Keesokan paginya…
Claire terbangun karena silau matahari yang membuat tidur nyenyaknya terganggu. Kepalanya terasa pusing dan berat. Tubuhnya seolah remuk redam. Claire melenguh sambil menggeliat pelan, belum menyadari akan apa yang telah terjadi semalam. “Aduhh!” Claire meringis saat menyadari kalau tubuhnya terasa remuk dan bagian sensitifnya di bawah sana terasa nyeri. Rasa nyeri yang belum pernah dirasakannya, bahkan meski hanya bergerak sedikitpun, rasa nyeri itu langsung menyerbu area kewanitaannya. Claire memaksa kedua matanya untuk terbuka meski masih terasa berat dan melihat sekeliling kamar yang tampak asing di matanya. Bukan kamar tidurnya. Rasa panik seketika menyerbu hatinya hingga satu ingatan muncul di benaknya. Baru ingat kalau semalam, sebelum bersenang-senang di bar, dirinya memang sengaja membuka satu kamar karena enggan pulang ke rumahnya yang selalu sepi bagaikan kuburan. Rasa sepi yang membuat Claire memutuskan untuk bersenang-senang di bar yang menyatu dengan hotel ini. Namun ingatannya hanya sebatas itu. Tidak ada lagi yang Claire ingat, semuanya tampak samar, seolah dirinya mengalami amnesia partial. Claire memegang keningnya yang terasa berat dan mengeluh pelan. ‘Pasti semalam aku terlalu banyak minum alkohol!’ Claire kembali bergerak dan berhenti seketika saat rasa nyeri yang teramat sangat kembali menyerbu area kewanitaannya. Menyadarkan Claire kalau masih ada satu puzzle yang belum berhasil terpecahkan. Alasan kenapa dirinya berada di kamar hotel memang sudah terjawab, tapi penyebab kenapa area sensitifnya terasa nyeri masih menjadi misteri hingga satu kenyataan lain menyadarkan Claire saat kulitnya langsung bergesekan dengan sprei, tanpa ada lapisan pakaian yang menghalangi. Refleks, matanya mengintip ke balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dan kenyataan yang dilihatnya membuat wajah Claire memucat. Tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun alias telanjang. Naked. Padahal selama ini Claire tidak pernah tidur telanjang, semabuk apapun dirinya. ‘Damn! Sebenarnya apa yang terjadi padaku semalam?!’ batin Claire dengan jantung berdentum kencang, bahkan rasa dingin terasa menusuk punggungnya. Rasa panik kembali menguasai hatinya, kali ini jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya. Kepanikannya kian meningkat saat telinganya mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Panik campur takut. Sadar kalau ada orang lain di dalam kamar ini, padahal Claire tidak mengajak siapapun. Dirinya hanya menginap seorang diri, tapi kenapa kini malah ada tambahan orang? “Siapa yang ada di dalam sana? Mia kah? Rasanya tidak mungkin, dia bahkan tidak tau kalau aku menginap disini. Aku yakin tidak mengatakan apapun padanya,” gumam Claire mencoba menebak-nebak sambil mengais kembali kepingan ingatan miliknya yang berserakan dan terhilang sebagian akibat pengaruh alkohol. Claire menunggu siapapun yang sedang berada di dalam kamar mandi dengan hati berdebar takut. Sedikit banyak dirinya mulai memahami kejadian apa yang menimpanya. Claire bukan gadis bodoh. Dirinya sudah kuliah, sudah beranjak dewasa. Menilik dari tubuhnya yang polos tanpa pakaian sama sekali, bagian sensitifnya yang nyeri dan tubuhnya yang remuk redam seolah habis kerja rodi membuat Claire yakin kalau dugaannya tidak meleset, apalagi ia melihat pakaiannya berceceran di lantai! Claire menggigit bibir, berusaha meredam rasa takut dan panik yang muncul dalam hatinya. Tapi percuma, seberapa keraspun Claire berusaha, rasa takut itu tetap ada. Wajar, karena Claire sadar kalau apa yang terjadi semalam adalah kesalahan. Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, menampilkan satu sosok pria berwajah tampan, bertubuh tinggi tegap, dan atletis. Tampil topless hingga otot perutnya tercetak jelas, hanya ada handuk putih yang melingkari pinggangnya hingga sebatas lutut untuk menutupi bagian pribadinya. Claire terbelalak kaget saat melihat pria yang muncul di hadapannya. Pria yang sama sekali tidak pernah diduganya, bahkan dalam bayangannya yang paling liar pun, Claire tidak pernah memikirkan kemungkinan ini. Kemungkinan bahwa dirinya bisa berada di dalam satu kamar yang sama dengan pria itu. Tapi kenyataannya inilah yang terjadi! Tanpa dapat dicegah debaran jantungnya kian menggila. Bukan karena ketampanan pria itu, tapi karena hal lain. Hal yang sudah dirinya pendam sejak lama, bahkan hampir dilupakannya, namun kini kembali muncul ke permukaan tanpa izin. Hal yang hanya diketahui olehnya. Dan ini semua terjadi karena kehadiran mendadak pria itu! Damn!Claire terdiam. Penjelasan Levin menjawab seluruh pertanyaan yang selama bertahun-tahun ini menjadi teka teki baginya. Akhirnya tabir kebenaran terkuak. “Aku tidak tau kalau ternyata dia sangat membenciku.”“Dia iri padamu, Claire.”“Rasa iri memang menakutkan!” keluh Claire. “Kamu tidak perlu khawatir, Claire. Sekarang ada aku yang akan menjagamu dan Revel. Aku tidak akan membiarkan wanita licik itu menyakitimu atau putra kita, okay?”Nick menatap Levin. Pria itu memang mengucapkan janjinya pada Claire, tapi entah kenapa hatinya ikut merasa tenang setelah mendengar janji yang diucapkan dengan penuh keyakinan itu. Nick yakin kalau dirinya tidak salah merelakan Claire pada pria yang menjadi rivalnya! Setidaknya tidak sia-sia Nick mengorbankan perasaannya.“Aku harap kamu menepati janjimu karena kamu pasti tau kalau Mia adalah wanita licik yang nekat melakukan apapun agar rencananya berhasil,” ucap Nick. “Ya, aku akan mempekerjakan beberapa bodyguard unt
Keesokan paginya…Claire menggeliat, tubuhnya terasa letih seolah baru saja lari marathon berkilo-kilo meter. Wanita itu membuka mata dan mengedarkan pandangan, menyadari kalau sudah 2 hari ini dirinya bangun dengan status yang berbeda. Status sebagai istri Levin.Claire menatap lengan kokoh Levin yang sedang melingkari pinggangnya. Perlahan Claire berusaha menyingkirkan lengan Levin namun belum sempat menyelesaikan niatnya, tiba-tiba saja Levin menarik tubuh Claire agar semakin merapat ke arahnya hingga wanita itu menjerit kaget! Claire pikir Levin belum bangun, tapi nyatanya pria itu hanya berpura-pura tidur! *** Claire baru selesai mengoleskan skincare ke wajahnya saat melihat Levin keluar dari kamar mandi dengan tubuh topless. Refleks, Claire mengalihkan pandangan, enggan menatap tubuh kekar Levin atau ingatannya akan terbang pada kegiatan mereka kemarin. Kegiatan yang menghabiskan waktu seharian hingga menelantarkan Revel! Astaga, orangtua macam
Levin mengerang nikmat saat wanita itu berhasil memuaskannya lagi. Semburan lahar panasnya sampai mengotori lantai tempat mereka berpijak. Ya, tadi, setelah membiarkan Claire istirahat, Levin langsung menggendong wanita itu untuk melayani hasratnya di kamar mandi! Tempat yang memudahkan mereka saat ingin membersihkan diri setelah bercinta seharian. “Kamu memang gila, Levin! Aku lelah sekali. Tubuhku rasanya remuk karena seharian harus melayani hasratmu!” gerutu Claire. “Aku janji tidak akan memintanya lagi. Sekarang, aku hanya akan membantumu membersihkan diri, okay?”Mata Claire memicing curiga. Menimbang-nimbang, apakah Levin serius dengan ucapannya atau hanya sekedar modus? Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Claire memutuskan percaya pada pria itu karena sejujurnya Claire merasa sangat lelah hingga enggan berdebat. “Kamu mandi pakai shower saja, aku mau mandi di bathup!” “Tidak mau. Aku juga mau mandi di bathup. Nanti aku akan membantu menggosok
Levin ambruk menindih tubuh Claire saat pria itu lagi-lagi berhasil menghangatkan rahim Claire dengan benihnya. Levin memandang wajah Claire yang memerah akibat gairah dan rasa puas. Deru nafas yang masih memburu membuat dada Claire bergerak naik turun, seketika itu juga gairah Levin kembali bangkit! Tanpa kenal lelah Levin mengulang percintaan panas mereka yang membuat Claire hanya bisa tergeletak pasrah menghadapi gempuran nafsu suaminya. Serius, jika bicara mengenai seks, Levin seolah tak pernah puas! Pria itu selalu ingin lagi dan lagi! Levin masih asyik mendominasi tubuh Claire meski istrinya sudah telungkup tidak berdaya, terlalu letih menghadapi hasrat liar suaminya yang enggan berhenti! Ya, bagaimana tidak? Disaat tubuh Claire sudah lemas bagai tak bertulang karena terlalu sering meraih kenikmatan akibat pelepasan yang berkali-kali menghampirinya, Levin justru masih sibuk menghujam juniornya ke dalam milik Claire dengan penuh tenaga! Tidak heran kalau Claire h
Keesokan paginya…Claire sedang berdiri di depan walk in closet, sibuk memilih pakaian yang ingin dikenakannya untuk menjemput Revel saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Tanpa perlu menoleh pun Claire sudah tau siapa yang memeluknya seperti ini. Tentu saja Levin, suaminya. Siapa lagi? Lagipula hanya mereka berdua yang tinggal di rumah ini. Claire menoleh dan memberikan satu kecupan singkat di bibir pria itu, kecupan selamat pagi, membuat senyum Levin terkembang lebar. Tanpa ragu Levin membalik tubuh wanita itu dengan mudah agar berhadapan dengannya. “Kenapa?” tanya Claire saat Levin menatapnya dalam-dalam.“Hanya ingin memandang wajah istriku saja. Akhirnya setelah menunggu sekian lama aku berhasil juga memperistrimu! Sungguh penantian yang tidak sebentar!”Claire mencibir. Cibiran yang membuat Levin gemas dan langsung melumat bibir wanita itu. Enggan melepaskannya lagi. Cukup semalam Levin ditinggal tidur, sekarang, Levin ingin menagih haknya! Bukankah Claire
Claire melambaikan tangan, melepas kepulangan Revel yang masih terlelap dalam pelukan daddy Alex. Begitu juga dengan daddy Keenan serta mommy Carol yang memutuskan pamit. Sedangkan Susan dan Nick sudah pulang sejak tadi. “Kita juga harus pulang, Claire. Sudah malam, kamu pasti lelah dan ingin istirahat.”Sebenarnya, itu hanya sekedar ucapan saja. Meski Levin tau kalau Claire lelah, tapi dirinya tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk melakukan hal itu pada Claire kan? Hal yang wajar dilakukan oleh pasangan suami istri! Meski sebelum menikahi Claire, mereka sering melakukan hal itu, tapi tetap saja berbeda kan? Apalagi ini malam pengantin mereka! Jadi, Levin tidak akan segan meminta haknya malam ini! Apalagi sudah sebulan lebih dirinya tidak menyentuh Claire, sejak percintaan mereka terakhir kali saat di Melbourne waktu itu, karena Claire tidak ingin melakukannya sebelum mereka resmi menjadi suami istri dan karena Levin tidak mungkin menerobos masuk ke rumah Clai