Share

Bab 50

Author: XENA
last update publish date: 2026-07-19 11:47:50

Suasana di meja makan malam ini sedikit berbeda. Manda dan Leon terlihat saling menghindar. Bahkan duduk mereka ketika makan pun saling memunggungi.

Sebelumnya, Manda tidak mau menjelaskan apa pun tentang kepergiannya kala itu. Ia tetap membiarkan Leon menerka-nerka dengan pikirannya sendiri. Bukan karena ia tidak mau menjelaskan, tapi ia tidak ingin mendengar kembali kebodohannya ketika bersama dengan Galen malam itu.

Leon menjadi kesal padanya. Ia memberikan ancaman pada adik tirinya itu, j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 127

    Suasana pemakaman berjalan lancar. Tidak banyak yang hadir mengantar kepergian Gracia. Leon terlihat menahan tangisnya.Namun, itu tidak berlaku untuk Lily. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu di makam ibunya. Daniel berdiri di sisi lain, berhadapan dengan Leon. Di sampingnya berdiri Marina yang ikut serta mengantar jenazah Gracia untuk yang terakhir kali. Setelah acara pemakaman selesai, Daniel bersama dengan Marina meninggalkan pemakaman bersama dengan yang lainnya. Manda masih berada di sana bersama dengan Leon dan juga Lily yang masih menangisi kepergian mamanya.Setelah beberapa saat, akhirnya Lily berhasil dibujuk oleh Manda dan Leon. Gadis kecil itu mau meninggalkan makam dengan adanya perjanjian di antara mereka."Kak Manda gak boleh pergi," ujar Lily dengan tatapan memohon. "Aku gak mau sendirian." Sepasang mata mungilnya berkaca-kaca.Manda tidak tega melihat Lily yang memeluknya dengan sangat erat. Gadis kecil itu duduk di pangkuannya. Selama perjalanan Lily meneteskan

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 126

    Manda menoleh ke arah sumber suara. Sosok wanita paruh baya yang berdiri di tangga sedang menatap tajam padanya."Kita pergi sekarang," ujar Marina sambil berjalan menghampiri putrinya.Manda melangkah mundur menghindari mamanya yang hendak menggandeng tangannya. "Enggak, Ma," tolaknya. "Manda akan menemani Lily. Dia pasti sangat sedih mengetahui ma-""Kenapa harus kamu?!" tanya Marina dengan meninggikan suaranya. Manda menatap marah padanya. Tanpa mengatakan apa pun, ia meninggalkan Marina dan naik ke lantai atas."Manda!" bentak Marina."Lily ada di atas, kan?" Manda berjalan menaiki anak tangga."Di dalam kamarnya, Nona," jawab nenek kepala pelayan yang berdiri di dekat Marina.Manda mempercepat langkahnya menuju kamar Lily. Di bawah sana, Marina masih saja berteriak memanggil nama putrinya.Nenek kepala pelayan menghela napas melihat majikannya yang tidak bersikap elegan layaknya nyonya-nyonya besar di luaran sana. "Sangat berbeda jauh dengan Nyonya Gracia," gumamnya sambil berja

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 125

    "Pesta pertunangan kita sudah ditentukan." Senyuman Vania merekah. Terlihat binar kebahagiaan yang tersirat jelas dari kedua matanya.Kopi dan cake yang terhidang di meja menyita perhatian Leon. Sang pewaris dari keluarga Moreno lebih tertarik untuk menikmati hidangan di depan matanya daripada mendengarkan ocehan Vania."Leon!" panggil Vania. Suaranya meninggi. Leon meneguk kopinya setelah menelan cake yang baru saja dinikmatinya. "Teruskan saja. Aku mendengarnya," ujarnya santai.Vania memasang wajah cemberut. "Apa hanya aku saja yang senang dengan pertunangan ini?!" tanyanya kesal. "Sepertinya iya," jawab Leon tanpa beban."Leon!" bentak Vania.Leon mengalihkan pandangannya pada Vania yang duduk di hadapannya. "Apa hakmu membentakku?" tanyanya dengan tegas. Tatapan matanya tajam, menyiratkan rasa tidak suka.Seketika nyali Vania menciut. Ia menutup rapat bibirnya dan menundukkan pandangan matanya."Jangan coba-coba mengaturku, Vania. Ingat itu!" tegas Leon. Ekspresi wajahnya mengu

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 124

    "Mau ke mana kamu, Leon?!" Suara Daniel menghentikan langkah Leon yang sedang terburu-buru melewati ruang makan."Aku ada perlu, Pa," jawabnya tanpa menoleh ke arah sumber suara. Dahi Daniel mengernyit. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.Seketika ekspresi wajah Leon berubah. Ekspresinya yang menahan sakit berganti dengan ekspresi kaget. Detik kemudian ia menoleh ke arah papanya."Sejak kapan Papa peduli padaku?" tanyanya tidak percaya.Daniel berdehem. "Kamu pikir seorang Daniel Moreno tidak pernah memperhatikan putranya?!" Suaranya tegas dan berwibawa.Leon tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata, ia kembali melangkah sembari melambaikan tangannya untuk berpamitan."Leon!" panggil Daniel kembali. "Mau ke mana kamu?!" tanyanya. "Ada urusan penting yang harus aku selesaikan," jawab Leon sambil berjalan menuju pintu."Makanlah terlebih dahulu!" Suara Marina menyambar dari ruang makan.Tidak ada jawaban dari Leon. Hanya suara pintu yang tertutup seolah mewakili jawaban darinya.______

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 123

    "Kami sudah berhasil membawa Tuan Muda Leon. Selanjutnya bagaimana, Tuan?" Telinga Leon samar-samar mendengar suara seorang pria yang sedang membicarakannya. Ia mencoba membuka kedua matanya, tapi tak bisa sepenuhnya. Pandangannya pun kabur, tidak bisa melihat dengan benar apa yang sedang dilihatnya."Baik, Tuan."Suara itu kembali terdengar di telinga Leon. Bedanya, kali ini terdengar sangat jelas. Ia melenguh. Detik kemudian ia meracau."Jalan!" perintah seorang pria. "Tempat biasa."Detik berikutnya, mobil yang mereka naiki bergerak meninggalkan tempat itu. Ocehan khas orang yang sedang mabuk keluar dari bibir Leon, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menanggapinya. Setelah beberapa saat, mobil pun berhenti. Para pria itu turun dari mobil dengan membawa Leon yang masih dalam keadaan mabuk. Sang pewaris dari keluarga Moreno jalan terhuyung dengan dibantu oleh dua pria yang bersamanya."Jangan mendorongku!" oceh Leon. "Kalian gak tau siapa aku?!" Ia berusaha melepaskan tangan

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 122

    "Menyingkirlah, aku gak butuh bantuanmu!" Suara Manda tidak kalah sinisnya dengan ekspresi wajahnya.Alvaro tetap memayunginya meskipun bagian tubuhnya sedikit basah karena membagi payungnya dengan Manda. "Sedang hujan. Kamu membutuhkan payung. Dan kebetulan aku memiliki payung," ujarnya dengan nada riang.Manda menghentikan langkahnya. Ia menatap tajam pada sepasang mata yang menyapanya sambil tersenyum. "Bukankah payung itu milik Papa? Bukan milikmu!" tegasnya."Benar juga." Alvaro terkekeh. Manda menyambar payung dari tangan Alvaro. "Jangan mengikutiku! Atau aku akan membencimu!" Ia berjalan menembus hujan yang semakin deras dengan membawa payung yang dirampasnya dari Alvaro.______________Di dalam sebuah klub yang ada di pusat kota, Leon duduk di meja bar dengan segelas minuman berwarna keemasan. Ia meneguk minuman itu hingga tandas dalam sekali teguk. Sudah berkali-kali ia meminta bartender untuk memberinya lagi minuman yang sama, dan lagi-lagi ia menghabiskannya dengan sekali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status