แชร์

Bab 10

ผู้เขียน: XENA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 08:05:27
“Kamu pacaran dengan Leon?”

Manda terhenyak. Suara itu muncul begitu dekat di telinganya.

“Galen?”

Galen tersenyum tipis, lalu duduk di sampingnya. Tatapan pemuda itu berubah, tidak sesantai biasanya.

“Apa orang tua kalian tahu?” tanyanya kembali.

Manda tidak langsung menjawab. Tanpa sadar ia memainkan jemarinya yang saling bertaut.

“Apa mereka akan menyetujui hubungan kalian?” lanjut Galen. Ia menghela napas pelan, lalu kembali berkata, “Aku rasa tidak,” tebaknya sambil tersenyum kecut.

Manda menoleh. Ia melihat keraguan pada wajah Galen. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan tatapan menyelidik. 

Galen memalingkan wajahnya ke depan, seolah lebih nyaman berbicara tanpa menatapnya.

“Aku tahu seperti apa seorang Daniel Moreno,” ujarnya pelan. “Sudah pasti dia tidak akan tinggal diam,” imbuhnya.

Seketika Manda terdiam. Ia memperhatikan Galen dengan seksama.

“Kalian harus siap dengan konsekuensinya,” lanjut Galen.

Beberapa detik berlalu dengan keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Manda. Begitu pula dengan Galen.

“Lalu … aku harus bagaimana?” tanya Manda. "Apakah aku harus memutuskan hubungan dengan ...."

"Aku yakin kamu pasti lebih memilih Leon daripada mamamu," sahut Galen ketika menangkap keraguan Manda untuk meneruskan ucapannya.

Seketika Manda membeku. Ia menatap Galen, mencoba membaca sesuatu dari wajah pemuda itu. 

'Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia bisa membaca isi kepala dan isi hatiku?' batinnya.

"Ka-kamu ... kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Belum tentu aku memilih--" Seketika Manda tidak bisa meneruskan ucapannya. Tubuhnya menegang ketika jari tangan Glen sudah berada di bibirnya.

"Sudah terlihat dengan sangat jelas di wajahmu ini, Manda ...." Glen terkekeh melihat ekspresi wajah Manda saat ini. 

_______________

Mobil merah milik Glen melesat di jalanan, menyalip kendaraan di depannya tanpa ragu. Dari kejauhan, ia masih bisa melihat mobil Leon. Ia tersenyum miring karena belum kehilangan jejak mobil yang diikutinya.

Rahang Glen mengeras. Apa pun yang tadi dikatakan Galen jelas tidak ada gunanya. Saudara kembarnya itu tidak pernah bisa menghentikannya saat emosi sudah terlanjur naik seperti saat ini.

Begitu memasuki area parkir sebuah gedung, Glen langsung menghentikan mobilnya di sembarang tempat. Ia tidak peduli posisi parkirnya yang tidak pada tempatnya. Bahkan mesin mobilnya belum sepenuhnya mati saat ia sudah turun dan menutup pintu dengan sangat keras.

Langkahnya cepat, nyaris setengah berlari untuk menyusul Leon yang sudah berjalan masuk ke dalam gedung bertingkat tersebut.

“Leon!”

Glen berhasil menyusul tepat saat pintu lift hampir tertutup. Tangannya tanpa ragu meraih lengan pemuda itu.

“Aku harus bicara.” Suaranya tidak kalah tegas dengan tatapan matanya.

Pintu lift kembali terbuka. Leon masuk tanpa banyak reaksi, seolah tarikan Glen bukan sesuatu yang penting baginya. Glen mendecih pelan, lalu ikut melangkah masuk.

Di dalam lift sudah ada dua orang pria. Begitu melihat Leon, keduanya langsung berdiri lebih tegap dan memberi hormat. Glen melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. Beberapa detik kemudian, kedua pria itu memilih keluar, meninggalkan mereka berdua di dalam lift.

“Wah,” gumam Glen. Ia bersandar santai di dinding lift. “Pengaruhmu besar juga di sini.”

Leon hanya tersenyum tipis menanggapinya. “Katakan apa maumu,” ujarnya datar, tanpa menoleh. “Sebelum aku berubah pikiran dan malas mendengarkan.”

Nada bicara Leon seketika memancing emosi Glen. “Bagaimana bisa kamu melakukan itu pada adik tirimu, Leon?” tanyanya tanpa basa-basi. “Kamu tahu konsekuensinya, kan?”

Leon tetap diam. Ia tidak bergeming sedikit pun.

Glen menghela napas kasar, lalu melanjutkan, “Dan papamu? Kamu pikir dia bakal diam saja melihat semua ini?”

Lift terus bergerak naik, menyisakan keheningan yang terasa semakin menekan. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi ponsel yang berasal dari saku Leon.

Seketika perhatian Glen tertuju ke sana. Ia melihat Leon mengeluarkan ponsel dan menatap layarnya beberapa saat. Ekspresi pemuda itu berubah samar dan sulit ditebak.

“Apa kamu bisa bantu aku?” ujar Leon dengan nada suaranya yang tetap tenang seperti biasa. “Jemput dia di rumah sakit,” sambungnya tanpa menoleh ke arah Glen.

Seketika dahi Glen mengernyit. “Rumah sakit?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Glen. 

“Rumah sakit mana?” tanya Glen kembali. Kali ini lebih serius.

Leon masih menatap ponselnya. “Aku sudah kirim alamatnya,” jawabnya kemudian.

"Apakah sakit Manda sangat serius hingga perlu perawatan di rumah sakit?" tanya Glen kembali dengan tatapan menyelidik.

Leon tersenyum miring tanpa melihat ke arah Glen. Tepat pada saat itu juga pintu lift terbuka. Detik berikutnya, ia melangkah keluar dari lift tanpa menjawab pertanyaan dari Glen.

__________

Suara langkah kaki Glen memenuhi koridor rumah sakit. Ia berlari menuju ruang IGD dengan wajah penuh kecemasan. 

"Manda." Ia menghentikan seorang perawatan yang berpapasan dengannya di ruang IGD. "Di mana pasien yang bernama Manda?" tanyanya [ada perawat tersebut dengan napas terengah-engah.

"Manda?" tanya balik perawat itu sambil mengerutkan dahinya.

Glen mengangguk. "Cepat katakan, dirawat di mana dia sekarang?" tanyanya kembali.

Perawat itu menunjuk ke arah resepsionis. "Tanyakan pada mereka." 

Detik itu juga Glen berjalan cepat menuju resepsionis tanpa mengatakan apa pun pada perawat yang memberitahunya.

"Di mana pasien yang bernama Manda di rawat?" tanyanya serius pada perawat yang ada di meja resepsionis.

"Manda? Sejak tadi tidak ada pasien bernama Manda yang dibawa ke sini," jawab perawat tersebut.

"Coba cek dengan benar!" Glen sedikit meninggikan suaranya.

Perawat itu menghela napas. Jari tangannya kembali bergerak lincah pada keyboard.

"Apa Anda yakin jika dia berada di rumah sakit ini?" tanyanya menyelidik.

Seketika Glen menatap serius pada perawat itu. "Apa maksudnya dia--"

"Tidak ada yang namanya Manda dalam data kami," sahut sang perawat dengan tegas.

Dahi Glen mengerut. "Kok bisa?" 

Tidak ada jawaban dari perawat. Glen pun memutuskan untuk mencarinya sendiri. Ia menyibak satu per satu kain pembatas tempat tidur pasien tanpa didampingi oleh perawat.

Sepasang matanya membelalak melihat seorang perempuan yang sangat dikenalnya. 

"Kamu?!"

Suara perempuan itu beradu dengan suara Glen. Bukan hanya itu saja, pandangan mata mereka pun saling bertemu. 

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Glen, ketus.

Perempuan itu menyeringai. "Apa aku perlu melaporkan semua hal padamu? Lagi pula kita gak sedekat itu!"

"Dasar penyihir!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 133 Malam Panas

    Alvaro menelan ludahnya. Jakunnya naik turun melihat bentuk tubuh Manda yang begitu indah hingga membangkitkan sesuatu miliknya yang ada di bawah sana."Ke-kenapa kamu lepas pakaianmu, Sayang?" Seketika Manda menatap ke arahnya. "Leon." Suaranya sangat sensual. Ia melihat sosok Leon pada pemuda yang ada di hadapannya. Bibirnya melengkung ke atas mendengar suara Leon memanggilnya dengan sebutan "Sayang", panggilan yang selama ini diberikan oleh Leon padanya.Dahi Alvaro mengernyit. "Apa?!" Ia menghampiri Manda. "Kamu panggil aku apa tadi?!" Suaranya meninggi.Tiba-tiba tubuh Alvaro berada di bawah Manda. Sepasang mata Alvaro membelalak."Aku merasakan punyamu sudah mengeras," ucap Manda sambil terkekeh. Pipinya bersemu merah.Alvaro terbaring tidak berdaya. Pandangan matanya tertuju pada kedua gundukan besar milik Manda yang terpampang jelas di hadapannya."Kenapa kamu jahat sekali padaku, Leon," rengeknya. "Kenapa kamu lebih memilih Vania untuk menikah denganmu?" Tubuh Manda bergera

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 132 Skandal Dalam Motel

    Seorang waiter ditemani seorang pria berbadan kekar dengan wajah sangar menghampiri mereka.Alvaro berhenti setelah mereka berteriak memanggilnya. "Sial!" umpatnya. "Mereka membuatku malu.""Oh?!" Manda kaget melihat dua pria yang berdiri di hadapannya. "Kalian." Ia terkekeh sambil menunjuk pada mereka berdua. "Mau ikut aku ronde ke dua? Kita minum di sana!" Jarinya menunjuk ke sembarang arah."Diamlah!" Suara Alvaro lirih, tapi tegas membentak Manda yang sedang digendongnya."Bayar dulu, baru pergi," ujar waiter kesal. Ia memperlihatkan sebuah kertas yang bertuliskan tagihan meja mereka.Alvaro melihat jumlah total tagihan yang ada di bagian bawah. Sepasang matanya membelalak kaget."Cepat bayar!" gertak pria botak yang menjadi keamanan klub malam tersebut. Manda berjingkat kaget. Ia kembali terkekeh menertawakan pria berwajah bengis itu. Alvaro menurunkan Manda dari gendongannya. "Diam di sini," perintahnya. "Jangan pergi ke mana-mana." "Cepat!" bentak pria itu ketika melihat Al

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 131

    "Kenapa?" tanya pemuda yang mengajak mereka. "Kalian takut?" Ia tersenyum miring seolah mengejek semua temannya, termasuk Manda.Manda beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya seru juga." Pandangan matanya tertuju pada sebuah bangunan yang ditunjuk oleh pemuda itu.Alvaro ikut berdiri. Ia memegang tangan Manda. "Apa kamu gak takut jika masuk ke dalam sana?" tanyanya ragu-ragu.Seketika semua pasang mata yang ada di sekitar mereka tertuju pada Manda. "Takut?" Dahi Manda mengernyit. "Kenapa takut?" Ia terkekeh. "Apa di dalam sana banyak hantunya?" tanyanya sambil terkekeh. "Atau mungkin ... ada binatang buasnya?"Tawa mereka semua mengiringi kekehan Manda. Alvaro menatap kesal padanya. "Banyak buaya darat di dalam sana!" sahutnya sinis.Satu per satu dari mereka berdiri, dan menyatakan setuju untuk masuk ke tempat tersebut."Tunggu!" Alvaro menghentikan mereka. "Kalian semua sudah dewasa, kan?" tanyanya serius. "Sudah punya kartu identitas, kan?" Ia menatap satu per satu dari temanny

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 130

    "Cepat antar saya sekarang juga!" perintah Manda pada seorang sopir yang sedang mengelap mobil di halaman rumah keluarga Moreno.Sopir itu terhenyak, hingga melongo melihat Manda yang sedang membuka pintu mobil bagian belakang dan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Ia tersadar setelah mendengar suara pintu yang ditutup lumayan keras. Detik itu juga masuk ke dalam mobil, dan bersiap mengemudi. "Kita akan ke mana, Nona?" tanyanya sembari menyalakan mesin mobil."Jalan saja dulu." Manda meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam, mencoba menenangkan diri. 'Aku baik-baik saja. Aku bisa melewati semua ini. Kebahagiaanku yang utama,' batinnya mengulang mantra yang pernah diberikan dokter psikiater padanya.Mobil berjalan keluar dari area rumah besar itu. Terlihat dari kaca spion mobil, Lily berlari sambil menangis mengejarnya. Di sampingnya ada Leon yang sedari tadi mengejarnya seraya memanggil namanya. Air mata Manda menetes melihat Leon yang terlihat bingung antar

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 129

    Lily mendongak, menatap wajah Manda yang baru saja bergumam. "Siapa yang akan menikah?" tanyanya dengan menampakkan wajah bingung. Seketika semua orang yang ada di dalam ruang makan menoleh ke arah sumber suara. Di luar ruang makan, tepatnya di dekat pintu, Manda berdiri sambil menggendong Lily. Ia bersembunyi di tembok dekat pintu ruangan. "Lily?!" Leon memanggil adiknya yang tidak terlihat di sana. "Kamu kah itu?" tanyanya. Manda menghela napas. Ia tersenyum tipis menatap gadis kecil yang digendongnya sedang menatap dirinya. "Lily mau turun, Kak," ucapnya. Saat itu juga Manda menurunkannya. Gadis kecil itu menggandeng tangannya. "Katanya mau makan, Kak?" tanyanya dengan wajah polos. Manda kembali menghela napas berat. Detik kemudian ia memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan. Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari persembunyian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang makan. "Kalian--" "Lily baru saja bangun. Dia merengek lapar. Kebetulan aku juga sangat

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 128

    Sepasang mata Manda terbuka. Reflek ia melihat ke arah sumber suara. Matanya seketika membelalak. "Mama?!" lirihnya.Detik berikutnya, Leon membuka kedua matanya. "Kenapa berisik sekali?" Suaranya tegas menegur si pemilik suara yang mengganggu istirahatnya."Apa yang sedang kalian lakukan?!" Marina mengulang kembali pertanyaannya. Ada kegugupan yang terdengar dari suara tegasnya.Dahi Manda mengernyit. "Apa maksud Mama?" tanyanya sembari merapikan rambutnya."Berhenti membuat keributan. Kita butuh ketenangan." Leon kembali menegaskan kekesalannya. Kedua matanya kembali terpejam.Tatapan kemarahan Marina yang tertuju pada putrinya, kini beralih pada putra tirinya. "Leon!" panggilnya dengan tegas. "Bukankah Daniel memerintahmu untuk menemuinya?!" Tidak ada reaksi dari Leon. Sang ahli waris keluarga tersebut terlihat kembali terlelap dalam tidurnya. "Cepatlah bangun, Leon!" bentak wanita paruh baya itu kembali. "Jangan membuat Daniel marah padamu!" Manda menatap saudara tirinya yang t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status