LOGINTidak sengaja bertemu kembali dengan teman masa kecilnya setelah bertahun-tahun berpisah, Alea seakan mengulang banyak kenangan lama bersama Ilham. Dalam buku impiannya semasa SMP, Alea pernah menuliskan bahwa ia tidak ingin menikah dengan seorang pengacara, dan Ilham dengan entengnya menimpali bahwa ia tidak berminat menjadi pengacara. Sebuah janji masa depan yang tak tertulis namun seolah telah tertanam permanen di lubuk hati keduanya. Tapi apa jadinya jika takdir memainkan peran, mengusik impian mereka satu persatu dan memaksa mereka untuk mendaki jalan yang berlawanan? "Kamu masih sama ya, masih mau jadi dokter?" ujar Ilham dengan senyum hangat. Senyum Alea mengembang sempurna diiringi anggukan bangga, "Aku orang yang konsisten. Kamu sendiri masih konsisten nggak sama mimpimu?" Ilham menjawab tanpa ragu. "Ya, mimpiku juga masih sama. Menikah dengan kamu." Jantung Alea berhenti berdetak dan pipinya memanas. "Aku kan sudah bilang nggak mau menikah dengan pengacara!"
View MoreBacaan salam dari imam masjid terdengar, menggema di dalam bangunan yang tampak megah ini dan mengalun indah hingga beberapa jauh ke luar, menandakan selesainya dilaksanakan sholat ashar.
Beberapa jemaah mulai beranjak, membelah diri dari rapatnya shaf sholat setelah sang imam selesai menutup sempurna ibadah tersebut dengan dzikir dan doa. Ada yang langsung meninggalkan tempat, mengasingkan diri untuk melanjutkan ibadah lain dan khusus jamaah perempuan, condong ke satu kegiatan, mengganti mukena kembali dengan hijab, sama seperti yang tengah Alea lakukan. Dengan atasan sweater rajut oversize yang tebal berwarna coklat tua, berpadu rok panjang putih tulang yang tampak senada dengan hijab pashmina nya, membuat pembawaan gadis berstatus mahasiswa semester akhir itu terlihat feminim dan tenang dalam waktu bersamaan. Alea tak butuh waktu lama untuk membenahi penampilannya, hijab pashmina yang ia kenakan hanya dililit sederhana dengan satu sisi diatur menutup dada dan sisi lainnya ia biarkan menjuntai kebelakang bahu. Selesai dengan hijabnya, Alea beralih merapikan mukena miliknya, melipatnya dengan rapih lalu memasukkan kembali ke tempatnya dan beranjak ke luar. Suasana masjid sore itu tampak cukup ramai dengan beberapa kumpulan mahasiswa baik di dalam mau pun di emperannya, masjid ini memang cukup dekat dengan kampus jadi memang menjadi salah satu opsi yang paling banyak di tuju para mahasiswa untuk menunaikan ibadah. Namun ditengah ramainya tempat itu, Alea yang tengah mengenakan sepatunya justru teralihkan pada satu objek. Pada seorang pria di sudut teras masjid yang terasa sangat tidak asing namun tak bisa ia pastikan juga kebenarannya. Alea menyelesaikan ikatan tali sepatu putihnya dengan cepat tanpa mengalihkan perhatian dari pria berkemeja hitam kotak-kotak itu, dengan mata menyipit ia mencoba memusatkan tatapannya lagi, memastikan apakah dia benar-benar Ilham. Dengan rasa penasaran yang membuncah, Alea mencoba beranjak mendekat, sedikit ragu tapi juga ingin tahu. Dan ketika jarak mereka semakin dekat, keyakinan Alea perlahan meningkat. Senyumnya bahkan tercetak pelan. Pria yang ia kenali sebagai teman kecilnya itu, tampak sibuk merogoh isi ranselnya tanpa teralihkan oleh kehadiran Alea. "Ilham?" Panggil Alea, namun pria itu sama sekali tak merespon. "Hei, kamu Ilham kan?" Tanya Alea lebih jelas, kali ini pria itu merespon sedikit dengan lirikan tapi hanya sekedar itu kemudian dia kembali pada ranselnya. Bahkan bukan sekedar merogoh lagi, melainkan mengeluarkan semua isi ranselnya dengan tergesa, seolah tengah mencari sesuatu. "Ilham. Hei, ini aku. Kamu nggak ingat aku?" Coba Alea lagi. "Nama kamu Ilham kan? Heiii." Kali ini Alea justru mendapat lirikan sinis, pria yang tiba-tiba bermandikan keringat itu menghela napas pelan, menatap Alea tanpa minat dan berucap, "Maaf Mbak, saya nggak kenal." Alea cengo, apa ia salah orang? Tapi pria itu tampak benar-benar mirip dengan Ilham, teman masa kecilnya. Dan jika benar, lantas bagaimana mungkin dia bisa dengan gampangnya melupakan Alea? Mereka baru tidak bertemu sekitar tujuh tahunan, ya... Itu bukan waktu yang singkat tapi Alea saja bisa mengenalinya, kenapa Ilham justru tidak? "Ini aku Alea, masa kamu lupa sih?" Kekeh Alea mencoba mengenalkan diri, berharap Ilham akan mengingatnya, setidaknya namanya jika memang dia sudah lupa wajahnya. Tapi ia tetap tak dapat respon apapun dan pria itu justru segera beranjak pergi setelah memasukkan kembali barang-barangnya. Tanpa melihat sedikit pun pada Alea. "Yang benar ajah tuh anak." Keluh Alea melihat Ilham menjauh. Ia sama sekali tak salah orang, pria itu sangat amat mirip dengan Ilham dari segi mana pun, meski perawakannya sedikit berbeda karena sudah lebih dewasa tetapi ia sangat percaya diri dengan ingatannya. Pertanyaan lain muncul dalam benak Alea, kenapa pria itu bisa ada di kota ini? Apa Ilham juga kuliah disini? Kalau iya, bagaimana mungkin mereka sebelumnya tak pernah saling bertemu? Saat Alea masih sibuk dengan semua kemungkinan tentang Ilham, pria tadi justru sudah tancap gas meninggalkan pekarangan masjid dengan motornya. Apa Alea salah orang? Tapi rasanya tidak mungkin. Rasa penasaran Alea tertahan bahkan saat ia sampai di rumah, pikirannya yang akhir-akhir ini kalut dan di penuhi dengan tugas akhir justru teralihkan sepenuhnya pada Ilham, teman kecil yang terakhir kali ia temui saat lulus SMP. Bahkan keesokan paginya saat sarapan, ia segera menceritakan perihal pria yang ia temui itu pada Bundanya. Amira, Bundanya merespon dengan tenang, "Mungkin cuma mirip sayang. Kalau pun kalian selama ini satu kampus, masa nggak pernah ketemu sama sekali." Itu juga yang Alea pikirkan, tapi itu sesuatu yang sangat memungkinkan juga bukan? Mereka mungkin saja beda jurusan dan jelas, kemungkinan untuk tidak saling bertemu adalah sesuatu yang sangat bisa terjadi. Mahasiswa di kampusnya ada ribuan orang, bahkan pun teman sekolahnya dulu yang jelas ia tahu kuliah di tempat yang sama hanya pernah bertemu dengannya dua atau tiga kali, apa lagi Ilham yang sama sekali tak ia tahu ada disana. "Lagian, kalau itu Ilham, mustahil dia nggak kenal kamu." Tambah Bundanya. Alea jadi semakin kepikiran, keinginannya untuk membuktikan itu Ilham atau bukan semakin besar. Jadi hari ini, ia menarik Sarah, teman akrabnya di kampus yang selama beberapa waktu ini menghabiskan waktu dengan skripsinya di toko bunga, keluar untuk menjelajah kampus. Berharap bisa bertemu Ilham lagi, walau sedikit ragu apakah Ilham benar-benar kuliah disana juga atau tidak. Namun setelah berkeliling ke beberapa fakultas hasilnya nihil, mereka tak menemukan apapun. Bahkan sampai Mas Alif, suami Sarah mengabari sudah di depan menjemputnya pun mereka sama sekali tak dapat petunjuk barang secuil. Ya, Alea akui, tindakannya memang terkesan konyol dan tak banyak perhitungan tapi Sarah tetap mau saja mengikuti ajakan asalnya. "Nanti besok kita cari lagi." Seru Sarah terakhir kali sebelum menaiki boncengan sang suami. Memberi dukungan pada Alea yang sebelumnya tak pernah se semangat ini mencari seseorang, terlebih itu pria. Alea melambaikan tangan, membalas ucapan Sarah sebelum dia pergi. Di depan kampus, ia berdiri dengan sisa keyakinannya akan pertemuan kembali dengan Ilham. Apalagi matahari sore mulai terasa memancar lembut, dan disekelilingnya beberapa mahasiswa juga perlahan meninggalkan halaman kampus. Mungkin Bundanya benar, dia hanya orang yang mirip, kalau itu Ilham, mustahil dia tidak mengenali Alea bukan? Tapi saat Alea hendak berbalik menuju parkiran mengambil mobilnya, sebuah motor matic hitam yang sangat mirip dengan motor yang dikendarai Ilham kemarin membela kerumunan mahasiswa lain di hadapannya. Tatapan Alea tanpa sadar mengikuti arah motor yang dikendarai pria dengan outfit serba hitam itu, hingga suara tabrakan menggema memecah riuh obrolan mahasiswa dan kendaraan lain yang berlalu lalang. "Ilham?""Nggak usah Tante, aku masih punya simpanan kok." Tolak Ilham mendorong kembali ponsel Amira dengan gerakan sopan.Alea segera menatap Ilham dengan tatapan protes, tapi Ilham tidak menghiraukannya. "Aku akan minta bantuan Tante kalau memang aku butuh."Amira bertukar pandang dengan Alea kemudian mengangguk, "Ya sudah, tapi kamu janji ya, jangan sungkan sama Tante. Kapan-kapan kalau ada waktu luang, mampir juga ke rumah.""Insya Allah Tante."Bertemu kembali dengan Alea seakan merubah banyak hal dari hidup Ilham, bahkan teman-temannya pun bisa melihat perubahan itu. Sikapnya jadi lebih hangat, lebih sering tersenyum dan terkesan punya semangat hidup.Di bandingkan dulu, Ilham seolah menjalani hidup tanpa tujuan, hanya sekedar menjalani hari dengan rutinitas yang sama. Abu-abu tanpa warna terang atau cerah.Tapi bukan hanya dia, Alea pun nyatanya sama. wajahnya tampak berseri setiap hari. Mereka seakan menemukan alasan yang bisa me
Langkah Alea tertahan, tatapannya terkunci pada Ilham yang juga tampak terkejut dengan keberadaannya di sana.Ilham yang ada di hadapan Alea saat ini jauh berbeda dengan Ilham yang ditemuinya kemarin. Pria itu tampak lusuh dengan wearpack yang penuh oli dan tangan hingga wajah berlumur kotoran mesin.Bahkan rambut hitam legam dengan potongan mullet yang sebelumnya tertata dengan rapih, kini terlihat agak berantakan dan lepek oleh keringat.Keterdiaman keduanya lalu disela oleh salah satu montir lain, ia menyapa Sarah dan memberitahu bahwa mobilnya sudah selesai."Aku kesana dulu," ucap Sarah sebelum mengikuti montir yang menangani mobilnya dan meninggalkan mereka berdua.Alea mengangguk dan tatapannya kembali pada Ilham begitu Sarah pergi, pria itu sendiri sudah beranjak mendekat sambil melepas kaos tangan putih di tangannya."Kamu kerja di sini juga?""Iya." Jawab Ilham menyeka keringat dengan lengan kirinya, membuat sa
Ilham menggeleng lesu, "Nggak ada petunjuk, mungkin memang harus beli yang baru.""Pake punya gue aja, gue juga nggak terlalu ngejar wisuda tahun ini. Santai." Seru Dodit tanpa beban.Mereka tahu betul bagaimana posisi Ilham sebagai mahasiswa dengan status penerima beasiswa penuh, ia tentu harus bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.Tapi dengan hilangnya laptop pria itu menjadi hambatan yang lumayan besar, apalagi skripsi Ilham sudah memasuki bab akhir.Untungnya Ilham masih punya salinan kasarnya jadi ia tidak terlalu pusing, setidaknya untuk mengetik ulang puluhan lembar penelitian itu jauh lebih baik ketimbang harus melakukan penelitian ulang.Ilham tak lagi tinggal lebih lama untuk mengobrol dengan mereka, ia pamit naik ke kamarnya lebih dulu, ingin segera mengistirahatkan tubuh.Namun bukannya langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, Ilham justru beralih mengecek ponsel lebih dulu.Ada satu notifikasi pesan baru yang masuk beberapa menit lalu dari Alea, gadis itu menanya
"Ada banyak profesi lain yang bisa di pilih, kuliah hukum bukan berarti menjamin profesi ku akan sama seperti Papah dan Ayah kamu." Jelas Ilham lebih banyak, mencoba mendapatkan kepercayaan Alea. "Tapi sama aja kan?" Lirih Alea mengangkat pandangan, menatap Ilham dengan raut wajah cemas. "Apapun tentang hukum, buat aku itu sama berbahayanya Ham. Tetap harus berurusan sama kriminal, sama orang-orang jahat dan bermasalah." "Aku pernah janji sama kamu nggak akan berakhir seperti mereka kan? Percaya sama aku." Ilham mencoba membangun kepercayaan gadis itu, karena sejujurnya tanggapan Alea sekarang adalah hal yang paling ia takutkan dari sejak awal ia memutuskan masuk jurusan tersebut. "Kenapa harus hukum?" Ilham menyandarkan tubuhnya di kursi, "Papah yang minta." Singkatnya. Alea tak lagi menambah pertanyaan, kalau sudah urusan orang tua, jelas Ilham tak akan melawan dan Alea juga paham itu. "Aku turuti permintaan Papah kuliah hukum tapi nggak dengan jadi pengacara Lea." Tamba
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.