Share

Say You Remember Me
Say You Remember Me
Penulis: silent-arl

01

Penulis: silent-arl
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-15 22:02:43

Lana menangis sekaligus tertawa di dalam sebuah bar yang ramai. Hidupnya sangat mengejutkan, bagaimana tidak, beberapa jam lalu ia baru saja dicampakkan oleh kekasihnya. Namun tidak sampai 30 menit dia mendapat kabar soal kenaikan gaji dan bonus karena tidak pernah cuti.

Sungguh ironi.

“Aku harus mabuk malam ini. Oh tunggu…” ia meraih ponselnya dari tas selempang hitam yang disimpan dikursi sebelah.

Lana Rose adalah sebuah perawat disalah satu klinik yang ada di pusat kota California. Hidupnya baik-baik saja sampai malam ini. Gadis 26 tahun itu hampir gila karena kekasihnya, atau lebih tepatnya mantan kekasihnya adalah seorang dokter tempat ia bekerja. Lana pikir ia tidak akan pernah putus dengan kekasihnya, tapi malam ini, sang pacar memilih untuk mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas.

Lana memandang ponselnya. “Dia benar-benar tidak mencariku.” gumamnya dengan suara sedih yang terdengar jelas.

Bartender dihadapannya tampak cemas karena Lana bahkan tidak kuat duduk dengan benar.

Lana mengusap wajahnya dengan kasar, menahan diri agar tidak menangis. Ada banyak alasan untuk Lana tidak bersedih, dia cantik, muda dan memiliki pendapatan yang tetap setiap bulannya.

“Lupakan saja dia.” Lana kembali meminum cocktail dengan campuran jus nanas itu. Wajahnya mengerut ketika ia merasa tenggorokannya terbakar.

Gadis itu lantas berdiri dari kursinya, jalan sambil memegang kursi yang berjejer disepanjang konter.

Lana adalah pelanggang tetap bar ini, dia hafal betul dimana letak kamar mandinya.

Saat berjalan menuju kamar mandi, ada dua wanita yang menunggu giliran di depan Lana.

Salah satu wanita itu hendak menyulut rokoknya. Lana langsung berdehem, dengan setengah kesadaran yang ia miliki Lana melipat tangannya di depan dada. “Di dalam Bar ini, kalian tidak boleh merokok.”

“Siapa kau?!” wanita itu langsung gusar dan mendorong Lana.

“Banyak bahan mudah terbakar.” Lana menunjuk semua arah dengan serampangan. “Apa sulitnya mentaati peraturan.”

Gadis itu melempar rokoknya yang sudah menyala ke lantai lalu menatap Lana dengan sangar. Harus diakui Lana tidak memiliki badan seksi layaknya model, dia tidak tinggi, apalagi tubuh yang bisa dibilang kurus itu membuatnya terlihat seperti gadis petit. Rambutnya yang coklat tua selalu ia biarkan panjang, membingkai wajah bulatnya yang pucat.

“Tidak usah diladeni, sepertinya dia mabuk.” ucap teman si wanita itu mencoba melerai.

Terlihat jelas Lana mabuk, dia sudah bersandar di dinding dengan mata sayu.

Sampai tiba giliran Lana masuk ke bilik toilet. Gadis itu dengan cepat melakukan apa yang perlu. Namun, ketika hendak keluar, Lana mencium asap.

Ia terbatuk, tangannya mengepal di depan mulutnya. Seketika kesadaran Lana kembali, ia menoleh kanan dan kiri. Benar saja, ada kobaran api tepat di depan pintu masuk toilet wanita.

“Ahh… ini pasti gara-gara yang tadi.” gerutunya.

Ia segera melepas kemejanya, menyisakan tank top putih yang melekat di tubuhnya. Lana membasahi kemeja itu dengan air dan mengikatkan di kepalanya. Ketika ia hendak melewati pintu terdengar suara minta tolong dari bilik pertama.

Lana mengedor pintu itu. “Buka pintunya!”

Pintu terbuka, dua wanita tadi sedang bersembunyi di dalam dengan rokok yang bahkan masih mereka pegang.

Lana mendesah, sambil melirik mereka. “Kalian benar-benar.” Lana menggeleng. “Lepaskan baju kalian, basahi dengan air lalu kita berbaris bersama sampai keluar.”

Lana kerap mendapat pelatihan soal situasi seperti ini, maka dari itu dia bisa sedikit tenang dibanding yang lain.

Dua gadis itu mengikuti saran Lana.

Lana memimpin di depan, melewati api yang untungnya belum terlalu besar.

Mereka sampai keluar dengan selamat, disambut oleh para pengunjung lain yang besorak lega.

Suara sirine pemadam kebakaran kian terdengar, Lana segera memakai kembali kemejanya yang basah.

***

Api berhasil dipadamkan berkat kecepatan para pemadam kebakaran. Seorang pria bertubuh tinggi melepas helmnya.

“Apa kau yang tadi membantu mereka keluar?” tanya pria itu dengan suara yang rendah dan serak.

Lana menunjuk dirinya sendiri.

Pria itu mengangguk tak sabaran, kerutan di kening pria itu semakin dalam. “Pemilik bar yang bilang bahwa kau yang membantu beberapa korban.”

Lana mengedikan bahu, ia ada dipinggir jalan dekat mobil pemadam. “Kami awalnya terjebak di kamar mandi, lalu mereka berteriak. Yah, bisa dibilang aku memang menyelamatkan mereka.”

Semburat merah merekah di pipi Lana, ketika ia sadar ia baru saja menjadi pahlawan.

Pria itu menaikan alisnya. “Kau tau dia membawa korek api?”

Lana mengangguk, sejujurnya ia sudah sangat mengantuk. Lana ingin segera lari dari tempat itu, kembali ke apartemennya yang hangat.

Pria itu mendengus, wajahnya yang terkena jelaga tidak mengurangi ketampanannya.

“Kau tahu bar ini punya aturan ketat dilarang merokok?”

Lagi-lagi Lana mengangguk. Tak sampai semenit Lana menguap.

“Bagaimana kalau bukan aku yang kau introgasi, mereka pelakunya tapi kau seolah-olah menyalahkanku.” gerutu Lana menyelipkan rambutnya ke telinga.

Pria itu menghela napas panjang. “Lihat itu, mereka hanya menangis dan menolak memberi penjelasan. Itu reaksi yang wajar, tapi kau malah…”

“Ada apa? Aku hanya sering mendapat pelatihan dan merasa tadi tidak terlalu menakutkan.” sahut Lana, ia lantas berdiri lalu membersihkan bokongnya dengan telapak tangan. Ia melirik tanda pengenal di dada pria itu. “Oke, Jesper. Aku Lana, kau bisa menginterogasiku besok siang di klinik dekat jalan utama. Saat ini kepalaku seperti berputar.” ia memijat pelipisnya.

Jesper mentap wanita itu cukup lama sampai akhirnya ia menghela napas. “Kau butuh tumpangan?”

Lana menggeleng sambil melambaikan tangannya. “Apartemenku hanya berjarak dua blok dari sini. Kalian bantu si pemilik bar saja, dia cukup pemalu.”

Jesper terkekeh lalu mengangguk. “Ya, dia pemalu. Sangat pemalu.”

Sial, Jesper mau tak mau mendongak menatap Lana yang pergi berjalan, menjauh dari keramaian sisa kebakaran tadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Say You Remember Me   08

    Pengalaman mengajarkan segalanya, Jasper mengantar Lana untuk terakhir kalinya. Dia sudah mendapatkan tiket untuk ke Portland. Mata Jasper mengikuti langkah Lana yang masuk ke dalam klinik dengan wajah yang sembab.Rasanya tidak rela melepaskan gadis itu. Baru beberapa jam lalu Lana menangis di dalam pelukannya.Jasper mengusap wajahnya lalu mendesah kencang. “Sial, aku tidak ingin meninggalkannya.” gumamnya pada diri sendiri.Di tengah kegundahannya, Jasper tidak bisa mengabaikan betapa beratnya menanggung beban perasaan.Kerutan di wajahnya semakin dalam ketika ia melihat ponselnya, pangilan dari Lana.Lana menghela napas panjang. “Jasper… tolong…” ucapan itu langung membuat darah Jasper mendidih.“Dimana, Queen?” Jasper langsung melepas sabuk pengamannya, melompat keluar dari mobil pikap yang masih terparkir di depan klinik.Jasper berlari dan mendapati Lana tersungkur di lantai dengan ekspresi yang ketakutan. Tangan Jasper meraih wajah Lana, mencari sesuatu yang bisa membuatnya se

  • Say You Remember Me   07

    “Bisakah kita buat hubungan ini berjalan meski terpisah jarak, Lana?” Tanya Jasper. Jasper mengharapkan Lana mengangguk atau mengucapkan beberapa kalimat yang mendukungnya. Ia ingin bersama Lana. Lana mengedipkan matanya, berusaha menahan tangis. “Siapa yang bisa? Aku? Jelas tidak.” Jasper kini mendekat, ia berlutut di depan Lana sambil meremas jemari gadis itu yang begitu dingin. “Lana, percaya padaku. Sisanya biar aku yang urus.”“Jasper, bisakah kau berhenti berkata manis seolah kau benar-benar mencintaiku. J, hentikan sebelum aku percaya bahwa kita, memiliki sesuatu.” Darah dalam tubuh Jasper mendidih, ia tahu betapa sulitnya kehidupan percintaan Lana. Tapi bukan berarti perasaannya pantas disepelekan. Jasper tidak pernah bermain-main dengan Lana.“Kita bahkan belum mengenal satu sama lain. Kalau kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, apa hakku untuk menahanmu.” Lanjut Lana menepis tangan Jasper.Jasper kembali meraih tangan itu lalu menciumnya. Ia merasakan lembutnya jari

  • Say You Remember Me   06

    Bola salju akan membesar ketika menggelinding, begitu pula dengan sebuah gosip. Dalam satu hari, Lana berubah menjadi wanita menyedihkan di mata para koleganya. Ucapan seorang dokter sangat dipertimbangkan di klinik ini. Akan sulit bagi Lana untuk merubah segalanya. Sementara Ethan yang haus akan validasi sukses mendapatkan simpati dari sebagian wanita di klinik itu. Klinik Lana berasosiasi dengan rumah sakit besar dipusat California, yang berarti, dia juga akan menjadi buah bibir disana. Malam itu, Jasper membiarkan Lana meminum sisa champange yang ia buka sejam yang lalu. Lana mengalami hari yang buruk dan pria itu ingin ada di dekatnya. Memastikan Lana tidak sendiri dan aman. “Jadi, si breng- maksudku dokter itu mencarimu lagi setelah hari itu?” tanya Jasper memegang erat pinggang Lana yang hampir ambruk. Lana mengangguk, menutup wajahnya dengan rambut. “Aku ingin sembunyi. Bawa aku pergi.” ia mengapai Noah yang sibuk meracik minumnan. Bar Jasper terpaksa buka lebih cepat kar

  • Say You Remember Me   05

    Setelah rekannya sudah berganti pakaian, Lana mengecek aliran infus. Namun, sepasang bola mata abu-abu itu tidak berhenti menatapnya.Pria itu tampak lebih bersih setelah membasuh wajahnya.“Aku sudah menghubungi walinya, tunangannya akan segera kesini.” Jasper berdehem, duduk di kursi yang kini terlihat amat kecil.Lana mengangguk, mendadak tangan Jasper memilin jari telunjuk Lana.“Kau mengganggu, babe.” gumam Jasper, awalnya untuk dirinya sendiri.Lana menarik tangannya, ia melotot pada Jasper. “Siapa yang menganggumu? Aku tidak…”Sedetik kemudian, bibir Lana sudah mendarat ke bibir Jasper. Pria itu menarik tengkuk leher Lana, dan menyesap bibir Lana. Sengatan sensasi aneh merayap dalam jantung Jasper. Ada kembang api yang meletus dalam sana dan ia suka. Ia menginginkan itu. Ketika lidah Jasper ingin menerobos, tiba-tiba Lana mendorong Jasper dan menarik diri. Ingatan soal betapa payahnya dia, dan pria yang diciumnya adalah Jasper. Seseorang yang hampir ia tidak kenal.Pandangan J

  • Say You Remember Me   04

    Ternyata menjadi mantan pacar yang dicampakkan karena payah adalah hal paling menyedihkan yang bisa Lana alami. Ethan, sudah mencoba mendekati gadis lain di depan Lana. Padahal gadis itu baru saja datang untuk bekerja. Lalu disuguhkan pemandangan itu.Lana melewati Ethan, masuk ke dalam ruang ganti baju dan membuka lokernya. Terdengar suara wanita yang baru datang, mereka berdua tertawa lalu melirik Lana dengan sinis.“Lana, apa benar kau diputuskan oleh dokter Ethan?” tanya wanita itu, yang ternyata sesama perawat juga.Semua orang sudah tahu kalau Lana dan Ethan menjalin hubungan, tapi seharusnya mereka tidak perlu tahu soal putusnya hubungan itu.“Begitu. Sepertinya.” jawab Lana seadanya.Si wanita berambut pirang mendekati Lana, dan mengusa pundak gadis itu. “Jangan memohon padanya, kasihan sekali dokter Ethan. Aku tahu dia begitu mempesona, tapi tetap saja…” dia melihat Lana seperti wanita murahan yang perlu disingkirkan. “Kau tidak semenyedihkan itu, kan?”Jadi ini kesialan Lan

  • Say You Remember Me   03

    Jesper Nikolai adalah ketua regu pemadam kebakaran yang terkenal perfeksionis, disiplin dan tanpa emosi. Jesper mempunyai reputasi sebagai singa es. Sebutan itu datang ketika pria 34 tahun itu pertama kali datang ke California dan membantu kebun binatang mencari singa yang hilang di pinggiran kota. Padahal kala itu, California sedang musim dingin.Hebatnya, Jesper berhasil menangkap singa itu bersama yang lainnya. Namun sayangnya, karena insiden itu, Jesper mendapatkan luka yang cukup serius di sepanjang punggungnya.Jesper memiliki wajah yang memiliki kesan tidak mungkin menjadi seorang pemadam kebakaran. Tubuhnya tinggi sekali, terkahir dia mengukur, tingginya sudah 198 cm. Tubuhnya kekar karena latihan yang intens. Wajahnya juga seperti pahatan porselen, pria itu campuran Rusia-Amerika. Dia lahir di Rusia sampai usai 23 tahun memilih untuk tinggal sendiri di Amerika.*** Jesper mengenakan kemeja polos hitam dengan celana jins yang tampak begitu pas ditubuhnya. Ia memarkir pikapnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status