MasukCassandra mengira ia memiliki pernikahan yang bahagia, sampai mengetahui suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Lebih buruk lagi, pernikahan yang selama ini ia yakini ternyata palsu. Akta nikahnya hanyalah tipuan. Sebagai pengacara, Cassandra tahu dirinya telah ditipu. Namun, alih-alih membongkar semuanya, ia memilih diam dan tetap memainkan peran sebagai istri. Kali ini, ia akan memanfaatkan status istri palsunya untuk membalas. Satu per satu, ia menyusun langkah agar orang-orang yang mengkhianatinya membayar semua yang telah mereka lakukan. Mereka mengira Cassandra hanyalah korban yang bisa dibohongi. Mereka belum tahu permainan siapa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.
Lihat lebih banyakCassandra tidak pernah berpikir ia akan memergoki suaminya malam ini.
Tubuh Cassandra sangat lelah, sendi-sendi dan tulangnya kaku. Sudah beberapa hari ia lembur di firma hukumnya untuk menangani kasus klien yang cukup rumit. Hampir setiap hari ia pulang larut, menghabiskan waktu berjam-jam di depan berkas. Beberapa malam terakhir, bahkan percakapan dengan suaminya pun hanya berlangsung beberapa menit.
Rindu.
Satu kata yang saat ini memenuhi rongga dada Cassandra.
Rasanya sudah seabad ia tidak banyak berkomunikasi dengan Damar. Mereka praktis hanya bertemu sebentar di pagi hari. Saat Cassandra pulang dini hari, suaminya sudah tertidur lelap. Kadang ia hanya melihat punggung Damar ketika masuk kamar.
Malam ini ia ingin mengubah itu.
Kotak makanan yang dibawanya masih hangat. Cassandra ingat Damar pernah memuji restoran kecil itu berulang kali. Karenanya, ia sengaja mampir sebelum pulang tanpa mengirim pesan pemberitahuan seperti biasanya. Ia ingin melihat wajah kaget Damar ketika pintu dibuka. Mungkin setelah makan malam, mereka bisa berbicara dan duduk bersama sedikit lebih lama.
Namun, alih-alih memberikan kejutan, justru Cassandra menjadi pihak yang terkejut.
“Dia masih belum tahu, kan?”
Langkah Cassandra berhenti di ambang pintu ketika mendengar suara Meira, sahabatnya sejak masa kuliah. Entah bagaimana, pintu apartemen mereka kebetulan tidak tertutup sempurna.
Cassandra mengerutkan kening. Meira ada di sini?
Bukannya curiga, ia justru berpikir mungkin Damar sedang menyiapkan kejutan ulang tahun pernikahan mereka beberapa hari lagi dengan bantuan Meira. Cassandra hampir tersenyum.
“Jangan bicara terlalu keras," jawab Damar.
“Kenapa? Takut ketahuan istri?” Meira tertawa pendek.
Nada mengejek itu membuat senyum Cassandra perlahan menghilang.
“Takut? Sudah bertahun-tahun kita berhubungan, dia gak curiga sama sekali.”
Perkataan Damar membuat Cassandra berhenti bernapas.
Bertahun-tahun ... apa?
Meira bergelayut manja, melayangkan kecupan ringan ke leher Damar. Damar membalas dengan mengeratkan pelukan ke pinggang Meira.
“She loves you so much. But little did she knows, you always choose me over her.”
Cassandra menatap lurus ke dalam ruangan. Dunia seolah berhenti bergerak.
Kuah panas merembes dari kotak makanan dan mengenai jarinya. Kulitnya memerah, tetapi Cassandra tidak merasakan apa-apa. Yang ia rasakan justru dingin. Sangat dingin.
Laki-laki yang setiap pagi masih diciumnya sebelum berangkat kerja. Laki-laki yang ia tunggu untuk mengobrol setiap malam. Laki-laki yang beberapa jam lalu masih ia rindukan sampai sengaja membeli makanan kesukaannya. Ternyata selama ini bermain api di belakang bersama Meira.
Meira, perempuan yang pernah Cassandra percayai untuk mendengar semua keluh kesahnya. Perempuan yang tahu bagaimana ia bertemu Damar, bagaimana ia jatuh cinta, dan bagaimana Cassandra mempertahankan pernikahan mereka ketika pekerjaan membuatnya hampir tidak punya waktu.
Meira tahu semua dan tetap memilih mengambil Damar darinya.
“Damar,” kata Meira lebih pelan. “Tapi aku capek main kucing-kucingan begini.”
“Jangan khawatir, Sayang. Setelah semua selesai, aku akan menceraikannya.”
Mereka saling bertatapan, jarak di antara keduanya nyaris tidak ada. Damar melayangkan kecupan di bibir Meira yang disambut rengkuhan Meira ke leher Damar. Bibir mereka bertaut dalam kecupan panjang yang penuh gairah, seolah-olah hari esok tidak pernah ada.
Cassandra memejamkan mata, memastikan dirinya tidak masuk ke dalam ruangan itu dan melakukan sesuatu yang akan ia sesali. Ia bisa saja masuk. Ia bisa membuka pintu lebar-lebar, meneriakkan nama mereka, melemparkan makanan ke wajah Damar.
Sebagian dirinya ingin membuat suara sebesar mungkin agar keduanya tahu bahwa ia telah mendengar semuanya.
Tetapi untuk apa? Agar Damar punya kesempatan untuk berlutut, menangis, lalu mengatakan bahwa ia khilaf? Agar Meira menangis mengatakan bahwa semua ini terjadi tanpa sengaja?
Tidak.
Cassandra tidak ingin mendengar alasan klasik semacam itu.
“Menceraikan?” Meira terkekeh setelah pagutan mereka lepas. “Memangnya kalian pernah benar-benar menikah?”
“Ha-ha.” Damar ikut tertawa. “Aku juga masih gak nyangka. Berhasil mengelabui pengacara yang katanya hebat itu dengan akta pernikahan palsu.”
Cassandra tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
Apa? Akta pernikahan palsu?
Fakta baru ini terasa lebih menyakitkan daripada pengkhianatan. Pernikahan mereka, janji yang pernah diucapkan, tanda tangan, dan dokumen yang selama ini ia anggap sebagai bukti bahwa mereka adalah suami istri, ternyata hanya kepalsuan?
Ia seorang pengacara, menghabiskan hidupnya mempercayai dokumen, bukti, dan fakta. Namun, orang yang paling ia percaya justru berhasil menipunya di bidang keahliannya sendiri.
Suara Meira terdengar lagi.
“Dia terlalu cinta kamu, makanya jadi bodoh.”
Suara tawa kemenangan mereka menggema bersama dentingan gelas wine yang beradu.
Cassandra memilih mundur. Satu langkah, kemudian satu langkah lagi. Ia menutup pintu perlahan tanpa bunyi.
Konfrontasi langsung hanya akan memberi mereka kesempatan untuk menyamakan cerita. Mereka akan punya waktu untuk menyusun kebohongan baru. Mereka akan saling melindungi.
Cassandra tidak mau memberi mereka kesempatan itu.
Berani-beraninya kalian membodohiku dengan status istri palsu. Akan kubalas. Istri palsu ini akan membalas sebelum kalian sadar kebenaran sudah terungkap.
Cassandra menyeka sisa kuah dari tangannya, lalu berjalan menuju lift. Setiap langkah terasa menyakitkan, seperti menginjak bagian kecil dari kehidupan yang baru saja ia pahami sebagai kebohongan.
Jarak yang tidak jauh itu mendatangkan berbagai ingatan masa lalu. Para pengkhianat yang sempat ia sebut sebagai rumah.
Adrian menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Rapat laporan mingguan manajemen perhotelan yang biasanya makan waktu dua jam, diselesaikan dalam waktu satu jam.Peserta rapat di ruangan boardroom lantai dua puluh tujuh itu sesak napas mengikuti ritme kerja bos mereka. Proyektor menampilkan grafik occupancy minggu lalu, ADR per segmen, RevPAR vs budget, dan daftar guest complaints dari 3 properti. Angka-angka tetap detail dibaca, pertanyaan dilontarkan cepat, dan tentu saja email berisi revisi SOP serta action plan untuk tiap department head sudah menanti mereka di depan mata.“Mau nge-date, toh.” Gio, sekretaris pribadi Adrian menyindir saat mengantar bosnya ini ke tempat tujuan.Adrian yang sedang memeriksa beberapa pesan di ponselnya langsung mengangkat wajah.“Hanya tetangga komplek yang pernah bantu kasus hukum perusahaan salah satu kenalanku. Udah nikah juga. Jangan mikir macam-macam.” Cincin yang melingkar di jari manis Cassandra cukup jadi penanda status pengacara satu ini.**
“Aku punya satu nama. Haris Wijaya. Mantan pegawai catatan sipil. Selidiki di mana dia sekarang, sejak kapan keluar dari sana, dan siapa yang masih berhubungan dengannya. Selidiki apa pun yang terkait dengannya, sekecil apa pun.”Cassandra mematikan sambungan telepon ke Gia. Asisten sekaligus ketua tim investigator internal firma hukumnya yang paling bisa diandalkan. Ia tahu tidak boleh buang-buang waktu. Sembari Gia mencari informasi keberadaan Haris, ia tahu tempat mana yang harus ia tuju selanjutnya.Kantor PT Prava Food.Singkatan dari Pratama Hanjaya dan Valencia Hanjaya. Orang tua Cassandra mendirikan perusahaan healthy fast food sehat dan berhasil membangun bisnisnya menjadi jaringan nasional. Setelah keduanya meninggal, sebagai anak tunggal Cassandra mewarisi saham atas nama mereka. Namun, karena sejak awal fokus mengejar impiannya di bidang hukum dan tak punya keahlian di bidang bisnis makanan, Cassandra menyerahkan manajemen perusahaan ke pihak profesional. “Hai, Dam. Kamu
Mungkin masih sekitar pukul tujuh pagi, kantor catatan sipil itu masih tampak sepi. Hanya ada beberapa kursi kosong di ruang tunggu, suara pendingin ruangan yang terdengar samar, serta bunyi ketikan dari balik loket yang sesekali memecah kesunyian.Cassandra sengaja datang sangat pagi. Pelajaran hidupnya sebagai pengacara mengatakan untuk mengumpulkan bukti secepatnya selagi "kasus" masih hangat. Prinsip yang selama ini ia gunakan untuk menangani perkara orang lain harus ia terapkan pada hidupnya sendiri.Dan ironisnya, ia harus memastikan apakah dirinya sedang menjadi korban penipuan, pemalsuan dokumen, atau sesuatu yang jauh lebih besar.Cassandra berdiri di depan loket dengan telapak tangan yang dingin. Ia sudah menyiapkan pertanyaan sejak berangkat, tetapi kini kalimatnya terasa berat di lidah.Ia menarik napas, lalu berkata, “Saya ingin menanyakan legalitas dokumen pernikahan atas nama Cassandra Alena Hanjaya dan Damar Arya Satya.”Petugas loket mengernyit, lalu mengetikkan sesua
Ponsel Cassandra bergetar dari dalam tas di atas kursi penumpang. Sebuah notifikasi transaksi masuk dari rekening gabungan miliknya dan Damar. Notifikasi yang biasanya hanya Cassandra abaikan.Transaksi berhasil — Meatman SteakhouseCassandra mengernyit. Ia membuka detail transaksi dan membaca nominalnya sekali lagi. Jumlah transaksinya terlalu besar. Mencapai dua digit.Selama ini, Cassandra tidak pernah terlalu teliti memeriksa pengeluaran dari rekening gabungan mereka. Ia dan Damar sama-sama memiliki penghasilan, dan ia tidak merasa perlu mengawasi setiap transaksi suaminya. Ia percaya Damar akan menggunakan uang mereka dengan bijak.Namun, setelah kejadian malam ini, kepercayaan itu terasa seperti kebodohan yang baru disadarinya sendiri.Cassandra membuka riwayat transaksi beberapa bulan terakhir. Ada pengeluaran di sejumlah restoran mahal, butik, dan toko barang mewah. Beberapa nominalnya bahkan jauh lebih besar daripada yang biasa mereka keluarkan untuk kebutuhan bulanan.Ia men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.