ANMELDENaduh aduh aduh that "Aku udah mau cium kamu dari tadi" 🤤🤤🤤🤤🤤 meninggalkan Davina dan Mahesa stress demi masa depan yang lebih baik wkwkwkw, apakah mau bonus? 💋🤤
Kaira meremas jemarinya sendiri kala melihat wajah memelas Mahesa.Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba meraih pergelangan tangan Kaira.“Aku akan memperbaiki semuanya, Kaira ….” ucapnya serak, menatap Kaira dengan sorot mata yang memohon. “Aku nggak akan mengabaikan kamu lagi. Kita pulang ke rumah sekarang ya?”Mendengar manisnya nada bicara pria itu, dalam hati Kaira berpikir, seandainya ia tidak pernah melihat perselingkuhan Mahesa dan Zia dengan mata kepalanya sendiri di berbagai tempat, atau seandainya pria itu tidak selalu membela Sasmita selama ini, maka Kaira sudah pasti akan percaya.Ia mungkin akan kembali tertipu dan memberikan kesempatan kedua untuk Mahesa.Lagi pula, Kaira seperti sudah bisa membaca bahwa tujuan Mahesa ke sini: karena pria itu ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari Altair.Jika mereka tidak jadi bercerai, maka Kaira akan kembali diperbudak.Kaira dengan cepat menarik tangannya, menjauh menciptakan jarak.“Maaf, aku gak bisa, Mas.”“Kenapa?!” balas Ma
Setelah Kaira meninggalkan ruang keluarga, situasi belum bisa dikatakan kondusif sebab Altair malah semakin marah. Meja kaca yang ada di sana hancur berantakan setelah dilempar Altair dengan menggunakan vas.Semua orang membeku, tak ada yang berani bergerak bahkan saat kepingan kaca itu berhamburan ke segala arah.Altair berkacak pinggang, menata napasnya yang naik turun tak beraturan sebelum menyasar Mahesa yang kedua telinganya memerah.“Mau berapa banyak lagi kamu bikin aku kecewa, Hesa?!” hardiknya. “Aku berharap banyak padamu tapi kayaknya kamu cuma meremehkanku!”Karena Mahesa tak menunjukkan tanda akan menjawab, Altair menghadapkan tubuhnya pada anak lelakinya itu.“Aku bertanya padamu, Hesa! Kamu nggak punya mulut? Jawab!”Mahesa menghela napas dalam, “S-semua ini gara-gara Kaira, Pa! A-aku nggak salah—”“Kalau kamu nggak salah, nggak mungkin Kaira pergi darimu,” sela Altair. “Dia benar, manusia juga ada batasnya. Aku muak sama yang kamu lakuin. Beresin semua ini,” geramnya.“
“Aku udah nahan biar nggak ngomong ini dari dulu karena malu sama Kaisar,” imbuh Altair masih sama berangnya. “Setiap hari yang kalian lakuin itu cuma ribut nggak jelas! Apa kalian nggak bisa bersikap sedikit lebih terhormat?!”Di depan mata Kaira … ia melihat sendiri bagaimana keluarga Maharendra tengah terbakar oleh kemarahan Altair.Ia melirik Monica yang berdiri membeku di dekat pilar, dan Zia yang tampak ketakutan, barangkali merasa bersalah karena dirinyalah yang telah menghalangi Kaira sehingga tarik ulur yang menyebabkan Kaira terjatuh itu terjadi.Sasmita memucat di dekat Altair, menunduk tak berani menatap sang suami yang masih nyalang sepasang iris kelamnya, terutama pada Mahesa.Keheningan terjadi lebih dari sekian menit berlalu.Altair mendorong napasnya dan dengan nada bicara yang lebih lembut bertanya pada Kaira.“Kamu baik-baik aja, Kaira?”Kaira mengangguk, menunjukkan senyumnya.Altair sejenak memejamkan matanya sebelum memandang koper Kaira.“Kamu yakin sama keputus
“P-Papa?”Altair tidak datang secara tiba-tiba. Pria paruh baya itu sudah berdiri di kejauhan sejak Kaira mengatakan perihal ia dan Mahesa yang sudah sekian lama pisah ranjang.Menjadi pendengar dan terus di sana tanpa ada yang tahu sampai Kaira pura-pura terjatuh dan ditahan oleh Sari.Benar, Kaira memang hanya berpura-pura. Ia tidak ingin jatuh lagi setelah kemarin didorong oleh Mahesa dan menempatkan bayinya dalam bahaya, sehingga ia mencari tempat ‘mendarat’ yang tepat, yakni pada Sari yang sudah pasti akan menolongnya.Tadinya Kaira tidak ingin melakukan itu, tapi karena Zia bersandiwara dengan membela Sasmita dan bersikap polos padahal ia ingin membuat Kaira terlihat sebagai pencuri, maka Kaira pun memutuskan untuk bersandiwara juga.Keputusan itu rupanya tepat sebab itu telah meyakinkan Altair bahwa seburuk inilah ia diperlakukan.Ayah mertuanya itu marah besar pada Mahesa. Anak kesayangan yang selalu dibanggakannya dan ia pilih untuk menjadi penerusnya itu baru saja ditamparny
Napas Mahesa memburu, egonya yang sejak kemarin telah diinjak-injak oleh banyak orang di kantor kini benar-benar terkoyak. “Apa cuma gara-gara kejadian di parkiran kemarin kamu langsung minta cerai? Jangan kekanakan kamu! Kemarin itu kamu cuma nggak hati-hati terus jatuh sendiri, ‘kan?!” Kaira menatap Mahesa tanpa ada kedipan. Jika dulu ia akan nelangsa mendengar hardikan dan bentakan seperti ini, tapi kali ini lain. Hatinya telah mati rasa. Ia menghela dalam napasnya, menepis tangan Mahesa saat menjawab, “Surat panggilan dari pengadilan itu nggak bisa diproses hanya dalam waktu sehari, Mas.” Mahesa tersentak, rahangnya mengeras. “Jadi kamu udah merencanakan ini dari lama?!” “Menurutmu?” tanya balik Kaira dengan senyum yang merekah di bibirnya. “Sialan!” Mahesa memekik melengking, suaranya menggema memenuhi langit-langit ruangan. “Salah apa aku selama ini sampai kamu punya keberanian buat menggugat cerai aku, hah?!” Keributan yang tersulut begitu besar itu seketika memicu ked
Kesekian kalinya Kaira terperangkap dalam gelombang kenikmatan yang mengaliri inti wanitanya. Setiap gerakan Kaisar di atasnya terasa sangat manis, dan candu. Sekujur tubuh Kaira kembali kebas, ujung jemarinya mendingin saat kepalanya mendadak dikosongkan oleh kenikmatan yang memuncak. Di bawah temaram lampu kamar, pergumulan sensual itu kian memanas. Kaisar mempercepat temponya di detik-detik terakhir, membawa Kaira melingkari lehernya dengan pasrah saat kehangatan yang pekat itu menyembur penuh di dalam dirinya. Seperti itu api yang membakar mereka kemudian padam. Mereka sama-sama mengatur napas. Menatap langit-langit tanpa ada yang bicara hingga Kaisar mengintip mata Kaira. Rupanya ia telah terlelap. ‘Selamat malam,’ bisiknya seraya mempererat pelukannya, membiarkan Kaira menenggelamkan wajah di dadanya. Drrt …. Getar ponsel milik pria itu terdengar dari atas meja dan segera digapainya. Ada sebuah pesan masuk dari pengacaranya—Roy—yang membuat salah satu alis Kaisar terangk







