Se connecterDalam waktu setengah hari, rumor itu beredar luas di seluruh divisi lantai lima. Diperkuat dengan foto dan video yang menunjukkan kedekatan Rhea dan Nathan, foto saat Rhea keluar dari dalam lift eksekutif.
Saat menuju pantri, suara desas desus itu semakin terdengar jelas. Rhea yang berdiri di ambang pintu tak sengaja mendengarnya. Tangannya yang tengah memegang cangkir teh tiba-tiba mengerat, sedikit gemetar menahan kesal."Menurut aku, Rhea itu centil. Kasihan banget PakAnna masih terlalu bangga dengan pencapaiannya yang bisa membuat keadaan internal Kyama Group sedikit kacau beberapa hari ke belakang. Dengan bantuan Olivia, ia berhasil membuat manajer divisi editorial mengubah draf rancangan naskah yang akan diunggah ke dalam aplikasi. Namun, kebanggaan itu tak berlangsung lama. Setelah kemarin mendapat kabar ada rapat internal tim utama, hari ini divisi marketing Kyama Group menyampaikan surat penawaran kontrak kerja sama dengan format dan draf baru yang telah direvisi. Wajah Anna yang kemarin penuh dengan senyuman, kini berubah datar. Tampak awan gemuruh di atas kepalanya yang siap menyemburkan petir hujan ke sekitarnya. "Apa maksudnya ini?" Anna murka. Meja kerja dibanting kasar hingga suaranya terdengar ke ruangan sebelah. Para staf yang kebetulan lewat di depan ruangannya seketika menoleh lalu pergi terburu-buru, takut terkena imbasnya. Tak lama kemudian, asisten pribadi Anna masuk memberikan dokumen ce
Setelah mengerjakan tugas dari Nathan, tiba-tiba saja Andini tersadar. Rhea, Adrian dan Nathan tidak ada di ruangan mereka masing-masing lebih dari satu jam. Seketika pikiran buruk merasuki kepala Andini. Ia menerka, apa mungkin mereka bertiga keluar kantor untuk bersenang-senang tanpa mengajak dirinya? "Farhan, Pak Adrian kemana?" tanya Andini. Farhan yang baru saja kembali dari pantri menoleh ke arah wanita itu. Ia menaikkan bahunya, tanda ia tak mengetahuinya. "CK..." gerutu Andini. Ia pun beralih pada seorang wanita berambut panjang yang sering ke ruangannya di divisi editorial untuk mengecek komputer staf. Ia tersenyum tipis lalu menyapanya. "Bu Sinta, Pak Adrian kemana?" "Lagi di ruangan Pak Bram. Kenapa?" ketua Sinta lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. "Sama Pak Nathan?" tanya Andini lagi. Sinta menatap Andini dengan tatapan geram. Semenjak Nathan memindahkannya ke dalam tim aplikasi, tingkah Andini semakin angkuh. Dia merasa seperti staf yang paling diperlukan oleh Nat
Rhea, Adrian dan Nathan telah tiba lebih dulu di ruangan Pak Bram. Ketiganya duduk berdekatan dan saling menempelkan lengan, berdempetan di sofa ruang tamu. Rhea duduk di tengah, sedangkan Adrian di sebelah kiri dan Nathan di sebelah kanan. Awalnya terasa biasa saja, Rhea tak mempermasalahkannya. Hanya saja, semakin lama kedua orang di sebelahnya itu semakin berkelakuan aneh. Keduanya saling menghimpit Rhea hingga membuatnya tak bisa bergerak. Pak Bram berdiri tak jauh dari mereka bertiga. Dahinya berkerut dalam menyaksikan dua pria beradu strategi mendapatkan perhatian dari Rhea. Sayangnya, wanita itu hanya fokus pada laptop dan minuman di tangannya. Ia tak peduli pada pertarungan sengit dalam diam para pria di sebelahnya. "Rhea!" panggil Pak Bram. Rhea menoleh, mengangkat tangannya. "Pindah duduk sini." Pak Bram menunjuk sofa di sebelah kanannya. "Terima kasih, Pak." Rhea segera membereskan barang-barangnya lalu pindah ke sofa seberang. Nathan menatap
Klek...Pintu ruangan direktur utama Kyama Group dibuka dari luar. Tak lama kemudian, Adrian masuk setelah dipersilakan oleh si pemilik ruangan. Wajah Adrian terlihat bingung tapi tetap memancarkan aura dingin dan datar seperti biasanya. Saat ia duduk dan membuka laptopnya, Pak Bram bertanya dengan nada serius yang membuat Adrian terdiam. "Aku dengar, rapat hari ini berjalan alot? Benar?"Adrian mengangguk. Ia menarik napas panjang dan sedikit berat. "Ada perubahan mendadak. Seharusnya semua data bisa diupload minggu ini. Tapi karena ada yang harus diubah, mungkin baru selesai dua minggu lagi. Sedikit meleset dari jadwal awal." "Berubah? Bukannya sudah saya bilang, draf terakhir itu yang harus diupload. Ada masalah?" tanya Pak Bram dengan dahi berkerut. "Saya dan tim telah berkonsultasi, hanya saja ini semua terjadi karena perubahan draf. Semula memang yang dipakai adalah draf yang sudah direvisi, tapi pada akhirnya draf pertama yang dipakai," ujar Adrian santai. Brakk.."Apa? Siap
Malam itu, setelah mengantar Rhea pulang, Adrian kembali duduk merenung di depan balkon apartemennya. Dengan segelas minuman hangat di tangannya, ia menatap pemandangan malam di kota Jakarta yang sungguh mengagumkan. Lampu-lampu kota terlihat jelas hingga ke ujung jauh di sana. Sesuatu yang tak bisa dijangkaunya, tapi terlihat di depan matanya. Sama seperti kisah cintanya dengan Rhea. Bukan, bukan kisah cinta tapi kisah pengakuan cinta yang belum terlaksana. Adrian meletakkan gelas minumannya. Tangannya meraih ponsel di atas meja lalu mengetik sesuatu pada seseorang. Setelah itu, ia kembali memegang gelas dan meneguk isinya setengah. Ting!Ponselnya berbunyi. Ada notifikasi pesan dari seseorang. [Kalau tuan muda ingin kembali, mungkin tuan besar akan mempertimbangkan. Tapi, tuan muda harus setuju dengan persyaratannya.]Adrian mendengus dingin. Setelah membaca pesan itu, ia langsung membuang ponselnya ke atas sofa. "Ingin men
Saat jam kantor berakhir, Nathan beranjak dari ruangannya menuju meja kerja Rhea yang berada di ruang sebelah. Ia ingin mengajak wanita itu pulang sekaligus mendiskusikan draf yang baru. Namun, baru saja ia melangkah masuk ke dalam ruangan, Adrian tengah berdiri di samping Rhea, menunggu kekasihnya itu membereskan meja. "Kalian pulang bersama?" tanya Nathan sambil menunjuk keduanya dengan mata terperangah. Adrian tak menjawab pertanyaan Nathan, ia mendengus lalu menggandeng tangan Rhea, berjalan di depan Nathan dengan wajah angkuh. "Adrian!" panggil Nathan. Ia berlari mengejar keduanya hingga ke arah pintu lift. Rhea menoleh ke belakang, merasa tak enak, ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Aku dan Rhea akan pulang bersama." Rhea mendelik. Saat Adrian menoleh ke arahnya, ia menggelengkan kepala tanda tak tahu menahu apa yang dikatakan Nathan tadi. Adrian melirik sinis, Nathan hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang li







