Share

Bab 68

Author: Almiftiafay
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-02 17:48:37
“Buat apa sih ikut?” tanya balik Mahesa dengan cepat. “Nggak usah! Aku ‘kan nggak setiap hari juga pulang telatnya, Ra! Ya udah aku pulang!”

Seolah tak sudi mendengar bantahan Kaira lagi, Mahesa memalingkan wajahnya, beranjak pergi dengan langkah lebar, wajahnya kesal.

Kaira hanya tertawa miris. Dari bagaimana pria itu menanggapi, atau matanya yang sesaat tampak gugup, sangat kentara Mahesa sedang mengamankan diri. Agar percakapan itu tidak berlanjut dan Kaira menanyakan ke mana ia pergi sepu
Almiftiafay

menyala-nyala membakar keluarga Maharendra 🤭🤣🔥 next? komen dulu yg banyakk Thor akan kembali lagi nanti jam 17.00 WIB yaa

| 19
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Ika Sulistyowati
bagus..... cakep kaira lanjut bungkam itu mulut mulut gatal
goodnovel comment avatar
Christy Lino
Gong banget jwbnnya kaira bkin aq tepuk tangan ruarrrrr biasa nyalimu kereerennnn ...........................
goodnovel comment avatar
Dewi Syam
Prok prok prok Kaira...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 95

    “Kaira sama cowok lain?” ulang Monica dengan sinis.“I-iya, Mbak Monica,” jawab Zia gugup, beralih melirik Sasmita. “Waktu itu aku baru ketemu klienku, terus nggak sengaja lihat Mbak Kaira sama laki-laki itu dan … mereka kelihatan deket banget.”Sasmita mendengus kasar, tatapannya menghujam Kaira dengan begitu tajam. “Benar begitu, Kaira? Hari Minggu kemarin kamu emang pergi seharian, ‘kan? Jadi ini alasan kamu kelayapan?”Semua orang di ruangan itu mulai bergejolak. Monica bersedekap dada sambil melemparkan senyum mengejek, sementara Algara hanya memperhatikan dengan pandangan menilai yang penuh cemoohan.Mereka semua mempercayai ucapan Zia tanpa ragu sedikit pun.Kaira membeku. Ia tidak bisa berkutik dan terdesak begitu hebat di posisinya saat ini.Mau membantah pun suaranya seolah lenyap di pangkal tenggorokan. Pikirannya carut-marut menyusun kata yang tepat karena apa yang diucapkan Zia memang benar terjadi.Ia dan Kaisar memang pernah pergi ke sana.Melihat diamnya Kaira, Mahesa

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 94

    Kaira beberapa langkah menjauhi meja Kaisar saat pria itu menghela dalam napasnya dan dengan ketenangan yang terkendali seperti biasanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Dav?”“Kamu nggak pulang—”“Bukannya aku udah bilang kalau kamu mau datang ke sini harus bikin janji dulu denganku?” sela Kaisar.“Gimana caranya bikin janji sama kamu kalau kamu nggak mau jawab teleponku, Mas?!” balas Davina dengan nada meninggi.Kaira mencoba mencari celah untuk bicara, “Pak Kaisar maaf—”“Tunggu di sini sebentar, Kaira,” kata Kaisar. Pria itu seperti sedang mengisyaratkan bahwa urusan dengan Davina tak akan lama.Dan itu membuat Davina menoleh pada Kaira, menatapnya selama beberapa detik sebelum bersedekap.“Terpaksa aku lakuin, Mas. Coba aja kamu nggak bersikap begini! Jangan egois dong!”Kaisar tampak memperdengarkan tawa lirihnya saat mengulangi, “Egois?”“Emang begitu, ‘kan?”Pria itu mengangguk pelan, “Terserah. Jadi kamu mau apa?”“Nanti di Gala Tahunan aku mau Naya kamu masukin ke d

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 93

    Kaira keluar dari kamar belakang setelah bersiap pagi ini, dan menuju ke dapur. Mengambil minuman dingin dari dalam kulkas lalu menerima sekotak buah potong yang telah dikemas oleh Sari.Baru saja mengatakan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Zia datang untuk meletakkan botol susu Zia ke wastafel.“Udah mau berangkat, Mbak?” tanya Zia, menahan langkah Kaira yang sudah hendak pergi.“Iya,” jawab Kaira singkat, tak ingin memperpanjangnya.“Mbak nggak bareng Mas Hesa, ‘kan? Soalnya aku yang mau bareng sama dia.”Kaira menoleh, memasang senyumnya sebagai balasan wajah lugu Zia.“Aku bareng Mas Hesa, Zi,” katanya.“Loh? Bukannya Mbak Kaira biasanya naik taksi?”Nada bicara Zia sedikit meninggi meski wajahnya masih sama polosnya.Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka perlahan menjauh, atau yang sebagian bertahan di sana berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan keduanya.“Kamu ‘kan ada sopir? Lagian kalau bareng Mas Hesa bukannya kamu nggak searah ya?”“Dimintain tolong gitu

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 92

    “A-aku cuma mau ambil mainannya Starla aja kok,” jawab Zia dengan cepat. Nada bicaranya terdengar panik. “Oh ….” Kaira mengangguk. “Kenapa mainannya Starla ada di sini?” “Mas Hesa kemarin ngajak Starla ke sini, dan mainannya lupa nggak aku ambil, Mbak!” “Aku ‘kan cuma tanya, Zi ….” tanggap Kaira. “Kenapa kamu marah?” Zia membenarkan raut wajahnya, memaksa agar senyum itu terkembang di sudut bibir. Pintu kamar di dekat Kaira terbuka, Mahesa muncul dan menatap mereka bergantian. “Kamu mau ambil bajumu sekarang, Ra?” tanya Mahesa. “Iya, Mas.” “Tadi ribut kenapa?” “Nggak kok,” jawab Kaira. “Tadi penasaran aja kenapa Zia ke sini, katanya mau ambil mainannya Starla.” Saat Kaira menoleh pada Zia, wajah adik iparnya itu terlihat gusar dan menatap Mahesa cukup lama sebelum ia pergi tanpa mengatakan apapun. “Masuklah,” kata Mahesa seraya membuka lebar pintu. Begitu Kaira melangkah ke dalam kamar, Mahesa yang tadinya tampak bingung lalu turut pergi setelah mengatakan, “Aku

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 91

    “Lakuin aja,” balas Kaira seraya menoleh. “Aku juga mau tahu apa yang akan dilakuin Mas Kaisar buat menyelesaikan ini.” Stiletto yang dikenakan Kaira nyaris kembali menggema di ruangan luas itu sebelum Kaisar meraih pergelangan tangannya. Suaranya begitu memohon kala pria itu memanggil, “Kaira?” “Aku harus pulang sekarang, Mas. Maaf ….” Kaira menimpakan tangannya ke punggung tangan Kaisar, memaksa pria itu agar melepasnya. Kedua bahu Kaisar merosot saat Kaira berbalik dan menghilang di balik pintu lift. Melihat raut frustrasinya, sepertinya jarak yang dibuat oleh Kaira ini berhasil. ‘Aku ingin tahu perasaan Mas Kaisar,’ batinnya, menatap pantulan dirinya yang ada di pintu lift. Kaira ingin memastikan, setelah yang mereka lakukan selama ini … apakah semuanya akan berakhir hanya sebagai pelampiasan nafsu saja, atau karena Kaisar memang … mencintainya? …. Dengan menaiki taksi yang melaju di bawah muramnya langit sore ini, Kaira akhirnya sampai di rumah. Menjejakkan k

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 90

    “Mas?” sapa Mahesa seraya selangkah maju dan berdiri di samping Kaisar. “Ada apa?” Kaisar tak menjawab. Sepasang iris gelap pria itu terarah pada leher Kaira, sebelum berpindah turun ke arah jari manisnya yang kosong padahal seharusnya cincin dari Kaisar melingkar di sana seperti semalam. Kaisar mendengus lirih, sepasang telinganya memerah saat ia menatap Mahesa dan mengembalikan tanya, “Apa yang kalian lakukan?” Mahesa mengangkat sekilas kedua bahunya, “Bukan apa-apa kok. Cuma mau kasih sesuatu aja ke Kaira.” “Lain kali jangan di kantor!” tegurnya dingin. “Iya ….” Mahesa hampir enggan menjawabnya. “Baru kali ini juga, Mas. Masa langsung dimarahin sih?” “Sekali dua kali, lama-kelamaan ada yang lihat dan ditiru sama yang lain.” “Iya maaf.” Mahesa lalu mengisyaratkan pada Kaira agar terus berjalan. Kaira mengangguk lirih, maniknya bertemu dengan iris gelap Kaisar sebelum mengikuti Mahesa yang melangkah memasuki ruang meeting setelah menundukkan kepalanya dengan sopan. Sembari b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status