LOGINkalian siap gak sama bab 97? jangan lupa komen yaa, karena bab berikutnya adalah yang ditunggu tunggu wkwkwkw 🤪💋💋💋💋💋🥰🥰
Kaisar menoleh pada Kaira, menunjukkan senyum tipisnya seraya mengangguk.“Iya,” jawabnya tak keberatan. “Tunggu sebentar.”Kaisar terlihat mengedarkan pandangannya, saat pria itu menemukan di mana Jevan, isyarat matanya mengatakan agar sekretarisnya itu mendekat.Entah apa yang dikatakan Kaisar saat Jevan mendekatkan kepalanya. Kaira tak mendengar, suara musik membatasi kemampuan inderanya.Tapi yang jelas, sedetik setelahnya Kaisar kembali menatapnya dan berujar, “Duluanlah ke mobilku, aku akan nyusul sebentar lagi.’“Iya,” jawab Kaira lirih.“Mari saya antar, Bu Kaira,” tawar Jevan, mempersilakan dengan sebelah tangannya.Kaira mengikuti ke mana Jevan melangkah, meninggalkan hall yang masih berkecamuk dengan hiruk-pikuk pesta, menuju ke parkiran VIP yang rasanya jauh lebih tenang.Kaira masuk ke dalam sedan hitam milik Kaisar dan menunggu di kursi di sebelah kemudi. Sementara Kaisar muncul tidak lama kemudian dan mengambil posisinya.Pria itu lebih dulu melepas jasnya, meletakkanny
Kaira menggeleng, “Nggak perlu, Mas,” katanya lirih. “Aku juga nggak bisa dansa.”Alih-alih kesal karena Kaira baru saja menolaknya, Kaisar justru tersenyum mendengar itu.“Nggak apa-apa, Kaira. Kamu bisa pegang aku aja.”“Tapi—Mas ‘kan bisa ngajak Mbak Davina?”“Dia udah pulang,” jawabnya ringan. “Lagi pula siapapun boleh berdansa di sini. Mahesa sama Zia juga, ‘kan?”Kaira menggigit bibirnya, mencoba meredam kegugupan yang bergemuruh di dadanya.Saat itu, Mahesa dan Zia yang baru saja selesai terlihat duduk di kursi mereka, tak jauh dari Kaira berada.“Ajak aja si Kaira, Mas,” celetuk Mahesa. “Tapi hati-hati, takutnya Mas Kaisar jatuh karena dia emang nggak bisa.”Mendengar itu, Kaira merasa ia semakin mengerdil. Ketidakmampuannya seperti sebuah hal yang bisa dikatakan oleh Mahesa lewat bibirnya dengan tanpa beban.Tapi, Kaisar tidak mengindahkannya. Pria itu tetap teguh di depan Kaira dengan tangan yang terulur.Kaira melirik sekitar yang sepertinya juga sedang menunggunya, mempert
“Kaira sama cowok lain?” ulang Monica dengan sinis.“I-iya, Mbak Monica,” jawab Zia gugup, beralih melirik Sasmita. “Waktu itu aku baru ketemu klienku, terus nggak sengaja lihat Mbak Kaira sama laki-laki itu dan … mereka kelihatan deket banget.”Sasmita mendengus kasar, tatapannya menghujam Kaira dengan begitu tajam. “Benar begitu, Kaira? Hari Minggu kemarin kamu emang pergi seharian, ‘kan? Jadi ini alasan kamu kelayapan?”Semua orang di ruangan itu mulai bergejolak. Monica bersedekap dada sambil melemparkan senyum mengejek, sementara Algara hanya memperhatikan dengan pandangan menilai yang penuh cemoohan.Mereka semua mempercayai ucapan Zia tanpa ragu sedikit pun.Kaira membeku. Ia tidak bisa berkutik dan terdesak begitu hebat di posisinya saat ini.Mau membantah pun suaranya seolah lenyap di pangkal tenggorokan. Pikirannya carut-marut menyusun kata yang tepat karena apa yang diucapkan Zia memang benar terjadi.Ia dan Kaisar memang pernah pergi ke sana.Melihat diamnya Kaira, Mahesa
Kaira beberapa langkah menjauhi meja Kaisar saat pria itu menghela dalam napasnya dan dengan ketenangan yang terkendali seperti biasanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Dav?”“Kamu nggak pulang—”“Bukannya aku udah bilang kalau kamu mau datang ke sini harus bikin janji dulu denganku?” sela Kaisar.“Gimana caranya bikin janji sama kamu kalau kamu nggak mau jawab teleponku, Mas?!” balas Davina dengan nada meninggi.Kaira mencoba mencari celah untuk bicara, “Pak Kaisar maaf—”“Tunggu di sini sebentar, Kaira,” kata Kaisar. Pria itu seperti sedang mengisyaratkan bahwa urusan dengan Davina tak akan lama.Dan itu membuat Davina menoleh pada Kaira, menatapnya selama beberapa detik sebelum bersedekap.“Terpaksa aku lakuin, Mas. Coba aja kamu nggak bersikap begini! Jangan egois dong!”Kaisar tampak memperdengarkan tawa lirihnya saat mengulangi, “Egois?”“Emang begitu, ‘kan?”Pria itu mengangguk pelan, “Terserah. Jadi kamu mau apa?”“Nanti di Gala Tahunan aku mau Naya kamu masukin ke d
Kaira keluar dari kamar belakang setelah bersiap pagi ini, dan menuju ke dapur. Mengambil minuman dingin dari dalam kulkas lalu menerima sekotak buah potong yang telah dikemas oleh Sari.Baru saja mengatakan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Zia datang untuk meletakkan botol susu Zia ke wastafel.“Udah mau berangkat, Mbak?” tanya Zia, menahan langkah Kaira yang sudah hendak pergi.“Iya,” jawab Kaira singkat, tak ingin memperpanjangnya.“Mbak nggak bareng Mas Hesa, ‘kan? Soalnya aku yang mau bareng sama dia.”Kaira menoleh, memasang senyumnya sebagai balasan wajah lugu Zia.“Aku bareng Mas Hesa, Zi,” katanya.“Loh? Bukannya Mbak Kaira biasanya naik taksi?”Nada bicara Zia sedikit meninggi meski wajahnya masih sama polosnya.Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka perlahan menjauh, atau yang sebagian bertahan di sana berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan keduanya.“Kamu ‘kan ada sopir? Lagian kalau bareng Mas Hesa bukannya kamu nggak searah ya?”“Dimintain tolong gitu
“A-aku cuma mau ambil mainannya Starla aja kok,” jawab Zia dengan cepat. Nada bicaranya terdengar panik. “Oh ….” Kaira mengangguk. “Kenapa mainannya Starla ada di sini?” “Mas Hesa kemarin ngajak Starla ke sini, dan mainannya lupa nggak aku ambil, Mbak!” “Aku ‘kan cuma tanya, Zi ….” tanggap Kaira. “Kenapa kamu marah?” Zia membenarkan raut wajahnya, memaksa agar senyum itu terkembang di sudut bibir. Pintu kamar di dekat Kaira terbuka, Mahesa muncul dan menatap mereka bergantian. “Kamu mau ambil bajumu sekarang, Ra?” tanya Mahesa. “Iya, Mas.” “Tadi ribut kenapa?” “Nggak kok,” jawab Kaira. “Tadi penasaran aja kenapa Zia ke sini, katanya mau ambil mainannya Starla.” Saat Kaira menoleh pada Zia, wajah adik iparnya itu terlihat gusar dan menatap Mahesa cukup lama sebelum ia pergi tanpa mengatakan apapun. “Masuklah,” kata Mahesa seraya membuka lebar pintu. Begitu Kaira melangkah ke dalam kamar, Mahesa yang tadinya tampak bingung lalu turut pergi setelah mengatakan, “Aku







