共有

Sentuhan Dalam Lift

作者: Rachel Bee
last update 公開日: 2026-08-06 19:36:04

"Rhea!" panggil Maya yang berdiri di depan pintu lift. "Sini!"

Rhea yang baru masuk melewati pintu detektor segera berlari kecil ke samping Maya. Si ratu gosip itu tersenyum lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan menahan kekehan. Arah matanya melirik ke sebelah kiri Rhea, berpura-pura terkejut seolah baru menyadari seseorang berdiri di sana.

"Baru datang?" tegur Adrian. Rhea terkejut mendengar suara bariton yang beberapa hari ini telah membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh lalu mengangguk pelan. "Ini, kopi!"

Rhea mengambil kopi hangat yang disodorkan oleh Adrian. Ia tersenyum tipis menerimanya. "Terima kasih."

"Ada rapat pembahasan aplikasi baru untuk peluncuran buku digital jam sembilan," ujarnya pelan. Rhea yang baru saja menyeruput hangatnya kopi tiba-tiba teringat tentang rapat pagi ini.

"Oh, yang waktu itu pernah dibahas Pak Baskoro ya?" tanya Maya yang tiba-tiba menyambar pertanyaan.

"Iya," sahut Adrian datar.

Pintu lift pun terbuka. Segerombolan karyawan yang telah menunggu di depan pintu segera masuk ke dalam lift. Dalam beberapa menit, lift itu telah penuh dan yang tersisa di barisan belakang, hanya Rhea dan Adrian.

"Rhea, ke lift sebelah saja. Kosong loh," seru Maya yang sengaja menutup pintu lift sambil melambaikan tangannya.

Rhea mengepalkan tangannya kesal, sementara Adrian berjalan pelan menuju lift kosong di sebelahnya.

"Rhea, sini!" panggil Adrian. Rhea menoleh lalu ikut berjalan ke samping Adrian.

"Ini kan lift untuk—"

"Masuk saja," potong Adrian yang langsung menarik tangan Rhea masuk ke dalam lift.

Rhea ingin menolak masuk tapi Adrian segera menutup pintu liftnya. "Adrian, ini kan lift buat petinggi perusahaan."

"Aku kan kepala divisi. Jabatanku setara manager," sahut Adrian santai.

"Tapi aku kan masih karyawan biasa. Mana bisa masuk ke dalam lift khusus?" protes Rhea.

Adrian tak menjawab. Pria itu justru berdiri santai, lalu menekan tombol lantai lima. Sambil merapikan dasinya, Adrian menoleh dan tersenyum lembut ke arah Rhea. "Kamu lupa?" tanya Adrian pelan.

Rhea mengerutkan dahi, mempererat genggamannya pada gelas kopi hangat pemberian Adrian. "Lupa soal apa?"

"Lupa dengan perjanjian kita. Untuk itu, mulai hari ini, seluruh kantor berhak tahu tentang hubungan kita berdua," sahut Adrian tenang. "Termasuk naik lift ini."

Rhea menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Adrian. "Tapi tindakan ini bisa memicu gosip baru. Nanti aku digosipkan tidak profesional, melanggar aturan kantor dan memanfaatkan hubungan aku sama kamu."

"Bagus," jawab Adrian singkat.

"Bagus? Maksud kamu?" pekik Rhea.

Adrian memutar tubuhnya, setengah langkah mendekat namun cukup membuat Rhea menangkap aroma mint yang samar.

"Kalau ada direksi lihat kita satu lift, berarti mereka tidak akan lagi menganggap hubungan ini sekedar sandiwara," bisik Adrian rendah.

Jantung Rhea berdegup kencang. Ia menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya dari bibir Adrian yang semakin mendekat.

"Tapi kan...tetap saja ini melanggar aturan," cicit Rhea.

"Aturan yang mana? Tidak ada peraturan seperti itu di kantor," ucap Adrian santai, tangannya terangkat. "Ada busa."

"Hah?" Rhea belum sempat beraksi, tiba-tiba Adrian mengusap pelan ibu jarinya di sudut bibir Rhea yang terkena sedikit busa kopi.

Sentuhan lembut itu membuat tubuh Rhea membeku seketika. Panas menjalar di sekitar pipinya, menimbulkan rona merah menyala hingga ke telinganya.

"Dan lagi," lanjut Adrian dengan suara rendah yang lembut, tatapan matanya terkunci pada iris mata Rhea. "Pacar aku bukan orang biasa."

TING!

Pintu lift terbuka. Tepat di luar pintu, tiga orang staf divisi baru saja kembali dari pantry sambil membawa cangkir kopi. Mereka serentak menoleh ke belakang sambil membelalakkan mata dan mulut setengah terbuka. Maya yang berdiri di tengah hampir saja menjatuhkan cangkir, menyaksikan adegan Adrian tengah mengusap bibir Rhea lalu segera menarik tangannya dengan tenang.

Rhea tersentak kaget. Ia segera mundur, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Adrian. Sementara Adrian, dengan tenangnya menyodorkan tangannya pada Rhea, lalu menatap para staf yang berdiri seolah tak terjadi apa-apa.

"Selamat pagi," sapa Adrian dingin, lalu menoleh pada Rhea di sampingnya. "Ayo sayang, sudah sampai."

Adrian sempat terdiam, ia baru sadar kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Namun ia tetap berjalan seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.

Tiga orang staf divisi yang masih berdiri di depan lift seketika membeku. Maya menggenggam erat-erat gelasnya dan ketiganya saling melirik dengan mata terbelalak lebar.

Rhea berjalan cepat mengikuti langkah lebar Adrian menuju ruangan divisi editorial yang berada tak jauh dari lift. Ia menyunggingkan senyuman manis, melingkarkan tangannya di lengan Adrian.

"Terima kasih, Mas," bisiknya malu-malu.

"Aku ke ruangan dulu. Nanti jam sembilan aku jemput kamu buat rapat aplikasi digital," kata Adrian tenang. Rhea menatap mata Adrian yang lembut, lalu mengangguk pelan.

Begitu sosok Adrian menghilang di belokan koridor, Rhea mengusap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangannya.

"Rhea!" Maya menyambar lengan Rhea lalu menariknya ke meja kerjanya. "Tadi enggak salah dengar, kan? Pak Adrian si kanebo itu panggil kamu sayang?" bisik Maya histeris yang berusaha menekan suaranya.

"Jangan kencang-kencang, May."

"Enggak bisa," potong Maya. "Tadi aku lihat, dia usap-usap bibir kamu. Demi Tuhan, Rhea, ini salah satu keajaiban dunia. Harus semua orang tahu."

Rhea memegang pelipisnya yang mendadak nyeri. Ia membuka laptop dan laporan dari penerbit cabang lalu berkata, "Kita ada rapat jam sembilan. Kamu sudah siapkan bahan-bahannya belum?" ujar Rhea mengalihkan pembicaraan.

"Masih tidak menyangka, Pak Adrian panggil kamu sayang. Kelihatan banget naturalnya," goda Maya yang berpura-pura tak mendengar ucapan Rhea.

"Natural?" Rhea baru terpikirkan ucapan Maya tadi. Akting Adrian memang terlihat natural tanpa paksaan. Ia membayangkan adegan pria itu yang mengusap bibirnya. Apakah itu murni atau hanya untuk akting?

Rhea menggelengkan kepalanya pelan, mengusir bayangan Adrian dari pikirannya. "Bubar! Kerja sana!"

Sementara itu, di ruang kerjanya yang tertutup rapat. Adrian berdiri menghadap ke arah kaca jendela, tatapannya kosong, mengarah ke halaman parkir. Tanpa sadar, ibu jarinya mengusap pelan jemari yang tadi mengusap lembut bibir Rhea.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu berkata dalam hati, "Bahaya."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Adegan Pemantik Cemburu

    Pukul sembilan tepat Adrian sudah berdiri gagah di depan pintu ruangan divisi editorial. Kehadirannya membuat ruangan yang semula riuh mendadak menjadi sunyi. Satu persatu staf divisi yang dijadwalkan mengikuti rapat hari ini, satu persatu keluar ruangan sambil membawa laptop dan laporan tertulis. Rhea buru-buru menyambar laptop dan lembaran draf hasil revisinya semalam. Saat Rhea melangkah menuju pintu kaca, ia bisa merasakan sebuah tatapan tajam dan permusuhan menusuk punggungnya dari belakang. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik tatapan itu. Itu adalah tatapan Andini, salah satu editor senior di tim fiksi ilmiah yang selama dua tahun terakhir terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Adrian. Ia telah berulang kali mendekati pria itu, tapi selalu berakhir dengan lirikan tajam tanda waspada untuk menghindarinya. Andini adalah tipe wanita ambisius dalam mengejar targetnya. Ia sering menggunakan alasan ingin berkonsultasi bersama tim divisi IT hanya untuk mengobrol

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Sentuhan Dalam Lift

    "Rhea!" panggil Maya yang berdiri di depan pintu lift. "Sini!" Rhea yang baru masuk melewati pintu detektor segera berlari kecil ke samping Maya. Si ratu gosip itu tersenyum lebar sambil menutup mulutnya dengan tangan menahan kekehan. Arah matanya melirik ke sebelah kiri Rhea, berpura-pura terkejut seolah baru menyadari seseorang berdiri di sana."Baru datang?" tegur Adrian. Rhea terkejut mendengar suara bariton yang beberapa hari ini telah membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh lalu mengangguk pelan. "Ini, kopi!" Rhea mengambil kopi hangat yang disodorkan oleh Adrian. Ia tersenyum tipis menerimanya. "Terima kasih." "Ada rapat pembahasan aplikasi baru untuk peluncuran buku digital jam sembilan," ujarnya pelan. Rhea yang baru saja menyeruput hangatnya kopi tiba-tiba teringat tentang rapat pagi ini. "Oh, yang waktu itu pernah dibahas Pak Baskoro ya?" tanya Maya yang tiba-tiba menyambar pertanyaan. "Iya," sahut Adrian datar. Pintu lift pun terbuka. Segerombolan karyawan ya

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Kejutan Tak Terduga

    Pertemuan di kafe semalam, ternyata membuat Rhea tak bisa berkonsentrasi hari ini. Bayangan saat Adrian memeluk pinggang dan menggenggam tangannya, masih terasa kehangatannya. Tak ada yang menyangka, pria yang terkenal dengan wajah datar dan dingin itu mampu berakting romantis dan mengintimidasi di setiap tingkahnya. Pagi ini di lantai lima. Rhea melangkah memasuki area pantry kantor dengan mata yang masih agak sembab karena kurang tidur. Di tangannya, ada cangkir mungil berbetuk kucing kesayangannya. Niatnya, ia ingin menikmati segelas kopi hangat hari ini. "Ternyata, pura-pura pacaran lebih melelahkan daripada edit naskah." batin Rhea. Tepat saat mesin kopi dinyalakan, pintu pantry terbuka. Rhea refleks menoleh dan dari balik pintu muncullah sosok pria yang semalam tak bisa membuatnya tidur nyenyak. Adrian masuk sambil menggulung lengan kemejanya. Entah kenapa, adegan itu membuat Rhea semakin gugup. Jantung Rhea tiba-tiba berdegup kencang, lalu memberanikan diri melangkah lebih d

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Pertemuan Rahasia

    Sejak ancaman Pak Bram tadi pagi, Rhea tak berhasil memejamkan matanya setelah pulang ke apartemen. Ia tak mungkin menghancurkan karir yang telah dibangunnya dalam sekejap mata hanya karena tindakan bodoh dirinya yang mengajak Adrian bekerja sama. Kalau saja Olivia tidak datang pagi tadi, semuanya tak akan serumit ini. Maka dari itu, demi mempertahankan reputasi serta posisinya di kantor, Rhea nekat bertemu dengan Adrian di sebuah kafe setelah pulang kerja. Semua ini demi masa depan karirnya, kalau tidak, buat apa ia rela duduk bermanis-manis di depan pria muka datar itu."Pak Adrian, selanjutnya punya rencana apa?" tanya Rhea sembari menyeruput minumannya. Adrian melirik dari sudut kacamatanya, mengembuskan napasnya sedikit kesal. "Jangan panggil pak," potong Adrian. Mata Rhea berkedip-kedip. "Kenapa memangnya?"Sambil menyerahkan lembaran dokumen berisi draf kontrak terbaru, Adrian menjawabnya dengan tenang. "Pasangan tidak memanggil Pak.""Oh, begitu? Baik, Adrian," sahut Rhea

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Undangan Tak Terduga

    Kehadiran Pak Bram rupanya membuat divisi editorial seperti kejatuhan bom. Aura mengintimidasi dari sosok pria paruh baya itu berhasil membuat seluruh ruangan mendadak sangat sibuk. Mata mereka berpura-pura terpaku pada layar monitor padahal telinga mereka berdiri tegang.Olivia melangkah maju. Dadanya naik turun menahan marah. Tangannya menunjuk ke arah Rhea yang masih berdiri kaku di samping Adrian."Pasti dia yang maksa kamu kan, Mas?" suaranya melengking tinggi membuat seisi ruangan hening mencekam. "Apa kurangnya aku? Aku lebih cantik, kaya, anak pemilik perusahaan pula. Dia itu siapa dibanding aku?"Rhea menarik napas panjang. Ujung kuku Rhea menusuk telapak tangannya sendiri. Selama dua tahun bekerja, baru kali ini dirinya dipermalukan di depan divisi seperti ini. Tanpa berkata apapun, Adrian melangkah satu garis di depan Rhea, memasang tubuh tingginya untuk melindungi wanita itu dari jangkauan Olivia. Ini baru pertama kalinya Adrian bertindak refleks seperti itu dan Olivia ma

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Tawaran Kontrak Kekasih Palsu

    Rhea melangkah pelan menyusuri koridor lantai lima menuju pantry. Tepat lima langkah menuju pintu, ia mendadak menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah dua orang yang tengah berlarian di sepanjang koridor. Rhea mengenali keduanya, si Adrian kepala IT yang kaku dan selalu berwajah datar kini berjalan cepat dengan ekspresi panik. Di belakangnya, Olivia, putri pemilik perusahaan, mengejar sambil membawa buket bunga raksasa, diikuti dua pengawal berbadan tegap. Melihat kekacauan di depan matanya, sebuah ide gila tiba-tiba muncul di kepalanya. Ini semua berkat kalimat beracun yang tak sengaja didengarnya di toilet beberapa menit lalu. "Eh, aku dengar Rhea dipromosikan jadi kepala editor ya? Hebat banget, baru dua tahun kerja sudah dapat posisi tinggi." "Ah, tidak heran. Pasti dia ada 'main belakang' sama pak Baskoro. Kabarnya, dia dia itu sering centil di depan para petinggi.""Wajar sih, namanya juga perempuan pelosok. Pasti ngiler lihat bos muda yang tampan k

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status