Mag-log inJesper Nikolai adalah ketua regu pemadam kebakaran yang terkenal perfeksionis, disiplin dan tanpa emosi. Jesper mempunyai reputasi sebagai singa es. Sebutan itu datang ketika pria 34 tahun itu pertama kali datang ke California dan membantu kebun binatang mencari singa yang hilang di pinggiran kota. Padahal kala itu, California sedang musim dingin.
Hebatnya, Jesper berhasil menangkap singa itu bersama yang lainnya. Namun sayangnya, karena insiden itu, Jesper mendapatkan luka yang cukup serius di sepanjang punggungnya. Jesper memiliki wajah yang memiliki kesan tidak mungkin menjadi seorang pemadam kebakaran. Tubuhnya tinggi sekali, terkahir dia mengukur, tingginya sudah 198 cm. Tubuhnya kekar karena latihan yang intens. Wajahnya juga seperti pahatan porselen, pria itu campuran Rusia-Amerika. Dia lahir di Rusia sampai usai 23 tahun memilih untuk tinggal sendiri di Amerika. *** Jesper mengenakan kemeja polos hitam dengan celana jins yang tampak begitu pas ditubuhnya. Ia memarkir pikapnya di parkiran klinik tempat Lana bekerja. Jesper tidak ingin meginterogasi Lana, hanya saja, ponsel dan tas Lana yang tertinggal kemarin di bar harus ia kembalikan. Cuaca kala itu cukup cerah hingga ia terpaksa memakai kaca mata hitam. Jesper berjalan dan berhenti tepat di depan ruang informasi. “Ada yang…” resepsionis itu berhenti ketika Jesper melepas kaca matanya. Jesper menaikan sebelah alisnya, selama ini dia tidak sadar kalau wajahnya amat sangat berbahaya bagi kaum hawa. “Apa ada wanita bernama Lana?” Resepsionis mengerjab, mengatupkan bibirnya dan mengangguk. “Tung-tunggu sebentar.” resepsionis itu menunduk, mengambil gagang telepon dari meja. Terdengar resepsionis bicara dengan Lana, sebab tak lama kemudian gadis mungil itu turun dari tangga sebelah kanan. Jesper sontak menoleh dan mendapati betapa jantungnya berdebar ketika Lana memberikan senyuman untuknya. “Maafkan aku,” Lana meringis ketika jarak mereka hanya sekitar beberapa meter. “Itu tasku?” “Hah?” Jesper mencondongkan kepalanya mendekat ke Lana. Lana menunjuk tas hitam yang Jesper pegang. “Itu tas milikku.” Jesper seperti tersadar dari mimpi, seumur hidupnya Jesper tidak pernah jatuh cinta. Bukan karena memiliki trauma atau semacamnya, hanya saja Jesper merasa tidak perlu. Ia bahagia hidup sendiri selama ini. Bisa menyalurkan hobinya dengan tenang tanpa gangguan dari orang lain. Namun, entah mengapa Lana membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Jesper menutup matanya beberapa detik agar tidak terpaku pada Lana, dan bibir Lana. Sialan. “Ya, tentu.” Jesper mengerjab, mengulurkan tangannya memberikan tas milik Lana. “Di dalamnya ada ponsel, dan beberapa barangmu. Beritahu aku kalau ada yang hilang.” Lana tersenyum sambil menggeleng. Jesper tidak melihat cincin di jari manis Lana. Aman. “Well, terima kasih.” Lana mengibaskan rambutnya. Hal pertama yang Jesper hirup adalah aroma apel dari tubuh Lana. Saat Lana hendak pergi, ia berhenti tepat di dekat tangga. “Bagaimana kabar pemilik bar? Apa kau tahu?” Jesper mengedikan bahu. “Seharusnya begitu, kebakarannya tidak parah.” “Syukurlah, aku suka bar itu.” gumam Lana yang terdengar oleh Jesper. Resepsionis itu tersenyum melihat obrolan kedua orang yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari tempatnya. *** Lana tersenyum bahagia karena tas kesayangannya bisa kembali lagi. Ia pikir akan kehilangan tas itu. Saat berjalan menuju pos perawat, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Ethan, mantan kekasihnya. Pria itu diam, hanya mengamati Lana yang berjalan melewatinya. “Apa kau tidak akan menyapaku, Lana?” Lana mengerem langkahnya secara mendadak, memutar tubuhnya sambil menggelengkan kepala. “Ethan, lebih baik kita saling menghindar. Bukan karena aku masih mencintaimu.” Tentu Lana masih mencintai Ethan. “Tapi demi kebaikan kita berdua. Ayolah, kita bisa bersikap dewasa.” Itu adalah sebuah sindiran bagi Ethan yang bahkan tidak bisa memberikan alasan mengapa mereka harus berpisah. Bukannya pergi, Ethan malah mendekati Lana. “Dengar Lana, tidak ada pria yang mau dengan wanita yang payah di atas ranjang. Itu alasannya.” Desis Ethan. Mata Lana seketika bergetar, jika itu alasannya maka dia tidak memiliki hak untuk marah pada Ethan. Kepercayaan diri yang selama ini Lana jadikan tameng seketika hilang. Dia bergetar di depan Ethan sambil menunduk. “Aku tidak sejahat itu, Lana. Hanya kau benar-benar payah.” Ethan kemudian meninggalkan Lana. Dadanya terasa panas, Ethan adalah pria pertamanya, dan kini pria itu memberi lebel payah pada apa yang Lana pikir adalah hal yang luar biasa. “Pergi, Ethan.” Desis Lana, ia mendongak dan sebisa mungkin tidak menunjukkan wajah sedihnya. “Kau juga payah, ingat itu.”Dalam keadaan gundah gulana Sarah mendatangi Noah. Gadis itu mengetuk pintu kamar Noah, ada hal yang perlu ia luruskan sesegara mungkin.Tanpa mengetahui pria yang sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan gadis itu.Noah terperanjat dan menaruh kembali tas ranselnya ke meja. Sudah beberapa bulan ini dia tinggal di rumah Lana dan Jasper.Sarah menatap Noah yang tampak muram. Gadis itu berdeham pelan. “Kita perlu bicara.”“Tidak, Sarah.” Noah mengulurkan tangan untuk menutupi jalan masuk ke kamarnya. “Kita sudah selesai.”Sarah menghela napas panjang. “Kau ingin kita selesai? Apa artinya itu?” tanya Sarah pelan.Bibir Noa
Sarah menghilang setelah itu… atau lebih tepatnya, ia membatasi pertemuannya dengan Noah. Sebisa mungkin Sarah menjauh.Tapi hari ini tidak bisa, Lana dan Jasper akan kembali dari Rusia dan Sarah harus menyambutnya. Ia ingin mendengar cerita Lana, berharap itu dapat membantunya mengalihkan pikiran dari Noah.Sarah sudah menyiapkan beberapa makanan di rumah Lana, ia duduk di kursi makan sembari menatap jendela. Dari arah depan ia mendengar langkah kaki seseorang.Rupanya itu Noah, dengan jengot tipis yang belum di rapikan dan rambut yang terlihat lebih… berantakan.Sarah mengernyit ketika Noah bersandar di dekat pintu dapur. “Tamu mu sudah pulang?”“Sudah. Tapi dia akan kembali lagi.&rdquo
Mereka berkendara setengah jam dan akhirnya pikap hitam itu menepi di sebuah pekarang rumah tua yang tampak tak terurus. Noah turun terlebih dahulu, ia mengitari mobil dan membuka pintu Sarah.“Turunlah.” Noah mengulurkan tangan.Sarah menatapnya penuh curiga, Noah tidak di rancang untuk bersifat manis serta lemah lembut. Ia ragu sejenak tapi tetap menerima bantuan Noah.“Ini…” Noah menunjuk rumah berwaarna coklat tua itu. “Rumah yang kubeli tiga hari lalu.”“Rumah!?” nada suara Sarah naik beberapa oktaf ketika mereka sampai di depan pintu gerbang. “Kau membeli rumah? Di Port Townsend?”Noah menghela napas panjang dan ia kembali meraih tangan Sarah, ia menaruh
Hujan turun sejak semalam dan membawa badai luar biasa ke Port Townsend. Sarah sudah selesai mengerjakan semua urusannya ketika ia ke bar untuk bertemu dengan Marcus.Rencananya pria itu akan kembali ke New York setelah gagal mendapat berita dari Noah.Rambut pirang Sarah lepek terkena hujan, bibirnya yang membiru karena dingin yang tadi ia terima.Noah segera melepas jaket jinsnya dan berjalan mendekati Sarah yang duduk di dekat jendela.“Pakai ini.” Noah memberikan jaket itu tepat di pundak Sarah.Gelenyar aneh yang panas ketika jari Noah menyentuh pundaknya membuat Sarah beregik. “Ba-baiklah.”“Dimana pria itu?”Sarah me
Sarah duduk dengan santai di kursinya sementara Marcus berhasil membujuk Noah untuk diajak wawancara. Noah hanya ingin Marcus segera pergi dari Port Townsend.Kedua pria itu duduk berhadapan tak jauh dari tempat Sarah menyesap jus jeruknya.Noah tidak melihat ke arah Marcus sama sekali ketika pria itu mengeluarkan laptop dan buku catatannya.“Jadi, kau tidak tertarik membuka barmu sendiri?” tanya Marcus serius.“Tidak.”“Emm… bagaimana dengan mematenkan menu yang kau buat? Banyak bartender yang melakukan hal itu.”“Aku seorang mixologist,” jawab Noah tidak antusias.Marcus berhenti mengetik dan mendongakan kepala untuk menatap No
Dua minggu kemudian…Setelah pernikahan Jasper dan Lana, mereka memutuskan untuk berbulan madu di Rusia. Lana bersikeras pergi kesana untuk menemani Ayah Jasper dan tentunya untuk melihat masa lalu Jasper.Sementara itu Sarah harus mengurus penginapan dan juga restoran yang kini menjadi tanggung jawabnya juga. Ia mau tak mau sering berkomunikasi dengan Noah untuk urusan pekerjaan karena mau bagaimana pun Sarah yang mendapat tanggung jawab.Sarah baru masuk ke penginapan ketika Noah hendak keluar menuju bar.Pria itu melirik Sarah yang memakai celemek merah muda. “Kau tidak berkerja sendiri, kan?” ada nada cemas yang begitu asing di telinga Sarah.Sarah tidak menatap pria yang memakai kemeja denim itu. “Jangan p
Hujan turun terus-menerus sejak pagi, dan Lana sibuk memindahkan kursi luar bar yang tersapu angin. Jasper sedang mengamankan gudang karena air sudah semakin meninggi.Rambut panjang gelap kecoklataan milik Lana terbang
Bar milik Lana yang lama tak memiliki nama kini sudah menjadi The Rose Bar. Jasper mengubah beberapa tatanan bar itu atas saran Noah. Pria itu di datangkan jauh-jauh dari California untuk membantu Lana.Noah begitu sena
Orang gila mana yang tengah malam datang kepemakaman. Jawabnya adalah aku dan Jasper.Jasper memberikan penghormatan terkahir di pusara Ayah, Ibu dan Kakak Lana.
Malam itu, Lana memandangi dua kaleng tuna dan satu bungkus spageti yang ia minta dari penginapan. Ia sedang memproses apa yang seharusnya ia buat.Jasper muncul dari belakang, langsung menempelkan dagunya ke ujun







