LOGIN"Bicara pelan-pelan kan, bisa." Aku mendumel sendiri setelah diusir.
Nata tidak ingin melepaskan Salsa dalam keadaan perut lapar. Belum lagi Salsa sempat rewel cukup lama akibat mainannya yang berantakan itu. Setelah Sus Dara pulang, catering diantarkan, dari sumber yang sama yang selalu menjadi langganan Nata sejak kami masih menikah. Aku merasa terjebak dalam situasi canggung. Duduk di meja makan, kami hanya bertiga, Salsa di pangkuan Nata, manja karena akan berpisah dengan Papanya. Sementara Nata terus menyuapinya. "Nggak mau sayur." Dia menggelengkan kepala saat sendok berisi brokoli disodorkan ke depan mulutnya. Aku mendelik. "Salsa." Salsa mendongak, memandang Papanya dengan mata sayu dan bibir mengerucut, tampak ingin dikasihani. Aku mendengkus, pintar sekali dia menggunakan wajah polos itu sebagai trik mendapat simpati Papanya. "Sayur enak," jawab Nata tenang dan singkat. "Kenapa nggak suka sayur?" Mulut Salsa semakin manyun, namun perlahan bibir mungilnya terbuka dan akhirnya menelan brokoli itu. Dia mengerutkan hidung lucu dan seperti akan muntah saat mengunyahnya. Tapi setidaknya Salsa mau menelan, tidak hanya diemut atau diam-diam dia muntahkan di balik kolong meja. Lihat, kan? Saat bersama Nata tanpa perlu dirayu dan dibujuk-bujuk Salsa langsung nurut. Sementara denganku perlu ada drama spatula melayang sebelum Salsa mau menghabiskan makanannya. Padahal Nata juga tipikal pria yang selalu memanjakan putrinya. Dia hanya bertanya lembut, bukan bermaksud akan memarahi, dan kalau Salsa tetap menolak, kuyakin brokoli itu akan langsung Nata singkirkan. "Mau lagi?" tanya Nata. Dan Salsa mengangguk patuh. Aku mengembuskan nafas sebal. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu repot membujuk-bujuk anak manja ini. Selepas makan malam aku membantu Salsa salin dengan pakaian yang lebih bersih. Kemudian berpamitan pada Nata, sementara Salsa mendekap erat leher Papanya tidak ingin berpisah. "Papa ikut," rengeknya. "Nggak bisa dong Salsa, besok Papa masih kerja. Hari minggu nanti Salsa udah sama Papa lagi, kan? Oke? Tunggu sampai hari minggu aja ya?" bujukku. Salsa justru memeluk leher Nata erat, dia menyembunyikan wajahnya di bahu mantan suamiku, enggan kugendong. "Salsa?" sebutku mengeram sabar. "Nggak mau, mau sama Papa..." jawabnya dengan suara teredam. "Jangan gitu, katanya Salsa pinter." "Salsa mau jadi oon aja." Astaga. "Nggak gitu konsepnya, Sal." "Papa temenin sampai ke bawah," usul Nata mencoba menengahi. Dengan berat hati aku akhirnya menerima usul itu, dia tetap menggendong Salsa dan menemani kami sampai ke basemant. Biasanya Salsa kalau dituruti justru akan mencari celah menghancurkan benteng kami. Selepas didudukkan di car seat, Salsa menangis karena tidak ingin ditinggal. Tuh, kan. "Papa ikut aja," rengeknya manja. "Mau Papa ikut. Salsa masih kangen..." Rasanya tidak tega melihatnya sampai sesenggukan. Hatiku tidak sekeras itu sampai tega membuatnya sedih. Tapi aku pun tidak berani melirik Nata. "Salsa, jangan gitu yaa, Papa pasti–" "Mana kunci mobil kamu?" potongnya. Aku segera mendelik, menggeleng kecil agar Nata tidak menuruti keinginan Salsa yang satu ini. Karena dampaknya bisa fatal, kelak kalau kami saling bergantian menjemputnya, Salsa akan terbiasa meminta hal yang sama. "Aku juga mau bicara," katanya dingin. "Pulangnya aku bisa pesan taxi." Setiap kali bicara padaku nada suara Nata akan berubah seperti itu. Tanganku sedikit berkeringat, detak jantung mulai berdebar kencang saat mengangsurkan kunci mobil padanya. Mobil yang kubeli setelah mendapatkan harta gono-gini dalam perceraian kami. Tanpa banyak bicara, Nata mengusap pipi Salsa agar berhenti menangis lalu menyeka air matanya dengan tisu. Putriku seketika tertawa kegirangan. Moodnya dengan cepat berubah. Dasar setan kecil. Aku membiarkan Nata masuk ke kursi pengemudi, sementara aku di kursi penumpang. Selama perjalanan Salsa sibuk mengoceh banyak hal terutama tentang teman-temannya di sekolah. Jujur, saat terjebak dalam ruang sempit bersama Nata seperti ini, aku tidak tahu harus melakukan apa. Kami tidak saling berbicara, Nata pun hanya menanggapi ocehan Salsa dengan sepatah, dua patah kata. Dan aku lebih banyak memandang keluar jendela, berusaha untuk tidak berkontak mata. Aku agak takut menantikan apa yang akan Nata bicarakan. Mungkin ini soal pernikahannya dengan Calista? Dan bagaimana pola asuh kami nanti? Apapun itu, semoga sebagai anak Salsa tetap menjadi prioritas utama. Ketika mobil akhirnya terparkir di halaman rumah Bibi Elsi. Dan Salsa diberikan pengertian agar tidak meminta Nata menginap di kosan, barulah mantan suamiku itu membuka obrolan. "Uang bulanan sudah aku transfer ke rekening kamu," katanya datar selagi aku mengantarnya jalan ke gerbang. Aku menunduk, yang dia maksud adalah uang nafkah bulanan untuk Salsa sesuai kesepakatan di pengadilan. Tapi biasanya Nata kerap melebihkannya sedikit untuk bayar kosan. Awalnya aku menolak, tapi setelah enam bulan belum juga mendapatkan pekerjaan, aku jadi tidak punya pilihan selain menerima. Wajahku merah padam, hawa panas menyebar di punggungku. Malu. Aku membenci semua tingkah laku dan sifat dinginnya. Tapi untuk yang satu ini, aku masih bergantung padanya. "Besok ke kantor, kamu diterima." Mataku melebar dan mendongak menatapnya, langkah Nata sontak berhenti. "Mama hubungin kamu?" "Mama?" Dia mengernyit, aku buru-buru menggeleng seraya mengibaskan tangan dengan salah tingkah. "Lupain aja," pintaku nyengir kuda. Dalam hati aku merasa lega luar biasa. "Apa maksud kamu?" tanyanya menuntut. "Kamu diterima karena memang diterima. Besok pasti bawahan aku menghubungi kamu, aku cuma kasih info supaya besok kamu sudah siap." Oh, oke. Aku terlalu berpikiran negatif kalau ini ulah ibu mertuaku. "Makasih Nat." Kenapa aku harus berterima kasih padanya?! Nata mendengkus samar. Sepertinya hanya itu yang ingin Nata sampaikan karena dia langsung berjalan menuju gerbang, aku membuntuti di belakang seperti serdadu militer. Apa yang harus kukatakan? Haruskah aku mengucapkan terima kasih lagi karena dia mau repot-repot menyetir sampai ke sini? Atau... "Besok pagi," tambah Nata saat keluar dari gerbang, dia menoleh sedikit namun tatapannya yang tajam langsung lurus memandangku, mengunci tatapan kami. "Temui aku di ruangan sebelum mulai bekerja. Ada beberapa kontrak yang harus kamu tanda tangani." "Dan Calista?" "Ada apa dengan Calista?" "Kamu akan menikahi dia?" Nata mengembuskan nafas panjang, kemudian memalingkan muka. "Itu bukan urusan kamu, Lula." ***“Asem banget kayaknya, nggak kelar-kelar ini perkara mobil.”Sudah kelar kok, setelah baik-baikan, ciuman-ciuman, peluk-pelukan, aku dan Nata resmi berdamai meskipun... yah, sepertinya suamiku masih jengkel.Aku tidak tahu apa yang salah, mungkin karena Papanya tidak bilang-bilang dulu bahwa akan memberikan hadiah itu. Dan mau bagaimanapun Nata tetaplah suamiku, ia perlu tahu semua yang berkaitan dengan istrinya.“Pak Andrew tuh ngambek karena mau ngasih hadiah mobil juga Mba, tapi nunggu momen pas Mba ulang tahun.” Gio menyodorkan ponselnya yang berisi chatnya bersama dealer dan tawar-menawar yang terjadi. Serta membooking salah satu unit untuk nanti dikirim ke apartemen. Aku langsung mendelik. “Siapa yang nggak kaget malah keduluan Bokapnya.” Dan Gio tertawa bersama teman Nata yang lain.Yang menjadi bahan troll hanya berdecak kesal. Lengan Nata terulur di punggung sofa, tepat di belakangku duduk, sementara Salsa berada di atas pangkuannya, bers
“Ini....beneran?”Aku mengerjap-ngerjap, bingung, heran, shock menjadi satu. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku, aku akan diberikan mobil oleh seseorang.Aku menoleh ke arah Nata, dan Nata ternyata sedang memperhatikanku. Kedua alisnya menyatu serius, dan dia menatapku seakan aku terdakwa kasus korupsi atau semacamnya. Tajam, menilai, meneliti, dan menguliti!Sial.“Aku nggak tahu,” imbuhku buru-buru.Seorang pria dengan seragam merah khas showroom mendekat. “Dengan Ibu Kalula Samahita?” tanyanya. Aku mengangguk hati-hati sambil tidak lepas menatap suamiku. “Tolong tanda tangan di sini Bu, dan mohon diterima ya Bu.”Eh, tunggu dulu...Aku perlu tahu ini dari siapa?Seakan sadar betul apa yang tengah kupikirkan, Nata mengambil alih pertanyaan. “Pengirimnya siapa?”“Dari Pak Nata, Pak.”“Pak Nata?” Nata mengulangi, aku sampai bergerak-gerak gelisah, Gio dan Steven kompak melongo. “Kamu yakin?
“Ini Joyday ramai banget Mba.”Tria celingak-celinguk ketika aku mengundangnya untuk datang di soft launching dari restoran suamiku.Hasil ini sepertinya di luar prediksi, tim marketing Nata berhasil menarik peminat, mungkin karena banyak pilihan diskon plus kami pakai jasa influencer.Tidak sampai yang padat banget, tapi cukup membuat takjub. Terlebih sebagai awal, ini sudah modal yang memuaskan.Nata sibuk sejak pagi, selama sebulan terakhir pasca honeymoon yang cuma di apartemen saja, Nata sibuk mengurus bisnisnya ini. Aku pun mendukung, apapun yang suamiku lakukan. Aku berharap usahanya selalu berhasil.Tria kemudian menyuap Chocolate Souffle miliknya, lalu mengerling saat melihat Steven. “Siapa itu Mba?”“Temannya Pak suami.”“Udah menikah?”Aku tertawa, lebih karena tahu Steven adalah pria metroseksual yang tidak akan mungkin menjalin komitmen. Jadi, aku hanya mengangkat bahu. “Kece banget, kayak
“Istri lagi susah kenapa kamu nggak ada usaha untuk bantu masalah Lula?”Kalimat pertama Papa seketika membuat suamiku membelalak.Ia menatapku sambil mengerutkan alis. “Kamu susah kenapa La?”Sepertinya Nata terkejut, dipikirnya aku terlibat masalah, atau mendadak mendapatkan musibah, sedangkan dia tidak tahu sehingga reaksinya benar- benar out of control. Nata duduk di sampingku dan langsung menggenggam tanganku lembut, menatapku dengan sorot khawatir.“Memangnya ada masalah apa?”“Itu sepupu Lula berani-beraninya ngejual mobil Lula tanpa izin. Terus kamu nggak ngapa-ngapain buat bantuin dia, suami macam apa kamu ini?” seru Papa, nadanya naik satu oktaf.Aku melirik Mama, takut banget Papa akan darah tinggi karena mendadak emosi, tapi Mama pun memekik.“Namanya Ibnu Pa!”Astaga.Mama malah mengompori!“Lah, iya!” sahut Papa. “Ada saudara begitu? Yang kita lagi kena musibah malah mengambil kes
Lepas main-main dan rebutan Nata, Salsa akhirnya lelah dan tertidur juga. Tapi anakku tidak mau di tengah karena sebal melihat wajahku yang mengejek. Maka, posisi kami seperti tiga sendok. Salsa di pinggir kanan, lalu Nata di tengah, kemudian aku di samping suamiku, lucunya lagi aku disuruh menghadap ke kiri, sehingga aku praktis punggung-punggungan dengan Nata. Baiklah, aku nurut saja. Begitu pagi tiba dan matahari mulai meninggi dari balik gorden jendela. Aku bangkit lebih dulu, menyingkap selimut kemudian tersenyum lebar melihat Nata yang mendekap erat tubuh Salsa. Sedangkan putriku itu terlelap, mulutnya sedikit terbuka, tangan mungilnya meremas kaos Nata di dada. Oh, hatiku seperti meleleh. Aku meraih ponsel di atas nakas dan mengabadikan gambar mereka. Lantas, kutarik selimut menutupi tubuh keduanya, dan berjingkat-jingkat ke kamar mandi. Aku membersihkan diri, mandi, sikat gigi dan menga
Kamar Nata sangat berwangi Nata.Harum pengharum ruangan bercampur dengan parfumnya yang segar. Ditambah EO lavender di sudut.Nata orang yang lumayan rapi, tidak macam OCD yang semuanya harus teratur sesuai warna dan barang. Tapi paling tidak, semuanya tertata. Dan karena sejak kuliah Nata sudah tidak tinggal di kamar ini, maka barang- barangnya sebagian besar tampak jadul. Perasaanku ketika masuk masih sama, rasanya seperti terlempar ke tahun 2008-an awal, yang mana saat itu masih zamannya tuker-tukeran pin BB.Itu bisa dilihat di laci meja belajarnya, ada banyak HP BB. Lalu seperti PS yang aku tidak tahu seri berapa karena sudah tidak digunakan, gitar yang penuh stiker di sudut, sampai topi-topi koleksi dari tim basket berbagai sekolah yang berjejer rapi di dalam lemari kaca.Lucu, terakhir kali tidur di sini, topi itu masih tergantung di dinding. Sepertinya Mama yang membereskannya.Selain itu, yang paling mencolok adalah, b







