Home / Romansa / Satu Tahun Jadi Istrimu / Bab 7. Besar tapi Nyaman

Share

Bab 7. Besar tapi Nyaman

Author: Liani April
last update Last Updated: 2025-08-15 11:15:54

Setelah keluar dari ruang kerja Darian, Tavira tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia melangkah pelan menyusuri lorong luas yang dipenuhi lukisan dan ornamen mahal. Suara langkah kakinya nyaris tidak terdengar di atas karpet tebal.

Rasanya seperti tersesat di museum.

Tavira mencoba mengingat denah rumah yang sempat dijelaskan singkat oleh pelayan tadi, tapi semua lorong terlihat mirip. Kanan, kiri, tangga melingkar, patung-patung marmer. Terlalu banyak detail yang membuat kepalanya pusing.

"Permisi, Nyonya."

Sebuah suara lembut menghentikan langkahnya. Seorang perempuan berseragam rapi membungkuk sopan, wajahnya ramah dan matanya teduh.

"Apakah Anda ingin saya antarkan kembali ke kamar?" tanyanya hati-hati.

Tavira tersenyum kikuk. "Iya... sepertinya aku tersesat."

Pelayan itu tersenyum hangat. "Boleh saya perkenalkan diri? Nama saya Lila. Saya bertanggung jawab untuk area lantai dua dan kamar Nyonya."

"Lila..." Tavira mengangguk pelan. "Terima kasih. Senang bertemu denganmu."

"Senang juga bertemu Nyonya. Kalau boleh tahu, apakah Nyonya sudah merasa nyaman di kamar? Jika ada yang kurang atau tidak sesuai, kami siap menyesuaikan."

Tavira ragu sejenak. “Sebenarnya, aku nggak tahu harus merasa seperti apa. Rasanya terlalu besar, terlalu sepi.”

Lila menundukkan kepala sedikit, tidak mengomentari pernyataan itu, tapi nada suaranya menghangat.

"Kalau Nyonya ingin jalan-jalan di taman atau ke ruang baca, saya bisa temani kapan pun. Atau mungkin Nyonya ingin ke dapur? Biasanya, tempat paling hangat di rumah ini justru dapur."

Tavira tertawa kecil. “Dapur ya? Boleh juga.”

Beberapa menit kemudian, Tavira sudah duduk di kursi kayu di ujung dapur luas bergaya klasik. Aroma roti panggang, rempah, dan kopi menyambutnya. Seorang koki dan dua asisten sibuk, tapi tidak tampak terganggu oleh kehadirannya.

Lila menuangkan teh ke cangkir putih polos di hadapan Tavira. “Ini teh chamomile, buatan rumah. Bagus untuk menenangkan pikiran.”

Tavira menerima dengan dua tangan. "Terima kasih, Lila. Boleh ya... kalau sesekali aku ke sini?"

"Tentu saja. Rumah ini milik Nyonya juga sekarang."

Kalimat itu membuat Tavira terdiam sejenak. Rumah ini milik Nyonya juga sekarang.

Ia menyesap tehnya perlahan. Hangat. Lembut.

Untuk sesaat, rumah itu tidak terlalu menakutkan.

***

Pagi hari datang dengan cahaya hangat yang menyusup dari balik tirai. Tavira bangun lebih awal dari yang ia kira, mungkin karena tubuhnya belum terbiasa tidur di ranjang empuk seperti itu. Atau mungkin karena pikirannya tak pernah benar-benar tertidur.

Ia turun ke lantai bawah, menyusuri lorong-lorong yang sunyi. Ia tak tahu apakah diperbolehkan masuk ke ruang makan tanpa dipanggil, tapi rasa lapar dan gugup yang aneh membuat kakinya terus melangkah.

Ketika ia tiba, Darian sudah ada di sana.

Ia duduk sendiri di ujung meja makan panjang yang bisa menampung setidaknya dua puluh orang. Ia mengenakan kemeja putih bersih, lengan digulung sampai siku, dan membaca tablet sambil sesekali menyuap potongan roti panggang.

Tanpa pengawal. Tanpa staf. Hanya dia.

Tavira berdiri canggung di ambang pintu.

Darian melirik sekilas. “Masuk saja. Duduk.”

Tavira menurut. Ia memilih duduk di kursi yang tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Jarak aman.

Beberapa saat hanya ada suara sendok dan pisau, serta bunyi lembut cangkir porselen. Seorang staf muncul, menyajikan teh hangat dan omelet ke hadapan Tavira.

“Tidurmu nyenyak?” tanya Darian, tanpa menoleh.

Tavira sedikit terkejut. Darian bertanya duluan? Bukankah itu suatu kemajuan.

“Cukup,” jawabnya pelan. Antara antusias tapi juga tak percaya. “Kamar itu terlalu besar. Tapi nyaman.”

Darian mengangguk. “Kalau ada yang kurang, kamu bisa bilang ke Bu Ayu. Kepala rumah tangga.”

“Baik.”

Hening lagi.

Tavira melirik ke arah pria itu. Ia tampak sangat tenang, sangat terkendali. Seolah tak pernah ada hal yang bisa menggoyahkan ritme hidupnya.

“Ini kebiasaanmu?” tanyanya tiba-tiba. “Sarapan sendiri di ruangan sebesar ini?”

Darian menoleh, dan untuk sesaat senyuman kecil muncul di ujung bibirnya.

“Kalau maksudmu, apakah aku kesepian, jawabannya tidak. Aku hanya terbiasa begini.”

Itu bukan jawaban jujur, Tavira pikir. Tapi cukup untuk saat ini.

Mereka makan dalam hening. Rasanya suara mengunyah ataupun meleguk air minum bisa kedengaran saking heningnya.

Tavira tak nyaman. Namun nampaknya Darian merasa lebih tak nyaman.

Darian bangkit berdiri setelah mendorong kursinya ke belakang.

Kepala Tavira mendongak. Turut membayangi setiap gerak-gerik Darian menyudahi sarapan. Padahal makanannya masih tersisa banyak di piring.

"Kamu mau pergi, Darian?"

"Ya. Aku ada janji pagi ini," jawabnya tanpa menoleh.

Tablet lebih dia perhatikan dibanding Tavira yang cemberut karena tidak bisa berlama-lama memandang wajah Darian yang segar dengan rambut basahnya.

Darian tidak menoleh lagi ke belakang. Sempurna pergi meninggalkan Tavira di ruang makan sebesar itu sendirian.

Oh, apakah adegan semacam ini akan berlangsung setiap hari selama satu tahun?

Apa dia akan tahan?

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Pryono Dian
semoga ada keajaiban
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Epilog : Satu Tahun, Satu Hidup Baru

    Matahari sore merambat masuk lewat jendela besar rumah Darian dan Tavira, menciptakan garis-garis keemasan di lantai marmer yang menghangatkan ruangan.Dari balik sofa, suara lembut bayi terdengar. Bukan tangisan, melainkan gumaman kecil yang seolah menciptakan melodi baru dalam rumah yang sebelumnya sunyi.Darian duduk di kursi goyang, menggendong bayi mereka di dadanya. Bayi itu tertidur pulas, kedua tangannya yang mungil menggenggam kuat jari ayahnya. Napasnya kecil-kecil, teratur, damai.Darian tidak pernah merasa hidupnya setenang ini.Ia membungkuk, mengecup ubun-ubun bayinya.“Astra,” bisiknya lembut. “Pangeran kecil Papa.”Ya, setelah melalui perdebatan panjang, atau lebih tepatnya, Tavira menangis haru ketika mendengar nama itu. Mereka menamai putra mereka Astra Darrel Haryodipura.Astra, berarti cahaya bintang. Darrel, berasal dari nama Darian. Haryodipura, berasal dari keluarga besar Darian.Nama itu seolah merangkum

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 250. Keluarga Penuh Cinta

    Suasana ruang rapat lantai dua puluh hari itu penuh suara kertas dibalik, denting gelas kopi, dan diskusi serius tentang ekspansi cabang baru.Darian duduk di ujung meja panjang, wajahnya setajam biasa, tatapannya fokus pada data proyeksi yang ditampilkan di layar. Tangannya menekan pena, sesekali mencatat poin penting, sementara peserta rapat menunggu keputusan finalnya.Namun baru lima menit setelah manajer pemasaran selesai mempresentasikan bab terakhir, pintu ruang rapat diketuk pelan.Eshan, yang seharusnya berada di luar menangani agenda lain, masuk dengan raut wajah pucat.“Pak,” bisik Eshan sambil membungkuk mendekati telinga Darian. “Tavira… dia sudah dibawa ke rumah sakit karena kontraksi. Dokter bilang sepertinya dia akan lahiran hari ini.”Darian langsung membeku.Pena di tangannya terlepas begitu saja, jatuh berputar di atas meja. Semua orang di ruangan menoleh, bingung.Darian berdiri, kursinya sampai bergeser keras ke b

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 249. Masa Lalu Sudah Selesai

    Restoran kecil itu dipenuhi cahaya kuning temaram yang memantul di permukaan meja kayu. Di sudut ruangan, Tavira dan Darian duduk berhadapan, menikmati makan malam pertama mereka di luar rumah setelah dokter menyatakan kehamilan Tavira memasuki trimester terakhir.Perut Tavira sudah membuncit manis, membuatnya harus duduk sedikit lebih tegak karena mudah merasa sesak jika terlalu membungkuk.Darian memastikan kursi Tavira nyaman, memesan sup yang tidak terlalu asin, bahkan menyingkirkan lilin aromaterapi karena ia khawatir bau tajamnya membuat Tavira mual.Ia memang berubah sejak Tavira hamil. Lebih perhatian, lebih berhati-hati, seakan satu gerakan kecil salah saja bisa membuat istrinya tidak nyaman.“Makan pelan-pelan,” ujar Darian, menatap Tavira dengan campuran geli dan sayang ketika melihat istrinya menikmati hidangan dengan mata berbinar.“Aku lapar,” jawab Tavira sambil tertawa kecil. “Katanya normal kalau trimester tiga begini.”“Tet

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 248. Sebuah Keluarga

    Tiga hari setelah kondisi Darian benar-benar stabil, dokter akhirnya mengizinkannya pulang.Tavira hampir tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengar kabar itu. Setelah semua bulan yang mereka lewati. Trauma, penculikan, kecelakaan. Mimpi bisa membawa Darian pulang terasa seperti hadiah besar dari Tuhan.Pagi itu, Tavira sibuk menyiapkan rumah. Ia menyusun ulang bantal-bantal di kamar utama, memastikan suhu AC tidak terlalu dingin, memilih piyama lembut untuk Darian, sampai mengecek pantry apakah ada teh herbal favorit Darian.Semua itu ia lakukan sambil menahan mual yang masih sering datang. Tubuhnya mudah lemas tapi wajahnya memancarkan sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya. Cahaya kecil seorang calon ibu yang baru menemukan harapan.Bunda Darian datang pagi-pagi sekali, seperti sudah tahu Tavira tidak boleh terlalu banyak kerja. Bunda membawa sekantung besar buah, roti hangat, serta sup ayam yang aromanya menyebar ke seluruh dapur.“Tavi

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 247. Hutang Budi

    Hari–hari setelah Darian sadar berjalan penuh lalu-lalang. Kamar VIP itu tak pernah benar-benar sepi. Para direktur, rekan bisnis, sahabat lama, bahkan beberapa keluarga jauh datang bergantian. Semuanya menanyakan keadaan Darian, memberikan bunga, buah, dan ucapan syukur.Tavira selalu berada di sisi ranjang, menerima mereka dengan senyum ramah meskipun tubuhnya kelelahan dan mualnya sering kambuh.Darian, meski belum bisa bicara banyak, selalu menggenggam tangan Tavira seakan ia ingin mengingatkan semua orang bahwa istrinya adalah jangkar hidupnya.Suatu sore yang tenang, setelah kunjungan terakhir dari kolega kantor selesai. Tavira berdiri di samping jendela sambil merapikan rangkaian bunga yang mulai memenuhi ruangan.Eshan baru saja pergi untuk makan sebentar. Leisa ke apotek rumah sakit. Darian tertidur, lega dan damai.Pintu kamar diketuk.Tavira menoleh, tersenyum kecil. “Silakan masuk.”Pintu terbuka pelan. Dan seseorang yang

  • Satu Tahun Jadi Istrimu   Bab 246. Selalu Kembali

    Udara pagi di ruang VIP rumah sakit masih mengandung aroma steril yang menusuk. Namun bagi Tavira, semuanya terasa berbeda hari itu. Lebih hangat, lebih berwarna, seolah dunia tiba-tiba mengembalikan denyutnya.Darian sudah bangun. Ia masih lemah, masih terbaring dengan infus menempel dan napas yang sesekali tersengal kecil, tetapi suaminya hidup. Mata itu terbuka. Menatapnya. Memanggil namanya.Sejak pelukan panjang dan isakan kegembiraan mereka, Tavira duduk hampir tanpa bergerak di kursi samping ranjang. Jemarinya masih menggenggam tangan Darian, seakan ia takut melepaskan akan membuat semua ini terbukti sekadar mimpi.Darian sesekali memejam, lelah karena tubuhnya baru melewati badai panjang. Tapi setiap kali ia membuka mata, hal pertama yang dicari adalah wajah Tavira.“Duduk saja, Sayang. Kamu pasti capek,” Darian berbisik pelan, suaranya serak, nyaris tak terdengar.Tavira menggeleng keras. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana,” katanya deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status