LOGINLangkah Alea tertahan, tatapannya terkunci pada Ilham yang juga tampak terkejut dengan keberadaannya di sana.
Ilham yang ada di hadapan Alea saat ini jauh berbeda dengan Ilham yang ditemuinya kemarin. Pria itu tampak lusuh dengan wearpack yang penuh oli dan tangan hingga wajah berlumur kotoran mesin.Bahkan rambut hitam legam dengan potongan mullet yang sebelumnya tertata dengan rapih, kini terlihat agak berantakan dan lepek oleh keringat.Keterdiaman keduanya laluObrolan mereka berlangsung hangat, perlahan kecanggungan yang sempat menimpa Alea menyusut membuatnya ikut larut dalam kehebohan ketiga teman Ilham.Beberapa saat kemudian, Ilham memberikan selembar uang merah pada Yusuf, memintanya membeli minuman untuk mereka.Hal itu mencuri perhatian Alea tapi tidak ia cegah, apalagi teman-temannya langsung menyambut dengan semangat dan Yusuf segera beranjak pergi menyeret Dika."Kalian lagi ngerjain skripsi?" Tanya Alea melihat ke arah tiga laptop yang menyala di sana, lengkap dengan beberapa buku paket berserakan."Iya." Jawab Edo melirik jengah pada laptopnya, "Udah beberapa kali revisi tapi masih mentok di bab dua."Tampak jelas sekali dari raut wajahnya jika pria itu sungguh tertekan dengan tugas akhirnya, sama seperti Alea dan Sarah."Yang skripsi nya lancar mah cuma Ilham, tapi laptopnya malah hilang di cu__." Cerocosan Edo terhenti kala Ilham melemparkan tatapan peringatan."
"Nggak usah Tante, aku masih punya simpanan kok." Tolak Ilham mendorong kembali ponsel Amira dengan gerakan sopan.Alea segera menatap Ilham dengan tatapan protes, tapi Ilham tidak menghiraukannya. "Aku akan minta bantuan Tante kalau memang aku butuh."Amira bertukar pandang dengan Alea kemudian mengangguk, "Ya sudah, tapi kamu janji ya, jangan sungkan sama Tante. Kapan-kapan kalau ada waktu luang, mampir juga ke rumah.""Insya Allah Tante."Bertemu kembali dengan Alea seakan merubah banyak hal dari hidup Ilham, bahkan teman-temannya pun bisa melihat perubahan itu. Sikapnya jadi lebih hangat, lebih sering tersenyum dan terkesan punya semangat hidup.Di bandingkan dulu, Ilham seolah menjalani hidup tanpa tujuan, hanya sekedar menjalani hari dengan rutinitas yang sama. Abu-abu tanpa warna terang atau cerah.Tapi bukan hanya dia, Alea pun nyatanya sama. wajahnya tampak berseri setiap hari. Mereka seakan menemukan alasan yang bisa me
Langkah Alea tertahan, tatapannya terkunci pada Ilham yang juga tampak terkejut dengan keberadaannya di sana.Ilham yang ada di hadapan Alea saat ini jauh berbeda dengan Ilham yang ditemuinya kemarin. Pria itu tampak lusuh dengan wearpack yang penuh oli dan tangan hingga wajah berlumur kotoran mesin.Bahkan rambut hitam legam dengan potongan mullet yang sebelumnya tertata dengan rapih, kini terlihat agak berantakan dan lepek oleh keringat.Keterdiaman keduanya lalu disela oleh salah satu montir lain, ia menyapa Sarah dan memberitahu bahwa mobilnya sudah selesai."Aku kesana dulu," ucap Sarah sebelum mengikuti montir yang menangani mobilnya dan meninggalkan mereka berdua.Alea mengangguk dan tatapannya kembali pada Ilham begitu Sarah pergi, pria itu sendiri sudah beranjak mendekat sambil melepas kaos tangan putih di tangannya."Kamu kerja di sini juga?""Iya." Jawab Ilham menyeka keringat dengan lengan kirinya, membuat sa
Ilham menggeleng lesu, "Nggak ada petunjuk, mungkin memang harus beli yang baru.""Pake punya gue aja, gue juga nggak terlalu ngejar wisuda tahun ini. Santai." Seru Dodit tanpa beban.Mereka tahu betul bagaimana posisi Ilham sebagai mahasiswa dengan status penerima beasiswa penuh, ia tentu harus bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.Tapi dengan hilangnya laptop pria itu menjadi hambatan yang lumayan besar, apalagi skripsi Ilham sudah memasuki bab akhir.Untungnya Ilham masih punya salinan kasarnya jadi ia tidak terlalu pusing, setidaknya untuk mengetik ulang puluhan lembar penelitian itu jauh lebih baik ketimbang harus melakukan penelitian ulang.Ilham tak lagi tinggal lebih lama untuk mengobrol dengan mereka, ia pamit naik ke kamarnya lebih dulu, ingin segera mengistirahatkan tubuh.Namun bukannya langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, Ilham justru beralih mengecek ponsel lebih dulu.Ada satu notifikasi pesan baru yang masuk beberapa menit lalu dari Alea, gadis itu menanya
"Ada banyak profesi lain yang bisa di pilih, kuliah hukum bukan berarti menjamin profesi ku akan sama seperti Papah dan Ayah kamu." Jelas Ilham lebih banyak, mencoba mendapatkan kepercayaan Alea. "Tapi sama aja kan?" Lirih Alea mengangkat pandangan, menatap Ilham dengan raut wajah cemas. "Apapun tentang hukum, buat aku itu sama berbahayanya Ham. Tetap harus berurusan sama kriminal, sama orang-orang jahat dan bermasalah." "Aku pernah janji sama kamu nggak akan berakhir seperti mereka kan? Percaya sama aku." Ilham mencoba membangun kepercayaan gadis itu, karena sejujurnya tanggapan Alea sekarang adalah hal yang paling ia takutkan dari sejak awal ia memutuskan masuk jurusan tersebut. "Kenapa harus hukum?" Ilham menyandarkan tubuhnya di kursi, "Papah yang minta." Singkatnya. Alea tak lagi menambah pertanyaan, kalau sudah urusan orang tua, jelas Ilham tak akan melawan dan Alea juga paham itu. "Aku turuti permintaan Papah kuliah hukum tapi nggak dengan jadi pengacara Lea." Tamba
"Dan sampai sekarang, kondisi Papah nggak pernah benar-benar pulih. Beliau masih harus rutin konsumsi obat." Kecelakaan yang di maksud Ilham, adalah kecelakaan yang sama dengan kecelakaan yang menghilangkan nyawa Ayah Alea. Syukurnya saat itu, Papah Ilham berhasil di selamatkan meski dalam keadaan kritis. Dan setelah kejadian itu, Papah Ilham tak lagi melanjutkan profesinya sebagai seorang advokat. Beliau beralih menjadi pengajar di salah satu universitas, karena kondisi kesehatan beliau yang tidak memungkinkan. Obrolan panjang mereka seakan membangkitkan banyak memori lama diantara mereka, kebersamaan yang membuat Alea rindu pada kota mereka yang dulu. "Nanti kalau mau pulang ajak aku ya, aku pengen ketemu mereka." Pinta Alea. Ilham mengangguk, "Tapi mungkin aku nggak pulang dalam waktu dekat ini." Sama seperti Alea, Ilham juga tengah sibuk mempersiapkan tugas akhir. Dan sebagai mahasiswa dengan beasiswa penuh, jelas wisuda tepat waktu adalah suatu keharusan. "Kalau kamu mau k







