Mag-log invisual Mas Kai sama Kaira ada di 1nst4gram othor @almiftiafay yaaa 💋🥰 gimana? mau lanjut sekarang gak wkwkw
Kaira menutup mulut dengan kedua tangannya, maniknya membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Jevan.“Kartu memorinya ditemukan? Sungguh, Pak Jevan?”Jevan mengangguk cepat. “Iya, Nona. Diaci dashboard. Pak Indra bilang tim forensik berhasil mendapatkannya dari sana. Ada bekas bercak darah yang tertinggal, sidik jari milik Pak Kaisar.”Kaira sontak menoleh ke arah prianya itu dengan bingung. “Apa Mas yang masukin kartu memorinya ke sana?”Kaisar mengangguk, membenarkan dugaan gadisnya.“Setelah mobilnya ditabrak, sebenarnya ada seorang laki-laki asing yang sempat masuk ke dalam kabin. Aku nggak begitu ingat wajahnya dengan jelas, aku pikir itu cuma halusinasi menjelang ajal aja. Pria itu mau ambil memori dari area dashcam, tapi kayaknya dia nggak bisa buka, atau mungkin karena kurang pengalaman. Jadi dia keluar dengan tangan kosong.” Kaisar menarik napas, melanjutkan apa yang ia ingat hari itu.“Di detik-detik terakhir sebelum kesadaranku hilang, aku pakai sis
Kaisar berbaring di atas ranjang rumah sakit yang belum lama didatanginya. Tempat ini memang tidak semewah kamar Presidential Suite di Cendana Amerta, tetapi setidaknya lingkungan di sini jauh lebih aman dari jangkauan Altair.Rumah sakit ini ada di sisi lain kota, milik suami dari Dokter Sofia—dokter kandungan yang selama ini selalu memeriksa kehamilan Kaira.Beberapa jam lalu, setelah Kaira memperingatkan bahwa rumah sakit sebelumnya berada dalam penguasaan Altair, Kaisar lalu meminta Jevan bergerak cepat.‘Tolong hubungi Dokter Sofia, aku akan bicara dengannya,’ pinta Kaisar saat itu.Jevan segera menyambungkan panggilan, lalu menyerahkan ponsel pada Kaisar. Tanpa banyak basa-basi, Kaisar menjelaskan situasinya. Dokter Sofia dengan sigap merespons lewat sambungan telepon, ‘Silakan datang, Pak Kaisar. Saya akan bantu siapkan.’Dan begitulah akhirnya Kaisar dipindahkan ke tempat ini.Rumah sakit Graha Medica.Kondisinya terpantau sangat baik, tangannya menggenggam erat Kaira yang akh
Seorang perawat wanita yang kebetulan baru saja keluar dari sudut ruangan menghentikan langkahnya. Maniknya membelalak melihat pria berjas putih yang berdiri di dekat pintu.“Dokter Algara?” panggil perawat tersebut dengan ragu.Ya. Pria berjas putih itu adalah Algara, yang lalu melempar senyum manis dan ramah yang ia miliki.“Ah, iya. Suster.”“Ada perlu apa, Dok?”“Saya mau jenguk paman saya yang dirawat di kamar ini, Kaisar Maharendra. Tapi kok … ruangannya kosong?”Suster tersebut tersenyum simpul. “Oh, Anda belum tahu? Pasien sudah keluar dari rumah sakit ini sejak tadi pagi, Dok.”Alis Algara menukik tajam, senyum di bibirnya memudar separuh.“Hah? Bukannya kondisinya masih belum memungkinkan buat keluar dari rumah sakit?”Sang suster menggeleng. “Saya kurang tahu detailnya, Dokter Algara. Tapi dari catatan administrasi, beliau dipindahkan dari rumah sakit ini sejak tadi pagi,” ulangnya.Algara mengangguk kaku, seraya tetap mencoba mempertahankan senyum di wajahnya. “Begitu ya …
Kaira membuka pintu kamar rawat Kaisar dengan tangan yang terasa kebas. Begitu ia melangkah masuk, maniknya mendapati seseorang memang sedang berada di dalam sana.Zia.Wanita itu duduk di kursi sebelah ranjang. Zia tidak sendirian, di dekatnya, Jevan berdiri. Pemuda itu tampak mengusap wajahnya dengan kasar, seolah tengah frustrasi menghadapi kehadiran Zia.Zia menyunggingkan senyum manis saat melihat Kaira masuk.“Mbak ….” sapanya.Kaira berjalan mendekat, melirik sekilas ke arah Kaisar yang tampak terbaring memejamkan mata, sedang beristirahat.“Apa yang kamu lakukan di sini, Zia?” tanya Kaira.“Aku cuma mau jenguk paman suamiku aja, Mbak. Oh ya, haruskah … aku manggil Mbak Kaira sebagai ‘Tante’ sekarang? Atau lebih pas dipanggil ‘Bibi’?”Kaira menatapnya datar. “Aku nggak peduli kamu mau manggil aku apa. Tapi jangan ganggu waktu istirahat Mas Kaisar!”Zia tertawa kecil. Anggun saat menutup mulutnya dengan sebelah tangan.“Hm … aku baru tahu kalau Mbak Kaira seprotektif ini sama Ma
Zia tertegun di tempatnya. Wanita itu mengerjap tak percaya mendapati penolakan mentah-mentah dari Mahesa. “Kenapa, Mas? Apa aku ada buat kesalahan?” tanyanya.Mahesa mendengus berat, memalingkan wajahnya sebelum menjawab, “Nggak. Aku lagi capek, lagi nggak ingin. Sana kamu balik ke kamarmu!”Zia melipat kedua tangannya di dada, maniknya menatap tajam, penuh tuntutan. “Mas Hesa tuh udah beberapa kali kayak gini loh belakangan ini. Mas kesal gara-gara Kaira sekarang jadi istrinya Kaisar? Mas nggak bisa terima kenyataan itu makanya kamu lampiaskan semuanya ke aku, hah?”“Nggak ada hubungannya sama—”“Mas cuma mau enaknya aja sama aku!” potong Zia sengit dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. “Giliran lagi kesal dan marah-marah begini, Mas malah nyuekin aku! Mas udah nggak sayang sama aku lagi, ‘kan?!”Zia melengos pergi dengan hentakan kaki penuh emosi.“Zia—” panggil Mahesa mencoba menahan kepergiannya.Tapi biar saja ….Merajuknya Zia hanya sebentar. Lagi pula ia tidak berniat mengeja
Para tamu undangan dan para tetua dewan komisaris Maha Group beranjak pergi satu persatu. Mereka menundukkan kepala setelah menyampaikan ucapan selamat kepada Altair.Di ruang tamu utama kediaman yang mulai sepi itu, Altair menyilangkan kakinya di atas sofa.Pria itu lalu menoleh, menatap Sasmita yang duduk di sebelah kirinya dengan senyum kepuasan yang mengembang lebar di wajah wanita itu.Altair terkekeh kecil. “Nah, apa kamu masih mau marah-marah dan mogok makan lagi, Sasmita?”Sasmita mendengus, menyentuh selendang sutra di bahunya, tak menjawab.“Minta aja apa pun yang kamu mau, Sasmita. Sekarang semua ada di tangan kita. Aku bisa beliin apa aja yang kamu inginkan.”Sasmita bangkit dari duduknya sembari merapikan sanggulnya dengan anggun.“Nanti akan aku pikirkan daftar belanjanya.”Setelah Sasmita berlalu, pandangan Altair kembali menunduk pada map biru tebal berisi lembar surat wasiat mendiang sang ayah di atas meja.Dalam hitungan beberapa hari ke depan, seluruh berkas pengali







