Mag-log in
Lana menangis sekaligus tertawa di dalam sebuah bar yang ramai. Hidupnya sangat mengejutkan, bagaimana tidak, beberapa jam lalu ia baru saja dicampakkan oleh kekasihnya. Namun tidak sampai 30 menit dia mendapat kabar soal kenaikan gaji dan bonus karena tidak pernah cuti.
Sungguh ironi. “Aku harus mabuk malam ini. Oh tunggu…” ia meraih ponselnya dari tas selempang hitam yang disimpan dikursi sebelah. Lana Rose adalah sebuah perawat disalah satu klinik yang ada di pusat kota California. Hidupnya baik-baik saja sampai malam ini. Gadis 26 tahun itu hampir gila karena kekasihnya, atau lebih tepatnya mantan kekasihnya adalah seorang dokter tempat ia bekerja. Lana pikir ia tidak akan pernah putus dengan kekasihnya, tapi malam ini, sang pacar memilih untuk mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas. Lana memandang ponselnya. “Dia benar-benar tidak mencariku.” gumamnya dengan suara sedih yang terdengar jelas. Bartender dihadapannya tampak cemas karena Lana bahkan tidak kuat duduk dengan benar. Lana mengusap wajahnya dengan kasar, menahan diri agar tidak menangis. Ada banyak alasan untuk Lana tidak bersedih, dia cantik, muda dan memiliki pendapatan yang tetap setiap bulannya. “Lupakan saja dia.” Lana kembali meminum cocktail dengan campuran jus nanas itu. Wajahnya mengerut ketika ia merasa tenggorokannya terbakar. Gadis itu lantas berdiri dari kursinya, jalan sambil memegang kursi yang berjejer disepanjang konter. Lana adalah pelanggang tetap bar ini, dia hafal betul dimana letak kamar mandinya. Saat berjalan menuju kamar mandi, ada dua wanita yang menunggu giliran di depan Lana. Salah satu wanita itu hendak menyulut rokoknya. Lana langsung berdehem, dengan setengah kesadaran yang ia miliki Lana melipat tangannya di depan dada. “Di dalam Bar ini, kalian tidak boleh merokok.” “Siapa kau?!” wanita itu langsung gusar dan mendorong Lana. “Banyak bahan mudah terbakar.” Lana menunjuk semua arah dengan serampangan. “Apa sulitnya mentaati peraturan.” Gadis itu melempar rokoknya yang sudah menyala ke lantai lalu menatap Lana dengan sangar. Harus diakui Lana tidak memiliki badan seksi layaknya model, dia tidak tinggi, apalagi tubuh yang bisa dibilang kurus itu membuatnya terlihat seperti gadis petit. Rambutnya yang coklat tua selalu ia biarkan panjang, membingkai wajah bulatnya yang pucat. “Tidak usah diladeni, sepertinya dia mabuk.” ucap teman si wanita itu mencoba melerai. Terlihat jelas Lana mabuk, dia sudah bersandar di dinding dengan mata sayu. Sampai tiba giliran Lana masuk ke bilik toilet. Gadis itu dengan cepat melakukan apa yang perlu. Namun, ketika hendak keluar, Lana mencium asap. Ia terbatuk, tangannya mengepal di depan mulutnya. Seketika kesadaran Lana kembali, ia menoleh kanan dan kiri. Benar saja, ada kobaran api tepat di depan pintu masuk toilet wanita. “Ahh… ini pasti gara-gara yang tadi.” gerutunya. Ia segera melepas kemejanya, menyisakan tank top putih yang melekat di tubuhnya. Lana membasahi kemeja itu dengan air dan mengikatkan di kepalanya. Ketika ia hendak melewati pintu terdengar suara minta tolong dari bilik pertama. Lana mengedor pintu itu. “Buka pintunya!” Pintu terbuka, dua wanita tadi sedang bersembunyi di dalam dengan rokok yang bahkan masih mereka pegang. Lana mendesah, sambil melirik mereka. “Kalian benar-benar.” Lana menggeleng. “Lepaskan baju kalian, basahi dengan air lalu kita berbaris bersama sampai keluar.” Lana kerap mendapat pelatihan soal situasi seperti ini, maka dari itu dia bisa sedikit tenang dibanding yang lain. Dua gadis itu mengikuti saran Lana. Lana memimpin di depan, melewati api yang untungnya belum terlalu besar. Mereka sampai keluar dengan selamat, disambut oleh para pengunjung lain yang besorak lega. Suara sirine pemadam kebakaran kian terdengar, Lana segera memakai kembali kemejanya yang basah. *** Api berhasil dipadamkan berkat kecepatan para pemadam kebakaran. Seorang pria bertubuh tinggi melepas helmnya. “Apa kau yang tadi membantu mereka keluar?” tanya pria itu dengan suara yang rendah dan serak. Lana menunjuk dirinya sendiri. Pria itu mengangguk tak sabaran, kerutan di kening pria itu semakin dalam. “Pemilik bar yang bilang bahwa kau yang membantu beberapa korban.” Lana mengedikan bahu, ia ada dipinggir jalan dekat mobil pemadam. “Kami awalnya terjebak di kamar mandi, lalu mereka berteriak. Yah, bisa dibilang aku memang menyelamatkan mereka.” Semburat merah merekah di pipi Lana, ketika ia sadar ia baru saja menjadi pahlawan. Pria itu menaikan alisnya. “Kau tau dia membawa korek api?” Lana mengangguk, sejujurnya ia sudah sangat mengantuk. Lana ingin segera lari dari tempat itu, kembali ke apartemennya yang hangat. Pria itu mendengus, wajahnya yang terkena jelaga tidak mengurangi ketampanannya. “Kau tahu bar ini punya aturan ketat dilarang merokok?” Lagi-lagi Lana mengangguk. Tak sampai semenit Lana menguap. “Bagaimana kalau bukan aku yang kau introgasi, mereka pelakunya tapi kau seolah-olah menyalahkanku.” gerutu Lana menyelipkan rambutnya ke telinga. Pria itu menghela napas panjang. “Lihat itu, mereka hanya menangis dan menolak memberi penjelasan. Itu reaksi yang wajar, tapi kau malah…” “Ada apa? Aku hanya sering mendapat pelatihan dan merasa tadi tidak terlalu menakutkan.” sahut Lana, ia lantas berdiri lalu membersihkan bokongnya dengan telapak tangan. Ia melirik tanda pengenal di dada pria itu. “Oke, Jesper. Aku Lana, kau bisa menginterogasiku besok siang di klinik dekat jalan utama. Saat ini kepalaku seperti berputar.” ia memijat pelipisnya. Jesper mentap wanita itu cukup lama sampai akhirnya ia menghela napas. “Kau butuh tumpangan?” Lana menggeleng sambil melambaikan tangannya. “Apartemenku hanya berjarak dua blok dari sini. Kalian bantu si pemilik bar saja, dia cukup pemalu.” Jesper terkekeh lalu mengangguk. “Ya, dia pemalu. Sangat pemalu.” Sial, Jesper mau tak mau mendongak menatap Lana yang pergi berjalan, menjauh dari keramaian sisa kebakaran tadi.Dalam keadaan gundah gulana Sarah mendatangi Noah. Gadis itu mengetuk pintu kamar Noah, ada hal yang perlu ia luruskan sesegara mungkin.Tanpa mengetahui pria yang sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan gadis itu.Noah terperanjat dan menaruh kembali tas ranselnya ke meja. Sudah beberapa bulan ini dia tinggal di rumah Lana dan Jasper.Sarah menatap Noah yang tampak muram. Gadis itu berdeham pelan. “Kita perlu bicara.”“Tidak, Sarah.” Noah mengulurkan tangan untuk menutupi jalan masuk ke kamarnya. “Kita sudah selesai.”Sarah menghela napas panjang. “Kau ingin kita selesai? Apa artinya itu?” tanya Sarah pelan.Bibir Noa
Sarah menghilang setelah itu… atau lebih tepatnya, ia membatasi pertemuannya dengan Noah. Sebisa mungkin Sarah menjauh.Tapi hari ini tidak bisa, Lana dan Jasper akan kembali dari Rusia dan Sarah harus menyambutnya. Ia ingin mendengar cerita Lana, berharap itu dapat membantunya mengalihkan pikiran dari Noah.Sarah sudah menyiapkan beberapa makanan di rumah Lana, ia duduk di kursi makan sembari menatap jendela. Dari arah depan ia mendengar langkah kaki seseorang.Rupanya itu Noah, dengan jengot tipis yang belum di rapikan dan rambut yang terlihat lebih… berantakan.Sarah mengernyit ketika Noah bersandar di dekat pintu dapur. “Tamu mu sudah pulang?”“Sudah. Tapi dia akan kembali lagi.&rdquo
Mereka berkendara setengah jam dan akhirnya pikap hitam itu menepi di sebuah pekarang rumah tua yang tampak tak terurus. Noah turun terlebih dahulu, ia mengitari mobil dan membuka pintu Sarah.“Turunlah.” Noah mengulurkan tangan.Sarah menatapnya penuh curiga, Noah tidak di rancang untuk bersifat manis serta lemah lembut. Ia ragu sejenak tapi tetap menerima bantuan Noah.“Ini…” Noah menunjuk rumah berwaarna coklat tua itu. “Rumah yang kubeli tiga hari lalu.”“Rumah!?” nada suara Sarah naik beberapa oktaf ketika mereka sampai di depan pintu gerbang. “Kau membeli rumah? Di Port Townsend?”Noah menghela napas panjang dan ia kembali meraih tangan Sarah, ia menaruh
Hujan turun sejak semalam dan membawa badai luar biasa ke Port Townsend. Sarah sudah selesai mengerjakan semua urusannya ketika ia ke bar untuk bertemu dengan Marcus.Rencananya pria itu akan kembali ke New York setelah gagal mendapat berita dari Noah.Rambut pirang Sarah lepek terkena hujan, bibirnya yang membiru karena dingin yang tadi ia terima.Noah segera melepas jaket jinsnya dan berjalan mendekati Sarah yang duduk di dekat jendela.“Pakai ini.” Noah memberikan jaket itu tepat di pundak Sarah.Gelenyar aneh yang panas ketika jari Noah menyentuh pundaknya membuat Sarah beregik. “Ba-baiklah.”“Dimana pria itu?”Sarah me
Sarah duduk dengan santai di kursinya sementara Marcus berhasil membujuk Noah untuk diajak wawancara. Noah hanya ingin Marcus segera pergi dari Port Townsend.Kedua pria itu duduk berhadapan tak jauh dari tempat Sarah menyesap jus jeruknya.Noah tidak melihat ke arah Marcus sama sekali ketika pria itu mengeluarkan laptop dan buku catatannya.“Jadi, kau tidak tertarik membuka barmu sendiri?” tanya Marcus serius.“Tidak.”“Emm… bagaimana dengan mematenkan menu yang kau buat? Banyak bartender yang melakukan hal itu.”“Aku seorang mixologist,” jawab Noah tidak antusias.Marcus berhenti mengetik dan mendongakan kepala untuk menatap No
Dua minggu kemudian…Setelah pernikahan Jasper dan Lana, mereka memutuskan untuk berbulan madu di Rusia. Lana bersikeras pergi kesana untuk menemani Ayah Jasper dan tentunya untuk melihat masa lalu Jasper.Sementara itu Sarah harus mengurus penginapan dan juga restoran yang kini menjadi tanggung jawabnya juga. Ia mau tak mau sering berkomunikasi dengan Noah untuk urusan pekerjaan karena mau bagaimana pun Sarah yang mendapat tanggung jawab.Sarah baru masuk ke penginapan ketika Noah hendak keluar menuju bar.Pria itu melirik Sarah yang memakai celemek merah muda. “Kau tidak berkerja sendiri, kan?” ada nada cemas yang begitu asing di telinga Sarah.Sarah tidak menatap pria yang memakai kemeja denim itu. “Jangan p
Dua hari kemudian…Daniel dan Lana enggan bertemu satu sama lain. Daniel tidak merasa menyesal sudah mencium Lana, ia malah merasa sedikit membenci gadis itu karena tak pernah memberi kesempatan untuknya.
Daniel diam saja, atau lebih tepatnya pria itu sedang memedam semua amarah dalam tubuhnya yang bisa saja keluar tanpa ia sadari.Lana memilih untuk duduk tenang, sesekali melihat jalanan yang cukup padat.
Tubuh menjulang yang berotot itu menyembunyikan Lana dengan sempurna. Sapuan bibirnya makin dalam, makin menuntut dan semakin membuat kaki Lana… lemas.Tangan gadis itu memang mendorong dada Jasper, namun tidak d
Lana menarik ujung bajunya ketika melihat sosok yang menjulang tinggi diantara ketiga pria lain. Pria itu sama sekali tidak berubah kecuali cekungan matanya yang tampak menonjol. Bola mata keabu-abuan Jasper tampak kosong tapi tetap tajam.







