Share

Bab 38

Author: Apple Leaf
last update publish date: 2026-11-04 13:45:32

Hari kedua, Lulu menemukan Daril di teras belakang. Pria itu berdiri membelakangi pintu dengan secangkir kopi yang sudah lama dingin. Lulu berdiri beberapa langkah di belakangnya, lalu memberanikan diri bicara.

“Pak Boss.”

“Ya.”

“Saya sudah memutuskan.” Lulu meremas jemarinya. “Saya akan pulang bersama Mama dan Papa.”

Hening. Angin malam menggerakkan daun-daun di halaman.

Daril tidak langsung berbalik. Ketika akhirnya ia menoleh, wajahnya tenang, nyaris terlalu tenang. “Keputusan yang baik.”

“S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 40 Tamat

    Lamaran itu berlangsung tiga minggu kemudian, di rumah Wahyu dan Seta, dengan cara yang sama sekali tidak diduga siapa pun.Pagi itu, Lulu terbangun karena aroma gurih yang menyusup dari arah dapur. Ia menuruni tangga dengan rambut berantakan, dan langkahnya terhenti di ambang pintu.Daril berdiri di depan kompor, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku. Di tangannya ada sendok kayu, dan di depannya sepanci bubur mengepul. Di meja, Wahyu dan Seta duduk dengan wajah yang jelas sudah tahu segalanya. Kaivan bersembunyi di balik kulkas dengan ponsel terangkat, merekam diam-diam. Gilang berdiri tegak di sudut, memegang kotak beludru kecil seperti pengawal kerajaan.“Pak Boss?” Lulu mengerjap. “Ini jam berapa?”“Pukul lima lewat dua puluh.” Daril tidak menoleh. “Saya terlambat dua puluh menit. Maaf.”“Pak Boss masak bubur di dapur rumah orang tua saya?”“Saya minta izin dulu pada Papa dan Mama.” Daril akhirnya berbalik, dan Lulu melihat telinganya sudah merah sampai ke u

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 39

    Dua bulan berlalu sejak Lulu pergi, dan rumah Daril tidak pernah sama lagi.Tidak ada yang berubah secara kasat mata. Rumah itu tetap rapi karena pembantu harian yang baru bekerja dengan baik. Masakannya enak, bahkan Kaivan tak punya alasan untuk mengeluh. Tetapi setiap pagi Daril turun ke dapur pukul lima, berdiri di depan kompor, lalu sadar tidak ada lagi alasan untuk membuat bubur. Ia akan menyeduh kopi hitam, meminumnya dalam diam, lalu berangkat kerja dengan wajah lebih dingin dari biasanya.“Kak Daril,” kata Kaivan suatu pagi sambil menyuap nasi goreng, “kalau kangen, telepon saja.”“Saya tidak kangen.”“Kakak buka kontak Kak Lulu sebelas kali kemarin. Aku hitung.”“Kaivan.”“Iya, iya. Tapi sumpah, kalau Kakak nggak mau nelepon, aku yang telepon.”“Tidak boleh.”Kaivan menghela napas panjang dan melirik Gilang yang berdiri di dekat pintu. Gilang hanya mengangkat bahu dengan wajah pura-pura tak peduli, padahal ia sudah mengirim sendiri pesan singkat pada Lulu dua minggu lalu, men

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 38

    Hari kedua, Lulu menemukan Daril di teras belakang. Pria itu berdiri membelakangi pintu dengan secangkir kopi yang sudah lama dingin. Lulu berdiri beberapa langkah di belakangnya, lalu memberanikan diri bicara.“Pak Boss.”“Ya.”“Saya sudah memutuskan.” Lulu meremas jemarinya. “Saya akan pulang bersama Mama dan Papa.”Hening. Angin malam menggerakkan daun-daun di halaman.Daril tidak langsung berbalik. Ketika akhirnya ia menoleh, wajahnya tenang, nyaris terlalu tenang. “Keputusan yang baik.”“Saya sangat berterima kasih pada Pak Boss. Untuk pekerjaan, tempat tinggal, bubur pukul lima pagi, semuanya.”“Itu bukan hal besar.”“Itu hal paling besar yang pernah dilakukan orang untuk saya.” Suara Lulu bergetar. Ia menunggu, entah menunggu apa. Mungkin satu kalimat yang menahannya. Mungkin satu kata saja.Tetapi Daril hanya mengangguk pelan. “Kapan berangkat?”“Lusa.”“Saya akan minta Gilang mengantar kalian ke stasiun.”“Terima kasih, Pak.”Lulu menunduk, memaksa senyum. Ia berbalik masuk s

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 37

    Malam itu, Lulu duduk diam di kursi belakang mobil, di samping Daril. Gilang menyetir dengan tenang, sementara Kaivan tertidur di kursi depan dengan sebungkus keripik yang belum habis di pelukannya.Tidak ada yang bicara sepanjang jalan. Lulu menatap lampu-lampu kota yang bergeser di balik jendela, dan jemarinya meremas ujung blusnya.“Kamu masih memikirkan ancaman Felia?” tanya Daril akhirnya.“Sedikit.” Lulu tersenyum tipis. “Bukan karena percaya. Hanya saja, aneh rasanya. Mama dan Papa dulu menitipkan saya pada dia karena saya pacaran dengan Jovan. Mereka percaya saya aman di sana. Tapi orang yang mereka percayai itu yang menyeret koper saya ke jalan.”Gilang melirik dari kaca spion. “Malam saat mobil ini hampir menabrak Mbak Lulu, ya.”“Iya.” Lulu terkekeh pelan, meski matanya basah. “Saya berjalan di tengah jalan sambil menyeret koper, tidak lihat apa-apa. Kalau Pak Gilang telat mengerem sedetik saja...”“Saya masih ingat bunyi rem itu,” sahut Gilang. “Sampai sekarang kadang masi

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 36

    “Daril sebentar lagi sampai,” kata Kaivan sambil menurunkan ponselnya. Suaranya sengaja dikeraskan. “Aku tadi nggak matikan teleponnya, jadi Kak Daril dengar semuanya.”Wajah Jovan memucat, tapi Felia justru melangkah maju. Matanya menyipit, dan senyum dinginnya perlahan muncul.“Bagus. Itu artinya kita tidak perlu membuang waktu.” Felia menatap Lulu dari ujung kepala sampai kaki. “Lulu, dengar baik-baik karena saya hanya akan bilang sekali. Saat Daril datang, kamu minta dia mempekerjakan kembali Jovan. Kamu yang membuat Jovan dipecat, jadi kamu yang harus memperbaikinya.”Lulu tertawa pendek, tanpa humor. “Ibu serius?”“Sangat serius.”“Saya tidak punya kuasa atas keputusan hotel.”“Jangan pura-pura bodoh.” Felia mendekat, suaranya merendah menjadi desisan. “Kalau seorang General Manager rela menonaktifkan manajernya demi ARTnya, berarti kamu punya pengaruh. Gunakan itu.”“Kalau saya menolak?”Felia tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk Lulu meremang, karena ia mengenalnya dari b

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 35

    Keesokan harinya, Lulu menepati janji pada Daril. Ia tidak pergi sendirian. Kaivan, yang pulang sekolah lebih awal, ikut dengan semangat luar biasa karena dijanjikan boleh memilih camilan. Gilang mengantar mereka dan menunggu di mobil, di parkiran supermarket.“Kak Lulu tahu nggak,” kata Kaivan sambil turun dari mobil, “tadi pagi Kak Daril tiga kali bilang ke aku, jangan jauh-jauh dari Kak Lulu.”“Dia cuma khawatir sama keamanan di rumah.”“Khawatir apanya. Itu mah namanya sayang.”“Kaivan.”“Iya, iya. Aku diam.” Kaivan nyengir dan mengunci mulutnya dengan gerakan tangan, meski senyum jahilnya tak hilang.Lulu menggeleng dan mendorong troli masuk. Ia memeriksa daftar belanja di ponselnya: sayur, ayam, telur, bumbu dapur, dan sabun cuci piring. Hal-hal kecil yang menenangkan. Setelah sekian lama, ia hampir lupa betapa damainya mengerjakan sesuatu yang biasa.Di lorong sayur, Kaivan tiba-tiba merapat dan berbisik. “Kak, dari tadi ada ibu-ibu yang ngeliatin kita terus.”“Mungkin cuma per

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 3

    “Mau sampai kapan bengong di sana?” tanya Daril bernada dingin. Lulu merasa panik sampai-sampai badannya terasa lemas. Lekas ia bangkit dan berjalan ke pinggir.“Maafkan saya, Tuan,” katanya sambil menunduk takut. Lulu diam-diam menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata karena kepanikan terus b

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 2

    Mata Lulu menampilkan kilatan kesedihan ditunjukkan pada Felia dan Jovan. Tak ada satu orang pun yang membela Lulu. Bahkan, Banyu, teman ayahnya, tetap diam sampai sekarang.“Aku sudah tinggal di rumah ini selama empat tahun, Tante. Dan Tante selalu mengajarkan aku menjadi calon ibu rumah tangga. M

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 1

    “Apa pun yang terjadi, jangan tunjukkan wajah kamu ke ruang makan. Bawa makan malam kamu ke kamar sekarang juga!”Lulu mengernyit mendengar ucapan ibu sang kekasih yang terdengar dingin dan memperingatkan. Tidak biasanya wanita paruh baya itu menggunakan nada seperti itu padanya. Apalagi Lulu sudah

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 7

    Hasil medical check up menunjukkan kesehatan Lulu sangat baik. Malam itu juga, Lulu tiba di rumah Daril. Pria yang kini hanya mengenakan kemeja putih dengan satu kancing terlepas dan dasi yang sengaja dilonggarkan, tengah duduk di sofa panjang berwarna hitam. Jarinya yang panjang dan ramping meleta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status