Inicio / Romansa / Sangkar Emas Nyonya Arlando / Retak yang Tersembunyi

Compartir

Retak yang Tersembunyi

last update Fecha de publicación: 2026-09-30 16:29:01

Tiga hari setelah kepulangan Pak Suryo dari rumah sakit, rumah terasa berbeda. Hazel duduk di meja makan, menatap semangkuk sup ayam yang baru saja ia buatkan untuk ayahnya. Sejak pulang dari rumah sakit, Pak Suryo lebih banyak diam, menghabiskan waktu di kamar dengan tirai tertutup rapat, seolah cahaya matahari pun terlalu menyilaukan untuk masalah yang sedang ia hadapi.

"Pa, makan dulu, ya," ujar Hazel lembut, meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang.

Pak Suryo membuka matanya, tersenyum tipis meski tampak dipaksakan. "Makasih, Nak. Kamu... nggak usah repot-repot urus Papa. Harusnya kamu lagi sibuk kirim lamaran kerja, cari pengalaman baru."

"Papa lebih penting dulu," jawab Hazel tegas, duduk di tepi ranjang. "Lagian, aku udah kirim beberapa lamaran kok. Tinggal nunggu panggilan interview."

Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar. Sejak hari itu di rumah sakit, pikiran Hazel terlalu dipenuhi kekhawatiran untuk benar-benar fokus mencari pekerjaan. Bagaimana bisa ia memikirkan karier sendiri, sementara keluarganya di ambang kehancuran?

Pak Suryo menyantap beberapa sendok sup dengan susah payah, lalu meletakkan sendoknya. "Hazel," panggilnya pelan, "Papa mau kamu janji satu hal."

"Apa, Pa?"

"Apapun yang terjadi nanti... jangan salahkan Mama kamu. Dia cuma berusaha melindungi keluarga ini dengan caranya sendiri."

Hazel mengernyit bingung. "Maksud Papa apa? Ada apa lagi?"

Namun sebelum Pak Suryo sempat menjawab, suara ketukan pintu kamar menginterupsi mereka. Bu Ratna muncul dengan wajah pucat, memegang ponselnya erat-erat seperti benda paling berharga di dunia.

"Hazel, Sayang, bisa ke ruang tamu sebentar? Ada yang mau Mama bicarakan," ucap Bu Ratna, suaranya terdengar aneh—campuran antara gugup dan tekad yang dipaksakan.

Di ruang tamu, Hazel duduk berhadapan dengan ibunya. Di atas meja kaca di antara mereka, tergeletak selembar kartu nama.

"Ma, kartu nama siapa ini?" tanya Hazel, mengambil kartu itu dan membacanya. Arlando Wijaya, CEO Wijaya Group.

Bu Ratna menarik napas panjang sebelum menjawab. "Itu... kenalan lama Mama. Namanya Pak Hendra, dulu teman kuliah Papa. Dia sekarang kerja sebagai orang kepercayaan keluarga Wijaya, salah satu konglomerat terbesar di kota ini."

"Terus, kenapa Mama simpan kartu namanya orang lain, bukan kartu nama Pak Hendra?" Hazel semakin bingung.

"Karena..." Bu Ratna berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian. "Karena Pak Hendra bilang, keluarga Wijaya—terutama Pak Arlando sebagai pemimpinnya—kadang membantu pengusaha yang kesulitan. Tapi tentu saja, dengan syarat tertentu."

"Syarat seperti apa?" Hazel mulai merasakan firasat buruk merayap di dadanya.

Bu Ratna tidak langsung menjawab. Ia malah bangkit, berjalan ke jendela, menatap keluar dengan punggung yang tampak begitu rapuh. "Hazel, Mama tahu ini akan terdengar gila. Tapi Mama sudah coba segala cara lain. Pinjam ke saudara, ke bank, bahkan sempat mikir untuk jual rumah ini. Tapi semuanya nggak cukup untuk menutup utang Papa."

"Ma, tolong jangan berputar-putar. Katakan aja langsung," pinta Hazel, suaranya mulai bergetar antara cemas dan kesal.

Bu Ratna berbalik, menatap putrinya dengan mata yang penuh air mata yang ditahan. "Pak Hendra bilang, Pak Arlando... sedang mencari calon istri. Dia duda, nggak punya anak, istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Keluarganya menekan dia untuk segera menikah lagi."

Hazel merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. "Ma... jangan bilang kalau—"

"Kalau Pak Arlando bersedia menikahimu, dia sanggup melunasi semua utang Papa. Bahkan lebih," potong Bu Ratna cepat, seolah takut kehilangan keberaniannya jika berhenti bicara. "Hazel, Mama tahu ini nggak adil buat kamu. Tapi ini satu-satunya jalan yang Mama lihat untuk menyelamatkan Papa, menyelamatkan keluarga ini."

Hening panjang menyelimuti ruangan. Hazel menatap ibunya tak percaya, seolah baru saja mendengar lelucon yang teramat buruk.

"Ma, aku baru lulus kuliah tiga hari lalu," suara Hazel akhirnya pecah, bergetar menahan amarah dan kebingungan yang campur aduk. "Aku punya rencana hidup sendiri. Aku mau kerja, mau berkarier, mau... mau punya kehidupan yang aku bangun sendiri. Bukan dijual ke orang yang bahkan belum pernah aku temui!"

"Mama nggak bilang kamu harus terima sekarang, Nak," Bu Ratna mendekat, mencoba meraih tangan Hazel yang segera ditarik menjauh. "Mama cuma... Mama nggak tahu lagi harus bagaimana. Papa bisa masuk penjara kalau utangnya nggak dibayar, Hazel. Rumah ini bisa disita. Semua yang kita punya bisa hilang."

"Jadi solusinya adalah menikahkan aku dengan orang asing?!" Hazel berdiri, air matanya sudah tak terbendung lagi. "Ma, ini bukan zaman dulu di mana anak perempuan dijadikan alat tukar buat masalah keuangan keluarga!"

Bu Ratna terdiam, tak mampu membantah. Ia tahu betul betapa kejamnya permintaan yang baru saja ia sampaikan. Namun di sisi lain, rasa putus asa sebagai seorang ibu yang melihat suaminya hancur perlahan-lahan membuatnya rela melakukan apa saja.

"Mama nggak akan paksa kamu," ucap Bu Ratna akhirnya, suaranya lirih. "Tapi tolong... pikirkan baik-baik. Bukan cuma buat Papa, tapi buat kita semua."

Hazel berlari ke kamarnya, membanting pintu dengan keras. Ia menjatuhkan diri ke atas kasur, tubuhnya bergetar hebat oleh isak tangis yang tak lagi bisa ia tahan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Keputusan yang Menyakitkan

    Dua hari berlalu sejak pertemuan Hazel dengan Arlando di restoran itu, namun jawaban yang ditunggu-tunggu belum juga keluar dari mulut Hazel. Ia mengurung diri di kamar, hanya keluar sesekali untuk makan seadanya, menghindari tatapan penuh harap sekaligus cemas dari kedua orang tuanya. Melati datang berkunjung sore itu, membawa dua cangkir bubble tea kesukaan mereka berdua sejak SMA, berharap bisa sedikit mencairkan suasana hati sahabatnya yang sedang berantakan. "Lo udah mikirin baik-baik?" tanya Melati, duduk bersila di atas kasur Hazel, menyerahkan salah satu cangkir bubble tea itu. Hazel menerima minuman itu tanpa semangat, menyesapnya pelan sebelum menjawab, "Gue udah mikir sampai nggak tidur dua hari ini, Mel. Tapi tetep aja gue nggak nemu jawaban yang bikin gue lega." "Gimana orangnya?" Melati bertanya penasaran, teringat cerita singkat Hazel semalam lewat telepon tentang pertemuan mereka. "Lebih parah," Hazel menghela napas berat, teringat kembali tatapan dingin Arlando

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Tatapan Pertama yang Dingin

    Arlando menjabat tangan itu sekilas, singkat dan formal, sebelum duduk di kursi seberangnya tanpa menunggu Hazel duduk kembali terlebih dahulu. Sikap itu langsung membuat Hazel merasakan ketidaknyamanan yang menusuk—seolah kesopanan dasar pun tidak dianggap penting oleh pria ini. Seorang pelayan datang menawarkan menu, namun Arlando langsung menepisnya. "Saya sudah pesan lewat telepon sebelumnya. Kita langsung ke pembicaraan utama saja." Hazel mengangguk kaku, meletakkan kedua tangannya di pangkuan untuk menyembunyikan getaran yang tak bisa ia kendalikan. "Saya yakin orang tua Anda sudah menjelaskan situasinya," Arlando membuka pembicaraan tanpa basa-basi, matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Saya butuh menikah dalam waktu dekat. Anda butuh dana untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Sederhana, bukan?" "Sederhana bagi Anda, mungkin," Hazel menjawab, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya panas oleh emosi yang membuncah. "Tapi ini kehidupan saya yang sedang diperta

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Kabar yang Sama

    Pak Suryo menoleh, mengangguk pelan meski hatinya semakin berat. "Akan saya sampaikan, Pak." Dalam perjalanan pulang, Pak Suryo duduk di kursi belakang taksi, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu seiring senja yang mulai turun, namun tak satu pun cahaya itu mampu menerangi kegelapan yang bersarang di dalam hatinya. Ia teringat wajah Hazel semasa kecil, tertawa riang berlari mengejar layang-layang di halaman rumah mereka yang dulu masih sederhana. Ia teringat betapa bangganya ia saat Hazel diterima di universitas ternama dengan beasiswa penuh berkat kecerdasannya sendiri. Dan sekarang, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sendirilah yang mungkin akan menghancurkan seluruh mimpi dan masa depan yang telah dibangun putrinya dengan susah payah. Apakah aku ayah yang gagal? batinnya perih, tangannya mengepal erat di atas paha. Membiarkan anakku sendiri menanggung dosa dan kesalahanku dalam mengelola bisnis... Namun di sisi lain, ba

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Pertemuan di Tower Wijaya

    Gedung Wijaya Tower menjulang tinggi di tengah jantung kota, kaca-kaca hitamnya memantulkan cahaya matahari sore dengan begitu angkuh, seolah menegaskan kekuasaan pemiliknya atas segala yang ada di bawahnya. Pak Suryo berdiri di depan lobi megah itu, tangannya menggenggam map berisi dokumen perusahaan yang sudah lecek karena keringat dingin yang terus mengalir sejak tadi. "Bapak sudah ditunggu di lantai 42," ujar resepsionis dengan senyum profesional, mengarahkan Pak Suryo menuju lift khusus eksekutif. Selama perjalanan naik, Pak Suryo menatap pantulan dirinya di dinding lift berbahan kaca. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, garis-garis lelah membekas jelas di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ini demi keluarga. Demi Hazel juga, batinnya berulang kali, meski hatinya sendiri dipenuhi keraguan besar tentang apa yang akan ia bicarakan sebentar lagi. Pintu lift terbuka, menampilkan ruang tunggu eksek

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Bimbang

    Malam harinya, Hazel menghubungi Melati, satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk berbagi kekacauan pikirannya. "Lo serius, Hazel?" suara Melati di seberang telepon terdengar tak percaya. "Dijodohin buat nutup utang? Ini bukan sinetron, kan?" "Gue juga berharap ini cuma mimpi buruk," jawab Hazel lemas, suaranya juga sedikit serak karena kebanyakan menangis, matanya masih sembab. "Tapi ini nyata, Mel. Papa bisa masuk penjara kalau utangnya nggak lunas." "Terus lo mau terima?" Nada suara Melati naik satu oktaf. Hazel terdiam lama sebelum menjawab, "Gue nggak tahu. Di satu sisi, gue nggak rela hidup gue diatur kayak gini. Tapi di sisi lain... gue nggak bisa bayangin Papa dipenjara, atau Mama harus nanggung malu karena rumah kita disita." "Lo tau apa-apa soal orang ini? Arlando itu?" tanya Melati hati-hati. "Cuma tau dia CEO perusahaan besar, duda, nggak punya anak. Itu doang," Hazel menghela napas berat. "Bahkan gue nggak tau gimana wajahnya." Melati terdiam sejenak di

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Retak yang Tersembunyi

    Tiga hari setelah kepulangan Pak Suryo dari rumah sakit, rumah terasa berbeda. Hazel duduk di meja makan, menatap semangkuk sup ayam yang baru saja ia buatkan untuk ayahnya. Sejak pulang dari rumah sakit, Pak Suryo lebih banyak diam, menghabiskan waktu di kamar dengan tirai tertutup rapat, seolah cahaya matahari pun terlalu menyilaukan untuk masalah yang sedang ia hadapi. "Pa, makan dulu, ya," ujar Hazel lembut, meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang. Pak Suryo membuka matanya, tersenyum tipis meski tampak dipaksakan. "Makasih, Nak. Kamu... nggak usah repot-repot urus Papa. Harusnya kamu lagi sibuk kirim lamaran kerja, cari pengalaman baru." "Papa lebih penting dulu," jawab Hazel tegas, duduk di tepi ranjang. "Lagian, aku udah kirim beberapa lamaran kok. Tinggal nunggu panggilan interview." Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar. Sejak hari itu di rumah sakit, pikiran Hazel terlalu dipenuhi kekhawatiran untuk benar-benar fokus mencari pekerjaan. Bagaimana bisa ia

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status