Begitu pintu tertutup rapat, ketegangan yang sedari tadi ditahan Prana runtuh seketika. Ia menghempaskan punggungnya ke kursi kerja, sambil mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan yang masih terasa dinginBayangan kulit Shanum yang merona, getar tubuhnya, dan ketegangan yang tersisa di balik celananya, masih tertinggal di ingatannya.Prana tahu ia telah melintasi garis merah. Sebagai dokter, ia baru saja melanggar kode etik paling mendasar.“Sialan, kenapa aku melakukannya?” Prana mengeratkan kepalannya di atas meja.Terlepas dari betapa buruknya Fadil memperlakukan Shanum, sebagai pria, ia telah mengkhianati kepercayaan temannya sendiri. Dan yang paling menyiksa bukanlah rasa bersalah, tapi kenyataan kalau ia menikmatinya.“Permisi, Dok. Maaf saya terlambat, tadi anakku di rumah agak rewel,” ujar Mira sopan.Ia terhenti sejenak saat melirik ke arah meja kerja. “Dok, kenapa wajahnya merah sekali? Dokter sakit?”Menyadari wajahnya yang memerah hingga ke leher dan telinga, P
اقرأ المزيد