Share

Bab 114

Penulis: QueenShe
last update Tanggal publikasi: 2026-05-19 12:18:49

Shanum bersiap untuk pulang dari rumah orang tuanya. Langkahnya baru mencapai pintu utama saat lengan atasnya dicengkram dengan kuat dari belakang. Ia menoleh, mendapati wajah ibunya, Ani, yang tampak tegang dengan guratan kecemasan yang dalam di dahinya.

“Ada apa, Bu?” tanya Shanum heran, melepaskan cengkeraman tangan ibunya dengan halus. “Shanum harus pulang sekarang, keburu malam.”

Tanpa berkata-kata, Ani menarik tubuh Shanum menjauh dari pintu, membawanya masuk kembali ke area dapur yang l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 253

    “Darimana, Mas?” tanya Shanum, berjalan mendekat sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.Prana tersentak kecil melihat kedatangannya, lalu cepat mengubah ekspresi menjadi santai. Ia melepas jaket, meletakkannya begitu saja di sandaran kursi makan.“Ada urusan tadi dikit di luar,” jawab Prana pendek.“Urusan?” Shanum menaikkan alis, menatap penuh selidik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebelum mandi, ia melihat Prana masih main ponsel di rumah. “Urusan apa pagi-pagi begini?”Prana tak langsung menjawab. Ia melangkah lebar menghampiri Shanum, menariknya ke dalam pelukan erat—seperti baru pergi berhari-hari dan sangat merindukannya. Shanum tertegun sesaat, tapi membiarkan tangan Prana melingkari pinggangnya.“Mas, gak siap-siap ke rumah sakit? Jadwal kamu bentar lagi mulai, lho.”Prana mengecup puncak kepalanya yang masih agak basah. “Aku ambil cuti.”Shanum langsung melepaskan diri, mendongak dengan dahi berkerut. “Kenapa tiba-tiba ambil cuti. Pasi

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 252

    “Nikah?” ulang Shanum lirih. Matanya berkedip beberapa kali, seperti berusaha memastikan dirinya benar-benar sudah bangun. “Mas... aku gak salah dengar?”“Enggak,” ulang Prana, kali ini dengan artikulasi jauh lebih jelas dan tegas. “Begitu putusan banding dari Pengadilan Tinggi keluar, kita menikah. Aku gak mau nunggu lebih lama lagi.”“Mas, kamu gila?” Shanum langsung bangkit duduk. “Sidang banding aja belum dimulai! Status hukumku masih menggantung. Di luar masih membicarakan kita. Kalau kita menikah sekarang, itu sama saja membenarkan kalau kita berhubungan sebelum aku bercerai.”“Biar saja mereka menuduh apa pun,” sahut Prana, tak bergeming dari posisinya. “Toh... memang kenyataannya aku mau kamu jauh sebelum kejadian ini.”“Mas...” Suara Shanum terdengar sedikit ketakutan dan panik.“Kalau kita menikah, aku punya hak hukum penuh untuk melindungimu. Siapa pun gak akan punya celah lagi buat mengganggumu. Kita pindah dari sini.”Shanum menggeleng-gelengkan kepala, merasa dunia di se

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 251

    Shanum tersentak bangun. Napasnya memburu, dada naik turun cepat seperti baru saja berlari sangat jauh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Refleks, kedua tangannya meraba wajah, leher, lalu turun ke perutnya sendiri—memastikan semua bagian tubuhnya masih utuh.Beberapa detik ia hanya terpaku, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Di pinggangnya melingkar lengan Prana yang tertidur di belakangnya, memeluknya dari samping dengan napas pelan dan teratur.Ia memejamkan mata sebentar, mengingat rentetan kejadian kemarin—kedatangan Kartika, video yang diambil Mega, hingga pesan Tiara yang mengabarkan semuanya sudah tersebar luas.“Astaga...” gumamnya lirih dengan tubuh menegang, sadar apa yang terjadi sebelumnya bukan mimpi.Shanum memegang punggung tangan Prana yang menempel di perutnya, mengangkat lengan itu perlahan agar tak mengejutkan sang dokter. Kakinya bergeser menuju tepi ranjang. Namun begitu telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, dekapan di pin

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 250

    Prana tak bergerak sedikit pun. Dibiarkannya Shanum menangis dalam pelukannya selama yang wanita itu butuhkan. Tangis yang semula pecah keras perlahan berubah menjadi isakan kecil.“Maaf... maafkan aku,” bisik Prana.Napas Shanum yang tadi memburu mulai tenang, meski sesekali masih tersendat. Jari-jarinya tetap mencengkeram erat kemeja Prana. Entah sudah berapa lama mereka berada dalam posisi itu, hingga akhirnya tubuh Shanum perlahan melemas.Kepalanya bersandar di dada Prana, kedua matanya terpejam kelelahan. Bahkan setelah tertidur, alisnya masih berkerut. Sesekali bibir pucat itu bergerak pelan.“Jangan...”Prana langsung menunduk, mendekatkan telinganya ke mulut Shanum.“...jangan pukul aku...”Kalimat lirih itu nyaris tak terdengar. Tapi cukup membuat dada Prana seperti diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tangannya yang semula mengusap punggung Shanum berhenti sesaat.“Ada aku, sayang... gak ada yang bisa mukul kamu lagi,” bisik Prana.Pelan-pelan diangkatnya tubuh Shanum, dibar

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 249

    Ponsel di atas pangkuan Shanum terus berkedip. Nama Prana muncul di layar tanpa jeda, bergantian dengan rentetan notifikasi media sosial yang menyembul dari bagian atas bar gawai tersebut.Mas Prana Calling...Shanum melewatkan panggilan itu. Pikirannya tersedot pada notif media sosialnya yang terus bertambah setiap detik. Jempolnya bergerak pelan, membuka unggahan video yang kini memenuhi beranda.Sesaat ia hanya menatap gambar diam di layar. Jemarinya ragu menyentuh kolom komentar. Tapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya. Begitu kolom itu terbuka, ribuan komentar langsung memenuhi layar.Komentar teratas berbunyi, “Gini nih kalau rumah tangga pakai duit haram.”Shanum menelan ludah, ia membaca komentar yang lainnya. “Suami istri sama aja. Dua-duanya tukang selingkuh.”“Suami lagi di penjara malah istrinya tinggal serumah sama dokter bedah. Mungkin enak kali ya bisa main bedah-bedahan.”“Jangan gampang percaya perempuan nangis.”Setiap komentar baru terasa seperti seseo

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 248

    “Kenapa gak ada yang menghubungiku?” tanyanya menatap aplikasi pesan berwarna hijau. “Tiara juga gak pernah datang lagi.”Shanum menatap nama adik kandungnya itu di daftar kontak. Pertemuan terakhir mereka terjadi sebulan lalu, tepat sebelum ia keluar dari rumah sakit. Saat itu, Shanum sendiri yang melarang Tiara datang menemaninya, takut Fadil akan mengendus keberadaannya lewat sang adik. Tapi menghilang tanpa satu pesan pun selama berminggu-minggu jelas bukan tabiat Tiara yang biasanya cerewet dan mudah cemas.Ibu jarinya menyentuh ikon gagang telepon pada nama sang ayah, Bobby. Ponsel ditempelkan ke telinga. Bukan nada sambung yang terdengar, melainkan suara operator yang menyatakan nomor tersebut di luar jangkauan.Shanum memutus sambungan, beralih menekan nomor ibunya, Ani. Hasilnya sama. Kali ini operator menyebutkan nomor yang dituju tak aktif.Cemas mulai bercampur penasaran. Shanum mencoba menghubungi Tiara. Panggilan langsung terputus dengan bunyi sibuk yang pendek.“Kenapa

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 214

    “Kenapa datang-datang muka udah kayak baju kagak disetrika?” tanya Hendra—sahabat Prana sekaligus pengacara Shanum—sambil menyimpan dua gelas kopi di atas meja tamu kantornya.Prana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan lelah. Ia baru sampai beberapa menit yang lalu setelah menemui Ralin

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 213

    “Mbak, tadi Mbok Yah telepon aku. Katanya Mbok Yah gak bisa datang lagi ke sini buat nemenin Mbak."” buka Tiara yang duduk di kursi samping ranjang, sibuk mengupas buah apel dengan pisau kecil.Shanum yang kini sudah bisa duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang Shanum menoleh kecil pa

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 212

    “Fadil, kasus kamu ini sudah menyebar ke mana-mana. Media online, media sosial, semuanya membahas soal penganiayaan ini. Kita benar-benar harus berhati-hati sekarang. Langkah kita dipantau banyak orang,” ucap Kartika—ibu Fadil—mencondongkan badannya ke depan, menatap anak sulungnya di ruangan khusu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 210

    “Iya, Han. Aku masih di rumah sakit. Kalau di sini selesai nanti aku susul. Kalian makan aja dulu,” jawab Prana pada sambungan telepon Hania.Suaranya sengaja direndahkan, nyaris berbisik. Sesekali matanya melirik ke arah Shanum yang sudah kembali tertidur di ranjangnya. Wajah wanita itu tampak beg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status