แชร์

Bab 13

ผู้เขียน: XENA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 08:09:05
Seketika tawa Leon dan Manda musnah. Sepasang saudara tiri itu saling menatap. Dengan gerakan cepat, Leon menarik tangan Manda untuk bersembunyi di balik pepohonan yang ada di area tersebut.

"Leon!"

"Manda!"

"Ke mana mereka?" tanya Marina sembari mengedarkan pandangan ke sekitarnya. "Kenapa sepi sekali?" tanyanya kembali.

"Mengapa kamu meributkan hal kecil seperti ini, Sayang? Mungkin saja Leon dan Manda sudah berada di kamar mereka masing-masing," sahut Daniel yang berdiri di sampingnya. Tangannya bertengger pada pundak sang istri.

Dari tempatnya bersembunyi, Manda dan Leon bisa melihat interaksi orang tua mereka. Bahkan suara pasangan suami istri paruh baya itu pun terdengar samar, tapi jelas ditangkap oleh telinga mereka.

Marina menoleh ke arah suaminya. Tatapan matanya seolah mengatakan sesuatu. "Kamar? Apa mereka--"

"Jangan berpikir terlalu jauh. Aku percaya penuh pada Leon," sahut Daniel tanpa ragu.

'Tapi--"

"Sudahlah, Sayang. Lebih baik kita juga beristirahat di kamar sekarang." Tatapan Daniel seolah tidak ingin dibantah. 

Marina menghela napas. Dari tempatnya bersembunyi, Manda bisa membaca ekspresi mamanya saat ini. "Pasti Mama gak percaya sama kita," bisiknya di telinga Leon.

"Bagaimanapun Mama pernah muda, Sayang. Jangan lupakan itu," balas Leon berbisik di telinga adik tirinya.

Setelah Marina dan Daniel pergi ke lantai atas, Leon dan Manda bergegas keluar dari tempat persembunyian mereka. 

"Bagaimana sekarang? Kemungkinan besar, Mama pasti mencariku di kamar," ujar Manda.

Leon tersenyum setelah beberapa detik menatapnya. "Anehnya kamu gak mengkhawatirkan itu," tukasnya sembari meletakkan kedua tangannya pada pipi Manda.

"Kamu benar." Manda terkekeh pelan. Tidak ada beban yang dirasanya saat ini. Ia merasa bahagia berada di dekat Leon lebih dari sekedar hubungan saudara tiri.

"Sekarang kita harus cepat masuk ke dalam kamar. Jangan sampai mereka menangkap kita bersama di sini." Leon menarik tangan Manda.

Namun, lantai yang dipijak oleh Manda dalam keadaan basah dan sedikit licin, sehingga detik itu juga kakinya terpeleset dan tangannya terlepas dari gandengan Leon.

Bruukk ...!

"Aaawww!"

Sepasang mata Leon membelalak. Tanpa menunggu lama, ia menggendong tubuh sang adik tiri dan membawanya pergi dari tempat itu.

"Apa sangat sakit sekali, Sayang?" tanya Leon dengan guratan kecemasan yang terlihat di wajahnya.

Manda merintih menahan sakit. Ia menggigit bibir bawahnya. Sebisa mungkin ia bertahan untuk tidak mengeluarkan suara dari bibirnya.

Leon tersenyum melihat ekspresi wajah sang adik tiri yang sedang ada dalam gendongannya. "Jangan memancingku, Manda," lirihnya sambil menahan senyum.

Seketika Manda membuka bibirnya. "Memancingmu?" Wajah bingungnya membuat Leon terkekeh.

"Lebih tepatnya bibirmu yang melakukannya," bisik Leon sambil berjalan.

Detik itu juga wajah Manda memerah. Dadanya berdegup kencang tak beraturan. 'Aku gak keberatan terpeleset berkali-kali asalkan Leon yang menolong dan menggendongku,' batinnya sambil tersenyum malu.

Tanpa sadar ia sudah berada di atas ranjang. Leon meletakkan tubuhnya dengan penuh kehati-hatian. Ekspresi malu-malunya menenggelamkan ekspresi sakitnya. Bagaimana tidak, ia diperlakukan bak seorang putri oleh Leon, kakak tirinya yang telah mencuri hatinya.

"Apa masih sakit?" tanya Leon sambil mengoleskan salep pada pergelangan kaki adik tirinya.

Manda mengangguk tanpa menjawab dengan kata-kata. Ia meringis menahan rasa sakitnya. Bibinya mengatup rapat, tidak ingin memperlihatkan sakit yang dirasanya.

"Tahan sedikit," ujar Leon dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya.

'Aku rela terpleset jika hanya untuk digendong oleh Leon. Tapi, tidak untuk rasa sakitnya,' batinnya seraya mencengkeram sprei yang dipegangnya.

Setelah Leon dengan telaten mengusap pergelangan kaki Manda menggunakan salep dan memijitnya, pemuda itu meluruskan kaki adik tirinya dan menutupnya dengan selimut tebal berwarna lilac yang senada dengan sprei.

"Istirahatlah. Mudah-mudahan besok pagi kakimu sudah membaik dan kamu bisa beraktifitas seperti biasanya," tutur Leon sambil mengusap lembut pipi Manda. Senyuman manisnya membuat sang adik tiri terpaku untuk sesaat.

Leon terperanjat merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. "Ada apa?" tanyanya dengan lembut.

"Bisakah kamu berada di sini untuk menjagaku?" tanya Manda dengan tatapan penuh harap.

Bibir Leon melengkung ke atas. "Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?" tanyanya sambil terkekeh.

Manda melepaskan tangan Leon. Ia memalingkan wajahnya ke lain arah. "Pergi saja. Jangan hiraukan aku. Bagaimana jika aku ingin mengambil sesuatu? Bagaimana jika nanti aku akan pergi ke kamar mandi? Bagaimana jika--"

Seketika tubuh Manda berada dalam dekapan Leon. Pemuda tampan itu bergerak cepat membawa tubuh adik tirinya tidur dalam pelukannya.

"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Manda tanpa mencoba melepaskan diri.

Leon tersenyum tipis. "Bukankah ini yang kamu inginkan? Atau aku pergi saja?" Tanyanya balik tanpa mengurai pelukannya.

Detik itu juga kedua tangan Manda melingkar erat pada pinggang kakak tirinya. "Kamu tidak bisa menariknya lagi," ucapnya dengan tegas.

Sudut bibir Leon tertarik ke atas. Ia berusaha keras menahan tawanya. "Cepatlah tidur dan jangan bergerak-gerak, jika kamu gak ingin begadang karena telah membangunkannya," tegas Leon setelah merasakan kaki Manda yang terus bergerak mengenai sesuatu miliknya di bawah sana.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 133 Malam Panas

    Alvaro menelan ludahnya. Jakunnya naik turun melihat bentuk tubuh Manda yang begitu indah hingga membangkitkan sesuatu miliknya yang ada di bawah sana."Ke-kenapa kamu lepas pakaianmu, Sayang?" Seketika Manda menatap ke arahnya. "Leon." Suaranya sangat sensual. Ia melihat sosok Leon pada pemuda yang ada di hadapannya. Bibirnya melengkung ke atas mendengar suara Leon memanggilnya dengan sebutan "Sayang", panggilan yang selama ini diberikan oleh Leon padanya.Dahi Alvaro mengernyit. "Apa?!" Ia menghampiri Manda. "Kamu panggil aku apa tadi?!" Suaranya meninggi.Tiba-tiba tubuh Alvaro berada di bawah Manda. Sepasang mata Alvaro membelalak."Aku merasakan punyamu sudah mengeras," ucap Manda sambil terkekeh. Pipinya bersemu merah.Alvaro terbaring tidak berdaya. Pandangan matanya tertuju pada kedua gundukan besar milik Manda yang terpampang jelas di hadapannya."Kenapa kamu jahat sekali padaku, Leon," rengeknya. "Kenapa kamu lebih memilih Vania untuk menikah denganmu?" Tubuh Manda bergera

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 132 Skandal Dalam Motel

    Seorang waiter ditemani seorang pria berbadan kekar dengan wajah sangar menghampiri mereka.Alvaro berhenti setelah mereka berteriak memanggilnya. "Sial!" umpatnya. "Mereka membuatku malu.""Oh?!" Manda kaget melihat dua pria yang berdiri di hadapannya. "Kalian." Ia terkekeh sambil menunjuk pada mereka berdua. "Mau ikut aku ronde ke dua? Kita minum di sana!" Jarinya menunjuk ke sembarang arah."Diamlah!" Suara Alvaro lirih, tapi tegas membentak Manda yang sedang digendongnya."Bayar dulu, baru pergi," ujar waiter kesal. Ia memperlihatkan sebuah kertas yang bertuliskan tagihan meja mereka.Alvaro melihat jumlah total tagihan yang ada di bagian bawah. Sepasang matanya membelalak kaget."Cepat bayar!" gertak pria botak yang menjadi keamanan klub malam tersebut. Manda berjingkat kaget. Ia kembali terkekeh menertawakan pria berwajah bengis itu. Alvaro menurunkan Manda dari gendongannya. "Diam di sini," perintahnya. "Jangan pergi ke mana-mana." "Cepat!" bentak pria itu ketika melihat Al

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 131

    "Kenapa?" tanya pemuda yang mengajak mereka. "Kalian takut?" Ia tersenyum miring seolah mengejek semua temannya, termasuk Manda.Manda beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya seru juga." Pandangan matanya tertuju pada sebuah bangunan yang ditunjuk oleh pemuda itu.Alvaro ikut berdiri. Ia memegang tangan Manda. "Apa kamu gak takut jika masuk ke dalam sana?" tanyanya ragu-ragu.Seketika semua pasang mata yang ada di sekitar mereka tertuju pada Manda. "Takut?" Dahi Manda mengernyit. "Kenapa takut?" Ia terkekeh. "Apa di dalam sana banyak hantunya?" tanyanya sambil terkekeh. "Atau mungkin ... ada binatang buasnya?"Tawa mereka semua mengiringi kekehan Manda. Alvaro menatap kesal padanya. "Banyak buaya darat di dalam sana!" sahutnya sinis.Satu per satu dari mereka berdiri, dan menyatakan setuju untuk masuk ke tempat tersebut."Tunggu!" Alvaro menghentikan mereka. "Kalian semua sudah dewasa, kan?" tanyanya serius. "Sudah punya kartu identitas, kan?" Ia menatap satu per satu dari temanny

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 130

    "Cepat antar saya sekarang juga!" perintah Manda pada seorang sopir yang sedang mengelap mobil di halaman rumah keluarga Moreno.Sopir itu terhenyak, hingga melongo melihat Manda yang sedang membuka pintu mobil bagian belakang dan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Ia tersadar setelah mendengar suara pintu yang ditutup lumayan keras. Detik itu juga masuk ke dalam mobil, dan bersiap mengemudi. "Kita akan ke mana, Nona?" tanyanya sembari menyalakan mesin mobil."Jalan saja dulu." Manda meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam, mencoba menenangkan diri. 'Aku baik-baik saja. Aku bisa melewati semua ini. Kebahagiaanku yang utama,' batinnya mengulang mantra yang pernah diberikan dokter psikiater padanya.Mobil berjalan keluar dari area rumah besar itu. Terlihat dari kaca spion mobil, Lily berlari sambil menangis mengejarnya. Di sampingnya ada Leon yang sedari tadi mengejarnya seraya memanggil namanya. Air mata Manda menetes melihat Leon yang terlihat bingung antar

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 129

    Lily mendongak, menatap wajah Manda yang baru saja bergumam. "Siapa yang akan menikah?" tanyanya dengan menampakkan wajah bingung. Seketika semua orang yang ada di dalam ruang makan menoleh ke arah sumber suara. Di luar ruang makan, tepatnya di dekat pintu, Manda berdiri sambil menggendong Lily. Ia bersembunyi di tembok dekat pintu ruangan. "Lily?!" Leon memanggil adiknya yang tidak terlihat di sana. "Kamu kah itu?" tanyanya. Manda menghela napas. Ia tersenyum tipis menatap gadis kecil yang digendongnya sedang menatap dirinya. "Lily mau turun, Kak," ucapnya. Saat itu juga Manda menurunkannya. Gadis kecil itu menggandeng tangannya. "Katanya mau makan, Kak?" tanyanya dengan wajah polos. Manda kembali menghela napas berat. Detik kemudian ia memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan. Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari persembunyian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang makan. "Kalian--" "Lily baru saja bangun. Dia merengek lapar. Kebetulan aku juga sangat

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 128

    Sepasang mata Manda terbuka. Reflek ia melihat ke arah sumber suara. Matanya seketika membelalak. "Mama?!" lirihnya.Detik berikutnya, Leon membuka kedua matanya. "Kenapa berisik sekali?" Suaranya tegas menegur si pemilik suara yang mengganggu istirahatnya."Apa yang sedang kalian lakukan?!" Marina mengulang kembali pertanyaannya. Ada kegugupan yang terdengar dari suara tegasnya.Dahi Manda mengernyit. "Apa maksud Mama?" tanyanya sembari merapikan rambutnya."Berhenti membuat keributan. Kita butuh ketenangan." Leon kembali menegaskan kekesalannya. Kedua matanya kembali terpejam.Tatapan kemarahan Marina yang tertuju pada putrinya, kini beralih pada putra tirinya. "Leon!" panggilnya dengan tegas. "Bukankah Daniel memerintahmu untuk menemuinya?!" Tidak ada reaksi dari Leon. Sang ahli waris keluarga tersebut terlihat kembali terlelap dalam tidurnya. "Cepatlah bangun, Leon!" bentak wanita paruh baya itu kembali. "Jangan membuat Daniel marah padamu!" Manda menatap saudara tirinya yang t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status