Share

BAB 129

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-04-08 20:52:28

Sesuai perintah bos besarnya, Pak Maman segera menepikan mobil Alphard hitam itu di depan sebuah ruko kecil bertuliskan "Fotokopi Sinar Terang".

"Biar saya yang turun beli, Non. Takutnya kalau Nona yang turun malah dikira artis lagi syuting," ucap Satria sambil membuka pintu geser mobil.

Satria berjalan cepat masuk ke dalam tempat fotokopi yang sedikit panas itu. Abang penjaga fotokopi yang lagi asyik main ponsel sampai terlonjak kaget melihat pria berbadan besar, berjaket kulit kusam, dan berw
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 133

    Kamar paviliun belakang itu terasa sangat sejuk dan damai. Satria melempar ransel bututnya ke atas meja kecil di sudut ruangan, lalu merebahkan tubuh besarnya ke atas kasur dengan gerakan serampangan.Pemuda itu merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar lebar. Helaan napas panjang yang sarat akan kelegaan lolos dari bibirnya. Matanya menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong tapi penuh kemenangan.Rasanya seperti baru saja lolos dari lubang jarum. Kemarin dia diusir, luntang lantung kepanasan di jalanan, terjebak di kamar kos yang penuh godaan aroma vanilla, lalu diculik paksa di minimarket. Dan sekarang, dia sudah kembali lagi berbaring di atas kasur empuk ini dengan status aman terkendali berkat selembar kertas bermaterai sepuluh ribu."Ternyata hidup gue lebih dramatis daripada sinetron azab," gumam Satria sendirian sambil terkekeh pelan. Dia memejamkan matanya, berniat membalas dendam untuk tidur siang yang tertunda.Baru saja kesadarannya mulai melayang ke alam mimpi, s

  • Satria Idaman Wanita   BAB 132

    Satria menatap kertas folio di tangannya bagaikan memegang jimat sakti penolak bala. Helaan napas panjang dan lega akhirnya keluar dari mulut pemuda itu. Pundaknya yang sejak tadi menegang kaku sekarang mulai rileks.Vera yang masih duduk di hadapannya tersenyum tipis. "Sekarang kamu udah aman, Satria. Bawa barang barang kamu ke paviliun belakang. Istirahatlah yang tenang. Besok pagi baru kamu mulai kerja lagi seperti biasa. Soal pintu besi dan gembok pesanan kamu, besok pagi tukang las langganan kantor bakal langsung datang buat masang.""Siap, Non. Makasih banyak," jawab Satria sambil mengangguk hormat.Tanpa membuang waktu lagi, Satria menyandang ransel bututnya. Langkah kakinya menyusuri lorong menuju halaman belakang terasa seringan kapas. Bagaikan narapidana yang baru saja mendapat surat bebas bersyarat dari pengadilan tingkat tinggi, Satria akhirnya bisa kembali menghirup udara kebebasan di kamarnya sendiri.Sepeninggal Satria, suasana ruang tengah kembali sepi. Vera memijat pe

  • Satria Idaman Wanita   BAB 131

    Kiki mengerutkan keningnya. Dia mengambil kertas itu dan mulai membaca deretan kalimat kapital yang ditulis tangan oleh Satria.Saat matanya membaca judul "SURAT PERJANJIAN ANTI TERKAMAN DAN KEAMANAN BERSAMA", sudut bibir Kiki mulai berkedut. Dia menahan tawanya sekuat tenaga agar tidak meledak di depan kakaknya yang sedang menatap garang.Kiki melanjutkan membaca pasal demi pasal. Namun, alih alih merasa terpojok atau menyesal, otak cerdik si bungsu ini malah langsung bekerja membedah kalimat demi kalimat layaknya pengacara licik yang mencari celah hukum. Kesedihannya tadi sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh insting berburunya yang kembali menyala."Ini surat apaan sih, Kak Satria? Kayak mau sewa ruko aja pakai materai segala," komentar Kiki sambil tersenyum meremehkan. Dia meletakkan kertas itu kembali ke meja. Jari telunjuknya mengetuk ngetuk pelan permukaan kertas."Lagian ya, Kak. Ini pasalnya banyak banget bolongnya," lanjut Kiki santai, matanya menatap Satria dengan se

  • Satria Idaman Wanita   BAB 130

    Mobil Alphard hitam itu akhirnya meluncur mulus melewati gerbang besi rumah mewah di kawasan Menteng. Begitu mobil berhenti tepat di depan teras utama, Satria menarik napas panjang. Rasanya baru beberapa jam yang lalu dia melangkah keluar dari rumah ini dengan hati panas dan harga diri hancur, kini dia kembali lagi dengan status yang sama tapi dengan jaminan selembar kertas folio di tangannya.Vera turun lebih dulu, disusul oleh Satria dari pintu sebelah kiri. Saat mereka melangkah masuk melewati pintu utama, suasana rumah terasa sangat sepi. Namun, dari arah ruang keluarga, terdengar suara televisi yang menyala tanpa ditonton.Di atas sofa panjang, Kiki sedang duduk meringkuk memeluk lutut. Gadis sembilan belas tahun itu memakai piyama kebesaran dengan wajah ditekuk habis habisan. Matanya sembab dan rambutnya sedikit berantakan. Dia benar benar melancarkan aksi mogok makan dan mogok senyum sejak kakaknya mengusir Satria tadi pagi.Mendengar suara langkah kaki di lorong, Kiki menoleh

  • Satria Idaman Wanita   BAB 129

    Sesuai perintah bos besarnya, Pak Maman segera menepikan mobil Alphard hitam itu di depan sebuah ruko kecil bertuliskan "Fotokopi Sinar Terang"."Biar saya yang turun beli, Non. Takutnya kalau Nona yang turun malah dikira artis lagi syuting," ucap Satria sambil membuka pintu geser mobil.Satria berjalan cepat masuk ke dalam tempat fotokopi yang sedikit panas itu. Abang penjaga fotokopi yang lagi asyik main ponsel sampai terlonjak kaget melihat pria berbadan besar, berjaket kulit kusam, dan berwajah garang tiba tiba masuk. Bang penjaga itu mungkin mengira Satria mau menagih uang keamanan."Beli materai sepuluh ribu dua lembar, Bang. Sama kertas folio bergaris dua lembar, terus pulpen tinta hitam satu yang paling lancar buat nulis," pesan Satria dengan suara beratnya yang khas.Si abang fotokopi cuma bisa mengangguk kaku. Dia buru buru mengambilkan semua pesanan Satria tanpa banyak tanya. Preman sangar beli alat tulis untuk bikin dokumen legal rasanya bukan pemandangan yang biasa dia li

  • Satria Idaman Wanita   BAB 128

    Kabin mobil mewah itu masih hening menunggu jawaban Satria. Vera menatap asistennya dengan mata yang masih merah dan penuh harap. Wanita itu sudah siap mengeluarkan cek kosong berapa pun nominalnya asalkan Satria mau kembali dan mengurus kekacauan di rumahnya.Satria membuang napas panjang. Otaknya berputar cepat menimbang nimbang tawaran ini. Gaji dua kali lipat jelas sangat menggoda buat orang yang baru beberapa jam jadi pengangguran. Tapi memori soal Kiki yang menguncinya di kamar dan menggodanya habis habisan masih menempel kuat di kepalanya. Belum lagi urusan Dinda di kosan yang juga mulai berani macam macam pagi ini. Kalau dia terus di luar, bisa bisa dia malah jadi korban perempuan lain."Oke, Non," jawab Satria pelan. Suaranya akhirnya memecah keheningan. "Saya mau balik kerja di rumah Nona."Wajah Vera langsung cerah seketika. Senyum lega mengembang lebar di bibirnya. Dia buru buru menghapus sisa air matanya pakai tisu."Syukurlah, Satria. Makasih banyak. Kamu mau minta fasil

  • Satria Idaman Wanita   BAB 20

    "Biasakan dirimu, Satria," ucap Vera. "Di lantai atas nanti, suasananya akan lebih 'panas' daripada di lobi. Kalau di bawah tadi cuma karyawan biasa yang suka gosip, di atas sana ada ular-ular berbisa yang suka menggigit."Satria menoleh, wajahnya berubah serius. "Maksud Nona, para 'tikus' manajeme

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Satria Idaman Wanita   BAB 13

    Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 21

    Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Satria Idaman Wanita   BAB 17

    Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status