Share

BAB 141

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-04-14 21:50:08

"Kamu jangan gila, Satria! Sembarangan banget mulut kamu," tegur Vera setengah berbisik sambil melotot. "Ini acara kelas atas. Semua barang yang dilelang di sini udah lewat proses kurasi ketat sama pakar seni dan sejarah. Kamu tahu dari mana coba itu barang palsu? Lulusan sarjana sejarah aja bukan."

Satria terkekeh pelan mendengar omelan bosnya. Preman terminal ini sama sekali tidak terlihat terintimidasi oleh embel embel 'pakar seni' atau 'acara kelas atas'.

"Saya emang bukan sarjana, Non. Tap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 266

    Satria sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut atau khawatir setelah mendengar ancaman pecat dari Vera. Dia justru memajukan bibirnya sedikit, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang tampak sangat acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak peduli dengan gertakan khas orang kantoran yang baru saja dilontarkan oleh bos cantiknya itu.Satria kemudian berdiri dari sofa empuk tersebut. Dia berjalan mendekati tas ransel besarnya yang sejak tadi masih tergeletak di dekat meja kopi, lalu menyampirkan salah satu tali tas tersebut ke bahu kanannya."Ah, ancaman pecat lagi, bos kantor memang hobinya begitu ya," ucap Satria sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan penthouse yang luas itu. "Lagian kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya saya memang tidak cocok dan tidak bakal nyaman tinggal di sini, Non. Mendingan saya tidak usah jadi menempati tempat ini. Saya mau pergi sekarang saja, cari kontrakan atau kamar kos biasa di luar sana yang suasananya lebih pas buat saya."

  • Satria Idaman Wanita   BAB 265

    Satria masih terus tertawa lepas sambil mengangkat kedua tangannya, dengan mudah menangkis setiap hantaman bantal sofa yang dilayangkan oleh Vera. Baginya, pukulan kesal dari wanita itu sama sekali tidak terasa sakit, justru terlihat seperti gerakan anak kecil yang sedang merajuk."Aduh, Non, ampun ! Jangan kencang-kencang memukulnya, nanti bantal apartemen mewah ini bisa jebol," goda Satria di sela-sela tawanya, sengaja menambahkan minyak ke dalam api amarah Vera."Biar saja jebol ! Kalau perlu kepalamu yang jebol sekalian !" balas Vera yang napasnya mulai terengah-engah karena lelah memukuli Satria tanpa hasil.Vera akhirnya melempar bantal sofa itu ke lantai dengan sentakan kasar. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar dengan bibir yang mengerucut tajam. Kedua pipinya masih terasa panas dan berwarna kemerahan. Sisa-sisa debaran jantung akibat jarak yang terlalu dekat tadi masih terasa sangat jelas di dadanya.Satria perlahan mengh

  • Satria Idaman Wanita   BAB 264

    Mendengar suara langkah kaki Satria yang sengaja dibuat agak keras, Vera perlahan membuka matanya. Dia langsung menyadari posisi tidurnya yang kurang rapi, lalu dengan cepat mengubah posisinya menjadi duduk tegak di atas sofa panjang tersebut. Tangan kirinya bergerak merapikan ujung kemeja putih serta rok kerjanya yang sempat tersingkap.Rasa lelah dan kantuk yang menggelayuti Vera sedikit berkurang, digantikan oleh ingatan tentang kesepakatan yang mereka buat saat di rumah makan lesehan tadi.Vera mendongak, menatap lurus ke arah Satria yang kini berdiri beberapa langkah di depan meja kopi."Kamu minta bonus apa?" tanya Vera langsung, membuka percakapan tanpa basa-basi lagi.Satria yang baru saja berhasil menenangkan debaran jantungnya langsung menoleh. Mendengar pertanyaan itu, sebuah senyuman usil yang sangat khas seketika mengembang di sudut bibir pemuda itu. Dia menatap bos cantiknya dengan pandangan mata yang berbinar penuh arti."Apapun kan?" tanya Satria, sengaja menggoda Vera

  • Satria Idaman Wanita   BAB 263

    Mobil SUV mewah yang dikemudikan Satria akhirnya memasuki kawasan elite di pusat kota. Bukannya mengarah ke rumah utama keluarga Vera, mobil itu justru langsung berbelok memasuki area kompleks apartemen super mewah yang menjulang tinggi ke langit. Penjagaan di gerbang depannya sangat ketat, dengan beberapa petugas keamanan berseragam rapi yang langsung membungkuk hormat begitu mengenali mobil milik Vera.Satria yang melihat kemewahan gedung di depannya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mengira Vera akan mengajaknya pulang ke rumah utama dulu untuk beristirahat, namun siapa sangka bos cantiknya ini benar-benar langsung membawanya ke sini tanpa menunda waktu sedikit pun.Setelah memarkirkan mobil di tempat khusus, Vera langsung turun dengan langkah kaki yang ceria. Dia menoleh ke arah Satria yang masih berdiri canggung di samping pintu kemudi."Ayo, Satria, tunggu apa lagi? Bawa barang-barangmu sekalian dari bagasi, kita langsung naik ke atas sekarang," kata Vera samb

  • Satria Idaman Wanita   BAB 262

    Matahari sudah mulai bergerak condong ke arah barat, memancarkan sinar kemerahan yang menerobos masuk lewat celah gorden ruang kerja Sang Bos Besar. Di dalam ruangan yang luas itu, suasana masih terasa sangat tegang. Sang Bos Besar duduk diam di kursi kulitnya, sementara asbak di atas mejanya sudah dipenuhi oleh beberapa puntung cerutu yang sengaja dimatikan dengan kasar.Pintu ganda ruangan itu tiba-tiba diketuk dua kali dengan ketukan yang ritmis. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Rendra melangkah masuk dengan terburu-buru. Wajah pria jangkung itu tampak sangat serius, dan di tangan kanannya terdapat sebuah gawai tablet yang layarnya masih menyala menampilkan beberapa baris data grafik."Tuan Besar, tim mata-mata kita di lapangan baru saja menghubungi saya. Mereka berhasil melacak posisi dan pergerakan bocah bernama Satria itu," lapor Rendra sambil membungkuk hormat.Sang Bos Besar yang tadinya bersandar langsung menegakkan tubuhnya. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci waj

  • Satria Idaman Wanita   BAB 261

    Setelah menyelesaikan makan siang mereka yang nikmat dan mengenyangkan di tengah sawah, Satria dan Vera memutuskan untuk segera kembali ke kota. Perjalanan pulang terasa jauh lebih santai daripada saat mereka berangkat tadi pagi. Hawa sejuk persawahan perlahan berganti dengan pemandangan jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan.Satria fokus mengemudikan mobil SUV mewah itu dengan kecepatan stabil. Di sampingnya, Vera tampak sibuk melihat-lihat kembali hasil foto yang diambil oleh Satria di ponselnya. Sesekali, sudut bibir wanita cantik itu terangkat, tersenyum puas melihat hasil jepretan pengawal pribadinya yang ternyata cukup estetik.Suasana di dalam kabin mobil sebenarnya sangat nyaman dan tenang, sampai akhirnya Satria berdeham kecil untuk membuka obrolan baru."Non Vera, mumpung kita lagi jalan santai, ada satu hal yang mau saya bicarakan ...," ucap Satria dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin.Vera tidak langsung menoleh, matanya masih menatap layar ponsel. "

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status