공유

Bab 96

작가: Almiftiafay
last update 게시일: 2026-09-12 18:15:55
Kaira menggeleng, “Nggak perlu, Mas,” katanya lirih. “Aku juga nggak bisa dansa.”

Alih-alih kesal karena Kaira baru saja menolaknya, Kaisar justru tersenyum mendengar itu.

“Nggak apa-apa, Kaira. Kamu bisa pegang aku aja.”

“Tapi—Mas ‘kan bisa ngajak Mbak Davina?”

“Dia udah pulang,” jawabnya ringan. “Lagi pula siapapun boleh berdansa di sini. Mahesa sama Zia juga, ‘kan?”

Kaira menggigit bibirnya, mencoba meredam kegugupan yang bergemuruh di dadanya.

Saat itu, Mahesa dan Zia yang baru saja se
Almiftiafay

kalian siap gak sama bab 97? jangan lupa komen yaa, karena bab berikutnya adalah yang ditunggu tunggu wkwkwkw 🤪💋💋💋💋💋🥰🥰

| 17
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (6)
goodnovel comment avatar
Ika Sulistyowati
knp ndak di foto apa vidio biar tambah bukti unk menggugat cerai kaira
goodnovel comment avatar
Siti Hayatul Amalia
Kagak geli apa ya si Hesa, kan si Zia bekas ade nya, masa barengan makenya sm adenya. ampun dah joroknya. Apa jgn2 Starla anaknya si Hesa???
goodnovel comment avatar
Siti Hayatul Amalia
Jgn lupa.direkan Ra,.biar makin banyak bukti, biar makin mantab. Jgn kalah manja sm si Zia itu, biarlah Kaisar lama nembaknya, yg penting dia perhatian. Jgn disia2in Ra, manja2an sm Kaisar lebih enak
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 286

    Zia tertegun di tempatnya. Wanita itu mengerjap tak percaya mendapati penolakan mentah-mentah dari Mahesa. “Kenapa, Mas? Apa aku ada buat kesalahan?” tanyanya.Mahesa mendengus berat, memalingkan wajahnya sebelum menjawab, “Nggak. Aku lagi capek, lagi nggak ingin. Sana kamu balik ke kamarmu!”Zia melipat kedua tangannya di dada, maniknya menatap tajam, penuh tuntutan. “Mas Hesa tuh udah beberapa kali kayak gini loh belakangan ini. Mas kesal gara-gara Kaira sekarang jadi istrinya Kaisar? Mas nggak bisa terima kenyataan itu makanya kamu lampiaskan semuanya ke aku, hah?”“Nggak ada hubungannya sama—”“Mas cuma mau enaknya aja sama aku!” potong Zia sengit dengan mata berkaca-kaca penuh amarah. “Giliran lagi kesal dan marah-marah begini, Mas malah nyuekin aku! Mas udah nggak sayang sama aku lagi, ‘kan?!”Zia melengos pergi dengan hentakan kaki penuh emosi.“Zia—” panggil Mahesa mencoba menahan kepergiannya.Tapi biar saja ….Merajuknya Zia hanya sebentar. Lagi pula ia tidak berniat mengeja

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 285

    Para tamu undangan dan para tetua dewan komisaris Maha Group beranjak pergi satu persatu. Mereka menundukkan kepala setelah menyampaikan ucapan selamat kepada Altair.Di ruang tamu utama kediaman yang mulai sepi itu, Altair menyilangkan kakinya di atas sofa.Pria itu lalu menoleh, menatap Sasmita yang duduk di sebelah kirinya dengan senyum kepuasan yang mengembang lebar di wajah wanita itu.Altair terkekeh kecil. “Nah, apa kamu masih mau marah-marah dan mogok makan lagi, Sasmita?”Sasmita mendengus, menyentuh selendang sutra di bahunya, tak menjawab.“Minta aja apa pun yang kamu mau, Sasmita. Sekarang semua ada di tangan kita. Aku bisa beliin apa aja yang kamu inginkan.”Sasmita bangkit dari duduknya sembari merapikan sanggulnya dengan anggun.“Nanti akan aku pikirkan daftar belanjanya.”Setelah Sasmita berlalu, pandangan Altair kembali menunduk pada map biru tebal berisi lembar surat wasiat mendiang sang ayah di atas meja.Dalam hitungan beberapa hari ke depan, seluruh berkas pengali

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 284

    Kaira menggeleng cepat, air matanya kembali menitik. “Aku tanya begitu bukan karena nggak mau bareng Mas Kaisar. Tapi … karena aku tahu Mas Kaisar udah terbiasa hidup serba berkecukupan, berbeda denganku yang dari awal emang terbiasa kekurangan. Kehilangan sesuatu yang sebelumnya Mas tahu udah seharusnya menjadi milikmu, pasti rasanya menyakitkan.”Kaisar tersenyum, menatap Kaira, sorotnya teduh dan menenangkan.“Apa pun yang jadi milik kita nggak akan pernah tertukar kapasitas takdirnya, Kaira. Jadi, kalau emang Altair mau mengambilnya, silakan aja. Kita lihat seberapa lama semua itu bisa bertahan di tangannya.”Mendengar jawaban itu, Kaira tertegun. Rasanya seluruh beban berat di dadanya seolah terangkat saat Kaisar melanjutkan kalimatnya dengan lembut.“Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Kehilangan warisan itu sama sekali bukan masalah besar buatku. Aku bisa memulainya di tempat yang lain. Yang paling penting bagiku adalah kamu dan anak-anak kita, kan sama mereka harus baik-baik

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 283

    Kaira tidak kuasa menahan air matanya. Begitu mendengar suara serak itu memanggil namanya, ia menerjang maju dan mendekap tubuh Kaisar erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaisar, membiarkan isak tangisnya pecah, sejadi-jadinya.Kaisar mengangkat tangannya, membalas pelukan Kaira. Jemarinya mengusap punggung gadisnya itu dengan lembut.“Sayang … kenapa nangis begini, hm?” bisik Kaisar, masih lirih seperti sebelumnya.Kaira mendongak, menatap manik sayu pria itu dengan hidung yang memerah. “Mas nggak bangun-bangun … aku kangen.”“Maaf ya bikin kamu takut … gimana keadaan kamu sekarang? Kamu sama si kecil baik-baik aja, kan?”Mendengar pertanyaan itu, air mata Kaira justru semakin deras. Bagaimana bisa … pria yang baru saja siuman, yang bahkan masih terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya, justru mengkhawatirkan keadaan Kaira dan bayi mereka? Seolah-olah, bahkan dalam ketidaksadarannya pun, satu-satunya hal yang memenuhi pikiran Kaisar adalah keselamatan

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 282

    Jeritan melengking Sasmita menggema. Wanita paruh baya itu sudah kehilangan kendali, mengamuk sejadi-jadinya seraya menyambar bantal dari atas ranjang dan melemparkannya ke arah Altair. “Keluar kamu dari sini, Altair! Keluar!” teriak Sasmita histeris, melangkah maju dengan tangan terkepal berniat melayangkan pukulan ke dada suaminya. Altair dengan sigap menangkap pergelangan tangan istrinya, lalu mendengus dingin. “Ya, aku keluar!” katanya seraya memutar bola mata malas. Pria itu memilih berbalik meninggalkan kamar, urung membaringkan tubuhnya dan membiarkan Sasmita berdiri seraya menghentakkan kakinya ke lantai marmer. Begitu melangkah keluar, Altair turun ke lantai bawah. Di area dapur, ia berpapasan dengan Mahesa yang baru saja keluar membawa sebotol air dingin. Putra tengahnya itu menunduk saat melihat sang ayah mendekat. “Udah pada selesai makannya, Hesa?” tanya Altair. “Udah, Pa,” jawab Mahesa kaku. Altair berhenti tepat di hadapan putranya. “Kirim padaku spesifik

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 281

    Kaira menundukkan kepalanya saat mengatakan, “Aku mohon bantuannya.” Alina spontan mengerutkan kening. Tangan gadis itu mengarah ke depan, merenggut dagu Kaira dan memintanya agar menegakkan kepala. “Kenapa mesti mohon sih, Ra? Kita ‘kan emang keluarga. Jangan gitu ih.” Kaira tersenyum mendengar itu. Rasa harunya menembus ke ulu hati. Saat Kaisar dikhianati oleh keluarganya sendiri, justru orang asing mengatakan bahwa mereka adalah ‘keluarga.’ Kaira mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. “Terima kasih. Aku … titip biar Pak Jevan buat terus perhatikan perkembangan di Maha Group. Alina, tolong bantu Pak Jevan buat soal kecelakaan itu sekalian siapin pengacara lain buat backup. Aku akan jaga Mas Kaisar di sini dan bantu kalian sebisaku dari rumah sakit.” Jevan dan Alina menjawab dengan kompak, “Baik.” Jevan menambahkan, “Nanti Alina bisa kerja sama dengan tim pengacara Pak Kaisar. Tadi saya udah sempat sampaikan ke mereka.” “Iya, beres,” sahut Alina mantap. Alina

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status