Início / Romansa / Satu Kali Lagi, Boss! / 77: Hangat dan Panas

Compartilhar

77: Hangat dan Panas

Autor: BlackDiamond
last update Data de publicação: 2026-09-28 22:12:12

Dalam satu gerakan, tepat saat bibirku baru saja menyentuh halus permukaan bibir Pak Jeremy, semestaku mendadak gelap. Pusing hebat menghempaskan seluruh kesadaranku.

Saat membuka mata, hal pertama yang kutangkap adalah pendar samar cahaya subuh di celah gorden dan jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Kepalaku terasa berat. Ketika mencoba menggeser posisi tidur yang pegal, gerakanku yang gelisah rupanya membangunkan Pak Jeremy yang masih terlelap di sampingku.

“Masih pusing?” sua
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Satu Kali Lagi, Boss!   77: Hangat dan Panas

    Dalam satu gerakan, tepat saat bibirku baru saja menyentuh halus permukaan bibir Pak Jeremy, semestaku mendadak gelap. Pusing hebat menghempaskan seluruh kesadaranku.Saat membuka mata, hal pertama yang kutangkap adalah pendar samar cahaya subuh di celah gorden dan jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Kepalaku terasa berat. Ketika mencoba menggeser posisi tidur yang pegal, gerakanku yang gelisah rupanya membangunkan Pak Jeremy yang masih terlelap di sampingku.“Masih pusing?” suara berat khas bangun tidur menyapa indra pendengaranku.Aku menoleh pelan, menemukan Pak Jeremy sedang menyangga kepalanya dengan satu tangan. Aku menggeleng pelan sebagai jawaban.Pak Jeremy—yang pagi ini hanya mengenakan celana dalam hitam tanpa sehelai benang pun membalut tubuh bagian atasnya—turun dari kasur. Ia melangkah menuju meja kecil di sudut kamar, lalu kembali seraya membawa sebuah termos kecil dan satu cangkir.“Air madu jahe. Masih hangat,” ucapnya seraya menuangkan cairan itu dan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   76: Pak Jeremy Cium....

    Suasana di dalam mobil mendadak hening total setelah tiga kata itu lolos dari bibirku.Deru napasku sendiri terasa begitu berat di telinga. Pengaruh wine dan rasa kantuk membuat kesadaranku terlambat menyadari apa yang baru saja kukatakan. Begitu arti dari ucapan itu terpikirkan oleh otakku, jantungku mendadak berdesir hebat.Aku panik luar biasa, tapi tubuhku terlalu lemas untuk bergeming dari dadanya.Pak Jeremy tidak langsung merespons. Tangannya yang melingkar di pinggulku sempat terhenti sejenak, menghentikan usapan pelannya di bahuku.Aku menahan napas, menanti reaksi atau bentakan dingin yang mungkin akan memutus seluruh angan-anganku. ‘Bodoh, Siena. Kenapa harus ngomong begitu?’ batinku merutuki diri sendiri.Namun, tidak ada bentakan.Pak Jeremy hanya menghela napas panjang dan pelan. Jemarinya kembali bergerak, mengusap lembut helai rambutku yang menutupi wajah, lalu menyangkutkannya ke belakang telinga.“Kamu mabuk, Siena,” ucapnya dengan suara amat pelan, hampir tenggelam

  • Satu Kali Lagi, Boss!   75: Pak Jeremy I Love You!

    “Kamu saya ajak ke sini bukan untuk flirting dengan polisi itu.”Kalimat itu meluncur dari bibirnya dengan nada datar yang dingin. Aku tidak membantah. Aku hanya menunduk pelan, memilih menuruti ucapannya daripada memperpanjang urusan.Dari sudut mataku, aku melirik profil samping wajah Pak Jeremy. Anehnya, aku tak lagi merasa jengkel seperti biasanya saat menghadapi sikap moody pria ini. Aku mulai mencoba memahaminya. Posisinya di puncak membuat kepalanya diisi banyak pikiran, tanggung jawab besar, dan beban yang tak pernah ia perlihatkan ke orang lain.“Kamu lihat pria dengan setelan navy di dekat pilar itu?” bisiknya tiba-tiba, memutus lamunanku. “Kamu harus membuat dia menandatangani proposal bisnis yang kamu buat.”Keningku berkerut, menatapnya bingung. “Proposal? Tapi saya tidak bawa berkasnya, Pak…”Belum sempat ia menjawab, Yudha sudah berdiri di samping meja kami. Dengan gerakan cekatan, asistennya itu mengulurkan sebuah map kulit hitam tipis ke tangan Pak Jeremy. Tanpa banya

  • Satu Kali Lagi, Boss!   74: Jatuh Cinta

    Aku tidak tahu kenapa aku bisa bersikap senyaman itu pada Pak Jeremy, dan reaksi pria itu pun selalu di luar dugaanku. Semakin dipikirkan, aku semakin takut kalau-kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya.Tapi, rasanya aku memang sudah jatuh cinta.Sore menjelang malam, mobil yang membawa kami berhenti di pelataran sebuah hotel berbintang lima di kawasan pusat kota. Malam ini aku menemani Pak Jeremy menghadiri Gala Dinner & Forum Kemitraan Bisnis Nasional, sebuah acara eksklusif yang dihadiri para petinggi perusahaan, pejabat daerah, hingga jajaran kepolisian untuk pengamanan dan relasi investasi.Aku berjalan beriringan di samping Pak Jeremy. Jemariku melingkar canggung di lengannya saat kami melangkah masuk ke dalam ballroom berlampu kristal megah.Baru saja kami melewati pintu utama, mataku membelalak.Tak jauh dari posisiku berdiri, tampak Mas Rian berdiri tegap dalam balutan setelan jas hitam yang rapi. Ia berdiri di antara rombongan pengawal dan tamu protokol. Begitu mataku dan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   73: Hanya Partner

    Tangan Pak Jeremy semakin turun menyentuh area paling sensitifku. Gerakannya lambat namun pasti, membelai dan memainkan dengan sentuhan licin oleh busa sabun yang membuat seluruh saraf di tubuhku menegang. Ia jelas terlihat puas dengan reaksi tubuhku yang langsung tidak berdaya di bawah kendalinya.“Pak Jeremy… pelan…” rintihku pasrah, menempelkan kedua telapak tangan dan keningku ke dinding kaca shower yang basah.“Kenapa? Bukannya kamu suka?” bisiknya tepat di samping leherku. Deru napasnya yang panas dan serak menyapu kulitku, mengirimkan sensasi setruman yang membuat pahaku bergetar hebat.“Nanti… kita terlambat… Bapak kan bilang ada urusan bisnis…” Aku mencoba memberikan alasan logis di tengah sisa kesadaran yang makin terkikis.Pak Jeremy tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai balasannya, ia menekan tubuhnya makin rapat dari belakang, bersiap mendorong perlahan ke dalam diriku.Sensasi tumpul dan panas yang mulai menembus membuat kesadaranku langsung kembali. Panik, aku buru-b

  • Satu Kali Lagi, Boss!   72: Tergoda

    Ternyata menyembunyikan pria berbahaya seperti Pak Jeremy dari keluargaku masih jauh lebih mudah, daripada harus menyembunyikan diriku dari mata dunia saat bersamanya.Pikiran itu terus berputar di kepalaku sepanjang jalan. Ya, sesuai perintah Pak Jeremy, aku berusaha kembali ke apartemen tidak terlalu sore. Tepat jam tiga, aku sudah berdiri di depan pintu unitnya dan menempelkan kartu akses.Begitu pintu terbuka pelan, aroma maskulin yang familier langsung menyambutku.Pak Jeremy sedang berada di dapur, memunggungiku sambil menuangkan air minum ke dalam gelas. Penampilannya sore ini terlihat sangat santai—hanya mengenakan kaus hitam tipis yang membungkus tubuh tegapnya dan celana pendek santai yang memperlihatkan paha kokoh serta… asetnya yang jumbo itu. Melihat kausnya yang sedikit lembab, sepertinya pria ini baru saja selesai workout di ruang gym.Aku menggelengkan kepala cepat-cepat, menepak pipiku sendiri untuk menepis pikiran kotorku yang mulai bekerja liar. Selama hidupku ak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status