แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Apple Leaf
last update วันที่เผยแพร่: 2024-06-01 15:32:28

Lulu mendengar ketukan pintu dan segera menoleh. Perlahan ia berjalan, tangannya meraih gagang pintu. Matanya membulat ketika melihat dua sosok yang membuatnya terluka.

Dua sosok itu tak lain adalah Jovan dan Aini. Mereka berpenampilan segar dan rapi dalam balutan busana kerja.

Sama halnya dengan Lulu yang terkejut, Jovan juga memiliki tatapan terperangah di matanya. Lelaki itu tak biasa melihat penampilan Lulu yang lebih modis daripada biasanya.

Mulut Jovan terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi, Jovan menelan kata-katanya karena sadar ada Aini di sampingnya.

“Jovan? Aini? Ada perlu apa sampai kalian repot-repot datang ke kamarku?” tanya Lulu dengan nada datar.

Jovan menekuk alis. Terlihat tak senang mendengar nada datar Lulu. “Kamu menjual semua hadiah yang aku berikan supaya bisa menginap di hotel ini?”

Sudut bibir Lulu terangkat memperlihatkan seringai mencibir. Lulu memang membawa hadiah ulang tahun dari Jovan—sebuah perhiasan. Lulu sama sekali tak menjual perhiasan itu. Ia membawa benda itu agar Felia kelabakan dan lagi pula semua itu adalah hadiah yang sudah menjadi milik Lulu.

“Aku belum menjual semua benda itu. Tanpa menjual hadiah dari kamu pun, aku masih bisa menginap di hotel ini selama beberapa hari,” balas Lulu.

“Karena sekarang kamu sudah berpegangan pada orang yang memiliki posisi tinggi di hotel ini. Makanya kamu nggak perlu membayar, kan? Cara apa yang kamu gunakan sampai membuat Pak Gilang membantu kamu?” Aini menyemburkan pertanyaan dengan ekspresi mencibir. Matanya yang cantik memperlihatkan kilatan kemarahan dan kedengkian.

Mendengar hal itu Lulu menebak kalau kedua orang ini sempat melihatnya bersama Gilang. Oleh karena itu mereka datang padanya.

Dengan santai Lulu menjawab, “Aku rasa nggak ada hubungannya dengan kamu. Dan jangan mencemari nama baik Pak Gilang hanya karena kamu berpikir yang nggak-nggak.”

Dari cara bicara Aini yang memojokkannya, Lulu bisa menebak benak wanita itu. Akan tetapi, apakah mungkin mereka berani menyebarkan rumor buruk tentang tangan kanan Pak GM?

Kening Jovan berkerut dalam. Tatapannya pun semakin menusuk, sehingga membuat Lulu tak nyaman.

“Jangan bicara keterlaluan, Lulu,” kata Jovan tegas. Lelaki itu melanjutkan, “Aini bahkan belum bilang apa-apa tentang Pak Gilang. Sebaliknya karena kamu, nama Pak Gilang jadi tercemar. Pantas saja aku mendengar rekan-rekanku membicarakan Pak Gilang sejak tadi pagi. Jadi perempuan yang mereka bicarakan adalah kamu. Dan bukan hanya itu saja, kamu juga sampai membuat Pak GM mentraktir makan malam. Hebat sekali kamu, Lulu.”

Tatapan marah Jovan sama sekali tak ditutupi beserta ekspresi kecewanya. Lulu di mata Jovan merupakan gadis polos yang akan tersenyum ketika diberikan hadiah sekecil apa pun olehnya. Namun, Lulu yang berdiri di hadapannya saat ini, tengah memperlihatkan seringai seperti Nenek Sihir.

Apakah betul orang bisa berubah dalam semalam jika mereka tersakiti?

“Jovan, karena kamu sendiri setuju untuk mengusirku dari rumah dan memutuskan hubungan denganku, maka semua urusanku sudah bukan urusan kamu lagi. Kamu nggak ada hak untuk mempertanyakan semua yang kulakukan,” tandas Lulu.

Aura dingin yang dipancarkan Lulu terasa menekan batin Jovan. Pancaran mata dingin seakan melihat orang asing yang menyebalkan di hadapannya. Sontak membuat Jovan terbungkus amarah.

Aini segera menyelipkan tangan ke lengan Jovan begitu melihat wajah lelaki itu menghitam. “Meskipun dia benar, urusannya bukan lagi urusan kamu. Tapi, bukankah orang tuanya menitipkan dia di rumah keluarga kamu? Kalau sampai dia membuat masalah di luar, maka keluarga kamu juga yang akan kena masalah, Jovan.” Aini berkata dengan nada rendah di samping Jovan, seolah-olah dia takut Lulu akan melukai martabat keluarga Jovan.

Jovan melirik Aini dan tatapannya perlahan melembut. “Lantas apa dia harus kembali ke rumahku? Mama nggak mungkin mengizinkan dia kembali.”

Sebelum Aini mengutarakan opininya, Lulu berteriak pada mereka.

“Kalian berdua. Jangan berbisik lagi karena aku bisa mendengar semuanya,” Lulu menjeda sesaat, lalu melanjutkan, “Kamu memohon pun agar aku balik ke rumahmu, aku nggak akan sudi, Jovan. Aku sudah bilang sama orang tuaku kalau aku ingin hidup mandiri dan mereka sudah setuju. Lebih baik, kamu dan Aini kembali bekerja. Jangan mengganggu tamu karena aku bisa memberikan ulasan buruk dengan mencantumkan nama kalian.”

Mendengar hal tersebut Jovan dan Aini terbelalak. Agaknya mereka lupa, saat ini Lulu adalah tamu hotel. Mereka tak boleh membuat seorang tamu marah dan apalagi sampai mendapatkan ulasan buruk hanya karena seorang Lulu.

“Van, tahan dulu amarah kamu. Kita bisa selesaikan masalah ini diluar hotel. Kesempatan itu pasti akan datang,” ucap Aini sembari menarik lengan Jovan.

Lulu menutup pintu dengan kesal. Perlahan menghembuskan napas jengkel. Dia menyandarkan punggung di balik pintu. “Kesempatan untuk membalas pengkhianatan Jovan pasti akan tiba.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 30

    Keesokan paginya, Gilang sudah tiba di rumah sebelum jam tujuh. Matanya sedikit sayu, tanda ia belum tidur cukup, tapi map di tangannya tertata rapi.“Saya sudah periksa log akses, Pak,” lapornya di teras sambil membuka map. Daril berdiri di ambang pintu dengan secangkir kopi hitam. “Data karyawan tidak ada yang bocor. Berkas pribadi Lulu tidak pernah dibuka, karena dia memang bukan karyawan hotel.”“Lalu?”“Tapi ada satu hal yang janggal. Dua minggu lalu, Jovan meminta alamat rumah Bapak lewat bagian administrasi dengan alasan mengantar dokumen evaluasi.” Gilang menyerahkan selembar kertas. “Rina di administrasi yang memberikannya. Jovan datang sendiri dan terlihat sangat meyakinkan.”Daril membaca kertas itu tanpa ekspresi. Hanya jari telunjuknya yang mengetuk gagang cangkir, satu kali, dua kali.“Jadi Jovan tahu rumah ini.”“Betul, Pak. Dan hari Selasa kemarin, Aini terlihat makan siang bersama Jovan di kafe seberang hotel. Satpam sempat melihat mereka.”“Jadi Aini tahu Lulu bekerj

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 29

    Lulu tidak membalas pesan itu. Ia menatap layar ponsel sampai layarnya padam sendiri, lalu menyalakannya lagi dan membaca ulang kalimat Aini dengan rahang mengeras.Kerja di rumah bos besar. Aku dengar kamu sekarang sangat dekat dengan Pak Daril.Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, dan justru itu yang membuatnya muak. Aini selalu pandai menyelipkan racun dalam kalimat yang kelihatannya biasa saja. Dari mana perempuan itu tahu ia bekerja di rumah ini? Dan dari mana ia mendapat nomor barunya?“Aku nggak akan kalah gara-gara pesan kayak gini,” gumam Lulu.Namun kemarahannya tidak mau reda. Malam itu ia mengerjakan semuanya dengan gerakan yang terlalu keras: mencuci gelas, melipat handuk, mengelap meja makan yang sebenarnya sudah bersih. Kaivan yang lewat dengan sepiring camilan sempat berhenti dan mundur pelan-pelan.“Kak Lulu, meja itu nggak salah apa-apa.”“Maaf. Kakak lagi nggak apa-apa kok.”“Orang yang beneran nggak apa-apa nggak ngelap meja yang sama tiga kali.”Lulu terdiam,

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   bab 28

    Daril tiba di rumah tepat saat matahari mulai condong ke barat. Mobilnya baru berhenti di halaman ketika Kaivan sudah berlari keluar dengan wajah penuh harap.“Kak Daril! Ponselku sudah boleh dikembalikan, kan? Aku sudah bantu bikin teh buat Kakek dan Kak Lulu seharian.”“Teh kamu terlalu pahit,” sahut Daril sambil melewatinya.“Tapi Kak Lulu bilang enak!”“Dia cuma sopan.”Kaivan cemberut dan menyusul masuk. Di ruang tengah, Kakek Anton sudah merapikan barang-barangnya, sementara Lulu duduk di sofa dengan selimut tipis di pangkuan. Begitu melihat Daril, ia refleks menegakkan punggung.“Pak Boss sudah pulang.”“Sudah.” Daril berhenti sejenak, lalu menatap Lulu. “Perutmu?”“Sudah nggak sakit lagi. Berkat sup Kakek dan bubur Bapak.”Kakek Anton berdeham keras di sudut ruangan. Dua orang itu langsung membuang muka.“Kakek pulang dulu,” katanya sambil meraih tongkat. “Supirnya sudah menunggu. Daril, antar Kakek ke depan.”“Kek, supir bisa...”“Antar.”Daril menghela napas dan membukakan p

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 27

    Hotel Senggani View selalu ramai di akhir pekan, tapi pagi ini lobi terasa lebih tegang dari biasanya. Para karyawan berbisik ketika melihat Daril melangkah masuk dengan setelan hitam dan wajah tanpa ekspresi, Gilang mengikuti di belakangnya.“Pak, Jovan sudah menunggu di ruang rapat lantai tiga,” lapor Gilang.“Bagus.”Hanya satu kata, tapi Gilang menelan ludah. Sudah bertahun-tahun ia menjadi asisten Daril, dan ia hafal betul bahwa nada seperti itu bukan pertanda baik bagi siapa pun yang menunggu di ujung lorong.Di ruang rapat, Jovan berdiri begitu pintu terbuka. Pria itu tampak rapi dengan jas abu-abu dan senyum sopan yang sudah dilatih. Di tangannya ada map laporan evaluasi.“Selamat pagi, Pak Daril. Terima kasih sudah menyempatkan waktu.”Daril tidak menjawab. Ia duduk di kursi utama dan membuka laporan itu, membalik halaman demi halaman dengan tenang. Jovan masih berdiri, mulai kikuk.“Duduk,” kata Daril akhirnya.Jovan duduk. “Evaluasi bulan ini menunjukkan peningkatan okupans

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 26

    Pagi itu Lulu terbangun karena aroma gurih dari arah dapur. Ia melirik jam di dinding. Pukul sembilan lewat. Untuk pertama kalinya sejak bekerja di rumah ini, ia bangun sesiang itu tanpa ada yang membangunkan.Perutnya sudah jauh lebih baik. Lulu merapikan rambut seadanya, mengganti piama dengan kaus longgar, lalu keluar kamar dengan langkah pelan.Di ruang tengah, seorang pria tua berambut putih duduk bersandar di sofa sambil tersenyum lebar. Di meja depannya, termos besar dan beberapa kotak makanan tertata rapi.“Nah, ini dia pasiennya!”Lulu terpaku di ambang pintu. “Kakek Anton?”“Jangan berdiri terus, nanti pusing. Sini, duduk.” Anton Rajyesta menepuk sofa di sebelahnya. “Kakek bawakan sup ayam jahe, resep almarhumah nenek Daril. Dulu waktu Daril demam, cuma sup ini yang mau dia makan.”“Kek, jangan cerita yang aneh-aneh,” sahut Daril dari dapur. Pria itu muncul dengan lengan kemeja digulung, membawa nampan berisi mangkuk dan sendok. Lulu nyaris tak percaya. Bos dinginnya membawa

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   bab 25

    Pukul sebelas malam, Lulu masih belum bisa tidur. Perutnya memang sudah tidak sesakit tadi, tapi pikirannya terus berputar pada kejadian di meja makan. Ia menatap langit-langit kamar, mengulang kalimat Daril yang dingin dan wajah Kaivan yang kebingungan.“Bodoh,” gumamnya pada diri sendiri. “Kenapa tadi harus ngomong begitu?”Ketukan pelan terdengar di pintu.“Lulu, ini saya.”Lulu menarik selimut sampai ke dagu dan memejamkan mata rapat-rapat. Kalau pura-pura tidur, pria itu pasti pergi.“Saya tahu kamu belum tidur. Lampu kamarmu masih menyala.”Sial. Lulu menggigit bibir. “Saya sudah ngantuk, Pak Boss.”“Saya cuma mau antar kompres hangat dan obat. Taruh di depan pintu kalau kamu nggak mau ketemu saya.”Hening. Lulu menunggu suara langkah menjauh, tapi tidak ada. Pria itu masih berdiri di sana. Akhirnya, dengan kesal pada dirinya sendiri, Lulu turun dari tempat tidur dan membuka pintu sedikit.Daril berdiri dengan kantong kompres di satu tangan dan segelas air di tangan lainnya. Ram

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 5

    Lulu sedikit menundukkan kepala dan berpikir sejenak. Menjadi asisten rumah tangga di rumah atasan Jovan tidaklah begitu buruk. Lulu bisa meminta surat rekomendasi dari pria itu ketika dia sudah berhenti nanti.“Tunggu, Pak Daril. Saya, kan belum menolak tawaran Bapak. Bapak nggak bisa menyimpulkan

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 4

    Lulu lekas memilih pakaian yang membuatnya merasa bingung karena ketiga pakaian itu sama-sama bagus. Ia memutuskan untuk mengenakan setelan jaket dan rok modis berwarna krem. Melihat dirinya di depan cermin, seperti melihat orang lain. Kenapa tidak dari dulu ia berpenampilan seperti ini? Sialnya,

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 3

    “Mau sampai kapan bengong di sana?” tanya Daril bernada dingin. Lulu merasa panik sampai-sampai badannya terasa lemas. Lekas ia bangkit dan berjalan ke pinggir.“Maafkan saya, Tuan,” katanya sambil menunduk takut. Lulu diam-diam menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata karena kepanikan terus b

  • Saya Siap Menjadi Istri Pak Bos   Bab 2

    Mata Lulu menampilkan kilatan kesedihan ditunjukkan pada Felia dan Jovan. Tak ada satu orang pun yang membela Lulu. Bahkan, Banyu, teman ayahnya, tetap diam sampai sekarang.“Aku sudah tinggal di rumah ini selama empat tahun, Tante. Dan Tante selalu mengajarkan aku menjadi calon ibu rumah tangga. M

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status