Share

BAB 123

last update publish date: 2026-04-05 23:02:11

Setelah insiden serangan jantung dadakan di karpet tadi, Satria menghabiskan sisa nasi uduknya dengan kecepatan kilat. Dia mengunyah tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun. Pandangannya terpaku pada remah remah bawang goreng di atas daun pisang, seolah olah itu adalah objek paling menarik di dunia.

Di sisi lain, Dinda malah makan dengan sangat santai. Senyum kemenangan tidak pernah lepas dari bibirnya. Perempuan cantik itu sangat menikmati raut wajah Satria yang memerah layaknya kepiting
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 363

    Sinar matahari sore perlahan meredup, menyisakan bias cahaya kemerahan yang menembus kaca jendela besar ruang keluarga. Suasana di dalam rumah terasa begitu tenang dan nyaman, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan kota Jakarta di luar sana.Vera duduk bersila di atas karpet beludru yang lembut, dikelilingi oleh beberapa dokumen perusahaan yang harus ditandatangani untuk awal pekan depan. Meski sudah berkomitmen untuk hidup lebih santai, tanggung jawab sebagai direktur utama Hadiwinata Group tetap menuntut sedikit perhatian di akhir pekan.Tidak jauh dari tempatnya, Satria duduk di sofa panjang dengan santai. Pria itu sedang merakit sebuah lampu meja antik berukuran kecil yang beberapa hari lalu sempat ngadat, memperlihatkan sisi telaten yang jarang terlihat saat ia masih memegang senjata di medan tempur.Vera menghela napas pelan, meregangkan kedua tangannya ke atas untuk meredakan pegal di pundaknya. Matanya melirik ke arah Satria yang tampak begitu fokus dengan obeng kecil di tangannya."

  • Satria Idaman Wanita   BAB 362

    Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyinari rumput hijau dan barisan pot tanaman hias, menciptakan pantulan keemasan yang menenangkan.Di bawah rindangnya pohon kamboja jepang yang sedang berbunga lebat, sebuah kursi taman kayu panjang menjadi tempat favorit baru bagi Vera dan Satria untuk menghabiskan waktu luang.Vera duduk bersandar santai sambil memangku sebuah buku sketsa kecil, sesekali mencoretkan pensil di atas kertas putih untuk menggambar bentuk daun atau bunga yang jatuh di dekat kakinya. Di sebelah kanannya, Satria duduk tenang dengan secangkir teh hijau hangat di tangan, mengawasi setiap goresan tangan Vera dengan senyuman kecil di bibirnya."Kamu ternyata jago juga menggambar, Vera," puji Satria pelan, memecah keheningan sore yang damai. "Kirain kerjaannya cuma ngurusin laporan perusahaan sama meeting seharian."Vera menoleh sekilas, tersenyum bangga. "Dulu waktu kuliah saya sempat ambil kelas desain sam

  • Satria Idaman Wanita   BAB 361

    Berikut adalah Bab 413, menceritakan malam perayaan kecil yang penuh kehangatan di kediaman mereka sebagai simbol lembaran hidup baru yang damai.Bab 413: Malam di Bawah BintangMalam itu, langit Jakarta tampak bersih dari awan mendung. Kerlip bintang-bintang kecil berhamburan menghiasi luasnya cakrawala, memancarkan cahaya lembut yang menembus kaca jendela kamar lantai atas.Di area rooftop rumah Vera, sebuah meja kecil berbalut taplak putih sederhana telah disiapkan. Dua piring steak daging panggang buatan rumah yang harum berpadu dengan dua gelas jus buah segar tersaji rapi di atasnya, ditemani oleh pendar lampu gantung kuning temaram yang menciptakan suasana hangat dan intim.Vera duduk santai di kursi besi tempa, mengenakan dress midi berwarna biru navy yang sederhana namun elegan. Rambut panjangnya tergerai indah, membingkai wajahnya yang tampak begitu berseri-seri malam ini.Satria melangkah naik dari tangga luar, membawa sebotol kecil air mineral tambahan. Pria itu mengenakan

  • Satria Idaman Wanita   BAb 360

    Matahari Minggu siang itu bersinar cerah, memantulkan sinarnya ke trotoar jalanan kota Jakarta yang tampak lebih lengang dari hari-hari biasa. Udara terasa hangat, diiringi angin sepoi-sepoi yang membuat siapa pun merasa nyaman untuk menikmati akhir pekan di luar ruangan.Sebuah SUV hitam melaju dengan kecepatan santai, membelah jalanan menuju salah satu kawasan toko buku klasik di pusat kota. Satria duduk di kursi kemudi dengan kemeja kasual lengan pendek berwarna hitam, sementara Vera duduk di sebelah kanannya sambil melihat-lihat suasana luar jendela dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.Mobil berhenti dengan mulus di area parkir dekat sebuah toko buku independen yang terkenal dengan koleksi novel-novel langka dan ruang baca bergaya retro.Satria turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Vera. "Silakan, Vera," ucap Satria pelan dengan senyuman tipis.Vera keluar sambil merapikan tas selempangnya. "Makasih, Sat. Duh, udah lama banget rasanya saya gak jalan s

  • Satria Idaman Wanita   BAb 359

    Langit sore di atas ibu kota perlahan berubah warna, memantulkan bias cahaya jingga keemasan yang menembus sela-sela gedung tinggi. Di kediaman pribadi Vera, suasana terasa begitu tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kesibukan kantor.Vera berdiri di area balkon lantai atas, menikmati hembusan angin sore yang menerbangkan ujung rambutnya. Di tangannya, sebuah mug berisi cokelat panas mengepulkan uap tipis yang beraroma manis.Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Satria duduk di kursi kayu minimalis sambil membaca sebuah buku laporan mingguan keamanan rumah, memastikan semuanya tetap terkendali meski ancaman musuh sudah lama musnah. Kebiasaan disiplin pria itu memang tidak pernah benar-benar hilang, meski kini dunianya jauh lebih damai.Vera menoleh ke belakang, memperhatikan pengawalnya yang tampak begitu fokus. Senyuman tipis tersungging di bibirnya."Sat," panggil Vera lembut.Satria langsung menutup buku di tangannya, lalu mendongak menatap sang atasan. "Ada yang diperlukan, Non?"Vera b

  • Satria Idaman Wanita   BAB 358

    Suasana lobi Hadiwinata Group pagi itu tampak sibuk namun teratur. Para pegawai lalu-lalang dengan senyum ramah di wajah mereka, menyapa setiap kali direktur muda mereka melangkah masuk melewati pintu kaca utama.Vera berjalan dengan penuh percaya diri mengenakan setelan blazer berwarna biru pastel yang elegan. Tidak ada lagi gurat kecemasan atau bayang-bayang teror yang menghantui langkah kakinya. Di belakangnya, Satria berjalan tenang dengan tatapan awas yang profesional, memastikan situasi di sekitar tetap aman terkendali."Pagi, Non Vera! Pagi, Kak Satria!" sapa Laras antusias begitu melihat atasannya tiba di lantai atas. Asisten pribadi itu langsung menghampiri sambil membawa map dokumen."Pagi, Ras. Ada jadwal penting apa hari ini?" tanya Vera ramah sambil membuka pintu ruang kerjanya."Jam sepuluh nanti kita ada rapat koordinasi sama kepala divisi keuangan, terus siang jam satu jadwal peninjauan proyek mal baru di pusat kota," lapor Laras cepat dan cekatan.Vera mengangguk puas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status