مشاركة

BAB 8

مؤلف: Dhia Dharma
last update تاريخ النشر: 2026-04-23 18:00:08

Ilham menggeleng lesu, "Nggak ada petunjuk, mungkin memang harus beli yang baru."

"Pake punya gue aja, gue juga nggak terlalu ngejar wisuda tahun ini. Santai." Seru Dodit tanpa beban.

Mereka tahu betul bagaimana posisi Ilham sebagai mahasiswa dengan status penerima beasiswa penuh, ia tentu harus bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Tapi dengan hilangnya laptop pria itu menjadi hambatan yang lumayan besar, apalagi skripsi Ilham sudah memasuki bab akhir.

Untungnya Ilham masih punya salinan kasa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 17

    Meski Ilham tak punya barang mewah tapi ia cukup tahu berapa harga barang yang Alea kasih hanya dari nama brandnya.Ia memasukkan kotak itu lagi dan mengembalikannya pada Alea, "Kasih aku hadiah yang nilainya sama saja dengan buket itu, jangan barang mahal."Bukan berarti Ilham tidak menghargai pemberian Alea tapi ia hanya merasa tidak layak, karena bahkan barang yang diberinya jauh dari kata sebanding dengan barang itu."Kalau kamu menganggap hadiah dari aku itu mahal karena harganya, maka buat aku buket ini jauh lebih mahal karena usaha kamu untuk bisa membuatnya.""Itu nggak sebanding.""Memangnya kamu pernah buat buket untuk perempuan lain?" Todong Alea."Ya enggak lah, tapi tetap ajah_""Kalau gitu, aku hargai buket ini dengan jaminan khusus." Alea menatap Ilham tepat di maniknya, "Jadikan aku satu-satunya perempuan yang kamu buatkan buket, jangan ada orang lain lagi."Ilham mengalihkan pandangan ke depan, "Tanpa kamu minta pun aku akan ngelakuin itu," timpalnya membuka kembali k

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 16

    Karena kosan milik Ilham cukup kecil untuk menampung Papah dan adik-adiknya jadi saat mereka datang, Ilham menyewakan penginapan untuk mereka. Tetapi mengetahui hal itu, Bunda mengajak mereka untuk menginap di rumahnya malam ini. Memanfaatkan momen langka itu, Gina dan Indah menghabiskan malam di sana dengan banyak mengobrol bersama Alea di kamarnya. Tak hanya itu, Alea bahkan meminta mereka untuk memilih barang-barang miliknya yang kedua gadis itu suka. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris bahkan sampai buku-buku koleksinya. Semua di bebaskan pada keduanya jika memang ada yang mereka ingin ambil. Alea sebenarnya ingin sekali mengajak mereka berbelanja tetapi waktu tidak memungkinkan karena rencananya besok mereka sudah akan pulang. Hal itu karena Gina sudah kelas tiga SMP dan Indah kelas enam SD, jadi mereka tidak boleh izin terlalu lama. Di tengah kegiatan itu, Alea yang begitu bahagia menyaksikan mereka sibuk mencoba barang-barangnya teralihkan sedikit kala ponselnya berdentin

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   Bab 15

    Setelah perjuangan panjang untuk bisa menyelesaikan skripsi dan sidang, hari ini sepertinya para mahasiswa semester akhir sedang bersuka ria menyambut hari kelulusan mereka.Dengan mengenakan toga hitam, para wisudawan dan wisudawati berkumpul di aula kampus di saksikan secara langsung oleh wali mereka sebagai perayaan kelulusan sarjana strata 1.Moment yang paling di nanti-nantikan Alea dan yang lain tentu saja, meski kelulusan ini bukan akhir dari perjuangan mereka tetapi justru baru menjadi awal dari langkah panjang untuk terjun ke dunia yang sebenarnya.Dunia dimana seseorang sudah harus mulai belajar untuk mengambil peran penting dan juga tanggung jawab akan dirinya sendiri.Namun di tengah suasana bahagia dan haru itu, ada secuil perasaan lain yang mencuat secara tiba-tiba dalam hatinya.Di ruangan besar ini, ada moment dimana Alea merasa sebagian dalam hatinya terasa kosong.Merasa bahwa perayaan yang dinanti-nantinya ini terasa tidak lengkap, sama seperti saat merayakan kelulu

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 14

    Sekitar jam setengah sepuluh pagi, Alea sampai di toko bunga. Ia turun dari mobil dengan senyum cerah kala melihat motor milik Ilham sudah terparkir rapih di depan tokonya.Pria itu tidak bisa di ragukan lagi sikap pekerja kerasnya, Alea sudah memberitahunya untuk datang di jam sepuluh tapi ia malah sampai di sana lebih dulu."Assalamu'alaikum," ucap Alea kala memasuki toko."Wa'alaikumussalam," salamnya langsung di sambut oleh kedua karyawannya yang sedang sibuk menata bunga baru, juga oleh Ilham yang tampak sedang melakukan hal yang sama.Melihat kesibukan pria itu, Alea beranjak mendekatinya. "Ngapain kamu?""Aku bantuin mereka," kata Ilham mengulas senyum tipis.Salah satu karyawan disana segera menjelaskan, "Tadi kami sudah larang Mbak, tapi Mas Ilhamnya tetap mau bantu.""Aku bosan cuma duduk dari tadi Lea," kata Ilham lagi."Dia ini tangannya memang gatal kalau lihat orang kerja tapi dia nggak ngelakuin apapun," canda Alea pada kedua karyawannya.Ilham lalu melanjutkan kegiatan

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 13

    "Om benar-benar menantikan kamu untuk bergabung bersama di firma hukum kami," lanjut Dimas dengan senyumnya yang masih bertahan. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Om." Kata Ilham sopan. Ia melirik Alea sebentar sebelum melanjutkan, "Hanya saja, saya mungkin tidak akan lanjut jadi pengacara, Om." Senyum Dimas seketika luntur, "Loh, kenapa Ham?" "Dulu Papah mu itu pernah cerita kalau dia mempersiapkan kamu untuk bisa jadi penerusnya." "Saya lebih tertarik lanjut notaris, Om." Terang Ilham tenang. "Apa Papah mu setuju?" Ilham mengangguk pelan,"Insyaa Allah Papah mendukung apapun keputusan saya, Om." Tapi Dimas tak berhenti begitu saja, ia menjelaskan perbandingan tahap dan proses diantara kedua profesi itu. Dimana profesi notaris masih butuh waktu yang lebih lama dan juga biaya yang di perlukan tentu saja akan jauh lebih banyak lagi ketimbang memilih jalur profesi advokat. "Dan yang paling pentingnya, ada Om yang bisa bantu kamu sepenuhnya jika kamu memang bersedi

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 12

    Suasana masjid sore itu tampak ramai oleh beberapa orang yang sedang berteduh sembari menunggu hujan reda. Meski tak terlalu deras, tetapi hujan yang turun cukup untuk bisa membuat siapapun yang berani menerobosnya basah kuyup. Karena itulah, beberapa jamaah yang telah melaksanakan sholat memilih untuk menunggu sejenak, termasuk Alea. Gadis itu berdiri di bibir teras sebari menadah air hujan dengan tangannya, sesekali ia mendongak ke atas memperhatikan butiran air yang turun dari langit. "Katanya, salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah saat turun hujan," ucap Ilham yang tanpa ia sadari sudah berdiri di sampingnya, ikut menatap langit yang kerkabut awan gelap. Alea meliriknya sekilas lalu kembali melakukan hal yang sama, tapi kali ini ia menarik tangannya dari rintihan hujan. "Hujan dan ba'da ashar, perpaduan yang sempurna." Kata Alea menimpali. "Apalagi ini hari jum'at, momentum double berkah." Keduanya diam sejenak, memanjatkan doa dalam hati. Doa yang tentun

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status