แชร์

Part 4: Diusir Mantan

ผู้เขียน: Titi Chu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-13 08:11:18

Mendatangi kantor RO Corp untuk yang kedua kalinya membuatku merasa seperti sedang dipermainkan.

Awalnya mereka menghubungi bahwa aku harus menjalani psikotes. Sekali lagi setelah wawancara, padahal Nata berkata bahwa hasilnya akan diumumkan sekitar dua hari.

Salah satu staf yang bernama Gio, pria yang sama yang menyambutku pertama kali, membungkuk meminta maaf.

"Mohon maaf Mba Kalula, memang ada keterlambatan dalam proses reqruitment karena RO Corp sedang audit internal," ucapnya menjelaskan prihatin. "Untuk itu, semua biaya transport akan direimburse perusahaan kami. Sekali lagi kami mohon maaf."

Sekelas perusahaan besar bisa melakukan kekeliruan jelas tidak profesional, tapi aku membutuhkan pekerjaan ini. Jadi aku tetap mengikuti prosesnya hingga selesai.

"Apa Mama bilang aja ke Nata untuk langsung menerima kamu, La? Di sana enak loh, jaraknya nggak jauh dari kosan kamu, kan?" Mama mertuaku mencoba membantu dengan memberikan solusi melalui sambungan telepon saat aku menyetir keluar dari gedung perusahaan itu. "Kamu juga sama Nata jadi enak kalau mau ganti-gantian jaga Salsa."

"Nggak apa-apa Ma, aku udah banyak ngerepotin Nata selama ini," sahutku berusaha bersikap rasional.

"Ngerepotin apa?" sahut Mama bingung. "Justru selama ini kamu yang banyak bantu Nata dan ngurus cucu Mama. Sekali lagi minta tolong apa salahnya? Nata juga pasti ngerti, gimana pun juga kamu ibu dari anaknya. Nggak mungkin dia berani nolak kamu."

Tentu saja dia berani!

Nata tidak ada rasa peduli. Saat resmi bercerai Ibu mertuaku ini selalu denial kalau putranya masih mencintaiku. Padahal jangankan cinta, sejak awal Nata menikah karena terpaksa.

Maklum, kami menikah karena saat itu Nata sudah menjalin hubungan yang lama dengan pacarnya. Tujuh tahun dari zaman sekolah, dia memang tipikal pria setia, tetapi tiba-tiba putus. Kami kemudian dikenalkan oleh Mama mertuaku karena beliau langganan perhiasan di tempatku saat itu bekerja.

Tidak butuh waktu lama, hanya tiga bulan masa pendekatan Nata kemudian melamar dan kami pun menikah.

Jodoh memang rahasia, aku berpikir dulu Nata adalah pria gentle, sat-set, tidak ingin berlama-lama menggantung status kami. Tetapi lambat laun aku menyadari bahwa aku hanya ban serep, alias rencana cadangan karena dia gagal menikah dengan mantannya.

Intinya, bukan aku yang Nata mau. Bukan aku wanita yang dia pilih.

"Udah nih, Mama telepon sekarang," ucap Mama dari sambungan. "Mama sekalian suruh dia ke sini kali ya, kangen banget mau main sama Salsa."

"Jangan Ma, Nata lagi kerja, tolong, jangan bikin situasi aku sulit, Ma. Kami udah mantan, aku nggak mau dikira Nata ngebujuk Mama nyuruh nerima kerja di perusahaannya. Kalau aku diterima aku mau hasil sendiri, murni kemampuan aku bukan siapa-siapa."

Mama terdengar menghela nafas berat.

"Udah dulu ya Ma, ini aku lagi di jalan, nanti aku kabarin kalau udah di rumah." Tidak ingin berlama-lama, aku segera mematikan sambungan telepon.

Aku masih ada kesibukan menjemput Salsa dari apartemen Nata, kemarin dia sudah menyindir perihal waktu seminggu yang kuminta. Dan sekarang sudah tiga hari, jadi aku memutuskan untuk mengurus Salsa sendiri saja.

Jantungku agak berdegup kencang saat melakukan perjalanan ke tempat tujuan. Sebelumnya aku sudah chat Nata dan memberitahunya bahwa aku akan mampir menjemput putri kami.

Nata masih bekerja, jadi aku akan menunggu sampai dia pulang, mungkin sekitar satu atau dua jam lagi.

Aku mengucapkan salam ketika Salsa membukakan pintu, wajahnya tampak ceria. Dia melompat-lompat saat tahu yang datang adalah aku.

"Aku udah nunggu Mama!" jeritnya girang tersenyum lebar. "Papa udah kasih tau dari semalam Mama ke sini."

"Iya, gimana mainnya seru?"

"Seru bangeeet!" Dia memekik heboh.

Pintu dibuka lebih lebar, Sus Dara berdiri di belakangnya tersenyum menyambut. "Masuk Bu."

"Makasih Sus, Salsa nggak nakal, kan?"

"Enggak Mama, Salsa anak baik!" Yang menyahut justru Salsa, memberengut. Aku dan Sus Dara serentak tertawa.

"Iya Salsa baik." Sus Dara mengusapi rambutnya yang kali ini diikat membentuk kepang lucu.

"Ini Tante yang bikin," sahut Salsa seolah tahu aku memikirkan hal itu. "Tadi Tante di sini, tapi sekarang udah pergi soalnya mau jalan-jalan."

Sus Dara meringis, kemudian melempar pandang padaku. "Tante itu maksudnya temennya Pak Andrew, Bu."

Oh? Calista habis dari sini?

Beruntung kami tidak berpapasan, kalau tidak suasananya pasti canggung.

"Barang-barang Salsa di mana Sus?" tanyaku berjalan ke living room, kemudian mengedarkan pandangan.

Apartemen Nata selalu rapi, tertata, dan membosankan. Rasanya tidak banyak yang berubah sejak aku memutuskan untuk angkat kaki dari tempat ini.

"Ini udah saya siapin, Bu." Sus Dara menunjuk ke arah sofa depan TV.

Salsa melompat-lompat. "Sini Mama, aku semalam habis selesain puzzel sama Papa." Ia menarik tanganku, mengajakku memasuki kamar Nata.

Aku justru berhenti di tengah-tengah ruangan. "Oh ya? Mama boleh lihat?"

"Boleh Mama, bagus, gambarnya Rapunzel dan pangeran Olaf."

"Pangeran Olaf?" Aku agak bingung.

"Iya, eh apa Sus nama pangerannya?"

"Flynn," sahut Sus Dara.

"Iya itu Fin," ucap Salsa kesulitan. Lalu dia menghilang ke kamar Nata, terdengar suara seperti kursi digeser dan sesuatu ditarik dari atas meja. Tapi kemudian Salsa menjerit. "Aaa jatuh! Mama puzzelnya... ah berantakan!" Kemudian anakku menangis histeris.

"Sus?" tegurku mendelik.

"Duh, saya nggak berani masuk kamar Bapak Bu," sahut Sus Dara dengan wajah tegang. "Mending dibawa ke sini aja."

"Nggak bisa!" Tangisan Salsa semakin tidak terkendali. "Udah runtuh semua!"

Sial.

Dengan terpaksa aku berjalan ke sana, kemudian menguak daun pintu lebih lebar. Kamar itu sangat besar dan Salsa sedang berjongkok sambil menangisi puzzelnya yang rontok di lantai.

"Mamaaa..." Dia merengek, aku memasuki kamar itu dan aroma parfum Nata yang musk memenuhi indera penciumanku, membangkitkan kenangan hubungan kami dalam adegan acak. Aku berjongkok, mengabaikan perasaan sesak di dada dan membantu Salsa memunguti mainan puzzelnya.

"Papa pasti marah," rutuknya lesu.

"Enggak, Papa nggak akan marah. Salsa kan, nggak sengaja."

"Aku udah capek-capek." Tangan mungilnya memunguti puzzel itu.

"Nggak apa-apa kalau boleh nanti kita bawa aja dan susun di rumah ya?"

"Mama belum lihat," isaknya pilu.

Aku meringis. "Mau gimana lagi?"

"Ah Papa!" Tiba-tiba Mata Salsa melebar sambil melompat bangkit, tanganku seketika berhenti, detak jantungku mendadak berdegup liar. "Papa itunya jatuh, maaf..." Anakku menunjuk kekacauan di lantai.

Posisiku yang membelakangi pintu membuatku tidak bisa melihat reaksi Nata. Tapi dia tidak menyahut.

Perlahan aku berdiri kemudian berbalik badan menghadapinya. "Maaf, aku cuma bantuin Salsa beresin ini."

Nata berdiri di ambang pintu seakan terpaku, masih dalam pakaian kerja berupa kemeja yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya merah padam.

"Maaf Nat," kataku sekali lagi, dia kelihatan tidak senang, alisnya mengerut dan rahangnya mengeras. "Salsa ayo kita bawa keluar aja puzzelnya."

"Papa maaf, ini salah Salsa."

Nata masih tidak bereaksi, lalu kuliat jemarinya mencengkeram knop pintu dengan kuat seakan dia sedang menahan emosi. Dia pasti tidak suka karena aku menginjak area privasinya.

Dan aku teringat dengan bagaimana kami yang pisah ranjang selama setahun sebelum resmi bercerai. Nata tidak suka, dan tidak akan pernah suka aku berada di tempat pribadinya.

"Keluar." Suaranya yang berat kemudian terdengar memberi perintah.

Aku memunguti puzzel dengan cepat agar bisa membawanya serta.

"Keluar!" sentaknya lebih keras.

Aku berhenti, dan meninggalkan mainan itu tetap berantakan di lantai. Dan tanpa memandangnya, keluar dari kamar.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 54: Meremehkan

    Dia meraba-raba leherku, mencengkerammya, lalu perlahan tangan itu turun ke pinggangku, menarik kaos yang kukenakan ke atas dan— “Mama...” Sebuah suara kecil, melengking, dan amat sangat datar bergaung tiba-tiba dari sudut kegelapan di dekat pintu. Ciuman kami terputus seketika. Pasokan udara seperti ditarik paksa dari paru-paruku. Aku dan Nata membeku dalam posisi yang masih sangat intim. “Papa?” sebut Salsa, bergantian. Dalam keremangan cahaya, tampak sosok mungil dengan gaun tidur merah muda berdiri tegak sambil mengucek mata. Nata menegang kaku di atasku, nafasnya masih memburu di depan wajahku, sementara mataku membelalak lebar menatap putri kami yang mendadak terbangun. Salsa tampak meneleng. “Papa udah pulang?” pekiknya tiba-tiba antusias. “Oh bagus, aku baru aja mimpi ketemu paus.” Lalu dia menguap lebar. Nata menghela dirinya bangkit dari

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 53: Pecah Kendali

    “Kamu tau nggak gimana berharapnya Salsa hari ini?” pekikku tertahan. “Tapi kenapa kamu malah nggak jemput? Apa ngeluangin waktu lima menit untuk angkat telepon aku pun susah?!”Dadaku naik turun karena emosi, nafasku sampai terengah-engah karena seharian ini berusaha berpikir positif, tapi dia ternyata tidak layak untuk mendapatkan rasa hormatku!Nata bergeming, wajahnya menunduk menatapku tapi dia tidak meringis, beraksi atau terganggu dengan kemarahan yang kulontarkan.“Salsa nggak pernah minta apapun, dia cuma butuh waktu kamu!” Aku menunjuk wajahnya. “Tapi buat ngasih sehari aja kamu nggak mampu!”Aku mundur dengan marah, tanganku masih terkepal kuat. “Kalau kamu memang nggak bisa hari ini, jangan bikin Salsa berharap, jangan janji! Jangan ngerusak kepercayaan Salsa!”Sejujurnya menyakitkan kalau melihat bagaimana wajah Salsa yang berbinar- binar sejak pagi tadi menceritakan apa yang ingin dia lihat di Sea World. Lalu mendapatkan per

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 52: Janji Yang Ingkar

    Tria sampai kualahan membantuku untuk menenangkan Salsa.Dia pasti sudah dijanjikan banyak hal oleh Nata tentang hari ini sehingga Salsa berekspektasi sangat tinggi.Mau tidak mau, dibantu Tria kami turun ke bawah, aku pun membawa Salsa ke apartemen Nata dan meminta mantan suamiku menjemput di sana saja.“Aku di apartemen kamu Nat, Salsa nggak sabar mau pergi ke Sea World. Kamu baik-baik aja kan? Kalau terjadi sesuatu tolong kabarin aku ya.” Begitulah voice note yang kukurim ke nomor Nata. Pesan itu ceklis dua tapi belum terbaca. Dan ketika aku menghubunginya untuk menyampaikan bahwa aku sudah berada di tempatnya, ponsel Nata mendadak tidak aktif.Sial.Di mana dia?Bukankah kemarin dia sendiri yang memutuskan agar kami jalan-jalan? Dan karena weekend plus kami selalu sepakat kalau setiap momen penting Salsa harus dilaksanakan berdua. Aku setuju saja dengan ajakannya itu.Tapi kalau begini, semuanya kacau.

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 51: Sudah Tidak Cinta?

    “Bagus nggak sih? Kok aku nggak percaya diri ya? Perut aku ini loh. Berasa lemaknya semakin tumpah-tumpah. Kayaknya aku gendutan, Ya.” Aku memutar tubuh di depan cermin besar memerhatikan penampilanku. Sementara Tria yang duduk di pinggir kasur tepat di belakangku, tampak berdecak remeh. “Kalau segitu aja udah dibilang gendut tumpah-tumpah, gimana badan aku? Mba itu udah turun mesin, tapi kelihatannya masih kayak gadis. Kalau aku malah kebalikannya.” “Lebay Tria.” “Lah, beneran. Nggak lihat gimana mukanya Mas Andrew kemarin pas dia dateng ke sini? Dia kayak nggak butuh lampu, matanya udah terang menyala setiap ngelihatin Mba! Ihh... kalau aku jadi Mba sih, aku bakal salting brutal.” Ck, aku terkekeh kecil. Padahal Nata memang begitu kalau memperhatikan lawan bicaranya. Dia itu matanya selalu seperti orang kurang tidur, sayu, tapi tidak kelihatan kusam. Itu memang bawaan lahir, jadi bukan karena dia benar-bena

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 50: Mantan Lebih Baik

    Tidak ada desakan dari Damian siang itu agar aku langsung membalas kalimatnya. Apakah aku setuju atau tidak, semuanya terserah padaku. Damian justru meminta agar aku mengambil jeda dan memikirkannya baik-baik sebelum memutuskan. “Akan sangat lucu kalau kamu langsung menolak saya,” katanya saat kami di lift dan akan berpisah ke ruangan masing- masing. “Karena kamu yang awalnya menawarkan banyak pilihan. Dan kalau semua pilihan itu mau kamu tolak. Harusnya kamu nggak bertanya kan?” “Ternyata Bapak manipulatif juga.” Dia kembali tergelak. “Andrew orang yang seperti itu ya? Bagus, jangan samakan dia dengan saya. Kualitas kami jelas berbeda.” Lalu dia mengedipkan sebelah mata sebelum turun di ruangannya lantai 20. Aku mendelik. Dasar narsis. Kenapa aku tidak pernah berurusan dengan pria yang waras? Namun bibirku perlahan m

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 49: Kita Ini Apa?

    “Kenapa kamu diem aja?” tanya beliau selagi kami kembali ke kantor. “Pak ...” Aku berbisik pelan, lalu menoleh dengan perasaan campur aduk, takut, degdegkan, bingung. “Aneh banget nggak kalau saya langsung menodong Bapak dengan pertanyaan: kita ini apa, padahal baru pertama lunch bareng?” Damian tertawa. Sikapnya yang santai benar-benar membuatku merasa berlebihan. Aku meringis. “Maaf...” “Nope,” katanya mencoba meredakan perasaan geli. “Nggak pa-pa Lula, saya mengerti maksud kamu ... It’s okay.” “Iya soalnya kita udah tua.” “Saya nggak setua itu,” protesnya. “Yah, oke. Kita udah dewasa,” Aku meralat. “Saya nggak mau menimbulkan salah paham. Kalau Bapak punya pacar, saya nggak mau dituduh macam-macam, apalagi kalau pacar Bapak ada di kantor. Malu saya Pak. Kedua, saya ini janda Pak. Semua orang kantor juga tau itu. K

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status