Share

72: Tergoda

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-09-26 22:12:33

Ternyata menyembunyikan pria berbahaya seperti Pak Jeremy dari keluargaku masih jauh lebih mudah, daripada harus menyembunyikan diriku dari mata dunia saat bersamanya.

Pikiran itu terus berputar di kepalaku sepanjang jalan.

Ya, sesuai perintah Pak Jeremy, aku berusaha kembali ke apartemen tidak terlalu sore. Tepat jam tiga, aku sudah berdiri di depan pintu unitnya dan menempelkan kartu akses.

Begitu pintu terbuka pelan, aroma maskulin yang familier langsung menyambutku.

Pak Jeremy sedang bera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Boss!   74: Jatuh Cinta

    Aku tidak tahu kenapa aku bisa bersikap senyaman itu pada Pak Jeremy, dan reaksi pria itu pun selalu di luar dugaanku. Semakin dipikirkan, aku semakin takut kalau-kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya.Tapi, rasanya aku memang sudah jatuh cinta.Sore menjelang malam, mobil yang membawa kami berhenti di pelataran sebuah hotel berbintang lima di kawasan pusat kota. Malam ini aku menemani Pak Jeremy menghadiri Gala Dinner & Forum Kemitraan Bisnis Nasional, sebuah acara eksklusif yang dihadiri para petinggi perusahaan, pejabat daerah, hingga jajaran kepolisian untuk pengamanan dan relasi investasi.Aku berjalan beriringan di samping Pak Jeremy. Jemariku melingkar canggung di lengannya saat kami melangkah masuk ke dalam ballroom berlampu kristal megah.Baru saja kami melewati pintu utama, mataku membelalak.Tak jauh dari posisiku berdiri, tampak Mas Rian berdiri tegap dalam balutan setelan jas hitam yang rapi. Ia berdiri di antara rombongan pengawal dan tamu protokol. Begitu mataku dan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   73: Hanya Partner

    Tangan Pak Jeremy semakin turun menyentuh area paling sensitifku. Gerakannya lambat namun pasti, membelai dan memainkan dengan sentuhan licin oleh busa sabun yang membuat seluruh saraf di tubuhku menegang. Ia jelas terlihat puas dengan reaksi tubuhku yang langsung tidak berdaya di bawah kendalinya.“Pak Jeremy… pelan…” rintihku pasrah, menempelkan kedua telapak tangan dan keningku ke dinding kaca shower yang basah.“Kenapa? Bukannya kamu suka?” bisiknya tepat di samping leherku. Deru napasnya yang panas dan serak menyapu kulitku, mengirimkan sensasi setruman yang membuat pahaku bergetar hebat.“Nanti… kita terlambat… Bapak kan bilang ada urusan bisnis…” Aku mencoba memberikan alasan logis di tengah sisa kesadaran yang makin terkikis.Pak Jeremy tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai balasannya, ia menekan tubuhnya makin rapat dari belakang, bersiap mendorong perlahan ke dalam diriku.Sensasi tumpul dan panas yang mulai menembus membuat kesadaranku langsung kembali. Panik, aku buru-b

  • Satu Kali Lagi, Boss!   72: Tergoda

    Ternyata menyembunyikan pria berbahaya seperti Pak Jeremy dari keluargaku masih jauh lebih mudah, daripada harus menyembunyikan diriku dari mata dunia saat bersamanya.Pikiran itu terus berputar di kepalaku sepanjang jalan. Ya, sesuai perintah Pak Jeremy, aku berusaha kembali ke apartemen tidak terlalu sore. Tepat jam tiga, aku sudah berdiri di depan pintu unitnya dan menempelkan kartu akses.Begitu pintu terbuka pelan, aroma maskulin yang familier langsung menyambutku.Pak Jeremy sedang berada di dapur, memunggungiku sambil menuangkan air minum ke dalam gelas. Penampilannya sore ini terlihat sangat santai—hanya mengenakan kaus hitam tipis yang membungkus tubuh tegapnya dan celana pendek santai yang memperlihatkan paha kokoh serta… asetnya yang jumbo itu. Melihat kausnya yang sedikit lembab, sepertinya pria ini baru saja selesai workout di ruang gym.Aku menggelengkan kepala cepat-cepat, menepak pipiku sendiri untuk menepis pikiran kotorku yang mulai bekerja liar. Selama hidupku ak

  • Satu Kali Lagi, Boss!   71: Kendali Boss

    Sampai di rumah, aku disambut sikap dingin Ibu. Beliau memilih bungkam dan sama sekali tidak mau menatap ataupun menyapaku. Meski begitu, aku tetap bertahan merawatnya telaten, menyelimuti tubuh sepuhnya, dan mengecup keningnya sebelum tidur. Sebab sejak melihatnya terbaring tak berdaya di rumah sakit beberapa minggu lalu, pikiran itu sering kali hinggap “ bagaimana kalau detik ini adalah kesempatan terakhirku melihat Ibu? Entah aku yang pergi duluan, atau Ibu.” Bicara tentang kematian memang selalu jadi hal yang paling menakutkan.Setelah memasak air hangat dan mandi, aku masuk ke kamar. Rasa lelah yang menumpuk membuat mataku amat berat. Aku baru saja mencoba memejamkan mata sampai menyadari ada beberapa panggilan tak terjawab dari Pak Jeremy.Aku tidak mau membuatnya murka, jadi aku bergegas menelepon balik lewat panggilan video.“Hai, Pak… maaf, saya baru selesai mandi. Bapak sudah mandi?” tanyaku halus, menyandarkan ponsel di guling sementara aku berbaring miring menghadap lay

  • Satu Kali Lagi, Boss!   70: Dilamar

    Tanganku terkulai lemas di atas paha setelah mengirimkan titik lokasi kantor polisi ke Pak Supri.Mas Rian yang berdiri di dekat meja menatapku rapat-rapat. Raut wajahnya berubah, sarat akan tanda tanya yang tak bisa ia tutupi.“Siena… siapa itu tadi? Pacar kamu?” tanyanya penuh selidik.Aku bingung harus menjawab apa. Bibirku mengatup rapat, bingung mencari alasan yang masuk akal di tengah kepalaku yang makin berat.Mas Rian menghela napas pendek, melangkah mendekat dengan canggung. “Siena… bukannya aku mau ikut campur. Hanya saja, aku… maaf kalau aku—”“Mas… kita bicara di luar, ya,” potongku pelan, melirik ke arah Tiara yang mulai memakan makanannya dengan diam di sofa. Aku tidak ingin adikku mendengar hal-hal yang makin membingungkan pikirannya.Mas Rian mengangguk. Kami akhirnya mendorong pintu kaca ruang mediasi, berdiri di koridor samping yang sedikit lebih sepi.“Apa pun yang mau Mas Rian katakan, aku berterima kasih…” ucapku setengah berbisik, menatap lantai yang dingin. “Mas

  • Satu Kali Lagi, Boss!   69: Ancaman

    “Mbak… bagaimana kalau Bapak datang beneran?” Tiara panik mengguncang lenganku. Suaranya bergetar, matanya bergerak liar memandangi pintu kaca depan kantor polisi. Dari cara Tiara menatap pintu itu saja aku bisa mengatakan kalau adikku trauma dengan kekerasan yang dilakukan oleh bapak kami sendiri.Aku menoleh sejenak padanya, kuelus kepalanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi deretan polisi berseragam dan penyidik.“Bagus kalau dia datang sendiri ke sini,” jawabku dingin, tak lagi peduli. “Biar polisi nggak perlu repot-repot menjemputnya di rumah.”“Siena!! Jangan gegabah, Nak… dengarkan Ibuk…!” Suara Ibu di seberang telepon masih memohon-mohon, meratap di antara deru napasnya yang panik.Mas Rian yang berdiri tak jauh dariku jelas mendengar suara histeris Ibu, walau ponsel tidak di loud-speaker. Tatapan matanya yang tajam mengisyaratkan dukungan penuh padaku dan itu membuatku semakin yakin dengan keputusanku.“Buk… kali ini, maafkan aku nggak nurut sama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status