Share

Bab 10

Penulis: Apple Leaf
last update Tanggal publikasi: 2024-06-03 21:20:35

Lulu tak tahu menu sarapan apa yang biasanya disukai Kaivan. Jadi, pagi-pagi sekali dia menghubungi Gilang dan menanyakan menu sarapan.

Dia juga membuatkan sarapan untuk Daril, meski lelaki itu berkata jarang makan di rumah. Tetapi siapa tahu, kalau tiba-tiba Daril ingin sarapan di rumah.

Seperti hal tak terduga tadi malam.

Setelah menata meja makan. Lulu beralih memberikan makan pada dua kucing milik Daril. Selanjutnya ia pergi ke teras belakang untuk menyiram tanaman hias.

Selesai dengan akt
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   bab 32

    Dua hari setelah Jovan dinonaktifkan, Senggani View dipenuhi bisik-bisik yang tidak pernah sampai ke telinga Daril. Namun Gilang mendengar semuanya.“Pak,” lapor Gilang pagi itu di ruang kerja hotel, wajahnya lebih serius dari biasanya, “ada kabar yang beredar di antara staf.”Daril tidak mengangkat kepala dari dokumen. “Kabar apa?”“Katanya General Manager menonaktifkan seorang manajer hanya karena membela ART pribadinya. Dan katanya lagi, ART itu... bukan sekadar ART.”Pena di tangan Daril berhenti bergerak.“Siapa yang menyebarkan?”“Belum pasti, tapi sumbernya dari bagian marketing. Aini.” Gilang mengeluarkan ponselnya. “Dia bahkan mengirim email tanpa nama ke dua anggota direksi. Isinya menuduh Bapak menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi.”Daril meletakkan pena perlahan. Wajahnya tetap tenang, tapi Gilang bisa melihat urat di lehernya menegang.“Direksi sudah membacanya?”“Sudah. Pak Heru menelepon sekretaris saya tadi pagi, minta Bapak menghadap hari Jumat.”“Bagus.

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 31

    Perjalanan ke Senggani View hanya memakan dua puluh menit, tapi bagi Gilang terasa seperti dua jam. Daril duduk di kursi belakang tanpa bicara, menatap jalan lewat jendela dengan rahang terkunci.“Pak,” Gilang akhirnya bersuara, “rekaman CCTV gerbang sudah dikirim pihak keamanan ke email saya. Tinggal kita buka.”“Siapkan di ruang rapat. Panggil Jovan dan kepala HRD. Saya mau ada saksi.”“Baik, Pak.”Sepuluh menit kemudian, Jovan duduk di ruang rapat lantai tiga dengan senyum yang sudah tidak seyakin kemarin. Di sampingnya duduk Bu Retno, kepala HRD, yang membuka buku catatannya dengan wajah serius. Daril duduk di seberang, sementara Gilang menyalakan laptop.“Terima kasih sudah datang,” kata Daril datar. “Saya akan langsung ke pokok. Tadi siang, nomor tidak dikenal menghubungi salah satu orang yang tinggal di rumah saya. Orang itu mengaku sebagai kamu.”Jovan tertawa kecil. “Pak, saya tidak mengerti maksud Bapak.”“Dua minggu lalu kamu meminta alamat rumah saya ke bagian administrasi

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 30

    Keesokan paginya, Gilang sudah tiba di rumah sebelum jam tujuh. Matanya sedikit sayu, tanda ia belum tidur cukup, tapi map di tangannya tertata rapi.“Saya sudah periksa log akses, Pak,” lapornya di teras sambil membuka map. Daril berdiri di ambang pintu dengan secangkir kopi hitam. “Data karyawan tidak ada yang bocor. Berkas pribadi Lulu tidak pernah dibuka, karena dia memang bukan karyawan hotel.”“Lalu?”“Tapi ada satu hal yang janggal. Dua minggu lalu, Jovan meminta alamat rumah Bapak lewat bagian administrasi dengan alasan mengantar dokumen evaluasi.” Gilang menyerahkan selembar kertas. “Rina di administrasi yang memberikannya. Jovan datang sendiri dan terlihat sangat meyakinkan.”Daril membaca kertas itu tanpa ekspresi. Hanya jari telunjuknya yang mengetuk gagang cangkir, satu kali, dua kali.“Jadi Jovan tahu rumah ini.”“Betul, Pak. Dan hari Selasa kemarin, Aini terlihat makan siang bersama Jovan di kafe seberang hotel. Satpam sempat melihat mereka.”“Jadi Aini tahu Lulu bekerj

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 29

    Lulu tidak membalas pesan itu. Ia menatap layar ponsel sampai layarnya padam sendiri, lalu menyalakannya lagi dan membaca ulang kalimat Aini dengan rahang mengeras.Kerja di rumah bos besar. Aku dengar kamu sekarang sangat dekat dengan Pak Daril.Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, dan justru itu yang membuatnya muak. Aini selalu pandai menyelipkan racun dalam kalimat yang kelihatannya biasa saja. Dari mana perempuan itu tahu ia bekerja di rumah ini? Dan dari mana ia mendapat nomor barunya?“Aku nggak akan kalah gara-gara pesan kayak gini,” gumam Lulu.Namun kemarahannya tidak mau reda. Malam itu ia mengerjakan semuanya dengan gerakan yang terlalu keras: mencuci gelas, melipat handuk, mengelap meja makan yang sebenarnya sudah bersih. Kaivan yang lewat dengan sepiring camilan sempat berhenti dan mundur pelan-pelan.“Kak Lulu, meja itu nggak salah apa-apa.”“Maaf. Kakak lagi nggak apa-apa kok.”“Orang yang beneran nggak apa-apa nggak ngelap meja yang sama tiga kali.”Lulu terdiam,

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   bab 28

    Daril tiba di rumah tepat saat matahari mulai condong ke barat. Mobilnya baru berhenti di halaman ketika Kaivan sudah berlari keluar dengan wajah penuh harap.“Kak Daril! Ponselku sudah boleh dikembalikan, kan? Aku sudah bantu bikin teh buat Kakek dan Kak Lulu seharian.”“Teh kamu terlalu pahit,” sahut Daril sambil melewatinya.“Tapi Kak Lulu bilang enak!”“Dia cuma sopan.”Kaivan cemberut dan menyusul masuk. Di ruang tengah, Kakek Anton sudah merapikan barang-barangnya, sementara Lulu duduk di sofa dengan selimut tipis di pangkuan. Begitu melihat Daril, ia refleks menegakkan punggung.“Pak Boss sudah pulang.”“Sudah.” Daril berhenti sejenak, lalu menatap Lulu. “Perutmu?”“Sudah nggak sakit lagi. Berkat sup Kakek dan bubur Bapak.”Kakek Anton berdeham keras di sudut ruangan. Dua orang itu langsung membuang muka.“Kakek pulang dulu,” katanya sambil meraih tongkat. “Supirnya sudah menunggu. Daril, antar Kakek ke depan.”“Kek, supir bisa...”“Antar.”Daril menghela napas dan membukakan p

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 27

    Hotel Senggani View selalu ramai di akhir pekan, tapi pagi ini lobi terasa lebih tegang dari biasanya. Para karyawan berbisik ketika melihat Daril melangkah masuk dengan setelan hitam dan wajah tanpa ekspresi, Gilang mengikuti di belakangnya.“Pak, Jovan sudah menunggu di ruang rapat lantai tiga,” lapor Gilang.“Bagus.”Hanya satu kata, tapi Gilang menelan ludah. Sudah bertahun-tahun ia menjadi asisten Daril, dan ia hafal betul bahwa nada seperti itu bukan pertanda baik bagi siapa pun yang menunggu di ujung lorong.Di ruang rapat, Jovan berdiri begitu pintu terbuka. Pria itu tampak rapi dengan jas abu-abu dan senyum sopan yang sudah dilatih. Di tangannya ada map laporan evaluasi.“Selamat pagi, Pak Daril. Terima kasih sudah menyempatkan waktu.”Daril tidak menjawab. Ia duduk di kursi utama dan membuka laporan itu, membalik halaman demi halaman dengan tenang. Jovan masih berdiri, mulai kikuk.“Duduk,” kata Daril akhirnya.Jovan duduk. “Evaluasi bulan ini menunjukkan peningkatan okupans

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 7

    Hasil medical check up menunjukkan kesehatan Lulu sangat baik. Malam itu juga, Lulu tiba di rumah Daril. Pria yang kini hanya mengenakan kemeja putih dengan satu kancing terlepas dan dasi yang sengaja dilonggarkan, tengah duduk di sofa panjang berwarna hitam. Jarinya yang panjang dan ramping meleta

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 6

    Lulu mendengar ketukan pintu dan segera menoleh. Perlahan ia berjalan, tangannya meraih gagang pintu. Matanya membulat ketika melihat dua sosok yang membuatnya terluka. Dua sosok itu tak lain adalah Jovan dan Aini. Mereka berpenampilan segar dan rapi dalam balutan busana kerja. Sama halnya dengan

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 5

    Lulu sedikit menundukkan kepala dan berpikir sejenak. Menjadi asisten rumah tangga di rumah atasan Jovan tidaklah begitu buruk. Lulu bisa meminta surat rekomendasi dari pria itu ketika dia sudah berhenti nanti.“Tunggu, Pak Daril. Saya, kan belum menolak tawaran Bapak. Bapak nggak bisa menyimpulkan

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 4

    Lulu lekas memilih pakaian yang membuatnya merasa bingung karena ketiga pakaian itu sama-sama bagus. Ia memutuskan untuk mengenakan setelan jaket dan rok modis berwarna krem. Melihat dirinya di depan cermin, seperti melihat orang lain. Kenapa tidak dari dulu ia berpenampilan seperti ini? Sialnya,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status