Compartir

Bab 44. Gaun Sekuin

Autor: Clau Sheera
last update Fecha de publicación: 2025-05-09 12:36:05

Maura dan Dewangga sama-sama bungkam di sepanjang perjalanan hingga mobil yang mereka tumpangi tiba di depan rumah.

Dewangga mematikan mesin mobilnya dan bersandar diam sambil mencengkeram kemudi, sementara Maura menatap rumah yang tak seperti rumah.

Tentu saja. Itu rumah Dewangga, bukan rumahnya.

Dia hanyalah orang yang menumpang di sana, yang terpaksa Dewangga terima karena status pernikahan mereka.

Tapi status hanyalah status. Pernikahan mereka yang akan berakhir sebentar lagi, menyadarkan M
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 125. Tamu

    Selepas turun dari London Eye, Maura bergegas menyusuri sungai Thames dengan langkah kecil yang cepat menuju apartemen. Sesekali dia menoleh ke belakang, ke arah Dewangga yang berjalan cukup jauh darinya namun terasa seperti mengikutinya.Kue bomboloni, bahkan tiramisu yang sempat diidamkannya tadi menguap dari pikiran. Yang ada di pikirannya sekarang adalah segera pulang.Maura mendecih, kesal. Wanita itu menghentikan langkahnya di dekat bangku kayu di pinggir sungai Thames sambil melipat kedua tangannya di dada. Saat Dewangga melintas di depannya, dia semakin kesal karena berpikir Dewangga tak tahu malu dengan mengikutinya setelah permintaannya tempo hari ditolak.“Kamu ngikutin aku, ya?” keluh Maura saat Dewangga sekitar lima langkah melewatinya.Dewangga berhenti dan menoleh ke belakang.“Ngikutin? Kenapa aku ngikutin? Aku mau pulang,” jawab pria itu dengan ekspresi wajah sedikit bingung yang Maura benci.“Pulang? Pulang ke mana? Orang dari tadi kamu ngikutin,” keluh Maura sambil

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 124. London Eye

    “Nyonya, pria tidak bercerita. Bos juga sama,” kata Zefan perlahan. “Pria itu, kalau ada masalah biasanya diselesaikan diam-diam. Kalau masalahnya di luar kendali kayak waktu itu, seorang pria akan merasa gagal. Itulah yang bos rasakan, Nyonya.”Maura menatap keseriusan di wajah Zefan.“Meski nggak kelihatan, tapi bos sebenarnya menyalahkan dirinya sendiri. Nyonya nggak tahu, kan, kalau bos diam-diam menempatkan penjaga di sekitar rumah Nyonya? Bos menyalahkan dirinya sendiri. Katanya, kalau dia menempatkan penjaga lebih banyak lagi, mungkin anak itu masih ada. Mungkin tinggal menunggu kelahirannya, bahkan mungkin dia udah lahir.”“Udah, cukup!” pinta Maura dengan emosi yang tiba-tiba naik. “Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Intinya kamu lagi mendukung Dewangga, kan? Karena dia bos dan sahabat kamu, kan? Kamu pengen aku maafin dia?”“Bos kan nggak salah tentang kejadian itu, Nyonya. Meski diam, tapi dia nunggu anaknya lahir sampai-sampai membeli beberapa keperluan bayi kayak—”“Cukup, Z

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 123. Kunjungan Zefan

    Pagi hari di akhir pekan, Maura tengah berjalan-jalan bersama Ruslan sambil menikmati sepotong roti panggang yang dibeli ayahnya sebelum kafe buka sekitar satu jam lagi.“Papa, gimana urusan pekerjaan Papa?” tanya wanita itu. “Rasanya seneng banget bisa jalan-jalan bareng Papa kayak gini.”Ruslan yang tangannya digandeng tersenyum lembut. “Pekerjaan papa lancar. Papa juga senang kita ada waktu buat jalan-jalan. Kamu udah ketemu Dewangga? Dia datang ke sini, buat menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat papa bekerja. Dia akan jadi partner proyek yang sedang papa kerjakan.”“Oh, ya?” Maura mengunyah rotinya yang tiba-tiba terasa seperti spons keras. “Dia datang ke kafe dua hari lalu dan minta buat rujuk.”“Lalu apa jawaban kamu?”“Aku bilang … aku nggak mau,” jawab Maura.“Apa alasannya? Apa boleh papa tahu?”“Yah.” Maura mengedikkan bahunya sambil menarik napas panjang. “Aku cuma nggak mau kembali.”Ruslan mengangguk mengerti.“Papa lihat, dia pernah mengikutimu waktu kamu lagi jal

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 122. Permintaan Dewangga

    Angin dari arah sungai Thames bertiup lembut pagi itu.Maura tengah berjalan-jalan setelah membuka kafe yang dijaga dua orang karyawannya. Kebetulan, pelanggan masih sepi, jadi dia memiliki waktu sebentar untuk menggerakkan tubuhnya sambil mencari kudapan lezat yang tak dijual di kafenya.Sesekali wanita itu menoleh ke belakang, merasa ada seseorang yang memperhatikannya, namun orang-orang yang dilihatnya hanyalah orang asing yang tengah menikmati pemandangan sungai.Maura berjalan lagi sampai ke dekat London Eye. Dia diam sebentar melihat kincir ria raksasa itu. Ada beberapa orang yang sedang mengantri untuk menaiki kapsulnya di sana. Dia belum pernah ke sana sejak tiba di London dengan ayahnya. Haruskah dia ikut naik?Maura menggelengkan kepalanya. Dia segera berbalik dan menyusuri pinggiran sungai untuk kembali ke kafe.“Lain kali aja, kalau waktunya luang biar leluasa,” gumamnya perlahan.***Pekerjaan di kafe berjalan lancar hingga siang.Siang hari itu, Maura pergi ke dapur bela

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 121. Kesimpulan Narendra

    Laura tersenyum kaku sambil diam-diam mengepalkan tangannya.“Meski aku bukan ibu kandungmu, tapi aku yang mengurusmu sewaktu kecil, Dewangga,” katanya tak terima. “Masa iya kamu kayak gini ke mama?”“Yang benar-benar mengurusku cuma oma Ambar dan bibi pengasuh,” jawab Dewangga.“Kamu lupa? Setiap mama belanja, pasti mama akan ajak kamu, kan?” ujar Laura, meminta pengakuan.“Ya, itu karena Anda ingin berbelanja dengan puas. Dengan mengajakku, Anda bisa memakai black card milik kakek dan bisa Anda pamerkan pada teman-teman Anda,” jawab Dewangga dengan sorot mata tajam. “Anda lupa? Ketika Anda tengah asyik berbelanja, Anda selalu meminta saya menunggu berjam-jam di sofa toko sendirian. Pernah juga Anda meninggalkan saya di mall. Masih beruntung saya bisa pulang sendiri dengan menaiki taksi.”Senyum Laura pudar. Kejadian itu sudah sangat lama berlalu tapi Dewangga ternyata masih ingat jelas. Bahkan dia sendiri sudah hampir lupa.“Tapi Dewangga, mama udah bikin janji sama Sandrina. Temui

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 120. Provokasi Laura

    Sore itu menara Big Ben terdengar berdentang lima kali dari kejauhan, tanda waktu sudah pukul lima sore.Maura tengah menikmati segelas minuman cokelat hangat dan semilir angin yang berhembus perlahan di sisi sungai Thames sambil melihat pemandangan tower bridge yang cukup ramai dan beberapa kapal pesiar yang melintas.Wanita itu merapatkan jaketnya. Meski sudah tinggal beberapa bulan di sana, dia masih belum terbiasa dengan suhu udaranya yang lebih dingin dari suhu udara di Indonesia.“Mau pancake?” tanya Narendra sambil mendekat dan menyodorkan sebuah pancake panas yang dibungkus kertas roti.“Makasih.” Maura tersenyum sambil menerima pancake itu.Narendra tersenyum sambil menatap kapal pesiar di depan mereka. “Kalau menikmati afternoon tea sambil berlayar kayaknya enak, tuh.”“Males, ah,” jawab Maura sambil menggigit kuenya.Narendra terkekeh geli. Sudah berapa kali wanita itu menolak ajakannya entah apapun itu? Meski cuma menaiki London Eye berdua atau ke tempat manapun yang dia m

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 31. Ruang Makan

    Maura menyeka matanya dengan kasar, kemudian mendorong dada Dewangga padahal wanita itu masih ada dalam gendongannya. “Kamu akan jatuh kalau mendorongku seperti itu, Maura,” peringat Dewangga sambil menatap Maura tajam. "Turunkan aku, Dewangga," pinta Maura. Bukannya menurunkan wanita itu, Dewang

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 30. Pusaran Rasa

    Maura menahan napasnya ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan teras. "Mereka semua keluargamu?" tanya Maura dengan perasaan cemas. Dewangga mengangguk. "Bersikaplah seolah-olah kamu mengenal mereka semua. Aku dan Naren akan berusaha membantumu agar tak ada yang tahu bahwa kamu

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 29. Rumah Oma Ambar

    Maura menatap Dewangga dengan pandangan takut. Ingatannya satu lagi perlahan datang, namun semuanya hanya ingatan buruk. Ingatan kali ini lebih jelas dari ingatan lainnya, seolah baru terjadi kemarin. Maura ingat bagaimana wajah Dewangga yang sangat marah ketika dia menjambak Alena di masa lalu kar

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 28. Jangan Mendekat

    Maura meremas sisi pakaiannya. Pikirannya kosong dalam beberapa detik. Detik kemudian jantungnya berdegup lebih kencang, sehingga membuat darahnya berdesir panas dan dingin. "De-Dewangga." Maura mendorong tubuh pria itu sehingga ciuman mereka terlepas, namun sedetik kemudian pria itu memperdalam

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status