
Calon Istri Untuk Klien WO
“Jangan kasar-kasar sama calon suami”
“Bapak tuh bisa nggak sih, mulutnya jangan asal mengklaim orang”
“Kenapa sih kamu kesal banget saya bilang calon istri?”
“Ya karena saya bukan calon istri bapak” Ayyana memberikan penekanan disetiap ucapannya
“Nanti malam saya lamar kalau gitu”
“Nggak usah aneh-aneh” Ayyana memijat pelipisnya, lama-lama ia bisa darah tinggi jika terus berhadapan dengan Fakhri
“Sesuai kesepakatan, saya udah makan siang sama bapak. Urusan mobil, tinggal kirim nomor rekening, nanti saya transfer” Ucap Ayyana
“So please, jangan ganggu saya lagi. Jangan recokin hidup saya lagi, jauh-jauh dari saya” Lanjutnya melangkah menjauh
“Kalau Mami kangen pengen ketemu calon mantunya gimana?” Ucap Fakhri setengah berteriak namun Ayyana tak berniat lagi menanggapi
Perempuan itu melajukan mobilnya meninggalkan halaman dengan raut wajah dongkol setengah mati, sementara Fakhri tersenyum geli memilih melakukan hal yang sama, beranjak kembali menuju kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terpaksa harus ia tinggal demi memenuhi janji makan siangnya pada Ayyana yang malah menyita waktu lumayan panjang
Tapi ia tak keberatan bahkan rasanya menyenangkan melihat Ayyana meleparkan tatapan tajam padanya setiap kali Fakhri berhasil membuatnya kesal
Mungkin Maminya tidak salah mengenalkan mereka, karna nyatanya Ayyana memiliki daya tarik tersendiri bagi Fakhri. Entahlah, tapi ia bahkan meragukan sendiri ucapannya saat menyebut Ayyana sebagai calon istri
Perempuan itu terlalu baik untuk ia jadikan tumbal untuk kembali bertemu Jihan. Fakhri masih waras untuk tidak menarik adik sahabatnya itu dalam kubangan lumpur yang ia diami selama ini
Read
Chapter: BAB 152Fakhri mendekat khawatir, "Memangnya istri saya kenapa, Bu? Di mana dia?" "Neng Aya sandera sama Neng Jihan di rooftop." "Apa?!" "Pokoknya, sekarang Pak Fakhri harus selamatkan Neng Aya." Saat Fakhri hendak kembali masuk, lampu area hotel tiba-tiba saja menyala. Bu Hasma langsung menepuk cepat lengan Fakhri agar pria itu bisa segera menghentikan aksi gila yang akan Jihan lakukan. "Cepat, Pak. Itu suami saya sudah berhasil menyalakan listriknya." Fakhri tidak menunggu lagi, ia berlari secepat mungkin. Saking paniknya ia sampai mengabaikan fungsi lift dan memilih mendaki anak tangga. Tapi baru di tangga ke tujuh, tenaganya terkuras drastis dan ia memilih memencet tombol lift sembari mengambil waktu memulihkan diri. Ia mempersiapkan diri
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: BAB 151"Hilang gimana?" Fakhri menatap Kayla dan Vano frustasi. Sore tadi saat jam pulang, Ayyana memberitahu Fakhri untuk tidak perlu mengantarnya pulang dan meminta izin pergi bersama Jihan. Katanya sih mereka ingin jalan-jalan dan belanja-belanja saja. Karena itu, Fakhri memutuskan untuk lembur beberapa jam lantaran pekerjaannya juga memang sedang menumpuk. Tapi baru juga hendak membereskan meja kerjanya dan beranjak pulang, Kayla dan Vano datang dengan tergesa memberi kabar bahwa istrinya hilang bersama Jihan. Itu rasanya tidak masuk akal. "Kak Aya juga tadi ngajak aku sekalian, Kak. Tapi aku udah nunggu mereka berjam-jam ditempat janjian kita dan mereka sama sekali nggak datang. Nomornya juga nggak bisa dihubungi sampai sekarang," jelas Kayla yang sudah bersimbah air mata. Vano yang ada disampingnya juga tak kalah panik. Fakhri memijat pangkal hidung dan duduk untuk menenangkan diri sebentar. Ia meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi sang istri, memastikan ucapan Kayla. Dan b
Last Updated: 2026-10-25
Chapter: BAB 150Karena itu, saat mereka sampai di bandara, Fakhri dan Ayyana berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Jihan dan berharap bisa mencegahnya pergi. "Mas, itu Jihan bukan?" tunjuk Ayyana pada seorang perempuan yang tengah menarik koper hendak memasuki ruang tunggu keberangkatan. Ayyana menepuk pundak suaminya, meminta agar Fakhri segera mengejar karena tenaganya sendiri sudah hampir habis. "Jihan!" seru Fakhri menghentikan perempuan itu.Jihan yang mendengarnya pun reflek menoleh dan terkejut bukan main dengan kemunculan Fakhri. "Kak Fakhri kok bisa di sini?" ucap Jihan bingung, ditambah dengan kedatangan Ayyana dengan nafas memburu. "Kak Aya?" "Kamu mau ke mana?" tanya Ayyana langsung. "Kakak udah bilang kalau kamu itu keluarga kita, terus kenapa harus pergi diam-diam kayak gini?" Jihan menunduk dalam, "Maaf, Kak. Aku cuma nggak mau jadi beban dan menimbulkan masalah buat kalian lagi." "Kita udah bahas ini dan kita sepakat untuk saling memaafkan, kita anggap yang ud
Last Updated: 2026-10-23
Chapter: BAB 149"Kita mau ke mana sih, Mas?" keluh Ayyana saat dirinya dituntun oleh Fakhri entah menuju ke mana dengan mata tertutup kain. Suaminya bilang ingin memberi kejutan tetapi sama sekali tidak menjelaskan lebih jauh, sampailah Fakhri mengisyaratkannya untuk berhenti. "Udah sampai?" "Udah, sayang." Fakhri memegang kedua bahunya dan membenarkan posisi berdiri Ayyana. Lalu setelahnya, ia membuka kain penutup mata perempuan itu. "Surprise," bisik Fakhri menunjukkan kejutan makan malam romantis yang sudah di siapkan di halaman belakang rumah mereka. Mata Ayyana terbuka lebar dengan ekspresi takjub, halaman mereka disulap Fakhri menjadi tempat yang begitu indah, lengkap dengan beberapa hiasan bunga dan balon, lampu kerlap kerlip dan lilin. Lalu di pinggir kolam renang ada satu set meja makan bundar yang tak kalah menakjubkannya, lengkap dengan sajian hidangan yang terlihat menggiurkan. "Sebentar, ini ada apa? Kok kamu nyiapin ginian?" tanya Ayyana, ia khawatir jika sampai melewatkan peraya
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: PART 148Jihan malah terlihat kurang nyaman berada di dekat para pria itu, terutama Haikal. Begitu berhasil menemukan titik hubungan yang baik dengan Jihan, Ayyana juga mencoba melakukan hal lain seperti memutar lantunan ayat suci Al-Qur'an melalui ponsel sebagai bahan relaksasi untuk Jihan ataukah membacakannya secara langsung di hadapan perempuan itu. Lalu bertambah dengan memutar kajian untuk Jihan dengar dari para ustadz dan ustadzah melalui youtube atau platform lain. Ayyana mencoba membuat Jihan menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang muslim yang punya sandaran kuat. Ia menyadari bahwa mungkin salah satu penyebab hancurnya mental dan pertahanan diri perempuan itu karena dia sudah tidak punya sandaran dan selalu menganggap dirinya sendirian. Ayyana ingin Jihan kembali pada kodratnya sebagai muslim, bahwa dirinya tidak pernah sendirian. Ada Allah, ada Rasulullah yang selalu harus kita jadikan tujuan. Dan ketika ia berhasil melakukan itu, harapannya semoga saja Jihan bisa
Last Updated: 2026-10-20
Chapter: BAB 147Ayyana tersentak bukan main dengan tindakan dan ucapan Jihan.Bukan hanya dia, bahkan pun Fakhri menatap Jihan tak percaya. Ini kali pertama, ia mendengar suara Jihan setenang itu setelah bertahun-tahun bersama dengannya. Di luar sana pun, semua orang yang turut menyaksikan hal itu ikut terkesiap. Dita bahkan sudah menutup mulut saking terkejutnya."Kamu nggak sendirian," ucap Jihan lagi.Ayyana mengarahkan tangannya perlahan mendekat ke arah Jihan pula, merapikan rambutnya yang tergerai berantakan dan hampir menutupi seluruh wajah perempuan itu."Iya, kita nggak sendirian," kata Ayyana setelah berhasil bersitatap langsung dengan Jihan."Kita?" perjelas Jihan dengan alis bertaut."Iya. Kamu juga nggak sendirian, Jihan."Jihan menggeleng cepat, tubuhnya kembali bergetar dan beringsut mundur. "Nggak! Aku sendirian, aku.. aku cuma sendiri.. karena aku jahat. Aku jahat... aku nggak dengerin ucapan Mamah dan Papah, aku.. aku.."Jihan menatap Ayyana kembali, lalu mulai terisak pelan. "A-aku
Last Updated: 2026-10-17
Chapter: BAB 19Dari arah utara kantin sekolah, seorang gadis berseragam SMP dengan rambut agak pendek yang dikuncir kuda berlari menuju kelasnya di bagian selatan paling ujung dengan langkah cepat.Senyumnya mengembang sempurna begitu kakinya mencapai ambang pintu kelas, ruangan itu tampak sunyi –bertolak belakang dengan keadaan diluar yang tampak riuh dan kacau oleh suara teriakan para siswa.Tatapan Alea menyisir penjuru ruangan, hingga netranya menangkap sosok siswa pria yang sedang terlelap di bangku ketiga barisan paling dekat dengan pintu masuk.“Ilham!” Alea menghampiri pria itu dengan semangat penuh.Ilham yang sedang menelungkupkan wajah pada lipatan tangannya diatas meja, bergerak sedikit untuk menatap gadis itu. “Udah kenyang?” gumamnya hendak kembali melanjutkan tidurnya.Tapi Alea segera menarik sebelah lengan Ilham, “Udah,” katanya bergerak duduk di bangku samping Ilham –tempat duduknya sendiri.“Lihat deh, aku beli apa.” Alea memamerkan dua buah buku dengan sampul agak tebal bertulisk
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: BAB 18‘Aku di bawah,’ pesan tiba-tiba dari Ilham muncul di bilah notifikasi, menyentak perasaan Alea.Ia sudah mewanti Ilham untuk menghubunginya saat akan kembali, agar Alea bisa datang menjemputnya di bandara. Tetapi saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, pria itu malah memberinya kabar mengejutkan.Alea menarik sweater rajut berwarna hijau muda dari kursi belajarnya serta tak lupa mengenakan hijab instan sebelum bergegas turun, hendak memastikan apakah sosok yang sudah ia nanti kepulangannya itu benar-benar sudah ada disana.Kondisi rumah saat ini sudah sangat sepi, Bunda sepertinya sudah terlelap karena kelelahan. Apalagi cuaca malam ini jauh lebih sejuk dari biasanya.Begitu Alea membuka pintu utama angin langsung berhembus untuk menyambut, membuat Alea reflek menarik kedua sisi sweater untuk dirapatkan pada tubuhnya sebelum ia melanjutkan langkah menuju gerbang.Ilham yang duduk bersandar di atas jok motornya langsung mengangkat wajah dari layar ponsel begitu mendengar suara
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: BAB 17Meski Ilham tak punya barang mewah tapi ia cukup tahu berapa harga barang yang Alea kasih hanya dari nama brandnya.Ia memasukkan kotak itu lagi dan mengembalikannya pada Alea, "Kasih aku hadiah yang nilainya sama saja dengan buket itu, jangan barang mahal."Bukan berarti Ilham tidak menghargai pemberian Alea tapi ia hanya merasa tidak layak, karena bahkan barang yang diberinya jauh dari kata sebanding dengan barang itu."Kalau kamu menganggap hadiah dari aku itu mahal karena harganya, maka buat aku buket ini jauh lebih mahal karena usaha kamu untuk bisa membuatnya.""Itu nggak sebanding.""Memangnya kamu pernah buat buket untuk perempuan lain?" Todong Alea."Ya enggak lah, tapi tetap ajah_""Kalau gitu, aku hargai buket ini dengan jaminan khusus." Alea menatap Ilham tepat di maniknya, "Jadikan aku satu-satunya perempuan yang kamu buatkan buket, jangan ada orang lain lagi."Ilham mengalihkan pandangan ke depan, "Tanpa kamu minta pun aku akan ngelakuin itu," timpalnya membuka kembali k
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: BAB 16Karena kosan milik Ilham cukup kecil untuk menampung Papah dan adik-adiknya jadi saat mereka datang, Ilham menyewakan penginapan untuk mereka. Tetapi mengetahui hal itu, Bunda mengajak mereka untuk menginap di rumahnya malam ini. Memanfaatkan momen langka itu, Gina dan Indah menghabiskan malam di sana dengan banyak mengobrol bersama Alea di kamarnya. Tak hanya itu, Alea bahkan meminta mereka untuk memilih barang-barang miliknya yang kedua gadis itu suka. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris bahkan sampai buku-buku koleksinya. Semua di bebaskan pada keduanya jika memang ada yang mereka ingin ambil. Alea sebenarnya ingin sekali mengajak mereka berbelanja tetapi waktu tidak memungkinkan karena rencananya besok mereka sudah akan pulang. Hal itu karena Gina sudah kelas tiga SMP dan Indah kelas enam SD, jadi mereka tidak boleh izin terlalu lama. Di tengah kegiatan itu, Alea yang begitu bahagia menyaksikan mereka sibuk mencoba barang-barangnya teralihkan sedikit kala ponselnya berdentin
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: Bab 15Setelah perjuangan panjang untuk bisa menyelesaikan skripsi dan sidang, hari ini sepertinya para mahasiswa semester akhir sedang bersuka ria menyambut hari kelulusan mereka.Dengan mengenakan toga hitam, para wisudawan dan wisudawati berkumpul di aula kampus di saksikan secara langsung oleh wali mereka sebagai perayaan kelulusan sarjana strata 1.Moment yang paling di nanti-nantikan Alea dan yang lain tentu saja, meski kelulusan ini bukan akhir dari perjuangan mereka tetapi justru baru menjadi awal dari langkah panjang untuk terjun ke dunia yang sebenarnya.Dunia dimana seseorang sudah harus mulai belajar untuk mengambil peran penting dan juga tanggung jawab akan dirinya sendiri.Namun di tengah suasana bahagia dan haru itu, ada secuil perasaan lain yang mencuat secara tiba-tiba dalam hatinya.Di ruangan besar ini, ada moment dimana Alea merasa sebagian dalam hatinya terasa kosong.Merasa bahwa perayaan yang dinanti-nantinya ini terasa tidak lengkap, sama seperti saat merayakan kelulu
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: BAB 14Sekitar jam setengah sepuluh pagi, Alea sampai di toko bunga. Ia turun dari mobil dengan senyum cerah kala melihat motor milik Ilham sudah terparkir rapih di depan tokonya.Pria itu tidak bisa di ragukan lagi sikap pekerja kerasnya, Alea sudah memberitahunya untuk datang di jam sepuluh tapi ia malah sampai di sana lebih dulu."Assalamu'alaikum," ucap Alea kala memasuki toko."Wa'alaikumussalam," salamnya langsung di sambut oleh kedua karyawannya yang sedang sibuk menata bunga baru, juga oleh Ilham yang tampak sedang melakukan hal yang sama.Melihat kesibukan pria itu, Alea beranjak mendekatinya. "Ngapain kamu?""Aku bantuin mereka," kata Ilham mengulas senyum tipis.Salah satu karyawan disana segera menjelaskan, "Tadi kami sudah larang Mbak, tapi Mas Ilhamnya tetap mau bantu.""Aku bosan cuma duduk dari tadi Lea," kata Ilham lagi."Dia ini tangannya memang gatal kalau lihat orang kerja tapi dia nggak ngelakuin apapun," canda Alea pada kedua karyawannya.Ilham lalu melanjutkan kegiatan
Last Updated: 2026-05-12