serak karena kebanyakan menangis, matanya masih sembab. "Tapi ini nyata, Mel. Papa bisa masuk penjara kalau utangnya nggak lunas."

"Terus lo mau terima?" Nada suara Melati naik satu oktaf.

Hazel terdiam lama sebelum menjawab, "Gue nggak tahu. Di satu sisi, gue nggak rela hidup gue diatur kayak gini. Tapi di sisi lain... gue nggak bisa bayangin Papa dipenjara, atau Mama harus nanggung malu karena rumah kita disita."

"Lo tau apa-apa soal orang ini? Arlando itu?" tanya Melati hati-hati.

"Cuma tau dia CEO perusahaan besar, duda, nggak punya anak. Itu doang," Hazel menghela napas berat. "Bahkan gue nggak tau gimana wajahnya."

Melati terdiam sejenak di seberang sana. "Gue nggak bisa bilang apa yang harus lo lakuin, Hazel. Ini keputusan lo sepenuhnya. Tapi apapun yang lo pilih, gue bakal selalu ada buat lo."

Kata-kata Melati sedikit menenangkan, meski tidak menghilangkan badai yang berkecamuk di dalam dada Hazel. Ia menatap langit-langit kamarnya yang temaram, pikirannya melayang membayangkan seratus kemungkinan, seratus ketakutan.

Keesokan paginya, Hazel terbangun dengan mata bengkak akibat menangis semalaman. Ia turun ke bawah, mendapati kedua orang tuanya sudah duduk di meja makan, wajah mereka sama-sama lelah, seperti tidak tidur sama sekali.

"Hazel," Pak Suryo memanggil pelan begitu melihat putrinya muncul. "Papa udah tau soal semuanya. Mama cerita tadi malam."

Hazel duduk di kursi kosong, menunduk, tak berani menatap mata ayahnya.

"Papa nggak akan pernah minta kamu buat berkorban sejauh itu," lanjut Pak Suryo, suaranya bergetar penuh emosi. "Ini salah Papa yang mengelola perusahaan dengan buruk. Papa akan cari cara lain, meskipun harus masuk penjara sekalipun."

"Pa, jangan bilang gitu," Hazel akhirnya mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku butuh waktu buat mikir. Ini bukan keputusan gampang."

Bu Ratna meraih tangan Hazel lembut, "Ambil waktu sebanyak yang kamu butuh, Nak. Tapi Pak Hendra bilang, keluarga Wijaya butuh jawaban dalam waktu seminggu."

Seminggu. Hanya tujuh hari untuk memutuskan seluruh arah hidupnya.

Hazel menatap kedua orang tuanya bergantian—ayahnya yang tampak begitu rapuh dan dipenuhi rasa bersalah, ibunya yang matanya tak henti menyimpan harapan sekaligus ketakutan. Di tengah kebingungan yang mencekik, satu hal mulai terbentuk jelas dalam benaknya: keputusan ini bukan lagi soal dirinya sendiri.

Malam itu, sebelum tidur, Hazel membuka laptopnya, mengetikkan nama yang selama beberapa hari terakhir terus menghantui pikirannya di kolom pencarian: Arlando Wijaya.

Ratusan artikel bermunculan—berita tentang ekspansi bisnis, penghargaan pengusaha muda tersukses, hingga foto-foto dirinya di berbagai acara formal. Pria itu tampan, tak terbantahkan, dengan tatapan mata tajam yang memancarkan wibawa sekaligus dingin.

Namun di balik semua pencapaian dan ketampanan itu, Hazel tidak menemukan satupun artikel yang menunjukkan sisi hangat dari sosok Arlando Wijaya. Semua yang ia baca justru memperkuat firasat bahwa pria ini adalah sosok yang keras, dingin, dan mungkin... berbahaya bagi hatinya yang masih begitu polos terhadap dunia.

Ia menutup laptopnya perlahan, menatap langit-langit kamar dalam gelap, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa apapun keputusan yang akan ia ambil dalam beberapa hari ke depan, ia harus kuat dan siap menghadapi konsekuensinya.

Tanpa Hazel sadari, di sisi kota yang lain, di sebuah penthouse mewah yang menjulang tinggi, seorang pria tengah menatap kota dari balik jendela kacanya yang besar, memegang secarik kertas berisi data singkat tentang seorang gadis bernama Hazela Suryo—calon yang direkomendasikan oleh orang kepercayaannya sebagai solusi atas tuntutan keluarganya.

Di lembar kertas yang lain ada foto Hazel yang tampak tersenyum di acara wisuda. Arlando tersenyum miring memandang foto tersebut.

"Cantik, tapi terlalu muda," Arlando bergumam sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Keputusan yang Menyakitkan

    Dua hari berlalu sejak pertemuan Hazel dengan Arlando di restoran itu, namun jawaban yang ditunggu-tunggu belum juga keluar dari mulut Hazel. Ia mengurung diri di kamar, hanya keluar sesekali untuk makan seadanya, menghindari tatapan penuh harap sekaligus cemas dari kedua orang tuanya. Melati datang berkunjung sore itu, membawa dua cangkir bubble tea kesukaan mereka berdua sejak SMA, berharap bisa sedikit mencairkan suasana hati sahabatnya yang sedang berantakan. "Lo udah mikirin baik-baik?" tanya Melati, duduk bersila di atas kasur Hazel, menyerahkan salah satu cangkir bubble tea itu. Hazel menerima minuman itu tanpa semangat, menyesapnya pelan sebelum menjawab, "Gue udah mikir sampai nggak tidur dua hari ini, Mel. Tapi tetep aja gue nggak nemu jawaban yang bikin gue lega." "Gimana orangnya?" Melati bertanya penasaran, teringat cerita singkat Hazel semalam lewat telepon tentang pertemuan mereka. "Lebih parah," Hazel menghela napas berat, teringat kembali tatapan dingin Arlando

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Tatapan Pertama yang Dingin

    Arlando menjabat tangan itu sekilas, singkat dan formal, sebelum duduk di kursi seberangnya tanpa menunggu Hazel duduk kembali terlebih dahulu. Sikap itu langsung membuat Hazel merasakan ketidaknyamanan yang menusuk—seolah kesopanan dasar pun tidak dianggap penting oleh pria ini. Seorang pelayan datang menawarkan menu, namun Arlando langsung menepisnya. "Saya sudah pesan lewat telepon sebelumnya. Kita langsung ke pembicaraan utama saja." Hazel mengangguk kaku, meletakkan kedua tangannya di pangkuan untuk menyembunyikan getaran yang tak bisa ia kendalikan. "Saya yakin orang tua Anda sudah menjelaskan situasinya," Arlando membuka pembicaraan tanpa basa-basi, matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Saya butuh menikah dalam waktu dekat. Anda butuh dana untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Sederhana, bukan?" "Sederhana bagi Anda, mungkin," Hazel menjawab, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya panas oleh emosi yang membuncah. "Tapi ini kehidupan saya yang sedang diperta

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Kabar yang Sama

    Pak Suryo menoleh, mengangguk pelan meski hatinya semakin berat. "Akan saya sampaikan, Pak." Dalam perjalanan pulang, Pak Suryo duduk di kursi belakang taksi, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu seiring senja yang mulai turun, namun tak satu pun cahaya itu mampu menerangi kegelapan yang bersarang di dalam hatinya. Ia teringat wajah Hazel semasa kecil, tertawa riang berlari mengejar layang-layang di halaman rumah mereka yang dulu masih sederhana. Ia teringat betapa bangganya ia saat Hazel diterima di universitas ternama dengan beasiswa penuh berkat kecerdasannya sendiri. Dan sekarang, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sendirilah yang mungkin akan menghancurkan seluruh mimpi dan masa depan yang telah dibangun putrinya dengan susah payah. Apakah aku ayah yang gagal? batinnya perih, tangannya mengepal erat di atas paha. Membiarkan anakku sendiri menanggung dosa dan kesalahanku dalam mengelola bisnis... Namun di sisi lain, ba

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Pertemuan di Tower Wijaya

    Gedung Wijaya Tower menjulang tinggi di tengah jantung kota, kaca-kaca hitamnya memantulkan cahaya matahari sore dengan begitu angkuh, seolah menegaskan kekuasaan pemiliknya atas segala yang ada di bawahnya. Pak Suryo berdiri di depan lobi megah itu, tangannya menggenggam map berisi dokumen perusahaan yang sudah lecek karena keringat dingin yang terus mengalir sejak tadi. "Bapak sudah ditunggu di lantai 42," ujar resepsionis dengan senyum profesional, mengarahkan Pak Suryo menuju lift khusus eksekutif. Selama perjalanan naik, Pak Suryo menatap pantulan dirinya di dinding lift berbahan kaca. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, garis-garis lelah membekas jelas di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ini demi keluarga. Demi Hazel juga, batinnya berulang kali, meski hatinya sendiri dipenuhi keraguan besar tentang apa yang akan ia bicarakan sebentar lagi. Pintu lift terbuka, menampilkan ruang tunggu eksek

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Bimbang

    Malam harinya, Hazel menghubungi Melati, satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk berbagi kekacauan pikirannya. "Lo serius, Hazel?" suara Melati di seberang telepon terdengar tak percaya. "Dijodohin buat nutup utang? Ini bukan sinetron, kan?" "Gue juga berharap ini cuma mimpi buruk," jawab Hazel lemas, suaranya juga sedikit serak karena kebanyakan menangis, matanya masih sembab. "Tapi ini nyata, Mel. Papa bisa masuk penjara kalau utangnya nggak lunas." "Terus lo mau terima?" Nada suara Melati naik satu oktaf. Hazel terdiam lama sebelum menjawab, "Gue nggak tahu. Di satu sisi, gue nggak rela hidup gue diatur kayak gini. Tapi di sisi lain... gue nggak bisa bayangin Papa dipenjara, atau Mama harus nanggung malu karena rumah kita disita." "Lo tau apa-apa soal orang ini? Arlando itu?" tanya Melati hati-hati. "Cuma tau dia CEO perusahaan besar, duda, nggak punya anak. Itu doang," Hazel menghela napas berat. "Bahkan gue nggak tau gimana wajahnya." Melati terdiam sejenak di

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Retak yang Tersembunyi

    Tiga hari setelah kepulangan Pak Suryo dari rumah sakit, rumah terasa berbeda. Hazel duduk di meja makan, menatap semangkuk sup ayam yang baru saja ia buatkan untuk ayahnya. Sejak pulang dari rumah sakit, Pak Suryo lebih banyak diam, menghabiskan waktu di kamar dengan tirai tertutup rapat, seolah cahaya matahari pun terlalu menyilaukan untuk masalah yang sedang ia hadapi. "Pa, makan dulu, ya," ujar Hazel lembut, meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang. Pak Suryo membuka matanya, tersenyum tipis meski tampak dipaksakan. "Makasih, Nak. Kamu... nggak usah repot-repot urus Papa. Harusnya kamu lagi sibuk kirim lamaran kerja, cari pengalaman baru." "Papa lebih penting dulu," jawab Hazel tegas, duduk di tepi ranjang. "Lagian, aku udah kirim beberapa lamaran kok. Tinggal nunggu panggilan interview." Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar. Sejak hari itu di rumah sakit, pikiran Hazel terlalu dipenuhi kekhawatiran untuk benar-benar fokus mencari pekerjaan. Bagaimana bisa ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status