Share

BAB 123

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-05 23:02:11

Setelah insiden serangan jantung dadakan di karpet tadi, Satria menghabiskan sisa nasi uduknya dengan kecepatan kilat. Dia mengunyah tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun. Pandangannya terpaku pada remah remah bawang goreng di atas daun pisang, seolah olah itu adalah objek paling menarik di dunia.

Di sisi lain, Dinda malah makan dengan sangat santai. Senyum kemenangan tidak pernah lepas dari bibirnya. Perempuan cantik itu sangat menikmati raut wajah Satria yang memerah layaknya kepiting
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satria Idaman Wanita   BAB 126

    "Alasan!" potong Vera cepat, matanya sedikit berkaca kaca karena campuran marah dan frustrasi. "Laki laki berbadan besar kayak kamu, jago berantem ngelawan belasan preman, masa bisa jadi korban anak umur sembilan belas tahun? Logika kamu di mana, Satria?! Kalau kamu emang gak ada niat buruk, kamu bisa aja dorong dia. Kamu bisa aja lari atau teriak minta tolong sama orang rumah. Tapi nyatanya kamu malah nikmatin kan?! Kamu biarin aja dia ngelakuin itu ke kamu sampai ninggalin bekas menjijikkan di leher kamu itu!"Kata kata Vera itu menohok tepat di titik kelemahan Satria. Memang benar, Satria punya tenaga untuk mendorong Kiki. Tapi waktu itu Kiki mengancam akan berteriak dilecehkan kalau Satria kabur. Dan sialnya, insting kelaki lakian Satria pada akhirnya memang kalah oleh godaan agresif si bungsu malam itu.Satria menunduk sejenak. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Dia sadar dia juga salah karena pada akhirnya merespons godaan itu, tapi dia tetap tidak t

  • Satria Idaman Wanita   BAB 125

    "Saya bilang ikut, Satria! Jangan berani beraninya kamu ngebantah saya di tempat umum begini," potong Vera makin tajam, matanya melotot memberikan ancaman tanpa ampun. "Kamu pikir urusan kita udah selesai setelah kamu kabur bawa ransel butut kamu itu kemarin? Urusan kita belum selesai. Masuk ke mobil saya sekarang juga!"Tanpa memberikan kesempatan bagi Satria untuk membayar minuman dinginnya atau mencari alasan lain, Vera menarik tangan Satria dengan paksa. Wanita itu menyeret asisten berbadan besar itu layaknya induk kucing yang sedang menyeret anak nakalnya, menuju pintu keluar minimarket di mana sebuah Alphard hitam mengkilap sudah menunggu dengan mesin menyala di pinggir jalan.Pintu geser Alphard hitam itu terbuka otomatis. Satria nyaris terjerembap masuk ke dalam kabin karena tarikan Vera yang tidak main main kerasnya. Belum sempat Satria memperbaiki posisi duduknya di jok kulit yang empuk, Vera sudah masuk menyusul dan duduk tepat di sebelahnya. Pintu mobil langsung tertutup r

  • Satria Idaman Wanita   BAB 124

    Matahari Jakarta siang itu benar benar terasa memanggang ubun ubun. Setelah Dinda rapi dengan seragam kerjanya dan wangi vanilla bercampur aroma kopi yang khas, perempuan itu pamit berangkat ke cafe. Satria pun tidak mau berlama lama menumpang diam di kosan. Dia punya harga diri yang harus diberi makan, bukan sekadar menumpang hidup pada kebaikan teman.Memakai kaus hitam kesayangannya dan jaket kulit yang warnanya sudah memudar ditelan waktu, Satria memacu motor bebek bututnya membelah jalanan ibu kota. Niatnya hari ini cuma satu, mencari lowongan pekerjaan apa saja yang penting halal. Dari ruko ke ruko, pabrik kecil, sampai bengkel las pinggir jalan dia datangi. Tapi namanya mencari kerja dadakan di Jakarta, susahnya minta ampun. Kebanyakan menolak karena tidak ada lowongan, atau gajinya terlalu mencekik leher untuk menyambung hidup sebulan ke depan.Sekitar jam dua siang, tenggorokan Satria rasanya sudah seperti padang pasir yang kering kerontang. Panasnya aspal jalanan dan asap kn

  • Satria Idaman Wanita   BAB 123

    Setelah insiden serangan jantung dadakan di karpet tadi, Satria menghabiskan sisa nasi uduknya dengan kecepatan kilat. Dia mengunyah tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun. Pandangannya terpaku pada remah remah bawang goreng di atas daun pisang, seolah olah itu adalah objek paling menarik di dunia.Di sisi lain, Dinda malah makan dengan sangat santai. Senyum kemenangan tidak pernah lepas dari bibirnya. Perempuan cantik itu sangat menikmati raut wajah Satria yang memerah layaknya kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.Begitu suapan terakhir selesai, Dinda membereskan sisa bungkus daun pisang itu dan membuangnya ke tempat sampah kecil di sudut kamar. Dia kemudian meregangkan tubuhnya sejenak. Gerakan itu tentu saja membuat daster katunnya sedikit terangkat, tapi untungnya mata Satria sedang sibuk mengamati pola keramik di lantai."Kenyang juga ya," gumam Dinda sambil mengusap perut ratanya dari balik daster. Dia menoleh ke arah jam dinding kecil di atas meja belajarnya. "Ud

  • Satria Idaman Wanita   BAB 122

    Satria keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang sudah basah oleh air keran. Segarnya air lumayan membantu mendinginkan kepalanya yang sempat mendidih gara-gara panggilan 'suami' dari Dinda barusan.Dia berjalan menghampiri karpet dan duduk bersila tepat di depan Dinda. Bungkusan daun pisang berisi nasi uduk yang masih mengepul itu sudah terbuka lebar, menampakkan lauk telur dadar iris, tempe orek, dan sambal kacang yang menggugah selera. Di depannya, Dinda juga sudah siap dengan porsinya sendiri."Makan, Sat. Gak usah sungkan. Anggap aja rumah sendiri," ucap Dinda santai sambil mulai menyuap nasi uduknya pakai tangan.Satria mengangguk pelan. "Iya, makasih ya, Din. Ngerepotin lu terus gue dari semalam."Suasana kamar kos itu sempat hening selama beberapa menit. Keduanya sibuk menikmati sarapan pagi ala anak kosan yang sederhana tapi nikmat luar biasa. Suara kunyahan dan decakan pedas dari sambal kacang menjadi satu-satunya sumber keributan.Di sela-sela suapannya, Satria m

  • Satria Idaman Wanita   BAB 121

    Cahaya matahari pagi mulai masuk menembus celah ventilasi kamar kos. Udara Jakarta masih terasa lumayan sejuk. Setelah semalaman dibuat was was dan tidak bisa tidur dengan tenang, Satria akhirnya tertidur pulas menjelang subuh. Posisi tidurnya sekarang tengkurap sambil memeluk guling dengan erat. Guling beneran kali ini, bukan Dinda.Tanpa Satria sadari, teman satu kamarnya itu ternyata sudah bangun sejak tadi.Dinda terlihat sangat santai pagi ini. Perempuan itu baru saja pulang dari depan gang. Dia tidak lagi memakai baju tidur sutra atau baju kerja yang rapi, melainkan cuma memakai daster katun selutut berwarna biru dengan motif bunga kecil. Rambut panjangnya diikat cepol asal asalan ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Penampilannya benar benar seperti ibu rumah tangga muda yang baru selesai belanja ke pasar.Dinda meletakkan dua bungkus daun pisang berisi nasi uduk hangat di atas karpet. Wangi nasi uduk campur bawang goreng dan sambal kacang itu langsung menyebar mem

  • Satria Idaman Wanita   BAB 13

    Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 20

    "Biasakan dirimu, Satria," ucap Vera. "Di lantai atas nanti, suasananya akan lebih 'panas' daripada di lobi. Kalau di bawah tadi cuma karyawan biasa yang suka gosip, di atas sana ada ular-ular berbisa yang suka menggigit."Satria menoleh, wajahnya berubah serius. "Maksud Nona, para 'tikus' manajeme

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Satria Idaman Wanita   BAB 21

    Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Satria Idaman Wanita   BAB 17

    Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status