LOGINSementara Satria dan Vera sedang menikmati suasana sejuk di tengah persawahan, situasi yang sangat kontras terjadi di sebuah kawasan vila mewah tersembunyi di pinggiran kota. Tempat itu dikelilingi oleh tembok beton tinggi dengan kawat berduri, dijaga ketat oleh belasan pria berwajah dingin yang mengenakan pakaian taktis hitam.Orang-orang yang berjaga di sini bukan lagi preman pasar atau pengawal biasa. Di pinggang mereka, terlihat jelas senjata api asli yang terselip di balik rompi. Tempat ini adalah markas rahasia dari jaringan orang-orang kuat yang bergerak di dunia bawah.Ciiiiiit!Mobil SUV hitam yang dikemudikan Baskoro berhenti mendadak di depan lobi vila setelah menerobos gerbang utama dengan ugal-ugalan. Baskoro keluar dari mobil dengan tubuh yang gemetaran hebat. Penampilannya benar-benar mengenaskan. Kedua pipinya bengkak memar berwarna keunguan akibat tamparan Satria, pakaian safarinya kotor penuh debu, dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.Beberapa penjaga bert
Setelah memastikan para teknisi mulai bergerak membenahi saluran limbah, Vera melihat jam tangan miliknya. Jarum jam ternyata sudah menunjukkan pukul satu siang lewat. Pantas saja perutnya sudah berkali-kali memberikan sinyal lapar sejak tadi. Energinya memang cukup terkuras setelah menghadapi drama korupsi Baskoro dan kepungan para preman.Vera membalikkan badan, lalu menatap Satria yang sedang merapikan kaus oblong hitamnya."Satria, ayo kita pergi dari sini," ajak Vera sambil berjalan menuju mobil mereka. "Ini sudah siang sekali. Jujur saja, aku sudah lapar setengah mati karena menahan emosi dari tadi."Satria tersenyum mendengar keluhan jujur dari bos cantiknya itu. Dia segera membukakan pintu mobil untuk Vera dengan sigap."Baik, Non. Perut saya juga rasanya sudah mulai berdemo sejak melihat balok kayu berterbangan tadi," canda Satria sambil berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.Mesin mobil SUV mewah itu menyala dengan halus. Satria perlahan melajukan kendaraan merek
Pemimpin pasukan safari yang berbekas luka itu melihat ke sekelilingnya dengan tubuh bergetar. Sembilan belas temannya sudah terkapar tidak berdaya di atas tanah. Begitu melihat Satria melangkah mendekat, nyalinya langsung runtuh total. Pria besar itu menjatuhkan balok kayu di tangannya, lalu berbalik dan ikut berlari menjauh, meninggalkan bosnya sendirian.Kini, tidak ada lagi siapa pun yang berdiri di depan Baskoro.Baskoro benar-benar ketakutan setengah mati. Keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhnya, bercampur dengan debu lapangan yang menempel di wajah bengkaknya. Dia tahu, kalau sampai Satria melayangkan satu pukulan saja ke arahnya, dia bisa langsung masuk rumah sakit atau bahkan lebih parah lagi."Jangan dekat-dekat! Ampun, Satria! Tolong jangan pukul saya!" jerit Baskoro histeris sambil meraba-raba kantong celananya dengan panik.Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mengeluarkan dompet kulitnya dan menarik sebuah kartu ATM berwarna emas. Dia melemparkan kartu itu ke
Melihat tiga rekan mereka tumbang dalam sekejap, sisa belasan pria berseragam safari itu tidak lagi memandang remeh Satria. Amarah mereka sudah tersulut sampai ke puncaknya. Mereka langsung berpencar, membentuk lingkaran rapat untuk mengunci seluruh jalur pelarian Satria."Kepung dia! Jangan kasih ruang untuk bergerak!" teriak si pemimpin berbekas luka dengan lantang.Seketika itu juga, kepungan ketat langsung mengarah pada Satria. Dari arah kanan, dua orang pria berbadan kekar maju bersamaan sambil mengayunkan rantai besi tebal mereka secara horizontal. Rantai itu berputar cepat di udara, memotong angin dengan suara mendesing yang sangat tajam, mengincar leher dan kaki Satria secara bersamaan.Satria tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Janji bonus dari Vera benar-benar membuat fokusnya berada di tingkat tertinggi.Saat rantai besi itu hampir menyentuh kulitnya, Satria melompat kecil ke atas. Gerakannya begitu pas, membuat rantai yang mengincar kaki lewat di bawah sepatunya, seme
Aba-aba dari si pemimpin safari berbekas luka itu membuat barisan pria bertubuh tegap di sekelilingnya bersiap untuk menerjang. Rantai besi kembali bergemerincing nyaring saat diseret, dan balok-balok kayu diangkat tinggi-tinggi, siap diayunkan untuk meremukkan tulang Satria.Namun, tepat sebelum kaki pertama mereka melangkah untuk menyerbu, Satria tiba-tiba mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat berhenti dengan gerakan santai.Gerakan itu entah mengapa membuat para pria berseragam safari tersebut reflek menahan langkah mereka selama satu detik. Mereka mengira Satria akhirnya merasa ketakutan setelah melihat puluhan senjata di depan matanya dan berniat untuk menyerah.Baskoro yang melihat hal itu langsung menyeringai puas dari kejauhan. "Kenapa? Baru tahu rasa takut sekarang, hah? Sudah terlambat untuk minta ampun!" teriak Baskoro dengan sisa-sisa suaranya yang parau.Satria sama sekali tidak melihat ke arah Baskoro. Dia justru menatap lurus ke arah dua puluh pria berseragam sa
Suasana di sekitar area proyek pengolahan limbah kini benar-benar berubah mencekam. Setelah pintu-pintu kendaraan SUV besar dan mobil bak terbuka itu terbuka lebar, rombongan pria berseragam safari yang berjumlah sekitar dua puluh orang mulai melangkah maju secara serentak.Cara berjalan mereka sangat teratur namun terlihat begitu angkuh, persis seperti lagak sekelompok gangster kelas kakap yang biasa menguasai wilayah hitam. Mereka tidak menunjukkan ekspresi apa pun, hanya tatapan mata dingin yang tertuju lurus ke arah Satria.Yang membuat atmosfer di tempat itu semakin menegangkan adalah senjata yang mereka bawa di tangan masing-masing. Beberapa orang di barisan depan tampak menggenggam erat balok kayu tebal yang biasa digunakan sebagai bahan bangunan. Sementara itu, beberapa orang di barisan belakang dengan santai menyeret rantai besi tebal di atas tanah berbatu.Sreeet ... sreeet ... sreeet ...Suara gesekan antara mata rantai besi yang berat dengan kerikil tajam di tanah terdenga







