登入Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?"
"Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidaAluna terpaku di undakan lobi gedung apartemen. Langkah kakinya yang semula mantap mendadak terkunci rapat ketika manik matanya menangkap siluet akrab di balik kemudi sedan hitam di seberang jalan. Kaca mobil itu turun sepenuhnya, memperlihatkan gurat wajah Elrumi yang tampak letih, seolah pria itu melewatkan jam tidurnya semalaman hanya untuk menjaga tempat ini dari kejauhan.Dengan gerakan refleks yang canggung, Aluna membatalkan pesanan taksi daring melalui ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menata debar jantungnya yang berantakan sebelum melangkah menyeberangi jalan yang masih sepi oleh hiruk-pikuk pagi.Pintu kemudi penumpang terbuka sebelum Aluna sempat mengetuknya. Begitu Aluna duduk di dalam kabin mobil, aroma kopi hitam dan sisa hawa dingin malam langsung menyambut inderanya, mengusir sejenak sisa-sisa keintiman Bara yang sejak tadi menghantui pikirannya. Suasana di dalam mobil terasa begitu hening tanpa ada alunan suara musik sedikit pun.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden yang sengaja tidak ditutup rapat, menumpahkan cahaya keperakan di atas ranjang yang tampak acak-acakan. Aluna terbangun lebih dulu. Kelopak matanya terbuka lambat, disambut oleh rasa lelah yang luar biasa yang menjalar di sekujur sendi dan otot tubuhnya. Untuk beberapa detik, ia terpaku menatap langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat tercerai berai oleh intensitas pergumulan subuh tadi. Perlahan, Aluna menoleh ke samping. Di sana, Bara masih terlelap dengan posisi menelungkup, mengecup sebagian bantal dengan napas yang teratur. Selimut beludru tebal hanya menutupi sebatas pinggangnya, mengekspos punggung tegap dengan gurat otot kokoh yang semalam menjadi tempat Aluna melampiaskan rasa pasrahnya melalui tancapan kuku. Melihat pemandangan itu, seulas senyum masam terukir di bibir Aluna. Ada rasa sesak yang mendadak menghimpit dadanya, bukan karena benci pada Bara, melainkan amarah pada diriny
"Aku setujui permintaanmu itu, tapi dengan syarat. Selama satu bulan kau tidak boleh melakukan hal itu dengan wanita-wanita koleksimu. Begitu kau gagal, maka aku akan langsung mengajukan gugatannya."Bara tertawa pelan, suara baritonnya bergetar rendah di keheningan kamar. "Itu saja syaratnya?""Itu saja katamu?" Aluna mengulanginya dengan sangsi. "Aku saja tidak yakin kau sanggup melalui satu bulan tanpa koleksi wanitamu itu," lanjut Aluna sembari mengulas senyum masam."Itu mudah sekali, Aluna," kata Bara menertawakan keraguan istrinya. Pria itu perlahan merangkak di atas ranjang, mengikis jarak untuk mendekati wanita yang ada di hadapannya. "Di sini, aku punya istri." Bara menatap Aluna dengan senyum smirk penuh kemenangan.Aluna membelalakkan matanya saat Bara mendorong bahunya, membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur dengan gerakan yang justru terasa sangat lembut."Bar..." Aluna mulai panik saat menyadari tubuh kekar pria itu sudah mengungkungnya dari atas."Penuhi ha
Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan
Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat
Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta
Bau obat-obatan yang menyengat beradu dengan aroma lembap di bangsal kelas tiga rumah sakit umum daerah tempat Yudi dilarikan. Di bawah pendar lampu neon yang berkedip redup, Yudi terbaring dengan kondisi yang mengenaskan. Wajahnya nyaris tidak lagi dikenali. Diperban putih di bagian hidung yang
Suara deru mesin mobil mewah milik Tama berhenti tepat di depan pelataran kediaman megah Bara Mahendra. Malam kian larut, namun lampu di ruang kerja utama sang konglomerat masih menyala terang. Tama melangkah masuk dengan ritme yang sedikit melambat. Kemeja putih formalnya kini tidak lagi rapi,
Bunyi sirine mobil patroli polisi akhirnya memecah kesunyian malam di kompleks ruko tua itu, memantul di antara dinding-dinding beton yang angkuh. Beberapa petugas bergegas turun, mengamankan tempat kejadian perkara. Wajah Yudi, yang sudah babak belur. Tidak berbentuk dengan rahang bergeser dan h
"Kurang ajar! Sok jadi pahlawan kau ini!" raung Yudi yang langsung melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Tama.Namun, gerakan Yudi terlalu lambat dan terbaca bagi seorang ahli bela diri. Tama hanya memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan Yudi meninju angin. Tanpa membuang momentum,







