Share

BAB 123

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-04-05 23:02:11

Setelah insiden serangan jantung dadakan di karpet tadi, Satria menghabiskan sisa nasi uduknya dengan kecepatan kilat. Dia mengunyah tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun. Pandangannya terpaku pada remah remah bawang goreng di atas daun pisang, seolah olah itu adalah objek paling menarik di dunia.

Di sisi lain, Dinda malah makan dengan sangat santai. Senyum kemenangan tidak pernah lepas dari bibirnya. Perempuan cantik itu sangat menikmati raut wajah Satria yang memerah layaknya kepiting
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 196

    Suasana di pelataran parkir itu sangat tegang, tapi anak buah Bang Scorpio justru masih berdiri diam menunggu aba aba dari bos mereka. Satria yang sudah bosan menunggu akhirnya mendecak kesal."Ah, lama sekali kalian ini," keluh Satria sambil meletakkan kedua tangan di pinggang. "Katanya preman ganas, tapi mau maju saja pakai mikir panjang dulu."Satria lalu menoleh ke arah Vera yang masih mematung di dekatnya."Non Vera, cepat minggir ke sana. Menjauh dari sini," usir Satria pelan tapi tegas.Vera malah menggeleng keras. Wajah cantiknya pucat, tapi sifat keras kepalanya muncul. "Aku tidak mau pergi! Kalau aku pergi, mereka pasti langsung mengeroyok dan membunuhmu. Aku ini bos di perusahaan ini, aku yang harus tanggung jawab untuk semuanya!"Satria menghela napas panjang. Menghadapi bosnya yang keras kepala ini ternyata jauh lebih merepotkan daripada menghadapi puluhan preman bertato di depannya.Tanpa banyak bicara lagi, Satria melangkah maju mendekati bosnya. Dalam satu gerakan cepa

  • Satria Idaman Wanita   BAB 195

    "Jangan remehkan dia, Bang. Pengawalku yang badannya besar besar saja tumbang semua. Anak ini lumayan licin," elak Gilang mencoba membela diri.Baru saja Bang Scorpio mau mengangkat tangannya memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju, pintu kaca lobi tiba tiba terbuka dengan kasar.Vera berlari keluar dengan napas memburu. Wajah cantiknya pucat pasi, tapi dia memaksa kakinya melangkah maju membelah pelataran parkir yang panas. Beberapa petugas keamanan mencoba memanggil dari belakang, tapi CEO muda itu sudah terlanjur nekat."Tunggu! Tolong hentikan semuanya!" teriak Vera panik.Dia langsung menempatkan dirinya beberapa langkah di depan Satria. Kedua tangannya direntangkan seolah ingin melindungi asistennya dari amukan Geng Scorpio.Satria seketika mengerutkan keningnya. Dia benar benar heran melihat bosnya yang biasanya sangat tegas dan pemberani itu kini tampak begitu gemetar ketakutan."Pak Broto, Gilang, saya minta maaf atas kekacauan ini," ucap Vera dengan suara bergetar. Dia

  • Satria Idaman Wanita   BAB 194

    Suara decit ban mobil bergesekan keras dengan aspal memecah teriknya pelataran parkir siang itu. Lima mobil van berwarna hitam pekat melaju cepat dan mengerem mendadak, mengepung area depan kantor.Di bagian samping setiap mobil van itu, tercetak jelas sebuah logo kalajengking merah berukuran besar.Melihat logo tersebut dari balik pintu kaca lobi, mata Vera membelalak ngeri. CEO muda itu langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Lututnya seketika terasa lemas, tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Dia terpaksa bersandar pada dinding kaca agar tidak jatuh terduduk di lantai."Astaga... Scorpio," bisik Vera dengan suara bergetar ketakutan. Para petugas keamanan dan karyawan yang ikut mengintip dari belakang seketika pucat pasi. Geng Scorpio sangat terkenal sebagai kelompok bawah tanah paling beringas di wilayah tersebut. Mereka tidak pernah segan menghancurkan targetnya sampai tak bersisa.Sementara itu di pelataran parkir, Satria yang sedang asyik bermain game terpaksa

  • Satria Idaman Wanita   BAB 193

    Melihat enam pengawal bayaran seharga ratusan juta tumbang berguguran seperti boneka rusak, wajah Broto dan Gilang langsung pucat pasi. Tapi rasa malu dan gengsi yang terlalu tinggi membuat ayah dan anak itu menolak menerima kenyataan. Rasa gentar di dada mereka malah berubah menjadi amarah yang meledak ledak."Bocah bangsat! Kurang ajar kau!" umpat Gilang kasar sambil menunjuk nunjuk Satria dengan jari telunjuk yang gemetar. "Kau pikir kau jagoan hah?! Kau pikir kau bisa lepas begitu saja setelah menghajar orang orangku?! Hari ini kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup hidup!"Broto ikut menggeram marah di sebelah anaknya. Wajah tambunnya merah padam seperti kepiting rebus menahan emosi."Jangan sombong dulu kau, pengawal rendahan! Perusahaan ini dan nyawamu akan hancur hari ini juga!" teriak Broto tidak tahu malu.Gilang langsung merogoh saku celana sutranya dengan gerakan tergesa gesa. Pemuda klimis itu mengeluarkan ponsel pintarnya dan menekan sebuah nomor panggilan darurat. D

  • Satria Idaman Wanita   BAB 192

    Melihat kelima pengawal berbadan besar itu masih mematung, Satria menghela napas bosan. Dia menarik kedua tangannya dari saku celana dan memberikan isyarat tantangan dengan jari telunjuknya."Kalian dengar tidak sih?" tegur Satria dengan nada malas. "Maju semua sekalian. Jangan satu satu, buang buang waktu saja. Saya masih banyak kerjaan di dalam, tidak bisa menemani kalian berjemur lama lama di parkiran begini."Ucapan santai tapi sangat meremehkan itu bagaikan bensin yang disiramkan tepat ke kobaran api. Kelima pengawal yang tersisa seketika tersadar dari rasa kaget mereka. Harga diri mereka sebagai mantan petarung profesional benar benar merasa diinjak injak oleh pemuda berjas yang bertubuh jauh lebih kecil itu."Sombong sekali kau, anak muda!" teriak salah satu pengawal yang memiliki bekas luka sayatan di pipinya. Urat di lehernya menonjol keluar menahan amarah. "Jangan pikir kau hebat cuma karena berhasil mencuri kesempatan tadi!"Gilang yang berdiri agak jauh di belakang ikut me

  • Satria Idaman Wanita   BAB 191

    Satria melirik ke sekeliling lobi utama perusahaan. Matanya menatap lantai pualam yang mengkilap, sisa pot tanaman hias mahal yang masih utuh, dan kaca kaca besar yang membatasi ruangan."Tunggu sebentar," ucap Satria sambil mengangkat tangan kanannya, menghentikan langkah enam pengawal bertubuh raksasa itu.Satria menoleh ke arah Gilang dan Broto dengan wajah polos tanpa dosa."Kalau kalian benar benar mau olahraga sama saya, kita main di luar saja yuk. Di lobi sini terlalu sempit buat banting bantingan. Sayang barang mahal Nona Vera kalau sampai pecah lagi kena badan pengawal kalian," ajak Satria santai seraya menunjuk ke arah pelataran parkir depan gedung yang sangat luas.Mendengar ajakan bernada meremehkan itu, wajah Gilang langsung mengeras. Urat di pelipisnya berkedut menahan emosi. Salah satu pengawal kekar yang berdiri paling depan juga ikut terpancing amarahnya."Sialan, bocah kurang ajar!" bentak pengawal berwajah garang itu dengan suara serak. "Cepat mau babak belur saja k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status