Mag-log in"Rhea!" panggil Maya yang berdiri di depan pintu lift. "Sini!"
Rhea yang baru masuk melewati pintu detektor segera berlari kecil ke samping Maya. Si ratu gosip itu tersenyum lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan menahan kekehan. Arah matanya melirik ke sebelah kiri Rhea, berpura-pura terkejut seolah baru menyadari seseorang berdiri di sana. "Baru datang?" tegur Adrian. Rhea terkejut mendengar suara bariton yang beberapa hari ini telah membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh lalu mengangguk pelan. "Ini, kopi!" Rhea mengambil kopi hangat yang disodorkan oleh Adrian. Ia tersenyum tipis menerimanya. "Terima kasih." "Ada rapat pembahasan aplikasi baru untuk peluncuran buku digital jam sembilan," ujarnya pelan. Rhea yang baru saja menyeruput hangatnya kopi tiba-tiba teringat tentang rapat pagi ini. "Oh, yang waktu itu pernah dibahas Pak Baskoro ya?" tanya Maya yang tiba-tiba menyambar pertanyaan. "Iya," sahut Adrian datar. Pintu lift pun terbuka. Segerombolan karyawan yang telah menunggu di depan pintu segera masuk ke dalam lift. Dalam beberapa menit, lift itu telah penuh dan yang tersisa di barisan belakang, hanya Rhea dan Adrian. "Rhea, ke lift sebelah saja. Kosong loh," seru Maya yang sengaja menutup pintu lift sambil melambaikan tangannya. Rhea mengepalkan tangannya kesal, sementara Adrian berjalan pelan menuju lift kosong di sebelahnya. "Rhea, sini!" panggil Adrian. Rhea menoleh lalu ikut berjalan ke samping Adrian. "Ini kan lift untuk—" "Masuk saja," potong Adrian yang langsung menarik tangan Rhea masuk ke dalam lift. Rhea ingin menolak masuk tapi Adrian segera menutup pintu liftnya. "Adrian, ini kan lift buat petinggi perusahaan." "Aku kan kepala divisi. Jabatanku setara manager," sahut Adrian santai. "Tapi aku kan masih karyawan biasa. Mana bisa masuk ke dalam lift khusus?" protes Rhea. Adrian tak menjawab. Pria itu justru berdiri santai, lalu menekan tombol lantai lima. Sambil merapikan dasinya, Adrian menoleh dan tersenyum lembut ke arah Rhea. "Kamu lupa?" tanya Adrian pelan. Rhea mengerutkan dahi, mempererat genggamannya pada gelas kopi hangat pemberian Adrian. "Lupa soal apa?" "Lupa dengan perjanjian kita. Untuk itu, mulai hari ini, seluruh kantor berhak tahu tentang hubungan kita berdua," sahut Adrian tenang. "Termasuk naik lift ini." Rhea menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Adrian. "Tapi tindakan ini bisa memicu gosip baru. Nanti aku digosipkan tidak profesional, melanggar aturan kantor dan memanfaatkan hubungan aku sama kamu." "Bagus," jawab Adrian singkat. "Bagus? Maksud kamu?" pekik Rhea. Adrian memutar tubuhnya, setengah langkah mendekat namun cukup membuat Rhea menangkap aroma mint yang samar. "Kalau ada direksi lihat kita satu lift, berarti mereka tidak akan lagi menganggap hubungan ini sekedar sandiwara," bisik Adrian rendah. Jantung Rhea berdegup kencang. Ia menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya dari bibir Adrian yang semakin mendekat. "Tapi kan...tetap saja ini melanggar aturan," cicit Rhea. "Aturan yang mana? Tidak ada peraturan seperti itu di kantor," ucap Adrian santai, tangannya terangkat. "Ada busa." "Hah?" Rhea belum sempat beraksi, tiba-tiba Adrian mengusap pelan ibu jarinya di sudut bibir Rhea yang terkena sedikit busa kopi. Sentuhan lembut itu membuat tubuh Rhea membeku seketika. Panas menjalar di sekitar pipinya, menimbulkan rona merah menyala hingga ke telinganya. "Dan lagi," lanjut Adrian dengan suara rendah yang lembut, tatapan matanya terkunci pada iris mata Rhea. "Pacar aku bukan orang biasa." TING! Pintu lift terbuka. Tepat di luar pintu, tiga orang staf divisi baru saja kembali dari pantry sambil membawa cangkir kopi. Mereka serentak menoleh ke belakang sambil membelalakkan mata dan mulut setengah terbuka. Maya yang berdiri di tengah hampir saja menjatuhkan cangkir, menyaksikan adegan Adrian tengah mengusap bibir Rhea lalu segera menarik tangannya dengan tenang. Rhea tersentak kaget. Ia segera mundur, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Adrian. Sementara Adrian, dengan tenangnya menyodorkan tangannya pada Rhea, lalu menatap para staf yang berdiri seolah tak terjadi apa-apa. "Selamat pagi," sapa Adrian dingin, lalu menoleh pada Rhea di sampingnya. "Ayo sayang, sudah sampai." Adrian sempat terdiam, ia baru sadar kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Namun ia tetap berjalan seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa. Tiga orang staf divisi yang masih berdiri di depan lift seketika membeku. Maya menggenggam erat-erat gelasnya dan ketiganya saling melirik dengan mata terbelalak lebar. Rhea berjalan cepat mengikuti langkah lebar Adrian menuju ruangan divisi editorial yang berada tak jauh dari lift. Ia menyunggingkan senyuman manis, melingkarkan tangannya di lengan Adrian. "Terima kasih, Mas," bisiknya malu-malu. "Aku ke ruangan dulu. Nanti jam sembilan aku jemput kamu buat rapat aplikasi digital," kata Adrian tenang. Rhea menatap mata Adrian yang lembut, lalu mengangguk pelan. Begitu sosok Adrian menghilang di belokan koridor, Rhea mengusap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangannya. "Rhea!" Maya menyambar lengan Rhea lalu menariknya ke meja kerjanya. "Tadi enggak salah dengar, kan? Pak Adrian si kanebo itu panggil kamu sayang?" bisik Maya histeris yang berusaha menekan suaranya. "Jangan kencang-kencang, May." "Enggak bisa," potong Maya. "Tadi aku lihat, dia usap-usap bibir kamu. Demi Tuhan, Rhea, ini salah satu keajaiban dunia. Harus semua orang tahu." Rhea memegang pelipisnya yang mendadak nyeri. Ia membuka laptop dan laporan dari penerbit cabang lalu berkata, "Kita ada rapat jam sembilan. Kamu sudah siapkan bahan-bahannya belum?" ujar Rhea mengalihkan pembicaraan. "Masih tidak menyangka, Pak Adrian panggil kamu sayang. Kelihatan banget naturalnya," goda Maya yang berpura-pura tak mendengar ucapan Rhea. "Natural?" Rhea baru terpikirkan ucapan Maya tadi. Akting Adrian memang terlihat natural tanpa paksaan. Ia membayangkan adegan pria itu yang mengusap bibirnya. Apakah itu murni atau hanya untuk akting? Rhea menggelengkan kepalanya pelan, mengusir bayangan Adrian dari pikirannya. "Bubar! Kerja sana!" Sementara itu, di ruang kerjanya yang tertutup rapat. Adrian berdiri menghadap ke arah kaca jendela, tatapannya kosong, mengarah ke halaman parkir. Tanpa sadar, ibu jarinya mengusap pelan jemari yang tadi mengusap lembut bibir Rhea. Ia mengembuskan napas pelan, lalu berkata dalam hati, "Bahaya.""Rhea!" panggil Nathan dari meja kerjanya. "Kesini sebentar."Rhea baru saja berniat ingin pulang, tiba-tiba saja Nathan memanggilnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?'"Tawaran tempo hari masih berlaku. Kamu enggak mau jadi sekretaris saya?" tanya Nathan ramah. Seketika Rhea teringat dengan perbincangan di depan lift minggu lalu. Rhea diam, mencari jawabannya di dalam kepala. "Saya lagi sibuk. Selain urus proyek, ada pekerjaan lain yang mengharuskan saya memiliki sekretaris.""Maaf Pak, saya menolak. Sesuai dengan jawaban saya saat itu," jawab Rhea tegas. Nathan menghela napas kasar. Ia sudah yakin kalau Rhea pasti menolaknya. Wanita ini memang tegas dengan tindakannya. "Rhea, kamu tidak mau jenjang karir lebih tinggi? Kamu selamanya mau jadi editor di sini?" Nathan sengaja memojokkan Rhea. Ingin tahu reaksi wanita itu. Dalam hati diam-diam ia merasa salut. Jarang sekali ada staf yang menolak dipindahkan lewat jalur pribadi seperti ini. "Saya sangat ingin jenjang karir yang lebih b
Di tempat terpisah, Andini yang dihubungi oleh Anna mendadak tegang saat wanita itu mengeluarkan amplop tebal. Ia tiba-tiba menegakkan punggungnya, lalu sebuah ide licik melintas di kepalanya. "Saya mau kamu buat Rhea dicurigai oleh Adrian dan timnya yang lain," ujar Anna yang disambut seringai tipis dari Andini. "Tapi Pak Adrian terlalu sulit didekati, Rhea pun sama. Bagaimana caranya menjatuhkan wanita itu?" tanya Andini yang masih bingung dengan permintaan Anna. Ia memang memiliki sejuta ide licik, tapi terlihat sulit untuk dilakukan. Anna menepuk amplop yang dibawa olehnya. "Di sini ada lima juta. Saya mau kamu menjebak Rhea, bagaimana pun caranya. Yang paling cepat sih, kamu bisa fitnah dia melakukan kesalahan fatal."Mata Andini berbinar. Ia mengangguk paham dengan maksud wanita yang duduk di hadapannya kini. "Saya mengerti."Anna merendahkan kepalanya, berbisik dengan suara pelan. "Buat seolah-olah Rhea adalah seorang pengkhianat. Perlihatkan kejahatan dia yang ingin menjual
Di dalam mobil yang sedang melaju menuju apartemennya selepas mengantar Rhea kembali ke rumah kostnya, ponsel Adrian bergetar. Adrian melirik nama Evelyn yang tertera di layar sebelum mengangkatnya. "Ada apa, Evelyn?" tanya Adrian santai sambil tetap fokus mengemudi. "Adrian, kamu hati-hati dengan Anna," suara Evelyn terdengar serius dari seberang telpon. "Baru saja Anna dari sini, dia mengamuk dan mengungkit masa lalu aku dan sempat mengancam hubunganmu dengan Rhea. Dia sepertinya akan bertindak nekat kali ini." Adrian menyipitkan matanya tajam, cengkeramannya pada kemudi mendadak mengencang. "Dia mengancam Rhea?" "Dari kata-katanya, aku tahu dia akan mengancam hubungan kalian. Kamu tahu kan kalau dia itu sering mengancam dan berbuat nekat? Kalau bukan karena bantuan kakek, kamu dan dia—" "Evelyn, itu masa lalu. Kita berempat sudah saling berdamai dan melupakannya. Kalau dia sampai nekat lagi kali ini, jangan salahkan aku yang tidak akan mentoleransi perbuatanya," tegas Adrian d
Hari itu, cuaca cerah menyelimuti Jakarta yang masih riuh dengan kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Dengan emosi kuat dan amarah yang sebentar lagi meluap, Anna memacu mobilnya menuju apartemen Evelyn. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan meluapkan seluruh kekesalannya tanpa basa-basi. "Kak Evelyn! Apa kamu tahu tentang hubungan Adrian dengan wanita bernama Rhea?" seru Anna sambil melempar tas mewahnya ke sofa. "Dia bahkan membawa wanita itu ke sebuah restoran mewah hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Dia belum pernah melakukan hal itu padaku dulu."Tanpa sadar Anna berteriak, Nana yang tengah menonton film kesukaannya langsung menyingkir dan masuk ke kamarnya karena ketakutan.Evelyn yang sedang menyesap teh hangat di meja makan hanya mendengarkan dengan tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau kepanikan yang diharapkan Anna. Dengan santai, Evelyn meletakkan cangkirnya. "Dari mana kamu tahu? Lalu masalahny
Malam minggu pun tiba. Adrian menjemput Rhea dengan setelan jas rapi tanpa dasi, tampak sangat menawan. Rhea sendiri tampil anggun mengenakan gaun simpel berwarna hitam yang mempertegas kesan elegan. Sepanjang jalan menuju restoran, Rhea tampak sangat bersemangat. Bibirnya terus bersenandung pelan, persis seperti gadis kecil yang baru pertama kali melihat pemandangan jalan. "Susah enggak dapat mejanya?" Adrian menggelengkan kepalanya. "Kamu punya koneksi orang dalam? Kok bisa, dapat tempat di akhir pekan?"Adrian hanya terkekeh pelan, matanya fokus mengamati jalan. "Itu rahasia. Yang penting malam ini kamu bisa makan dengan nyaman di sana."Saat tiba di lokasi, suasana di sekitar restoran cukup ramai pelanggan. Seorang petugas parkir menghampiri Adrian dan menyapanya tanpa perlu bertanya. Di depan pintu masuk, manajer restoran datang menyambut mereka dengan gestur yang sangat formal."Selamat malam Pak Adrian. Area rooftop sudah disiapkan sesuai dengan pesanan anda," ujar manajer sam
Anna masih terlalu bangga dengan pencapaiannya yang bisa membuat keadaan internal Kyama Group sedikit kacau beberapa hari ke belakang. Dengan bantuan Olivia, ia berhasil membuat manajer divisi editorial mengubah draf rancangan naskah yang akan diunggah ke dalam aplikasi. Namun, kebanggaan itu tak berlangsung lama. Setelah kemarin mendapat kabar ada rapat internal tim utama, hari ini divisi marketing Kyama Group menyampaikan surat penawaran kontrak kerja sama dengan format dan draf baru yang telah direvisi. Wajah Anna yang kemarin penuh dengan senyuman, kini berubah datar. Tampak awan gemuruh di atas kepalanya yang siap menyemburkan petir hujan ke sekitarnya. "Apa maksudnya ini?" Anna murka. Meja kerja dibanting kasar hingga suaranya terdengar ke ruangan sebelah. Para staf yang kebetulan lewat di depan ruangannya seketika menoleh lalu pergi terburu-buru, takut terkena imbasnya. Tak lama kemudian, asisten pribadi Anna masuk memberikan dokumen ce







