“Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi Shanum. Ia berguling ke samping, memunggungi Shanum seakan-akan istrinya hanyalah benda mati yang baru saja selesai digunakan. Dalam hitungan detik, dengkur halusnya mulai terdengar. “Sudahlah. Memangnya mau kamu gimana lagi?” sahut Fadil ketus. Alih-alih merasakan lega, Shanum malah merasa gamang dan tidak nyaman, sisa dari sebuah 'kewajiban' yang baru saja ia tunaikan. Ada kebutuhan biologis yang menggantung dan tak pernah menemukan muaranya selama lima tahun pernikahan mereka. “Selalu saja begini,” gumam Shanum lirih, menatap hampa punggung suaminya yang sudah tertidur. “Abis selesai, langsung tidur. Gak peduli aku sudah sampai atau enggak.” Jemari Shanum meremas sprei di bawah j
Last Updated : 2026-04-01 Read more