Startseite / Romansa / Satu Syarat di Atas Ranjang / RIB88. Hubungan Tidak Sehat

Teilen

RIB88. Hubungan Tidak Sehat

last update Veröffentlichungsdatum: 26.06.2026 13:30:47

Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.

Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya?
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB89. Satu Bulan Untuk Satu Tahun

    Aluna kembali membuka mata. Tetap saja ragu, walaupun mustahil jika ia salah dengar. Perlahan ia menoleh untuk kembali menatap Bara. Lama Aluna menatap Bara hingga tiba-tiba saja wajah serius Bara berubah geli lalu tertawa pelan. "Kau tidak mungkin berharap jika aku serius, kan?" kata Bara bangkit dari rebahannya untuk duduk. Aluna kembali menatap langit-langit kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aluna kembali menoleh saat merasakan tempat tidurnya bergerak dan menemukan Bara hendak turun dari ranjang. "Sepertinya memang aku tidak bisa jika harus tidur seranjang denganmu," Bara bangkit. "Aku akan tidur di sofa saja," lanjutnya lalu beranjak dari teempatnya. "Aku pun tidak berharap kau akan serius dengan perkataanmu yang tadi," kata Aluna. "Tapi aku tahu, kau tidak pernah seserius itu bilang padaku sebelumnya." Kata-kata Aluna membuat langkah Bara terhenti. Dadanya terasa tidak nyaman. Bukan ketahuan telah berbohong yang menjadi penyebabnya, tapi kecemasan akan tan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB88. Hubungan Tidak Sehat

    Bara terbangun karena tekanan yang sangat luar biasa sakit yang menyerang pada bagian kepalanya. Hal itu dikarenakan sisa mabuk yang dialaminya semalam. Bara melirik jam dinding yang bertengger cantik pada dinding kamar dan menunjukkan pukul empat pagi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk minum.Selesai minum Bara memperhatikan sekeliling unit apartemen milik Aluna yang Bara tahu itu adalah hadiah pernikahan dari ibunya. Di mana Aluna ? Apa pria itu semalam datang dan melihatnya? Apa mereka mencari tempat lain dan Aluna meninggalkannya sndirian di apartemen ini? Ya, itu semua pertanyaan yang bercokol di dalam pikiran Bara.Bara sampai di ruang tamu dan menemukan Aluna berbaring di salah satu sofanya. Bara menghampiri dan duduk di meja tepat di depan Aluna terbaring. Baru sadar ternyata wanita itu terlelap dan Bara berpikir mungkin wanita itu ketiduran saat menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang."Bangun!" Bara mengguncang tubuh itu sesaat. Dan hal itu cukup membuat

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB87. Kita Belum Resmi Cerai

    Aluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB86. Tuduhan Licik Bara Pada Aluna

    Bara menolak untuk dibawa ke unit rumah Monika, akan tetapi Aluna tetap bersikeras ingin mengantarkan Bara ke sana. "Bar, aku sedang menunggu orang dan aku tidak ingin ia melihatmu ada di sini. Apalagi dengan kondisimu yang mabuk seperti ini," kata Aluna tenang. Bara menoleh menatap Aluna, "Menunggu siapa, hah?" Bara mendekatkan wajahnya dan menatap Aluna dengan mata merahnya yang tidak fokus. "Menunggu selingkuhanmu itu?" Aluna mendorong tubuh Bara pelan. Jujur Aluna sungguh muak dengan bau alkohol itu. "Kau pasti sedang menunggu si El itu?" lanjut Bara. "Iya. Jadi ada baiknya aku mengantarkanmu ke rumah Monika sebelum ia sampai ke sini," jawab Aluna. Bara tertawa keras. "Jadi, selingkuhanmu itu yang lebih berhak ada di sini daripada suamimu sendiri?" tanya Bara tidak habis pikir. Aluna tampak diam ragu, ia tidak ingin menanggapi dan tidak ingin menyanggah juga karena Bara juga ada benarnya juga. "Jika begitu, biar aku di sini," Bara menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB85. Kau Masih Istri Sahku

    Gelas kristal kedua di hadapan Bara kini sudah menyisakan separuh. Di bawah temaramnya lampu bar yang bergerak lambat mengikuti ketukan musik jazz, kesadaran pria itu perlahan mulai terombang-ambing oleh pengaruh alkohol yang kian pekat. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan yang ia cari sejak sore tadi, cairan amber yang membakar kerongkongannya itu justru memantik reaksi sebaliknya. Alkohol sialan itu malah memperkuat ilusi kepemilikan yang mendarah daging di dalam benaknya. Seolah-olah Aluna masihlah wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, bukan sosok dingin yang mengusirnya tadi siang. Pikiran itu terus berputar, membakar habis sisa akal sehat di kepalanya. ​Dalam kondisi setengah mabuk dengan tatapan mata yang mulai menyayu, fokus Bara mendadak terusik. Seorang wanita asing dengan gaun malam berpotongan rendah melangkah mendekat, lalu tanpa permisi menduduki kursi kosong tepat di sebelah kanannya. Aroma parfum berbau manis menyengat seketika menyerbu indera penciuman Bara,

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB84. Ingin Sendiri

    Langkah kaki Maya yang berbalut sepatu flat terdengar berketuk pelan saat ia menuruni anak tangga kayu menuju lantai bawah. Niat awalnya adalah mengambil berkas rekapitulasi kain, namun atmosfer di area ruang produksi seketika terasa ganjil di inderanya. Suara deru mesin jahit yang biasanya mendominasi, kini kalah saing oleh dengung suara orang yang berkerumun rendah, saling melempar kalimat dengan gestur tubuh yang mencurigakan.​Begitu menginjakkan kaki di lantai satu, indera pendengaran Maya menangkap dengan jelas sisa-sisa obrolan para karyawan mengenai prahara rumah tangga Aluna dan Bara Mahendra. Topik yang seharusnya menjadi privasi penuh sang atasan kini tengah jadi bahan gosip habis-habisan di balik tumpukan bahan brokat. Sebagai asisten kepercayaan yang paham betul bagaimana perjuangan Aluna bangkit dari keterpurukan emosional, dada Maya seketika bergemuruh oleh rasa tidak nyaman sekaligus amarah yang tertahan. Kasak-kusuk seperti ini jelas akan merusak kondusifitas kerja ji

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB59. Ancaman Untuk Yudi

    Di sudut lain area bengkel, tepat di balik sekat kaca buram ruang tunggu luar, Maya berdiri mematung dengan tubuh yang masih gemetaran. Sepasang matanya membelalak menyaksikan pemandangan mengerikan di depan meja kasir. Niat awalnya yang ingin menunggu hingga mobil Yudi selesai diperbaiki seketik

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB55. Aluna Curiga

    ​Ketukan pantofel Bara menggema lambat di atas lantai marmer kediaman utama Mahesa. Ruang tengah rumah itu tampak sunyi, hanya menyisakan pendar lampu kekuningan yang temaram. Sejak pulang dari pemakaman Amara pagi tadi, atmosfer berat seolah enggan beranjak dari pundak mereka. Bara melangkah mende

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB54. Sisi Nurani Bara

    ​Aroma tanah basah dan taburan bunga kamboja menyeruak di bawah langit pagi yang mendung. Prosesi pemakaman Amara baru saja usai. Para pelayat satu per satu mulai meninggalkan area pemakaman, menyisakan gundukan tanah merah yang masih basah dengan sebuah nisan kayu yang tertancap kokoh di bagian hu

  • Satu Syarat di Atas Ranjang   RIB53. Keputusan Menunda Mutasi

    ​Di dalam ruang makan privat yang masih diselimuti keheningan mencekam, Tama memajukan tubuhnya. Ia menatap Bara dengan ragu sebelum melontarkan pertanyaan krusial yang sejak tadi mengganjal di benaknya. ​"Pak Bara... lalu bagaimana dengan rencana awal kita?" tanya Tama dengan suara rendah, berhat

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status