LOGINTiga pria yang masih berdiri itu menelan ludah dengan susah payah. Melihat teman mereka hancur bersama meja VIP di depan mata seharusnya sudah cukup menjadi peringatan keras. Tapi sayang, akal sehat mereka sudah tumpul karena alkohol dan rasa malu yang luar biasa besar karena ditonton oleh ratusan pasang mata di dalam kelab malam tersebut.Mereka saling melempar pandangan singkat, lalu mengangguk secara bersamaan. Gengsi mengalahkan rasa takut. Mereka sepakat untuk mengeroyok Satria secara bersama sama."Maju! Hajar dia bareng bareng! Dia cuma sendirian!" teriak pria berbadan kurus yang tadi memecahkan botol.Ketiga pemuda itu langsung berlari menerjang Satria dari arah depan, kiri, dan kanan secara serempak. Tangan mereka mengepal bersiap memukul, mencari celah dari segala arah.Melihat serangan keroyokan itu, Satria sama sekali tidak mundur. Tapi sudut matanya menangkap sesuatu yang lebih gawat. Kiki yang tadi disuruh bersandar di pilar malah berdiri sempoyongan dan nyaris jatuh ke
Kengerian yang sempat menyergap gerombolan pemuda itu ternyata tidak bertahan lama. Pengaruh alkohol yang sudah meracuni otak mereka membuat akal sehat mereka benar benar lumpuh. Bukannya mundur atau minta ampun melihat lengan Satria yang tidak terluka, mereka malah saling pandang lalu meledak dalam tawa yang sangat meremehkan.Pria ikal yang sejak tadi paling bawel dan merasa paling jagoan kembali melangkah maju. Dia menunjuk wajah Satria sambil tertawa merendahkan."Hahaha! Lu pikir lu jagoan kebal, hah?!" ejek pria ikal itu dengan suara parau. "Paling juga jas lu doang yang dilapisin plat besi dari pasar loak! Gak usah sok pakai ilmu hitam deh lu, babu sialan! Lu tetep aja kacung miskin yang gak pantes ada di sini!"Teman temannya yang lain ikut tertawa terbahak bahak menimpali ejekan itu, mengira Satria cuma menang trik murahan pelindung di balik jasnya.Satria memejamkan matanya sejenak. Kesabarannya yang setipis tisu sudah benar benar habis terbakar malam ini. Dia menghela napas
Kerumunan anak muda mabuk itu semakin merapatkan barisan. Mereka menatap Satria dengan tatapan menantang, seolah merasa paling berkuasa di tempat hiburan malam ini."Lu budek ya?! Lepasin Kiki sekarang! Lu gak berhak bawa dia pergi dari sini!" bentak pria ikal itu makin menjadi jadi.Sementara pria pria itu sibuk marah marah, Kiki yang kesadarannya sudah melayang malah asyik menyandarkan kepalanya ke dada Satria. Kedua tangannya memeluk erat dan bergelantungan di lengan kanan Satria layaknya anak koala yang tidak mau lepas dari batang pohon. Gadis itu tersenyum senyum sendiri dengan mata setengah terpejam, sama sekali tidak peduli dengan aura ketegangan di sekitarnya.Melihat tingkah pria pria hidung belang di depannya, Satria menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang sangat dingin."Apa peduli kalian?" jawab Satria dengan nada datar namun menusuk tajam. "Dia adik bos gue. Urusan dia pulang itu urusan gue. Kalian mending minggir sekarang sebelum gue yang nyingkirin paksa."J
Dentuman musik electronic dance (EDM) yang sangat keras langsung menyambut telinga saat mobil Alphard hitam itu menepi di depan sebuah kelab malam eksklusif di kawasan Senopati. Kelab ini terkenal sebagai tempat nongkrongnya anak-anak konglomerat yang menghabiskan uang orang tua mereka.Satria membuka pintu mobil. Dia merapikan letak jas birunya sebentar sebelum menoleh ke arah ruang kemudi."Pak Maman tunggu di mobil aja ya," pesan Satria dengan nada santai. "Biar saya yang masuk dan nyeret bocah bandel itu keluar. Kalau saya lama, berarti saya lagi bungkusin es batu buat ngompres kepala orang."Pak Maman hanya bisa tersenyum pasrah sambil mengangguk. "Hati-hati, Mas Satria. Anak-anak muda zaman sekarang kalau lagi mabuk suka nekat."Satria menutup pintu mobil dan melangkah tegap melewati penjaga berbadan besar di pintu masuk. Penjaga itu sempat mau menahan Satria, tapi melihat tatapan mata Satria yang setajam pisau dan setelan jas mahalnya, penjaga itu memilih minggir tanpa banyak t
Gerbang besi raksasa rumah mewah itu terbuka perlahan saat mobil Alphard yang membawa Vera dan Satria masuk ke halaman. Lampu-lampu taman yang temaram memberikan kesan tenang, namun suasana di teras depan justru terlihat sebaliknya.Larasati sudah menunggu di sana. Kursi rodanya terparkir di dekat pintu utama. Wajah asisten rumah tangga itu terlihat sangat cemas. Tangannya meremas kain yang menutupi pangkuannya berkali-kali.Begitu pintu mobil terbuka, Vera turun dengan langkah anggun namun tatapannya langsung tertuju pada Laras. Dia bisa mencium ada bau masalah yang baru saja muncul di rumahnya."Laras, kenapa kamu belum tidur? Ini sudah lewat jam sepuluh malam," tegur Vera sambil berjalan mendekat.Larasati menatap Vera dengan ragu, lalu melirik Satria yang baru saja turun dari mobil sambil merapikan jasnya yang masih tampak sempurna."Maaf, Non Vera. Laras gelisah sejak tadi," ucap Laras dengan suara pelan yang bergetar. "Non Kiki... tadi sekitar satu jam yang lalu dia pergi lagi.
Satria masih mematung di area parkir. Tatapan matanya yang setajam elang terkunci rapat pada mobil sport merah di sudut gelap sana.Di dalam mobil itu, Kevin panik setengah mati. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Melihat lima preman bayarannya tumbang hanya dalam hitungan detik membuat nyalinya terbang entah ke mana. Kevin langsung menginjak pedal gas dalam dalam. Ban mobilnya berdecit keras bergesekan dengan aspal, melaju kencang meninggalkan area SCBD seperti orang kesetanan karena takut didatangi Satria.Satria hanya tersenyum miring melihat mobil itu kabur. Dia sudah bisa menebak bau busuk siapa yang ada di dalam mobil itu.Pintu kaca restoran terbuka lebar. Vera melangkah keluar dengan tenang. Dia menatap sekilas ke arah lima preman yang masih mengerang kesakitan di atas aspal. Tidak ada raut terkejut atau takut di wajah cantik CEO muda itu. Dia sudah sangat hafal dengan kemampuan asistennya."Udah selesai olahraga malamnya, Satria?" tanya Vera santai seolah olah tida
Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya
"Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp
Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit. Debu merah dari tanah urugan proyek beterbangan setiap kali angin kering berhembus, menempel di kemeja sutra mahal Vera dan kemeja taktikal baru Satria. Namun, Vera seolah tidak peduli dengan debu atau panas yang menyengat. Langkah kakinya
Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin







