공유

Bab 37

작가: Els Arrow
last update 게시일: 2026-08-10 20:20:57

"Katakan kamu tidak akan pernah pergi dari saya, Avena," bisik Rafsen parau di atas bibir Avena, napasnya yang berat dan beraroma alkohol memburu di ceruk leher wanita itu.

Serangan sentuhan yang mendadak itu membuat kesadaran Avena berputar hebat. Tanpa memberi jeda untuk bernapas, Rafsen mengangkat tubuh Avena yang ramping, memindahkannya dari pangkuan lalu menidurkannya perlahan di atas meja.

Berkas-berkas kantor dan kantong plastik martabak terdorong begitu saja ke pinggir.

Avena tersentak
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 47. Baikan Lagi

    "Mobil Pak Rafsen parkir di pinggir jalan raya depan gang, Bu Avena. Beliau jalan kaki ke sini sambil bawa buket bunga Mawar Putih, mana pakaiannya rapi banget kayak CEO-CEO," ucap Pak Slamet, penjaga sekolah, bergema di koridor ruang guru yang mulai sepi. Jam pulang sekolah baru saja berlalu lima belas menit yang lalu.Avena yang sedang merapikan tasnya langsung membeku. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan rasa bersalah yang membakar dadanya sejak pembicaraannya dengan Miss Siska siang tadi."Pak Rafsen jalan kaki ke sini?" ulang Avena tak percaya."Iya, Bu. Anak-anak sama ibu-ibu wali murid yang belum pulang pada ngumpul di depan gerbang, heboh banget ngeliatin suami Ibu," jawab Pak Slamet menyengir lebar.Avena tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menyambar tasnya dan berlari kecil menyusuri koridor, melangkah keluar menuju halaman depan sekolah.Langkah Avena terhenti seketika. Di sana, di antara kerumunan beberapa wali murid yang berbisik-bisik kagum dan sekumpulan anak TK

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 46. Meruntuhkan Ego

    "Miss Avena, kopi kamu sampai dingin begitu belum tersentuh dari tadi," tegur Miss Siska lembut, meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang guru TK Tulip.Avena tersentak kaget dari lamunannya. Ia memandangi cangkir kopi di depannya yang memang sudah tak lagi menguarkan uap. Jam istirahat anak-anak baru saja dimulai, tetapi sejak melangkah keluar dari mobil Rafsen di depan gang tadi pagi, pikiran dan jiwanya seolah tertinggal di tempat lain. Mengajar mewarnai dan bernyanyi bersama para murid pun dilakukannya setengah hati."Eh, iya, Miss, maaf, saya agak kurang fokus," ujar Avena, menyunggingkan senyum tipis.Miss Siska duduk di kursi samping Avena, menatap rekan kerjanya itu helaan napas lirih. "Sejak perjalanan pulang dari Puncak kemarin sore, raut wajahmu beda sekali, Miss. Anak-anak mungkin tidak sadar, tapi saya lihat kamu lebih banyak melamun. Kalau ada beban yang mengganjal, tidak apa-apa kalau mau cerita. Tapi kalau tidak mau, setidaknya jangan biarkan pikiran buruk i

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 45. Jadi Korban

    "Turunkan aku di depan gang. Mobil kamu kebesaran, nggak bakal muat masuk sampai depan TK," kata Avena dingin, matanya menatap lurus ke kaca depan tanpa sedikit pun melirik pria di samping kemudi.Rafsen tidak membalas. Tangan kekarnya mencengkeram erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ketika mobil berhenti tepat di mulut gang sempit menuju TK tempat Avena mengajar, Avena langsung melepas sabuk pengamannya. Ia meraih tasnya, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan kata terima kasih yang biasanya selalu meluncur manis dari bibirnya.BRAKK!Pintu mobil ditutup kencang, sukses membuat otot rahang Rafsen makin mengeras.Melalui kaca mobil, Rafsen terus menatap punggung Avena. Langkah kaki istrinya begitu cepat, rok kain lebar yang dikenakannya melambai searah dengan emosinya. Pria itu terus mengawasi Avena yang lambat laun menyatu dan menghilang di antara kerumunan orang.Bahkan ketika bayangan Avena benar-benar sudah tidak terl

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 44. Kelakuan Bagas

    "Siapa yang mengizinkanmu memindahkan barang-barangmu ke kamar lain?" Pria itu berdiri kaku di ambang pintu kamar tamu, menatap Avena yang sedang menata bantal dan selimut yang dibawanya dari kamar utama. Avena menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun. Sikap kaku dan tatapan tajam Rafsen selama perjalanan pulang dari Puncak tadi sore masih membakar dadanya. Di dalam bus tadi, mereka berdua saling diam bagaikan dua patung es yang dipajang berdampingan, membuat seluruh guru TK dan anak-anak merinding ketakutan. "Ruang kerja kamu, kan, dekat dari kamar utama, aku nggak mau mengganggu telepon pekerjaan rahasia kamu malam-malam. Di kamar tamu lebih tenang." Rafsen melangkah lebar, memotong jalan Avena dan mengunci pergerakan wanita itu tepat di depan pintu kamar. Iris matanya menatap Avena lekat-lekat, menyembunyikan rasa gelisah yang mulai mencengkeram dadanya. "Saya suami kamu, Avena. Tempat kamu di kamar utama, bersama saya," tegas Rafsen. Avena mendongak, menyunggin

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Hasutan

    Keesokan Harinya Avena sedang sibuk merapikan tumpukan kertas warna-warni di meja saung terbuka, saat yang sama, ponselnya di dalam tas kecil berdering nyaring. Ia merogohnya, mengira itu telepon dari Rafsen yang sedang mengecek area restoran bersama Bagas.Namun, nomor di layar tidak dikenal."Halo, selamat pagi?" sapa Avena ramah."Selamat pagi, Avena. Maaf mengganggu waktumu." Suara wanita di ujung telepon terdengar begitu halus.Avena menegang. Ia mengenali suara itu. "N-Natasha?"Natasha tertawa kecil. "Senang kamu masih ingat suaraku. Aku cuma mau mengucapkan selamat atas acara study tour-mu yang mewah. Luar biasa, ya, Rafsen sampai menguras fasilitas Vantara Resort cuma demi menuruti kemanjaan kamu."Avena mengepalkan tangannya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Kalau kamu cuma mau bicara hal gak penting, maaf, aku lagi kerja.""Tentu aku tahu kamu sibuk, Avena. Tapi apa kamu tidak penasaran kenapa Rafsen tiba-tiba memanjakanmu setinggi langit?" Jeda sejenak membuat dad

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 42

    Beberapa Jam Kemudian | Vantara Resort Puncak"Om Bagas, tolong pegangin ember ini. Aku mau nangkep ikan lele giant." Suara cempreng milik Alvaro melengking tepat di telinga Bagas. Asisten pribadi berkemeja polo ketat bertuliskan PANITIA itu memejamkan mata erat-erat, meratapi nasibnya yang kini berdiri melamun di tengah kolam lumpur dangkal Vantara Resort Puncak. Celana bahan mahal yang biasanya melintasi lantai marmer kantor kini digulung asal-asalan sebatas lutut, dipenuhi cipratan lumpur kecokelatan."Eh, bocil, ini Lele Siluman, kalau ditangkap malah kamu bisa dimakan sama dia. Tolong jangan aneh-aneh, ya, Om nggak mau disalahin. Tangkap yang kecil-kecil aja itu," ratap Bagas dengan senyum meringis yang teramat pasrah.Avena yang berdiri di pinggir kolam bersama anak-anak TK kelas Tulip lain langsung tertawa pingkal-pingkal. Mengenakan kaus seragam yayasan dan topi caping mungil, Avena tampak begitu menggemaskan."Semangat, Pak Bagas. Itu demi bonus lima puluh persen," goda Ave

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status