LOGINPukul sembilan tepat Adrian sudah berdiri gagah di depan pintu ruangan divisi editorial. Kehadirannya membuat ruangan yang semula riuh mendadak menjadi sunyi. Satu persatu staf divisi yang dijadwalkan mengikuti rapat hari ini, satu persatu keluar ruangan sambil membawa laptop dan laporan tertulis.
Rhea buru-buru menyambar laptop dan lembaran draf hasil revisinya semalam. Saat Rhea melangkah menuju pintu kaca, ia bisa merasakan sebuah tatapan tajam dan permusuhan menusuk punggungnya dari belakang. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik tatapan itu. Itu adalah tatapan Andini, salah satu editor senior di tim fiksi ilmiah yang selama dua tahun terakhir terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Adrian. Ia telah berulang kali mendekati pria itu, tapi selalu berakhir dengan lirikan tajam tanda waspada untuk menghindarinya. Andini adalah tipe wanita ambisius dalam mengejar targetnya. Ia sering menggunakan alasan ingin berkonsultasi bersama tim divisi IT hanya untuk mengobrol dengan Adrian. "Pak Adrian," panggil Andini dengan suara selembut mungkin. Ia berjalan pelan menghampiri Adrian yang tengah berdiri di depan pintu kaca. Langkah Rhea berhenti tepat di samping mereka. "Ya, ada apa, Din?" jawab Adrian datar, matanya melirik ke arah Rhea yang tengah mengerucutkan bibirnya. "Saya telah menyelesaikan file materi untuk rapat nanti." Andini tersenyum manis sambil merapikan rambutnya. "Saya dengar, tim divisi IT membutuhkan data tambahan dari tim fiksi. Saya kemarin sengaja lembur untuk membantu tim Pak Adrian." Andini melirik Rhea yang mengerutkan dahinya, ada kilatan meremehkan dari lirikan itu. Rhea memutar bola matanya malas dalam hati. "Terima kasih, Andini. Nanti akan saya beritahu tim IT untuk membahasnya," sahut Adrian singkat. "Sama-sama, Pak." Andini melangkah lebih dekat ke arah Adrian, berusaha menarik perhatian pria itu. "Kalau misalkan Pak Adrian masih butuh data lagi, saya siap meluangkan waktu nanti malam. Kebetulan, saya belum ada rencana untuk pulang tepat waktu." Rhea menundukkan kepalanya, berpura-pura membaca laporan miliknya. Dalam hati berkata, "Kenapa aku kesal? Ini kan cuma pura-pura.' Maya si ratu gosip bersama teman-temannya saling menyikut dari balik kubikel, melihat persaingan dingin di depan pintu. Sedangkan Rhea, berdiri diam sambil mengepalkan tangannya menahan geram. Ada rasa panas yang merayap dalam hatinya, sebuah perasaan cemburu yang tak diundang. Namun, sebelum Rhea membuka mulutnya, Adrian lebih dulu bereaksi. Ia menggeser tubuhnya, melangkah lebih dekat dengan Rhea dan secara alami meletakkan telapak tangan di belakang pinggangnya seolah memberi isyarat bahwa perempuan itu ada di sisinya. Andini terdiam membeku menatap tangan Adrian yang kini berada di pinggang Rhea. Tanpa sadar tangannya mengepal di balik tubuhnya. "Terima kasih atas tawaranmu, Dini," ujar Adrian dengan wajah datar dan dingin demi menjaga profesionalismenya. "Tapi saya sudah punya jadwal bersama Rhea." Raut wajah Andini berubah pucat. "O-oh begitu, Pak? Tapi kan Rhea hanya mengerjakan data fiksi remaja. Datanya pasti berbeda dengan milik saya." Rhea kembali memutar bola matanya malas. Dengan senyum setengah terpaksa, ia membalas ucapan Andini yang terdengar merendahkan kinerjanya. "Andini, Pak Baskoro sudah memberikan kepercayaan sama aku untuk menyiapkan data dari seluruh staf terkait lalu mempresentasikannya di depan Pak Bram bulan depan. Kamu serahkan saja data yang kamu punya, sisanya aku dan Adrian yang kerjakan." Andini terdiam tak bisa membalas ucapan Rhea. Wajahnya memucat, menyunggingkan senyuman tipis di ujung bibirnya. "Ayo, sayang. Kita sudah ditunggu Pak Baskoro di ruangan," kata Adrian, menarik pelan tangan Rhea. Tanpa menunggu jawaban dari Andini, Adrian menuntun Rhea berjalan berdampingan menuju ruang rapat, meninggalkan ruangan divisi editorial yang kembali gempar oleh adegan menegangkan tadi. Sementara itu, di ruangan divisi editorial setelah kepergian Rhea dan Adrian, Maya berteriak heboh memanggil teman-temannya. "Astaga!" Maya memukul pelan meja kerjanya. "Lihat enggak tadi?" Siska yang berdiri dekat Maya langsung duduk lalu memutar kursinya. "Lihat! Pak Adrian rangkul pinggang Rhea. So sweet, romantis banget!" Andini yang masih berdiri di depan pintu, berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Maya dan Siska yang tengah bergosip saling menyikut, memberikan kode satu sama lain. Maya mendekati Andini lalu bertanya dengan suara pelan, "Kamu enggak apa-apa?" Andini tersenyum tipis lalu mengangguk. "Aku baik-baik saja." Namun, saat Maya telah kembali ke meja kerjanya, mata Andini berkilat tajam. Senyumannya pun ikut menghilang. Tatapannya mengarah ke pintu yang baru saja dilalui oleh Rhea dan Adrian. Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Aku tak percaya mereka benar-benar pacaran. Kalau memang itu sandiwara..." Bibir Andini tersenyum tipis, menggumamkan sesuatu. "...aku akan jadi orang pertama yang membongkarnya di depan umum.""Rhea!" panggil Nathan dari meja kerjanya. "Kesini sebentar."Rhea baru saja berniat ingin pulang, tiba-tiba saja Nathan memanggilnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?'"Tawaran tempo hari masih berlaku. Kamu enggak mau jadi sekretaris saya?" tanya Nathan ramah. Seketika Rhea teringat dengan perbincangan di depan lift minggu lalu. Rhea diam, mencari jawabannya di dalam kepala. "Saya lagi sibuk. Selain urus proyek, ada pekerjaan lain yang mengharuskan saya memiliki sekretaris.""Maaf Pak, saya menolak. Sesuai dengan jawaban saya saat itu," jawab Rhea tegas. Nathan menghela napas kasar. Ia sudah yakin kalau Rhea pasti menolaknya. Wanita ini memang tegas dengan tindakannya. "Rhea, kamu tidak mau jenjang karir lebih tinggi? Kamu selamanya mau jadi editor di sini?" Nathan sengaja memojokkan Rhea. Ingin tahu reaksi wanita itu. Dalam hati diam-diam ia merasa salut. Jarang sekali ada staf yang menolak dipindahkan lewat jalur pribadi seperti ini. "Saya sangat ingin jenjang karir yang lebih b
Di tempat terpisah, Andini yang dihubungi oleh Anna mendadak tegang saat wanita itu mengeluarkan amplop tebal. Ia tiba-tiba menegakkan punggungnya, lalu sebuah ide licik melintas di kepalanya. "Saya mau kamu buat Rhea dicurigai oleh Adrian dan timnya yang lain," ujar Anna yang disambut seringai tipis dari Andini. "Tapi Pak Adrian terlalu sulit didekati, Rhea pun sama. Bagaimana caranya menjatuhkan wanita itu?" tanya Andini yang masih bingung dengan permintaan Anna. Ia memang memiliki sejuta ide licik, tapi terlihat sulit untuk dilakukan. Anna menepuk amplop yang dibawa olehnya. "Di sini ada lima juta. Saya mau kamu menjebak Rhea, bagaimana pun caranya. Yang paling cepat sih, kamu bisa fitnah dia melakukan kesalahan fatal."Mata Andini berbinar. Ia mengangguk paham dengan maksud wanita yang duduk di hadapannya kini. "Saya mengerti."Anna merendahkan kepalanya, berbisik dengan suara pelan. "Buat seolah-olah Rhea adalah seorang pengkhianat. Perlihatkan kejahatan dia yang ingin menjual
Di dalam mobil yang sedang melaju menuju apartemennya selepas mengantar Rhea kembali ke rumah kostnya, ponsel Adrian bergetar. Adrian melirik nama Evelyn yang tertera di layar sebelum mengangkatnya. "Ada apa, Evelyn?" tanya Adrian santai sambil tetap fokus mengemudi. "Adrian, kamu hati-hati dengan Anna," suara Evelyn terdengar serius dari seberang telpon. "Baru saja Anna dari sini, dia mengamuk dan mengungkit masa lalu aku dan sempat mengancam hubunganmu dengan Rhea. Dia sepertinya akan bertindak nekat kali ini." Adrian menyipitkan matanya tajam, cengkeramannya pada kemudi mendadak mengencang. "Dia mengancam Rhea?" "Dari kata-katanya, aku tahu dia akan mengancam hubungan kalian. Kamu tahu kan kalau dia itu sering mengancam dan berbuat nekat? Kalau bukan karena bantuan kakek, kamu dan dia—" "Evelyn, itu masa lalu. Kita berempat sudah saling berdamai dan melupakannya. Kalau dia sampai nekat lagi kali ini, jangan salahkan aku yang tidak akan mentoleransi perbuatanya," tegas Adrian d
Hari itu, cuaca cerah menyelimuti Jakarta yang masih riuh dengan kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Dengan emosi kuat dan amarah yang sebentar lagi meluap, Anna memacu mobilnya menuju apartemen Evelyn. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan meluapkan seluruh kekesalannya tanpa basa-basi. "Kak Evelyn! Apa kamu tahu tentang hubungan Adrian dengan wanita bernama Rhea?" seru Anna sambil melempar tas mewahnya ke sofa. "Dia bahkan membawa wanita itu ke sebuah restoran mewah hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Dia belum pernah melakukan hal itu padaku dulu."Tanpa sadar Anna berteriak, Nana yang tengah menonton film kesukaannya langsung menyingkir dan masuk ke kamarnya karena ketakutan.Evelyn yang sedang menyesap teh hangat di meja makan hanya mendengarkan dengan tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau kepanikan yang diharapkan Anna. Dengan santai, Evelyn meletakkan cangkirnya. "Dari mana kamu tahu? Lalu masalahny
Malam minggu pun tiba. Adrian menjemput Rhea dengan setelan jas rapi tanpa dasi, tampak sangat menawan. Rhea sendiri tampil anggun mengenakan gaun simpel berwarna hitam yang mempertegas kesan elegan. Sepanjang jalan menuju restoran, Rhea tampak sangat bersemangat. Bibirnya terus bersenandung pelan, persis seperti gadis kecil yang baru pertama kali melihat pemandangan jalan. "Susah enggak dapat mejanya?" Adrian menggelengkan kepalanya. "Kamu punya koneksi orang dalam? Kok bisa, dapat tempat di akhir pekan?"Adrian hanya terkekeh pelan, matanya fokus mengamati jalan. "Itu rahasia. Yang penting malam ini kamu bisa makan dengan nyaman di sana."Saat tiba di lokasi, suasana di sekitar restoran cukup ramai pelanggan. Seorang petugas parkir menghampiri Adrian dan menyapanya tanpa perlu bertanya. Di depan pintu masuk, manajer restoran datang menyambut mereka dengan gestur yang sangat formal."Selamat malam Pak Adrian. Area rooftop sudah disiapkan sesuai dengan pesanan anda," ujar manajer sam
Anna masih terlalu bangga dengan pencapaiannya yang bisa membuat keadaan internal Kyama Group sedikit kacau beberapa hari ke belakang. Dengan bantuan Olivia, ia berhasil membuat manajer divisi editorial mengubah draf rancangan naskah yang akan diunggah ke dalam aplikasi. Namun, kebanggaan itu tak berlangsung lama. Setelah kemarin mendapat kabar ada rapat internal tim utama, hari ini divisi marketing Kyama Group menyampaikan surat penawaran kontrak kerja sama dengan format dan draf baru yang telah direvisi. Wajah Anna yang kemarin penuh dengan senyuman, kini berubah datar. Tampak awan gemuruh di atas kepalanya yang siap menyemburkan petir hujan ke sekitarnya. "Apa maksudnya ini?" Anna murka. Meja kerja dibanting kasar hingga suaranya terdengar ke ruangan sebelah. Para staf yang kebetulan lewat di depan ruangannya seketika menoleh lalu pergi terburu-buru, takut terkena imbasnya. Tak lama kemudian, asisten pribadi Anna masuk memberikan dokumen ce







