Home / Romansa / Sayang, Ini Hanya Kontrak / Kejutan Tak Terduga

Share

Kejutan Tak Terduga

Author: Rachel Bee
last update publish date: 2026-08-06 19:34:49

Pertemuan di kafe semalam, ternyata membuat Rhea tak bisa berkonsentrasi hari ini. Bayangan saat Adrian memeluk pinggang dan menggenggam tangannya, masih terasa kehangatannya. Tak ada yang menyangka, pria yang terkenal dengan wajah datar dan dingin itu mampu berakting romantis dan mengintimidasi di setiap tingkahnya.

Pagi ini di lantai lima. Rhea melangkah memasuki area pantry kantor dengan mata yang masih agak sembab karena kurang tidur. Di tangannya, ada cangkir mungil berbetuk kucing kesayangannya. Niatnya, ia ingin menikmati segelas kopi hangat hari ini. "Ternyata, pura-pura pacaran lebih melelahkan daripada edit naskah." batin Rhea.

Tepat saat mesin kopi dinyalakan, pintu pantry terbuka. Rhea refleks menoleh dan dari balik pintu muncullah sosok pria yang semalam tak bisa membuatnya tidur nyenyak. Adrian masuk sambil menggulung lengan kemejanya. Entah kenapa, adegan itu membuat Rhea semakin gugup.

Jantung Rhea tiba-tiba berdegup kencang, lalu memberanikan diri melangkah lebih dekat di dekat Adrian. "Soal...semalam," bisik Rhea pelan, bibirnya tak tahan untuk bertanya, "Kamu latihan di mana?"

Adrian tak menoleh. Tangannya yang lincah sibuk meracik minuman di cangkir miliknya. "Aku pernah ambil kursus ballroom dance waktu kuliah. Buat iseng saja sih."

Rhea terbelalak mendengarnya. "Kalau begitu, kenapa kamu kaget waktu aku sebut kata dansa?"

"Bukan kaget," jawab Adrian. Pria itu berbalik, berhadapan dengan Rhea sambil menyilangkan tangan di dadanya. "Aku hanya tidak suka diremehkan."

Adrian menatap Rhea, begitu pula sebaliknya. Tatapan mereka bertemu, tak ada yang bicara. Hingga akhirnya, bunyi mesin kopi membuyarkan semuanya.

Terkejut, Rhea cepat-cepat berpaling, berniat menuangkan air kopi yang mulai mengucur. Namun, karena gemetar, ia tak sengaja menyentuh pinggiran wadah pemanas.

"Ah..!" Rhea merintih pelan, refleks menarik tangannya.

Sebelum sempat meniup ujung jarinya, Adrian segera menyambar pergelangan tangan Rhea dengan lembut. Pria itu dengan sigap menuntun tangan Rhea ke bawah kucuran air keran yang dingin di wastafel pantry.

"Makanya, jangan melamun," tegur Adrian. Suara datar tapi entah mengapa terdengar sangat lembut. Rhea sempat tertegun sejenak, kepalanya mendongak dan mendapati wajah Adrian yang begitu dekat dengannya.

Saat tak sengaja bekas lukanya tersentuh jari Adrian, Rhea meringis. "Auw..."

"Sakit?" bisik Adrian rendah.

"E-Enggak...cuma kaget," jawab Rhea terbata-bata karena baru saja sadar dari lamunannya.

Tepat pada momen yang sangat manis dan romantis itu, tiba-tiba pintu pantry terbuka lebar.

"Rhea! Dipanggil Pak Bas—" Maya berdiri di ambang pintu dengan mata terbelalak sempurna melihat pemandangan sempurna di depannya. Adrian yang tengah memegang tangan Rhea dengan mesra seketika menoleh dengan raut wajahnya yang datar dan dingin.

Merasa ada bahaya di depannya, Maya refleks menutup matanya lalu berbalik badan sambil berteriak, "Maaf! Anggap saja tidak lihat apa-apa!"

"Maya, tunggu! Ini salah paham!" teriak Rhea panik sambil menarik tangannya dari genggaman Adrian.

Di lorong koridor, terdengar suara Maya yang berteriak heboh memanggil teman-teman gosipnya. Mereka berkumpul di tengah ruangan dengan mata berbinar-binar menunggu gosip panas dari mulut Maya. "Guys! Pak Adrian sama Rhea lagi pegangan tangan di pantry!"

Rhea menghela napas beratnya. Ia terlihat pasrah dan harus siap ditodong berbagai pertanyaan di ruangan divisinya nanti. Sementara itu, saat ia menoleh ke arah Adrian, pria itu justru tengah mengusap ibu jarinya yang sempat menyentuh kulit Rhea tadi.

"Rumor yang tepat di tangan orang yang tepat," komentar Adrian tanpa dosa.

"ADRIAN!" pekik Rhea gemas sambil melempar kain lap ke arah dada Adrian. Wajahnya memerah menahan malu, lalu pergi begitu saja meninggalkan cangkir kopinya yang masih tergeletak di meja pantry.

Rumor adegan mesra di pantry, antara Rhea dan Adrian dengan cepat menyebar luas di seluruh ruangan lantai lima. Dua divisi yang selalu saling bersaing, akhirnya kembali akur dalam satu hari hanya karena ingin mendengarkan langsung rumor panas dari si biang gosip divisi editorial.

Maya berdiri di tengah ruangan, menulis dengan lengkap adegan yang ia lihat di ruang pantry. Adegan yang ia tulis dibuat begitu dramatis bak drama negeri ginseng.

Rhea hanya menggelengkan kepalanya, malas menimpali mereka.

Pukul lima sore, Rhea yang telah bersiap-siap membereskan mejanya, tiba-tiba diseret oleh Adrian yang sejak tadi berdiri di seberang mejanya.

"Ikut aku sebentar," kata Adrian singkat.

"Eh, mau ke mana? Aku mau pulang."

"Ke ruang rapat tiga,"ujar Adrian yang terus berjalan ke belokan koridor lantai lima.

Rhea mendengus, mengekor di belakang Adrian tanpa banyak protes. Begitu pintu tertutup, ruangan itu langsung dikunci oleh Adrian. Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Rhea sambil menyilangkan tangan di dada.

"Ada sesuatu yang harus diubah? Kita bisa bicara di luar," tanya Rhea sambil mengedipkan matanya.

Adrian tak membalas pertanyaan Rhea. Ia meletakkan sebuah paper bag lalu menggesernya ke arah Rhea. "Buka," perintahnya.

Rhea mengerutkan dahinya saat membuka paper bag yang terlihat mahal itu. Di dalam sana, terbaring gaun pesta warna merah marun persis seperti yang ditunjukkan oleh Adrian kemarin malam.

"Adrian..." Rhea menatap gaun itu lalu menatap Adrian dengan tatapan tak percaya. "Ini kan gaun yang—"

"Aku punya kenalan pemilik butik dan ada rancangan gaunnya mirip dengan yang kamu mau," ujar Adrian sambil membetulkan letak kacamata dengan jarinya. "Kebetulan, hanya tersisa model yang itu. Aku harap ukurannya pas."

Jantung Rhea mendadak berhenti berdetak. Pasalnya, gaun yang dirinya perlihatkan semalam adalah gaun edisi terbatas di sebuah butik termahal di Jakarta. Butik eksklusif yang sering dikunjungi oleh selebritis papan atas.

"Kamu, yang beli gaun mahal ini?" cicit Rhea, tak sanggup menahan rasa terkejutnya.

Adrian menatap lurus lalu mengangguk. "Kita harus tampil maksimal supaya lebih meyakinkan," ujarnya santai.

"Tapi ini harganya mahal, Adrian." Rhea mengusap-usap wajahnya, sedikit frustasi dengan tingkah Adrian yang menurutnya hanya membuang-buang uang percuma.

"Anggap saja investasi, Rhea," jawab Adrian tenang sambil tersenyum tipis. "Harganya biasa saja kok."

"Investasi?" Rhea membelalakkan matanya tak percaya.

Adrian menaikkan bahunya santai. "Iya. Anggap saja investasi."

Rhea menepuk dahinya, pura-pura pusing. "Kalau penyamaran kita gagal, kamu akan rugi. Tidak disangka, kepala divisi IT banyak juga duitnya."

Adrian melangkah mendekati Rhea, mengikis jarak di antara mereka hingga wangi mint segar menyergap indera penciuman Rhea. Ia menunduk sedikit, menatap Rhea dari balik kacamatanya. "Aku, hanya ingin membuat banyak pasang mata tertuju padamu," bisik Adrian dengan suara rendah.

Rhea memegang tali paper bag sambil menahan debaran jantungnya. "A-aku pasti tidak akan membuatmu malu."

Tangan Adrian terangkat perlahan, jemarinya yang hangat menyapu lembut sehelai rambut yang jatuh tepat di pipi Rhea. Ia juga menyelipkan rambut itu ke belakang telinga sambil berbisik lagi, "Aku tahu."

Sentuhan halus itu membuat Rhea menahan napasnya.

Untuk pertama kalinya sejak Rhea mengenal Adrian, ia berharap pria itu tak segera menurunkan tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Gosip Baru

    "Rhea!" panggil Nathan dari meja kerjanya. "Kesini sebentar."Rhea baru saja berniat ingin pulang, tiba-tiba saja Nathan memanggilnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?'"Tawaran tempo hari masih berlaku. Kamu enggak mau jadi sekretaris saya?" tanya Nathan ramah. Seketika Rhea teringat dengan perbincangan di depan lift minggu lalu. Rhea diam, mencari jawabannya di dalam kepala. "Saya lagi sibuk. Selain urus proyek, ada pekerjaan lain yang mengharuskan saya memiliki sekretaris.""Maaf Pak, saya menolak. Sesuai dengan jawaban saya saat itu," jawab Rhea tegas. Nathan menghela napas kasar. Ia sudah yakin kalau Rhea pasti menolaknya. Wanita ini memang tegas dengan tindakannya. "Rhea, kamu tidak mau jenjang karir lebih tinggi? Kamu selamanya mau jadi editor di sini?" Nathan sengaja memojokkan Rhea. Ingin tahu reaksi wanita itu. Dalam hati diam-diam ia merasa salut. Jarang sekali ada staf yang menolak dipindahkan lewat jalur pribadi seperti ini. "Saya sangat ingin jenjang karir yang lebih b

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Rencana Jahat Dimulai

    Di tempat terpisah, Andini yang dihubungi oleh Anna mendadak tegang saat wanita itu mengeluarkan amplop tebal. Ia tiba-tiba menegakkan punggungnya, lalu sebuah ide licik melintas di kepalanya. "Saya mau kamu buat Rhea dicurigai oleh Adrian dan timnya yang lain," ujar Anna yang disambut seringai tipis dari Andini. "Tapi Pak Adrian terlalu sulit didekati, Rhea pun sama. Bagaimana caranya menjatuhkan wanita itu?" tanya Andini yang masih bingung dengan permintaan Anna. Ia memang memiliki sejuta ide licik, tapi terlihat sulit untuk dilakukan. Anna menepuk amplop yang dibawa olehnya. "Di sini ada lima juta. Saya mau kamu menjebak Rhea, bagaimana pun caranya. Yang paling cepat sih, kamu bisa fitnah dia melakukan kesalahan fatal."Mata Andini berbinar. Ia mengangguk paham dengan maksud wanita yang duduk di hadapannya kini. "Saya mengerti."Anna merendahkan kepalanya, berbisik dengan suara pelan. "Buat seolah-olah Rhea adalah seorang pengkhianat. Perlihatkan kejahatan dia yang ingin menjual

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Membahas Kerja Sama

    Di dalam mobil yang sedang melaju menuju apartemennya selepas mengantar Rhea kembali ke rumah kostnya, ponsel Adrian bergetar. Adrian melirik nama Evelyn yang tertera di layar sebelum mengangkatnya. "Ada apa, Evelyn?" tanya Adrian santai sambil tetap fokus mengemudi. "Adrian, kamu hati-hati dengan Anna," suara Evelyn terdengar serius dari seberang telpon. "Baru saja Anna dari sini, dia mengamuk dan mengungkit masa lalu aku dan sempat mengancam hubunganmu dengan Rhea. Dia sepertinya akan bertindak nekat kali ini." Adrian menyipitkan matanya tajam, cengkeramannya pada kemudi mendadak mengencang. "Dia mengancam Rhea?" "Dari kata-katanya, aku tahu dia akan mengancam hubungan kalian. Kamu tahu kan kalau dia itu sering mengancam dan berbuat nekat? Kalau bukan karena bantuan kakek, kamu dan dia—" "Evelyn, itu masa lalu. Kita berempat sudah saling berdamai dan melupakannya. Kalau dia sampai nekat lagi kali ini, jangan salahkan aku yang tidak akan mentoleransi perbuatanya," tegas Adrian d

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Masa Lalu Terungkit Lagi

    Hari itu, cuaca cerah menyelimuti Jakarta yang masih riuh dengan kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Dengan emosi kuat dan amarah yang sebentar lagi meluap, Anna memacu mobilnya menuju apartemen Evelyn. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan meluapkan seluruh kekesalannya tanpa basa-basi. "Kak Evelyn! Apa kamu tahu tentang hubungan Adrian dengan wanita bernama Rhea?" seru Anna sambil melempar tas mewahnya ke sofa. "Dia bahkan membawa wanita itu ke sebuah restoran mewah hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Dia belum pernah melakukan hal itu padaku dulu."Tanpa sadar Anna berteriak, Nana yang tengah menonton film kesukaannya langsung menyingkir dan masuk ke kamarnya karena ketakutan.Evelyn yang sedang menyesap teh hangat di meja makan hanya mendengarkan dengan tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau kepanikan yang diharapkan Anna. Dengan santai, Evelyn meletakkan cangkirnya. "Dari mana kamu tahu? Lalu masalahny

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Ulang Tahun Bersama Adrian

    Malam minggu pun tiba. Adrian menjemput Rhea dengan setelan jas rapi tanpa dasi, tampak sangat menawan. Rhea sendiri tampil anggun mengenakan gaun simpel berwarna hitam yang mempertegas kesan elegan. Sepanjang jalan menuju restoran, Rhea tampak sangat bersemangat. Bibirnya terus bersenandung pelan, persis seperti gadis kecil yang baru pertama kali melihat pemandangan jalan. "Susah enggak dapat mejanya?" Adrian menggelengkan kepalanya. "Kamu punya koneksi orang dalam? Kok bisa, dapat tempat di akhir pekan?"Adrian hanya terkekeh pelan, matanya fokus mengamati jalan. "Itu rahasia. Yang penting malam ini kamu bisa makan dengan nyaman di sana."Saat tiba di lokasi, suasana di sekitar restoran cukup ramai pelanggan. Seorang petugas parkir menghampiri Adrian dan menyapanya tanpa perlu bertanya. Di depan pintu masuk, manajer restoran datang menyambut mereka dengan gestur yang sangat formal."Selamat malam Pak Adrian. Area rooftop sudah disiapkan sesuai dengan pesanan anda," ujar manajer sam

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Rencana Yang Gagal

    Anna masih terlalu bangga dengan pencapaiannya yang bisa membuat keadaan internal Kyama Group sedikit kacau beberapa hari ke belakang. Dengan bantuan Olivia, ia berhasil membuat manajer divisi editorial mengubah draf rancangan naskah yang akan diunggah ke dalam aplikasi. Namun, kebanggaan itu tak berlangsung lama. Setelah kemarin mendapat kabar ada rapat internal tim utama, hari ini divisi marketing Kyama Group menyampaikan surat penawaran kontrak kerja sama dengan format dan draf baru yang telah direvisi. Wajah Anna yang kemarin penuh dengan senyuman, kini berubah datar. Tampak awan gemuruh di atas kepalanya yang siap menyemburkan petir hujan ke sekitarnya. "Apa maksudnya ini?" Anna murka. Meja kerja dibanting kasar hingga suaranya terdengar ke ruangan sebelah. Para staf yang kebetulan lewat di depan ruangannya seketika menoleh lalu pergi terburu-buru, takut terkena imbasnya. Tak lama kemudian, asisten pribadi Anna masuk memberikan dokumen ce

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status