MasukMendatangi kantor RO Corp untuk yang kedua kalinya membuatku merasa seperti sedang dipermainkan.
Awalnya mereka menghubungi bahwa aku harus menjalani psikotes. Sekali lagi setelah wawancara, padahal Nata berkata bahwa hasilnya akan diumumkan sekitar dua hari. Salah satu staf yang bernama Gio, pria yang sama yang menyambutku pertama kali, membungkuk meminta maaf. "Mohon maaf Mba Kalula, memang ada keterlambatan dalam proses reqruitment karena RO Corp sedang audit internal," ucapnya menjelaskan prihatin. "Untuk itu, semua biaya transport akan direimburse perusahaan kami. Sekali lagi kami mohon maaf." Sekelas perusahaan besar bisa melakukan kekeliruan jelas tidak profesional, tapi aku membutuhkan pekerjaan ini. Jadi aku tetap mengikuti prosesnya hingga selesai. "Apa Mama bilang aja ke Nata untuk langsung menerima kamu, La? Di sana enak loh, jaraknya nggak jauh dari kosan kamu, kan?" Mama mertuaku mencoba membantu dengan memberikan solusi melalui sambungan telepon saat aku menyetir keluar dari gedung perusahaan itu. "Kamu juga sama Nata jadi enak kalau mau ganti-gantian jaga Salsa." "Nggak apa-apa Ma, aku udah banyak ngerepotin Nata selama ini," sahutku berusaha bersikap rasional. "Ngerepotin apa?" sahut Mama bingung. "Justru selama ini kamu yang banyak bantu Nata dan ngurus cucu Mama. Sekali lagi minta tolong apa salahnya? Nata juga pasti ngerti, gimana pun juga kamu ibu dari anaknya. Nggak mungkin dia berani nolak kamu." Tentu saja dia berani! Nata tidak ada rasa peduli. Saat resmi bercerai Ibu mertuaku ini selalu denial kalau putranya masih mencintaiku. Padahal jangankan cinta, sejak awal Nata menikah karena terpaksa. Maklum, kami menikah karena saat itu Nata sudah menjalin hubungan yang lama dengan pacarnya. Tujuh tahun dari zaman sekolah, dia memang tipikal pria setia, tetapi tiba-tiba putus. Kami kemudian dikenalkan oleh Mama mertuaku karena beliau langganan perhiasan di tempatku saat itu bekerja. Tidak butuh waktu lama, hanya tiga bulan masa pendekatan Nata kemudian melamar dan kami pun menikah. Jodoh memang rahasia, aku berpikir dulu Nata adalah pria gentle, sat-set, tidak ingin berlama-lama menggantung status kami. Tetapi lambat laun aku menyadari bahwa aku hanya ban serep, alias rencana cadangan karena dia gagal menikah dengan mantannya. Intinya, bukan aku yang Nata mau. Bukan aku wanita yang dia pilih. "Udah nih, Mama telepon sekarang," ucap Mama dari sambungan. "Mama sekalian suruh dia ke sini kali ya, kangen banget mau main sama Salsa." "Jangan Ma, Nata lagi kerja, tolong, jangan bikin situasi aku sulit, Ma. Kami udah mantan, aku nggak mau dikira Nata ngebujuk Mama nyuruh nerima kerja di perusahaannya. Kalau aku diterima aku mau hasil sendiri, murni kemampuan aku bukan siapa-siapa." Mama terdengar menghela nafas berat. "Udah dulu ya Ma, ini aku lagi di jalan, nanti aku kabarin kalau udah di rumah." Tidak ingin berlama-lama, aku segera mematikan sambungan telepon. Aku masih ada kesibukan menjemput Salsa dari apartemen Nata, kemarin dia sudah menyindir perihal waktu seminggu yang kuminta. Dan sekarang sudah tiga hari, jadi aku memutuskan untuk mengurus Salsa sendiri saja. Jantungku agak berdegup kencang saat melakukan perjalanan ke tempat tujuan. Sebelumnya aku sudah chat Nata dan memberitahunya bahwa aku akan mampir menjemput putri kami. Nata masih bekerja, jadi aku akan menunggu sampai dia pulang, mungkin sekitar satu atau dua jam lagi. Aku mengucapkan salam ketika Salsa membukakan pintu, wajahnya tampak ceria. Dia melompat-lompat saat tahu yang datang adalah aku. "Aku udah nunggu Mama!" jeritnya girang tersenyum lebar. "Papa udah kasih tau dari semalam Mama ke sini." "Iya, gimana mainnya seru?" "Seru bangeeet!" Dia memekik heboh. Pintu dibuka lebih lebar, Sus Dara berdiri di belakangnya tersenyum menyambut. "Masuk Bu." "Makasih Sus, Salsa nggak nakal, kan?" "Enggak Mama, Salsa anak baik!" Yang menyahut justru Salsa, memberengut. Aku dan Sus Dara serentak tertawa. "Iya Salsa baik." Sus Dara mengusapi rambutnya yang kali ini diikat membentuk kepang lucu. "Ini Tante yang bikin," sahut Salsa seolah tahu aku memikirkan hal itu. "Tadi Tante di sini, tapi sekarang udah pergi soalnya mau jalan-jalan." Sus Dara meringis, kemudian melempar pandang padaku. "Tante itu maksudnya temennya Pak Andrew, Bu." Oh? Calista habis dari sini? Beruntung kami tidak berpapasan, kalau tidak suasananya pasti canggung. "Barang-barang Salsa di mana Sus?" tanyaku berjalan ke living room, kemudian mengedarkan pandangan. Apartemen Nata selalu rapi, tertata, dan membosankan. Rasanya tidak banyak yang berubah sejak aku memutuskan untuk angkat kaki dari tempat ini. "Ini udah saya siapin, Bu." Sus Dara menunjuk ke arah sofa depan TV. Salsa melompat-lompat. "Sini Mama, aku semalam habis selesain puzzel sama Papa." Ia menarik tanganku, mengajakku memasuki kamar Nata. Aku justru berhenti di tengah-tengah ruangan. "Oh ya? Mama boleh lihat?" "Boleh Mama, bagus, gambarnya Rapunzel dan pangeran Olaf." "Pangeran Olaf?" Aku agak bingung. "Iya, eh apa Sus nama pangerannya?" "Flynn," sahut Sus Dara. "Iya itu Fin," ucap Salsa kesulitan. Lalu dia menghilang ke kamar Nata, terdengar suara seperti kursi digeser dan sesuatu ditarik dari atas meja. Tapi kemudian Salsa menjerit. "Aaa jatuh! Mama puzzelnya... ah berantakan!" Kemudian anakku menangis histeris. "Sus?" tegurku mendelik. "Duh, saya nggak berani masuk kamar Bapak Bu," sahut Sus Dara dengan wajah tegang. "Mending dibawa ke sini aja." "Nggak bisa!" Tangisan Salsa semakin tidak terkendali. "Udah runtuh semua!" Sial. Dengan terpaksa aku berjalan ke sana, kemudian menguak daun pintu lebih lebar. Kamar itu sangat besar dan Salsa sedang berjongkok sambil menangisi puzzelnya yang rontok di lantai. "Mamaaa..." Dia merengek, aku memasuki kamar itu dan aroma parfum Nata yang musk memenuhi indera penciumanku, membangkitkan kenangan hubungan kami dalam adegan acak. Aku berjongkok, mengabaikan perasaan sesak di dada dan membantu Salsa memunguti mainan puzzelnya. "Papa pasti marah," rutuknya lesu. "Enggak, Papa nggak akan marah. Salsa kan, nggak sengaja." "Aku udah capek-capek." Tangan mungilnya memunguti puzzel itu. "Nggak apa-apa kalau boleh nanti kita bawa aja dan susun di rumah ya?" "Mama belum lihat," isaknya pilu. Aku meringis. "Mau gimana lagi?" "Ah Papa!" Tiba-tiba Mata Salsa melebar sambil melompat bangkit, tanganku seketika berhenti, detak jantungku mendadak berdegup liar. "Papa itunya jatuh, maaf..." Anakku menunjuk kekacauan di lantai. Posisiku yang membelakangi pintu membuatku tidak bisa melihat reaksi Nata. Tapi dia tidak menyahut. Perlahan aku berdiri kemudian berbalik badan menghadapinya. "Maaf, aku cuma bantuin Salsa beresin ini." Nata berdiri di ambang pintu seakan terpaku, masih dalam pakaian kerja berupa kemeja yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya merah padam. "Maaf Nat," kataku sekali lagi, dia kelihatan tidak senang, alisnya mengerut dan rahangnya mengeras. "Salsa ayo kita bawa keluar aja puzzelnya." "Papa maaf, ini salah Salsa." Nata masih tidak bereaksi, lalu kuliat jemarinya mencengkeram knop pintu dengan kuat seakan dia sedang menahan emosi. Dia pasti tidak suka karena aku menginjak area privasinya. Dan aku teringat dengan bagaimana kami yang pisah ranjang selama setahun sebelum resmi bercerai. Nata tidak suka, dan tidak akan pernah suka aku berada di tempat pribadinya. "Keluar." Suaranya yang berat kemudian terdengar memberi perintah. Aku memunguti puzzel dengan cepat agar bisa membawanya serta. "Keluar!" sentaknya lebih keras. Aku berhenti, dan meninggalkan mainan itu tetap berantakan di lantai. Dan tanpa memandangnya, keluar dari kamar. ***“Asem banget kayaknya, nggak kelar-kelar ini perkara mobil.”Sudah kelar kok, setelah baik-baikan, ciuman-ciuman, peluk-pelukan, aku dan Nata resmi berdamai meskipun... yah, sepertinya suamiku masih jengkel.Aku tidak tahu apa yang salah, mungkin karena Papanya tidak bilang-bilang dulu bahwa akan memberikan hadiah itu. Dan mau bagaimanapun Nata tetaplah suamiku, ia perlu tahu semua yang berkaitan dengan istrinya.“Pak Andrew tuh ngambek karena mau ngasih hadiah mobil juga Mba, tapi nunggu momen pas Mba ulang tahun.” Gio menyodorkan ponselnya yang berisi chatnya bersama dealer dan tawar-menawar yang terjadi. Serta membooking salah satu unit untuk nanti dikirim ke apartemen. Aku langsung mendelik. “Siapa yang nggak kaget malah keduluan Bokapnya.” Dan Gio tertawa bersama teman Nata yang lain.Yang menjadi bahan troll hanya berdecak kesal. Lengan Nata terulur di punggung sofa, tepat di belakangku duduk, sementara Salsa berada di atas pangkuannya, bers
“Ini....beneran?”Aku mengerjap-ngerjap, bingung, heran, shock menjadi satu. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku, aku akan diberikan mobil oleh seseorang.Aku menoleh ke arah Nata, dan Nata ternyata sedang memperhatikanku. Kedua alisnya menyatu serius, dan dia menatapku seakan aku terdakwa kasus korupsi atau semacamnya. Tajam, menilai, meneliti, dan menguliti!Sial.“Aku nggak tahu,” imbuhku buru-buru.Seorang pria dengan seragam merah khas showroom mendekat. “Dengan Ibu Kalula Samahita?” tanyanya. Aku mengangguk hati-hati sambil tidak lepas menatap suamiku. “Tolong tanda tangan di sini Bu, dan mohon diterima ya Bu.”Eh, tunggu dulu...Aku perlu tahu ini dari siapa?Seakan sadar betul apa yang tengah kupikirkan, Nata mengambil alih pertanyaan. “Pengirimnya siapa?”“Dari Pak Nata, Pak.”“Pak Nata?” Nata mengulangi, aku sampai bergerak-gerak gelisah, Gio dan Steven kompak melongo. “Kamu yakin?
“Ini Joyday ramai banget Mba.”Tria celingak-celinguk ketika aku mengundangnya untuk datang di soft launching dari restoran suamiku.Hasil ini sepertinya di luar prediksi, tim marketing Nata berhasil menarik peminat, mungkin karena banyak pilihan diskon plus kami pakai jasa influencer.Tidak sampai yang padat banget, tapi cukup membuat takjub. Terlebih sebagai awal, ini sudah modal yang memuaskan.Nata sibuk sejak pagi, selama sebulan terakhir pasca honeymoon yang cuma di apartemen saja, Nata sibuk mengurus bisnisnya ini. Aku pun mendukung, apapun yang suamiku lakukan. Aku berharap usahanya selalu berhasil.Tria kemudian menyuap Chocolate Souffle miliknya, lalu mengerling saat melihat Steven. “Siapa itu Mba?”“Temannya Pak suami.”“Udah menikah?”Aku tertawa, lebih karena tahu Steven adalah pria metroseksual yang tidak akan mungkin menjalin komitmen. Jadi, aku hanya mengangkat bahu. “Kece banget, kayak
“Istri lagi susah kenapa kamu nggak ada usaha untuk bantu masalah Lula?”Kalimat pertama Papa seketika membuat suamiku membelalak.Ia menatapku sambil mengerutkan alis. “Kamu susah kenapa La?”Sepertinya Nata terkejut, dipikirnya aku terlibat masalah, atau mendadak mendapatkan musibah, sedangkan dia tidak tahu sehingga reaksinya benar- benar out of control. Nata duduk di sampingku dan langsung menggenggam tanganku lembut, menatapku dengan sorot khawatir.“Memangnya ada masalah apa?”“Itu sepupu Lula berani-beraninya ngejual mobil Lula tanpa izin. Terus kamu nggak ngapa-ngapain buat bantuin dia, suami macam apa kamu ini?” seru Papa, nadanya naik satu oktaf.Aku melirik Mama, takut banget Papa akan darah tinggi karena mendadak emosi, tapi Mama pun memekik.“Namanya Ibnu Pa!”Astaga.Mama malah mengompori!“Lah, iya!” sahut Papa. “Ada saudara begitu? Yang kita lagi kena musibah malah mengambil kes
Lepas main-main dan rebutan Nata, Salsa akhirnya lelah dan tertidur juga. Tapi anakku tidak mau di tengah karena sebal melihat wajahku yang mengejek. Maka, posisi kami seperti tiga sendok. Salsa di pinggir kanan, lalu Nata di tengah, kemudian aku di samping suamiku, lucunya lagi aku disuruh menghadap ke kiri, sehingga aku praktis punggung-punggungan dengan Nata. Baiklah, aku nurut saja. Begitu pagi tiba dan matahari mulai meninggi dari balik gorden jendela. Aku bangkit lebih dulu, menyingkap selimut kemudian tersenyum lebar melihat Nata yang mendekap erat tubuh Salsa. Sedangkan putriku itu terlelap, mulutnya sedikit terbuka, tangan mungilnya meremas kaos Nata di dada. Oh, hatiku seperti meleleh. Aku meraih ponsel di atas nakas dan mengabadikan gambar mereka. Lantas, kutarik selimut menutupi tubuh keduanya, dan berjingkat-jingkat ke kamar mandi. Aku membersihkan diri, mandi, sikat gigi dan menga
Kamar Nata sangat berwangi Nata.Harum pengharum ruangan bercampur dengan parfumnya yang segar. Ditambah EO lavender di sudut.Nata orang yang lumayan rapi, tidak macam OCD yang semuanya harus teratur sesuai warna dan barang. Tapi paling tidak, semuanya tertata. Dan karena sejak kuliah Nata sudah tidak tinggal di kamar ini, maka barang- barangnya sebagian besar tampak jadul. Perasaanku ketika masuk masih sama, rasanya seperti terlempar ke tahun 2008-an awal, yang mana saat itu masih zamannya tuker-tukeran pin BB.Itu bisa dilihat di laci meja belajarnya, ada banyak HP BB. Lalu seperti PS yang aku tidak tahu seri berapa karena sudah tidak digunakan, gitar yang penuh stiker di sudut, sampai topi-topi koleksi dari tim basket berbagai sekolah yang berjejer rapi di dalam lemari kaca.Lucu, terakhir kali tidur di sini, topi itu masih tergantung di dinding. Sepertinya Mama yang membereskannya.Selain itu, yang paling mencolok adalah, b







