แชร์

Bab 14

ผู้เขียน: XENA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 08:10:02
Samar-samar indra pendengar Leon menangkap suara seorang wanita. Semakin lama suara itu terdengar semakin jelas. 

"Manda ... Sayang ... Mama akan masuk ke kamar ini. Cepat bangun. Aku akan kembali ke kamarku sekarang juga," bisik Leon di telinga Manda.

Tanpa menunggu reaksi dari adik tirinya, Leon bergegas turun dari ranjang dan berjalan cepat menuju balkon kamar. Setelah dipastikan tidak ada yang melihat, pemuda itu meloncat ke balkon kamarnya yang bersebelahan dengan kamar tersebut.

"Manda!"

"Cepat buka pintunya, Manda!"

Suara Marina melengking meneriakkan nama putrinya sambil mengetuk pintu kamarnya. Ketukan pintu itu semakin keras dan tidak berjeda. 

"Kenapa ribut sekali?" tanya Manda setelah membuka pintunya sambil menguap.

Seketika bibir Marina yang terbuka lebar seolah menelan kembali kata-kata yang akan diucapkannya. Detik kemudian ia bersuara, "Kenapa pintunya dikunci? Bukankah Mama melarang kamu untuk--"

"Mama lupa jika pemilik kamar di sebelahku laki-laki?" sahut Manda sembari berjalan menuju ranjangnya.

"Maksud kamu Leon?" tanya Marina yang berjalan mengikuti putrinya,

"Apa ada orang lain yang menghuni kamar di sebelahku?" 

Pertanyaan yang keluar dari bibir Manda sukses membuat wanita paruh baya itu tercengang. "Apa dia ... mengganggumu?" tanyanya dengan sangat hati-hati.

Dahi Manda mengernyit. "Menggangguku?"

"Apa mungkin dia pernah berusaha masuk ke dalam kamarmu ...."

Manda dapat melihat dengan jelas keragu-raguan pada wajah mamanya. "Mama pikir seorang Leon yang merasa dirinya sangat sempurna itu bisa tertarik padaku?" tanyanya sambil tersenyum miring.

"Kenapa tidak? Kamu cantik, pintar dan juga--"

"Putri dari ibu tirinya yang berasal dari pinggiran kota." 

Marina meraih lengan putrinya dan menariknya hingga Manda meringis kesakitan. "Apa maksud ucapanmu, Manda?" tanyanya menyelidik.

"Lepaskan tanganku, Ma! Kamu menyakitiku!" ujar Manda sambil menghempaskan tangan wanita paruh baya itu.

"Maaf. Maafkan Mama, Sayang. Mama hanya ingin tahu--" ucapan Marina menggantung di udara. "Kenapa kakimu? Apa terjadi sesuatu dengan kakimu?" tanyanya kembali setelah melihat cara berjalan Manda yang tidak seperti biasanya.

Manda duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur ke arah nakas mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di sana. "Hanya terkilir. Sekarang sudah mendingan," jawabnya sambil memeriksa ponselnya.

Marina duduk di sebelahnya. Ia memperhatikan kaki putrinya dengan seksama. "Apa kamu yakin bisa pergi ke sekolah dengan keadaan seperti itu?" tanyanya dengan tatapan penuh keraguan.

Tanpa sadar bibir Manda melengkung ke atas. Ia membaca sebuah pesan yang baru saja dikirimkan oleh Leon.

'Apa kamu sudah bangun? Bagaimana keadaan kakimu?'

Dengan lincah jemari lentiknya membalas pesan tersebut. Telinganya seolah tuli, tidak mendengarkan sang ibu yang bertanya padanya.

'Aku sudah bangun sejak kamu beranjak meninggalkanku. Kakiku sudah lebih baik daripada semalam.'

"Manda!" Suara Marina membuat Manda terhenyak. 

"Ada apa sih, Ma? Kenapa Mama pagi-pagi sudah membuat keributan di kamarku?" sentak Manda, kesal.

Marina menghela napas. Ia mencoba mengatur emosinya. "Lebih baik hari ini kamu di rumah saja hingga kakimu--"

"Aku harus mandi sekarang," sahut Manda dengan tegas setelah membaca pesan dari Leon yang mengatakan sedang menunggunya di dalam mobil untuk berangkat bersama.

"Tapi, Manda!" Wanita paruh baya itu kembali menghela napas melihat putrinya telah masuk ke dalam kamar mandi.

Dari dalam kamar mandi, Manda dapat mendengar suara pintu yang ditutup di antara suara gemericik air. "Mama gak perlu tahu banyak hal tentangku sekarang," gumamnya sambil menikmati guyuran air shower dari atas kepalanya.

________

Leon terkesiap mendengar suara pintu mobil yang dinaikinya terbuka. Senyuman manis pun seketika menghiasi wajah tampannya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya setelah Manda duduk di sampingnya.

"Seperti yang kamu lihat. Kakiku merasa lebih baik karena ada dokter pribadi yang merawatku," jawabnya sambil tersenyum.

Leon terkekeh mendengarnya. Suasana di dalam mobil pun terasa lebih menyenangkan dibanding hari-hari sebelumnya. Tawa canda mereka diiringi lagu favorit mereka berdua.

"Leon, buka mulutmu," perintah Manda seraya menyodorkan sepotong sandwich di depan bibir kakak tirinya.

Sepasang mata Leon menatap sekilas pada makanan tersebut. "Kamu membawanya?" tanyanya kemudian. Pandangan matanya kembali fokus pada jalanan yang ada di hadapannya.

Manda mengangguk. "Aku gak sempat sarapan tadi," jawabnya sembari menyuapi Leon yang sedang mengemudi.

"Kenapa?" tanya pemuda itu setelah menelan makanannya.

"Aku takut kamu marah jika menungguku terlalu lama," jawab Manda tanpa berpikir panjang.

Dahi Leon mengernyit. "Aku marah? Kenapa aku harus marah?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.

"Sepertinya kamu mendadak amnesia. Apa kamu lupa bagaimana seorang Leon memperlakukan adik tirinya? Kamu sangat--"

"Cepat suapi aku!" sahut Leon memerintah adik tirinya.

Manda mengulum senyumnya. Ia bergantian menyuapi Leon dan dirinya sendiri. Hari ini benar-benar membuat suasana hatinya membaik.

Beberapa potong sandwich telah tandas mereka makan. Saat itu pula mobil yang dikendarai oleh Leon berhenti di parkiran khusus yang hanya ditempati oleh mobilnya.

Manda meletakkan box kosong tempat makanannya di kursi belakang. "Aku pulang seperti biasa, Leon. Jika kamu pulang terlebih dahulu--"

"Apa kamu bisa berjalan?" tanya Leon, memotong ucapan adik tirinya.

Manda terperangah setelah melepaskan sabuk pengamannya. "Tentu saja bisa. Bukankah tadi aku berjalan sendiri untuk masuk ke dalam mobilmu?" tanyanya dengan menatap heran pada Leon.

Pandangan mata Leon masih tertuju pada sesuatu di luar sana. Manda mengikuti arah pandang kakak tirinya. Seketika dahinya mengernyit melihat sosok perempuan yang tidak asing baginya.

"Keluarlah," perintah Leon setelah membukakan pintu mobil untuknya.

Setelah Manda keluar dari mobil dan menutup pintunya, detik itu juga ia terhenyak. Sesuatu telah mengejutkannya.

"Apa yang kamu lakukan?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 133 Malam Panas

    Alvaro menelan ludahnya. Jakunnya naik turun melihat bentuk tubuh Manda yang begitu indah hingga membangkitkan sesuatu miliknya yang ada di bawah sana."Ke-kenapa kamu lepas pakaianmu, Sayang?" Seketika Manda menatap ke arahnya. "Leon." Suaranya sangat sensual. Ia melihat sosok Leon pada pemuda yang ada di hadapannya. Bibirnya melengkung ke atas mendengar suara Leon memanggilnya dengan sebutan "Sayang", panggilan yang selama ini diberikan oleh Leon padanya.Dahi Alvaro mengernyit. "Apa?!" Ia menghampiri Manda. "Kamu panggil aku apa tadi?!" Suaranya meninggi.Tiba-tiba tubuh Alvaro berada di bawah Manda. Sepasang mata Alvaro membelalak."Aku merasakan punyamu sudah mengeras," ucap Manda sambil terkekeh. Pipinya bersemu merah.Alvaro terbaring tidak berdaya. Pandangan matanya tertuju pada kedua gundukan besar milik Manda yang terpampang jelas di hadapannya."Kenapa kamu jahat sekali padaku, Leon," rengeknya. "Kenapa kamu lebih memilih Vania untuk menikah denganmu?" Tubuh Manda bergera

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 132 Skandal Dalam Motel

    Seorang waiter ditemani seorang pria berbadan kekar dengan wajah sangar menghampiri mereka.Alvaro berhenti setelah mereka berteriak memanggilnya. "Sial!" umpatnya. "Mereka membuatku malu.""Oh?!" Manda kaget melihat dua pria yang berdiri di hadapannya. "Kalian." Ia terkekeh sambil menunjuk pada mereka berdua. "Mau ikut aku ronde ke dua? Kita minum di sana!" Jarinya menunjuk ke sembarang arah."Diamlah!" Suara Alvaro lirih, tapi tegas membentak Manda yang sedang digendongnya."Bayar dulu, baru pergi," ujar waiter kesal. Ia memperlihatkan sebuah kertas yang bertuliskan tagihan meja mereka.Alvaro melihat jumlah total tagihan yang ada di bagian bawah. Sepasang matanya membelalak kaget."Cepat bayar!" gertak pria botak yang menjadi keamanan klub malam tersebut. Manda berjingkat kaget. Ia kembali terkekeh menertawakan pria berwajah bengis itu. Alvaro menurunkan Manda dari gendongannya. "Diam di sini," perintahnya. "Jangan pergi ke mana-mana." "Cepat!" bentak pria itu ketika melihat Al

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 131

    "Kenapa?" tanya pemuda yang mengajak mereka. "Kalian takut?" Ia tersenyum miring seolah mengejek semua temannya, termasuk Manda.Manda beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya seru juga." Pandangan matanya tertuju pada sebuah bangunan yang ditunjuk oleh pemuda itu.Alvaro ikut berdiri. Ia memegang tangan Manda. "Apa kamu gak takut jika masuk ke dalam sana?" tanyanya ragu-ragu.Seketika semua pasang mata yang ada di sekitar mereka tertuju pada Manda. "Takut?" Dahi Manda mengernyit. "Kenapa takut?" Ia terkekeh. "Apa di dalam sana banyak hantunya?" tanyanya sambil terkekeh. "Atau mungkin ... ada binatang buasnya?"Tawa mereka semua mengiringi kekehan Manda. Alvaro menatap kesal padanya. "Banyak buaya darat di dalam sana!" sahutnya sinis.Satu per satu dari mereka berdiri, dan menyatakan setuju untuk masuk ke tempat tersebut."Tunggu!" Alvaro menghentikan mereka. "Kalian semua sudah dewasa, kan?" tanyanya serius. "Sudah punya kartu identitas, kan?" Ia menatap satu per satu dari temanny

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 130

    "Cepat antar saya sekarang juga!" perintah Manda pada seorang sopir yang sedang mengelap mobil di halaman rumah keluarga Moreno.Sopir itu terhenyak, hingga melongo melihat Manda yang sedang membuka pintu mobil bagian belakang dan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Ia tersadar setelah mendengar suara pintu yang ditutup lumayan keras. Detik itu juga masuk ke dalam mobil, dan bersiap mengemudi. "Kita akan ke mana, Nona?" tanyanya sembari menyalakan mesin mobil."Jalan saja dulu." Manda meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam, mencoba menenangkan diri. 'Aku baik-baik saja. Aku bisa melewati semua ini. Kebahagiaanku yang utama,' batinnya mengulang mantra yang pernah diberikan dokter psikiater padanya.Mobil berjalan keluar dari area rumah besar itu. Terlihat dari kaca spion mobil, Lily berlari sambil menangis mengejarnya. Di sampingnya ada Leon yang sedari tadi mengejarnya seraya memanggil namanya. Air mata Manda menetes melihat Leon yang terlihat bingung antar

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 129

    Lily mendongak, menatap wajah Manda yang baru saja bergumam. "Siapa yang akan menikah?" tanyanya dengan menampakkan wajah bingung. Seketika semua orang yang ada di dalam ruang makan menoleh ke arah sumber suara. Di luar ruang makan, tepatnya di dekat pintu, Manda berdiri sambil menggendong Lily. Ia bersembunyi di tembok dekat pintu ruangan. "Lily?!" Leon memanggil adiknya yang tidak terlihat di sana. "Kamu kah itu?" tanyanya. Manda menghela napas. Ia tersenyum tipis menatap gadis kecil yang digendongnya sedang menatap dirinya. "Lily mau turun, Kak," ucapnya. Saat itu juga Manda menurunkannya. Gadis kecil itu menggandeng tangannya. "Katanya mau makan, Kak?" tanyanya dengan wajah polos. Manda kembali menghela napas berat. Detik kemudian ia memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan. Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari persembunyian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang makan. "Kalian--" "Lily baru saja bangun. Dia merengek lapar. Kebetulan aku juga sangat

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 128

    Sepasang mata Manda terbuka. Reflek ia melihat ke arah sumber suara. Matanya seketika membelalak. "Mama?!" lirihnya.Detik berikutnya, Leon membuka kedua matanya. "Kenapa berisik sekali?" Suaranya tegas menegur si pemilik suara yang mengganggu istirahatnya."Apa yang sedang kalian lakukan?!" Marina mengulang kembali pertanyaannya. Ada kegugupan yang terdengar dari suara tegasnya.Dahi Manda mengernyit. "Apa maksud Mama?" tanyanya sembari merapikan rambutnya."Berhenti membuat keributan. Kita butuh ketenangan." Leon kembali menegaskan kekesalannya. Kedua matanya kembali terpejam.Tatapan kemarahan Marina yang tertuju pada putrinya, kini beralih pada putra tirinya. "Leon!" panggilnya dengan tegas. "Bukankah Daniel memerintahmu untuk menemuinya?!" Tidak ada reaksi dari Leon. Sang ahli waris keluarga tersebut terlihat kembali terlelap dalam tidurnya. "Cepatlah bangun, Leon!" bentak wanita paruh baya itu kembali. "Jangan membuat Daniel marah padamu!" Manda menatap saudara tirinya yang t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status