Beranda / Romansa / Move On! Kita Sudah Bercerai / Part 71: Kejujuran Lula

Share

Part 71: Kejujuran Lula

Penulis: Titi Chu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-31 18:01:11

“Mau gimana lagi, aku nggak punya pilihan, waktu kita terbatas.”

Damian meringis. “Beliau sengaja ingin bermain-main dan ingin melihat bagaimana reaksi kita.”

Aku tidak bisa lebih setuju lagi dengan pendapat Damian.

Kami saling berpandang-pandangan. Damian menarik gelas berisi sari apel lalu menyesapnya perlahan. Tidak ada yang minum alkohol di meja kami.

Nata tidak suka, aku termasuk yang tidak meminum alkohol, begitupun dengan yang lain. Pertemuan ini mu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Anna Yana
oh so sweet, lula kamu di ratukan sama Damian...️
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 185: Yang Ditangisi

    Nata tersentak kaget karena aku berputar dan berteriak di depan wajahnya. Aku mengentak tanganku ke meja dan mencondongkan tubuh ke arahnya, mataku menyengat panas.“Kenapa kamu nggak mau mengakui kalau kamu juga peduli sama Queen?”“Aku nggak peduli, Lula.” Jawabannya begitu santai, tenang, raut wajahnya tidak berubah, kembali tanpa ekspresi. Semua ketenangan Nata ini membuat kemarahanku terasa berlebihan. “Apapun yang terjadi sama anak itu, mau dia sakit atau sedih, aku nggak peduli.”“Kalau gitu, izinin aku peduli!” jeritku frustrasi. “Atau terserah, aku nggak akan ngomong sama kamu lagi soal Queen, aku akan tetap bawa anak itu ke rumah dengan atau tanpa persetujuan kamu.”Aku menyambar tasku di mejanya dan berputar serta berderap ke pintu. Namun, belum sempat langkahku keluar. Nata mendadak menggumam. “Aku sudah hubungi saudara Ibnu, mereka bersedia menjaga anak itu.”“Apa?”“Ibnu punya adik laki-laki, saat nanti Ne

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 184: Keras Kepala

    “Bu, bisa minta tolong nggak?”“Saya minta maaf banget, Bu.”“Tolong bantu saya ya, Bu.”“Bu?”“Ibu?”“Bu Lula!”Aku tersentak kaget saat tiba-tiba meja di depanku digebrak pelan. Mataku mengerjap memerhatikan Jenny yang tampak merah padam di hadapanku.“Ada apa?”“Ibu ngelamun terus sih, Bu.”“Saya lagi mikirin—kenapa? Kamu mau ngomong apa Jenny?”Wajah Jenny berubah mesam-mesem, dan tertunduk malu-malu. “Begini Bu, saya sebenarnya nggak pengen ngomong ini sama Ibu, tapi saya benar- benar terpaksa Bu, saya nggak tau mau minta tolong sama siapa lagi.”Aku menyimak dengan tenang.Jenny melipat kedua tangannya di depan perut, menarik embuskan napas panjang seakan berusaha menguatkan diri. “Saya mau kasbon, Bu.”“Ada masalah apa?”“Itu... Ibu saya masuk rumah sakit, kemarin kecelakaan pas naik motor, dan kakinya agak terkilir. Jadi, saya butuh uang untuk bayar r

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 183: Rasa Trauma

    Aku mengerjap-ngerjapkan mata mencium aroma gosong di kamar.Aku tahu ini ulah siapa, kenapa, dan bagaimana, tapi aku memilih untuk tetap memejamkan mata, menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.Yah, walaupun semalam gagal, aku masih berusaha, masih mencoba menggoda, lama-lama aku seperti jablay di depan suamiku sendiri. Sampai akhirnya menyerah dan tertidur.Sementara di luar, suara Salsa mengomel. “Papa harusnya masukin butternya dulu Papa! Kalau Papa langsung masukin rotinya ke sana jadinya kering dan lengket loh!”“Papa juga tahu Salsa, ini Papa lihat caranya di TubeYou. Kamu mending duduk aja dan tunggu hasilnya.”“Aku yang motong timunnya.”“Kamu nggak bisa.”“Bisa, Mama udah ajarin.““Dikupas dulu kulitnya kalau gitu.”“Nggak perlu dikupas, Salsa lebih suka yang ada kulitnya kayak gini. Kalau Queen suka yang kayak gimana?”Tidak terdengar sahutan apapun dari Queen. Pilihannya

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 182: Ditinggal Kentang

    (Warning 21+) please be wise! “Sakit?” “Enggak, tapi pelan aja.” Dan Nata melakukannya. Pahaku dibuka lebar-lebar supaya dia bisa menyelipkan diri. Gerakannya sangat lambat, sampai-sampai aku mulai gelisah dan berkeringat. “Oke,” bisiknya di telingaku, dan Nata menunduk, mencium bibirku lagi. Aku seperti kehilangan diriku jika sudah berada dalam genggamannya. Yang bisa kurasakan cuma dia dan kejantanannya yang perlahan mendorong masuk. Pekikan lemah lolos dari bibirku begitu saja, ciuman kami terlepas. “Awh...” Kenapa dia begitu besar, ketat dan kuat? Kendati sudah sering melakukannya. Aku tetap saja perlu beradaptasi. Nata mencengkeram kedua pinggulku menahan pahaku terbuka, agar dia bisa semakin melesakkan dirinya. Sebuah erangan kecil terdengar dari bibirnya saat tenggelam penuh. Matanya kelihatan membara.

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 181: Ogah Menikah

    “Selemah itu iman lo, dikasih senyum sama kedipan dikit langsung meleyot.” Steven mencibir saat tahu apa yang terjadi dengan kami. Semua ini karena mulutnya Salsa yang bawel dan mengumumkan bahwa Queen akan menginap di rumah kami. Itulah sebabnya anak dan istri gue sekarang sudah gue antar pulang ke rumah. Sementara gue masih di resto.“Rasain dulu punya istri baru komentar,“ balas gue tajam. “Justru karena gue lihat pernikahan- pernikahan kalian ini makanya gue ogah menikah,” jawab Steven mencemooh.“Lah, emang kenapa sama pernikahan kita? Pernikahan gue happy-happy aja.” Dimas menyeletuk santai.“Gue juga bahagia lahir batin,” Nugo menimpali. “Justru lo dan kebobrokan lo yang gonta-ganti pasangan itu kayaknya yang nggak bahagia,” candanya.Dimas tertawa.“Yang waras dikit, umur udah mau kepala empat, apalagi yang mau dikejar? Mending cari pasangan, hubungan stabil nggak ada drama-drama sama cewek random. Ah, nikmatnya hidup.”

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 180: Izin Suami

    (Nata’s Pov)Obsesi Lula tentang anak-anak itu semakin lama semakin membuat gila.Gue nggak masalah kalau dia mau menambah anggota keluarga. Gue bahkan sudah memikirkan ini sebelum kami rujuk. Karena gue tahu Lula nggak akan merasa cukup dengan Salsa.Tapi bukan anak Ibnu juga, brengsek.Selain anak yang bernama Queen itu punya wajah yang sangat mirip Ibnu. Gue terganggu dengan umurnya yang sama dengan umur Salsa, dan itu membuat gue kembali ke momen saat menyaksikan anak gue hampir wafat.Dan kenapa dengan semua kejadian traumatis itu, Lula masih bisa menatap Queen dengan perasaan iba?Oke, katakanlah gue keras kepala, hati batu atau semacamnya. Tapi anak itu akan baik-baik aja. Percaya sama gue. Neneknya nggak mungkin membiarkan cucunya sendiri menderita. Dan bukannya Ibnu masih punya saudara? Mereka bisa menampung Queen. Jadi, untuk apa Lula harus turun tangan?Setiap kali melihat interaksi mereka, rasanya gue pengin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status