Share

Bab 11

Author: XENA
last update publish date: 2026-07-06 08:07:10
Leon dan Manda melupakan sopir keluarga Moreno yang ditugaskan untuk mengantar jemput Manda dan mengawasinya. Tanpa mereka sadari, semua kejadian hari itu terekam jelas olehnya.

Daniel Moreno menghela napas panjang setelah menerima laporan lengkap beserta bukti yang dikirimkan sopir tersebut. Lembar-lembaran kertas yang ada di tangannya penuh dengan coretan rencana yang belum sempat diwujudkan.

Ia menatap tulisan tangannya cukup lama, lalu bergumam pelan, “Maafkan Papa, Leon.”

“Sayang, apa yang sedang kamu kerjakan? Kenapa kamu kelihatan sangat sibuk sekali?” tanya Marina sambil berjalan menghampirinya.

Dengan gerakan cepat, Daniel melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam laci meja kerjanya.

“Tidak ada yang penting. Hanya urusan biasa saja,” jawabnya sambil tersenyum tipis.

"Benarkah?" tanya Marina dengan tatapan curiga. 

Daniel tersenyum tipis. "Hanya kamu yang penting bagiku. Tidak ada yang mengalahkanmu, Sayang."

Marina tersenyum, lalu duduk di pangkuan Daniel. Tatapannya mengarah pada laci meja yang baru saja ditutup suaminya.

“Apa yang kamu sembunyikan dariku?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.

Seketika Daniel terdiam.

“Kenapa? Kamu tidak menyangka aku bisa mengetahuinya?” lanjut Marina, nadanya berubah lebih tajam.

Daniel menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka kembali laci tersebut, dan mengeluarkan selembar kertas yang tadi disembunyikannya.

"Aku tidak berniat untuk menyembunyikan apapun darimu, Sayang. Hanya saja aku ingin menanganinya sendiri untuk saat ini. Aku tidak mau masalah ini membuatmu terbebani," tutur Daniel sembari menyerahkan ponselnya.

Dahi Marina mengerut. Detik berikutnya, sepasang matanya membelalak melihat adegan dalam video yang menampilkan putrinya sedang berpelukan dan berciuman di wilayah sekolah dengan putra suami keduanya.

"A-apa yang mereka lakukan di area sekolah?" tanyanya dengan suara bergetar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

“Dan ini …” Marina menunjuk layar, alisnya seketika berkerut. “Kenapa mobilnya bergoyang-goyang seperti itu?”

"Tidak ada yang tahu, Ma. Yang tahu hanya mereka berdua," jawab Daniel dengan lembut.

Marina meletakkan ponsel itu di atas meja. Napasnya masih belum stabil.

“Rencana apa yang akan kamu jalankan?” tanyanya menyelidik.

Daniel menatapnya beberapa saat. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

"Mana bisa aku baik-baik saja setelah melihat kedua anakku seperti ini," jawabnya sambil tersenyum tipis. Sorot matanya memperlihatkan kekecewaan yang sangat besar.

Daniel meraih tubuh Marina yang masih duduk di pangkuannya, lalu memeluknya lebih erat.

"Tenanglah, Sayang. Aku akan menangani semuanya. Kita tidak akan terpisah, apa pun yang terjadi," ucapnya pelan sambil mengusap lembut punggung istrinya.

Marina diam. Ia tidak menjawab, dan hanya membiarkan dirinya berada dalam pelukan suaminya.

Perlahan, matanya mulai terasa panas. Air mata itu jatuh begitu saja, tanpa benar-benar ia sadari. Aneh rasanya. Ia tidak sedang sedih. Tapi dadanya terasa penuh.

________________

Suara seseorang memanggil nama Manda terdengar menggema di ruang IGD.

Seorang pria berlari masuk dengan napas memburu, wajahnya dipenuhi kecemasan.

Semua pasang mata yang ada di dalam ruangan tersebut mengarah padanya. Pria itu menatap ke sekeliling ruangan, seolah sedang mencari seseorang.

"Bisa tunjukkan di mana pasien yang bernama Manda berada?" tanyanya pada seorang perawat yang ada di ruangan tersebut.

 "Manda?" tanya perawat wanita itu untuk memastikan pendengarannya. 

Glen mengangguk. Napasnya belum stabil, dadanya bergerak naik turun dengan cepat, seiring napasnya yang memburu.

Perawat itu terdiam sejenak, lalu menatapnya lebih teliti. "Apakah Anda Tuan Leon?" tanyanya kemudian.

Glen kembali mengangguk, tapi kali ini dengan senyum yang tampak dipaksakan.

Sejenak perawat itu tampak ragu, seolah sedang memastikan sesuatu. Beberapa detik kemudian, akhirnya ia mengangguk.

"Kami sudah mendapat instruksi sebelumnya," ujar perawat itu singkat.

"Mari, silahkan ikut saya," ujarnya sambil menunjukkan arah jalan menuju ranjang pasien tersebut.

Glen bergegas mengikuti perawat yang berjalan terlebih dahulu di depannya. Setelah beberapa langkah, perawat itu menghentikan langkahnya tepat di depan ranjang pasien yang dikelilingi tirai putih.

Sang perawat membuka sedikit tirai pembatas itu. "Silahkan. Pasien bisa pulang setelah cairan infusnya habis," tuturnya sambil tersenyum ramah.

Setelah perawat tersebut meninggalkan mereka, tanpa menunggu lama Glen pun menyibak tirai putih itu, dan masuk ke dalamnya.

"Bagaimana keadaanmu? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu berada di sini dan diinfus seperti ini?" 

Ocehan Glen membangunkan pasien yang berada di ranjang itu. Sepasang matanya perlahan terbuka. Detik berikutnya, sepasang mata itu membelalak. 

"Kamu siapa? Kenapa ada di sini?" tanyanya seketika.

Glen pun terhenyak. Ekspresi kagetnya sama seperti wanita yang masih terbaring di ranjang tersebut. 

"Ka-kamu siapa? Di mana Manda? Kenapa kamu yang ada di sini?" tanyanya bertubi-tubi.

Dahi pasien wanita itu mengerut. "Manda? Manda siapa? Aku yang ada di sini sejak tadi."

Seketika ekspresi Glen berubah. Rahangnya mengeras. Tanpa berkata-kata, ia pun berjalan cepat mencari perawat yang mengantarkannya tadi. 

"Kenapa yang terbaring di sana bukan Manda?" bentaknya sembari menunjuk ke arah ranjang pasien tadi.

Sang perawat mengerutkan dahinya. "Saya tidak mengatakan jika pasien yang ada di sana bernama Manda. Saya hanya mengikuti perintah dari Tuan Leon," tuturnya membela diri.

"Leon? Apa maksudnya?" tanya Glen dengan emosi yang membuncah.

"Tadi, ketika saya mengabarkan keinginan pasien untuk meminta Tuan Leon menjemputnya, kami menghubungi Tuan Leon dan mengabarkan padanya. Tapi Tuan Leon mengatakan jika dia sedang sibuk, dan akan ada seorang pria yang menggantikannya untuk menjemput pasien. Pria itu pasti nantinya akan menyebut nama Manda ketika berada di sini," tegas perawat tersebut tanpa bersikap ramah kembali seperti sebelumnya.

Tangan Glen mengepal kuat. Glen berbalik dan melangkah cepat ke arah pintu, langkahnya berat dan kasar. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya, seolah ingin menghentikannya.

"Maaf, Tuan. Anda harus membawa pasien pulang. Kebetulan cairan infusnya sudah habis," ujar sang perawat dengan tegas.

Napas Glen terdengar kasar. Sorot matanya memperlihatkan kemarahannya.

"Kenapa harus aku?! Aku tidak kenal dia!" 

Sang perawat menghela napas. "Bagaimanapun Anda yang diberitahukan oleh Tuan Leon untuk menjemput pulang pasien. Jadi, pasien sekarang adalah tanggung jawab Anda, Tuan," tegasnya tanpa melepaskan tangan Glen.

Dengan terpaksa Glen mengikuti perawat itu untuk kembali menemui pasien wanita tadi. 

"Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusmu!" ujarnya dengan ketus.

Pasien wanita tersebut menatap tajam pada pria yang berdiri di hadapannya dengan memasang wajah dingin yang dihiasi amarah.

"Sebenarnya kamu siapa? Mengapa kamu seenaknya saja memerintahku?!" tanyanya balik dengan ketus.

"Tidak usah banyak tanya! Aku di sini karena terpaksa! Tanyakan saja pada Leon!" jawab Glen dengan tegas. Sorot matanya memperlihatkan amarahnya yang dipendamnya sejak tadi.

Seketika pasien wanita itu membelalak. "Leon?!"

Glen menoleh ke arahnya. "Ya! Kamu kenal dia?" tanyanya ketus. Sepasang matanya menangkap barisan huruf yang merupakan nama dari pasien tersebut.

"Cindy," ucapnya seraya tersenyum miring.

"Kenapa kamu ada di sini menggantikannya? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya balik Cindy.

Glen mengerutkan dahinya dan menatap wanita itu dengan tatapan curiga. Sayangnya ia tidak mendapatkan jawaban apa pun dari wanita yang menatap ketus padanya.

Tanpa membuang waktu, ia langsung berbalik menuju pintu. Namun, lagi-lagi Glen dihentikan oleh seorang perawat yang menyuruhnya untuk membayar biaya perawatan dan obat-obatan milik Cindy. 

"Lihat saja, Leon! Aku akan membalasmu!" gumamnya sembari mengepalkan kedua tangannya.

Di dalam mobil, Glen tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang perjalanan. Beberapa saat kemudian, ia membuka suara.

"Ceritakan dengan jelas padaku tanpa ada yang ditutup-tutupi tentang kamu dan Leon!"

Cindy memilih diam sejenak, beberapa saat kemudian ia mulai berbicara.

"Lalu, kenapa Leon harus datang menjemputmu dan harus menanggung biaya rumah sakitmu?" tanya Glen kembali.

Akhirnya Cindy menceritakan kejadian malam itu, di mana dia ditemukan sedang pingsan oleh Leon, dan dibawa ke rumah sakit tersebut. Tidak hanya itu saja, Leon membayar biaya perawatannya, sehingga nama Leon tertera sebagai wali dari Cindy.

Glen terkekeh pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Leon tidak berubah," gumamnya mengingat predikat playboy yang melabeli Leon sejak dulu.

_________________

Di rumah keluarga Moreno, Manda duduk di tepi kolam bersama dengan Leon, kakinya menyentuh air, sementara tawa kecil lolos dari bibirnya. Obrolan mereka mengalir ringan, membuat Manda tanpa sadar terus tersenyum. Kali ini tidak ada sindiran yang biasanya selalu muncul di antara mereka. Bahkan tawa Manda terdengar lebih lepas dari biasanya.

Tanpa kehadiran Daniel dan Marina, suasana terasa jauh lebih bebas bagi Manda dan juga Leon, pewaris keluarga Moreno.

"Wow! Pemandangan yang sangat indah sekali."

Tiba-tiba saja terdengar suara seorang laki-laki yang diawali dengan deheman. Seketika Manda dan Leon langsung menoleh ke arah sumber suara.

"Ck! Kamu, Glen! Ada urusan apa kamu datang ke sini? Mengganggu saja." Sambutan Leon jauh dari kata hangat. Detik itu juga tatapan Leon berubah tajam saat melihat Glen.

"Aku hanya ingin meminta ganti rugi atas waktu, tenaga dan juga uang yang aku keluarkan tadi untuk menggantikanmu menjemput wanita yang bernama Cindy di rumah sakit," tutur Glen dengan santai sambil tersenyum miring.

"Cindy? Cindy siapa? Rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi, Leon? Katakan padaku!"

Seketika Manda menarik pundak Leon, nada bicaranya pun meninggi tanpa ia sadari. Dadanya terasa sesak begitu mendengar nama wanita lain disebut di hadapan Leon.

"Dia adalah wanita yang bersamaku di rumah sakit waktu itu," jawab Leon sambil menggenggam kedua tangan Manda, berusaha menenangkannya.

Manda menatap curiga padanya. "Lalu, apa hubungannya dengan ini semua?" tanyanya seolah sedang menghakimi. 

"Kata mereka, kamu adalah wali Cindy pada saat dia periksa di dokter kandungan. Benarkah itu, Leon?" sahut Glen dengan sangat antusias.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 133 Malam Panas

    Alvaro menelan ludahnya. Jakunnya naik turun melihat bentuk tubuh Manda yang begitu indah hingga membangkitkan sesuatu miliknya yang ada di bawah sana."Ke-kenapa kamu lepas pakaianmu, Sayang?" Seketika Manda menatap ke arahnya. "Leon." Suaranya sangat sensual. Ia melihat sosok Leon pada pemuda yang ada di hadapannya. Bibirnya melengkung ke atas mendengar suara Leon memanggilnya dengan sebutan "Sayang", panggilan yang selama ini diberikan oleh Leon padanya.Dahi Alvaro mengernyit. "Apa?!" Ia menghampiri Manda. "Kamu panggil aku apa tadi?!" Suaranya meninggi.Tiba-tiba tubuh Alvaro berada di bawah Manda. Sepasang mata Alvaro membelalak."Aku merasakan punyamu sudah mengeras," ucap Manda sambil terkekeh. Pipinya bersemu merah.Alvaro terbaring tidak berdaya. Pandangan matanya tertuju pada kedua gundukan besar milik Manda yang terpampang jelas di hadapannya."Kenapa kamu jahat sekali padaku, Leon," rengeknya. "Kenapa kamu lebih memilih Vania untuk menikah denganmu?" Tubuh Manda bergera

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 132 Skandal Dalam Motel

    Seorang waiter ditemani seorang pria berbadan kekar dengan wajah sangar menghampiri mereka.Alvaro berhenti setelah mereka berteriak memanggilnya. "Sial!" umpatnya. "Mereka membuatku malu.""Oh?!" Manda kaget melihat dua pria yang berdiri di hadapannya. "Kalian." Ia terkekeh sambil menunjuk pada mereka berdua. "Mau ikut aku ronde ke dua? Kita minum di sana!" Jarinya menunjuk ke sembarang arah."Diamlah!" Suara Alvaro lirih, tapi tegas membentak Manda yang sedang digendongnya."Bayar dulu, baru pergi," ujar waiter kesal. Ia memperlihatkan sebuah kertas yang bertuliskan tagihan meja mereka.Alvaro melihat jumlah total tagihan yang ada di bagian bawah. Sepasang matanya membelalak kaget."Cepat bayar!" gertak pria botak yang menjadi keamanan klub malam tersebut. Manda berjingkat kaget. Ia kembali terkekeh menertawakan pria berwajah bengis itu. Alvaro menurunkan Manda dari gendongannya. "Diam di sini," perintahnya. "Jangan pergi ke mana-mana." "Cepat!" bentak pria itu ketika melihat Al

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 131

    "Kenapa?" tanya pemuda yang mengajak mereka. "Kalian takut?" Ia tersenyum miring seolah mengejek semua temannya, termasuk Manda.Manda beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya seru juga." Pandangan matanya tertuju pada sebuah bangunan yang ditunjuk oleh pemuda itu.Alvaro ikut berdiri. Ia memegang tangan Manda. "Apa kamu gak takut jika masuk ke dalam sana?" tanyanya ragu-ragu.Seketika semua pasang mata yang ada di sekitar mereka tertuju pada Manda. "Takut?" Dahi Manda mengernyit. "Kenapa takut?" Ia terkekeh. "Apa di dalam sana banyak hantunya?" tanyanya sambil terkekeh. "Atau mungkin ... ada binatang buasnya?"Tawa mereka semua mengiringi kekehan Manda. Alvaro menatap kesal padanya. "Banyak buaya darat di dalam sana!" sahutnya sinis.Satu per satu dari mereka berdiri, dan menyatakan setuju untuk masuk ke tempat tersebut."Tunggu!" Alvaro menghentikan mereka. "Kalian semua sudah dewasa, kan?" tanyanya serius. "Sudah punya kartu identitas, kan?" Ia menatap satu per satu dari temanny

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 130

    "Cepat antar saya sekarang juga!" perintah Manda pada seorang sopir yang sedang mengelap mobil di halaman rumah keluarga Moreno.Sopir itu terhenyak, hingga melongo melihat Manda yang sedang membuka pintu mobil bagian belakang dan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Ia tersadar setelah mendengar suara pintu yang ditutup lumayan keras. Detik itu juga masuk ke dalam mobil, dan bersiap mengemudi. "Kita akan ke mana, Nona?" tanyanya sembari menyalakan mesin mobil."Jalan saja dulu." Manda meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam, mencoba menenangkan diri. 'Aku baik-baik saja. Aku bisa melewati semua ini. Kebahagiaanku yang utama,' batinnya mengulang mantra yang pernah diberikan dokter psikiater padanya.Mobil berjalan keluar dari area rumah besar itu. Terlihat dari kaca spion mobil, Lily berlari sambil menangis mengejarnya. Di sampingnya ada Leon yang sedari tadi mengejarnya seraya memanggil namanya. Air mata Manda menetes melihat Leon yang terlihat bingung antar

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 129

    Lily mendongak, menatap wajah Manda yang baru saja bergumam. "Siapa yang akan menikah?" tanyanya dengan menampakkan wajah bingung. Seketika semua orang yang ada di dalam ruang makan menoleh ke arah sumber suara. Di luar ruang makan, tepatnya di dekat pintu, Manda berdiri sambil menggendong Lily. Ia bersembunyi di tembok dekat pintu ruangan. "Lily?!" Leon memanggil adiknya yang tidak terlihat di sana. "Kamu kah itu?" tanyanya. Manda menghela napas. Ia tersenyum tipis menatap gadis kecil yang digendongnya sedang menatap dirinya. "Lily mau turun, Kak," ucapnya. Saat itu juga Manda menurunkannya. Gadis kecil itu menggandeng tangannya. "Katanya mau makan, Kak?" tanyanya dengan wajah polos. Manda kembali menghela napas berat. Detik kemudian ia memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan. Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari persembunyian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang makan. "Kalian--" "Lily baru saja bangun. Dia merengek lapar. Kebetulan aku juga sangat

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 128

    Sepasang mata Manda terbuka. Reflek ia melihat ke arah sumber suara. Matanya seketika membelalak. "Mama?!" lirihnya.Detik berikutnya, Leon membuka kedua matanya. "Kenapa berisik sekali?" Suaranya tegas menegur si pemilik suara yang mengganggu istirahatnya."Apa yang sedang kalian lakukan?!" Marina mengulang kembali pertanyaannya. Ada kegugupan yang terdengar dari suara tegasnya.Dahi Manda mengernyit. "Apa maksud Mama?" tanyanya sembari merapikan rambutnya."Berhenti membuat keributan. Kita butuh ketenangan." Leon kembali menegaskan kekesalannya. Kedua matanya kembali terpejam.Tatapan kemarahan Marina yang tertuju pada putrinya, kini beralih pada putra tirinya. "Leon!" panggilnya dengan tegas. "Bukankah Daniel memerintahmu untuk menemuinya?!" Tidak ada reaksi dari Leon. Sang ahli waris keluarga tersebut terlihat kembali terlelap dalam tidurnya. "Cepatlah bangun, Leon!" bentak wanita paruh baya itu kembali. "Jangan membuat Daniel marah padamu!" Manda menatap saudara tirinya yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status