Home / Lainnya / Secret Of The "Black" / 5. Destiny Of Love

Share

5. Destiny Of Love

last update Last Updated: 2021-11-23 19:33:34

Hye Jin menghempaskan tangan Polisi itu dengan kasar, kedua matanya menatap berani. Ia tidak terima. “Tadi Anda tidak menjawab pertanyaan saya, dan sekarang menarik tangan saya dengan kasar. Apakah Anda tidak keterlaluan memperlakukan masyarakat seperti itu? Apakah Anda tahu? Saya melakukan ini untuk bertahan hidup! Bertahan pada pekerjaan yang sangat sulit ini!” serunya lantang dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

Walau keringat membanjiri wajah gadis itu, dia tetap berdiri tegak melawan Polisi di hadapannya. “Seharusnya Anda menjawab pertanyaan saya tadi, jadi saya tidak perlu melangkah ke sini!” bentaknya sambil menyeka keringat yang mulai jatuh dari pelipisnya.

Polisi itu terdiam, menatap gadis di hadapannya dengan tatapan kosong. “Terserah kau saja!” katanya, kemudian berlalu meninggalkan aroma Menthol yang menyengat.

Deru napas Hye Jin menjadi tak karuan, perasaannya diporak-porandakan dalam hitungan menit. Walau emosinya belum mereda, gadis itu tetap melanjutkan pekerjaannya. Dia berdiri tepat di depan truk tersebut saat tiba-tiba suara gemuruh mengusik telinganya. Dirinya terdiam, kedua matanya terpaku menatap kendaraan besar itu tanpa berkedip. Saat suara gemuruh terdengar semakin keras, seseorang kembali berlari ke arahnya.

Ya! Kembali ke sini!” teriak Polisi itu sambil melambaikan tangannya.

“Kenapa dia berlari ke sini?” tanya gadis itu dalam hati.

Alih-alih melihat kondisi kendaraan di depannya, Hye Jin terpaku menatap Polisi tampan yang berlari kembali. Langkahnya perlahan menjauh dari truk tersebut saat kedua matanya mengartikan gerakan tangan pria itu, yang memintanya untuk menjauh. Kedua kakinya melangkah cepat, tetapi tidak dapat mengalahkan kecepatan cairan bocor di truk untuk bertemu percikan api di dalamnya.

DUAARRRRR …. Ledakan dari salah satu mobil memecah keheningan. Polisi itu melompat dan memeluk tubuh Hye Jin dengan erat. Ledakan yang keras melempar tubuh mereka hingga mendarat kasar di aspal.

Hye Jin membuka matanya perlahan, asap tebal menutupi penglihatannya. Ia terbatuk-batuk merasakan asap yang masuk paru-parunya. Kepalanya tertahan oleh tangan besar dan kuat seorang pria yang tersungkur bersamaan dengannya. Dirinya bisa merasakan deru napas yang berantakan, hangat dan harum. Saat menoleh, wajahnya tepat berada di depan dada Polisi itu. “K-kau … baik-baik saja, kan?” tanyanya sambil menyentuh pelan wajah sosok tampan di hadapannya itu.

Kim Won Seok membuka matanya dengan lebar, matanya langsung mengarah pada truk yang terbakar hebat di depan. Tanpa aba-aba ia menyingkirkan kepala gadis itu dari tangannya, dan berusaha bangkit dengan sekuat tenaga. “Saya minta maaf!” ucapnya tiba-tiba sambil menggendong Hye Jin dengan gaya bridal untuk keluar dari TKP. Ia berlari dengan cepat untuk menghindari ledakan kedua yang mungkin saja terjadi.

“Aku tidak apa-apa! Tidak perlu digendong!” kata Hye Jin sambil memukul dada Polisi itu. Ia bisa merasakan otot kekar dan terbentuk sempurna dari balik seragam itu.

“Langkahmu sangat lambat! Jadi daripada kena ledakan kedua, lebih baik aku menggendongmu!” jawabnya saat menurunkan tubuh gadis itu di sebuah Halte yang jauh dari TKP.

“Kau bisa pulang sendiri, kan?” tanya Polisi itu sambil memeluk sebelah tangannya di dada.

Hye Jin menangkap tangan Won Seok yang dilindungi di depan dada, dengan asal ia menarik tangan itu, dan mendapati luka goresan cukup panjang di sana. Darah segar juga mengalir di sana, hal itu membuatnya merasa bersalah. “Aku akan obati tanganmu sebelum pulang,” ucapnya tegas sambil mendudukkan tubuh pria itu di Halte.

“Tidak perlu! Kau pulang saja sana!” tolaknya sambil melangkah menjauhi Hye Jin. Dia menutupi lukanya dengan sapu tangan kotak-kotak berwarna cokelat.

Gadis itu mengejar langkah Won Seok, dan berdiri di hadapan pria itu untuk menghalangi langkahnya. “Berikan nomormu! Aku akan merasa bersalah jika tidak dapat menghubungimu lagi! Kau harus menghubungiku untuk meminta pertanggungjawaban.” Gadis itu menyodorkan ponselnya.

Polisi itu terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia mengetikkan nomornya di ponsel Hye Jin. “Aku tidak akan menghubungimu!” katanya sambil menyerahkan ponsel itu kembali pada Hye Jin.

Gadis itu segera melakukan panggilan ke nomor yang diketik di sana, dengan polosnya Won Seok menjawab panggilan tersebut. “Kau harus hubungi aku!” kata Hye Jin singkat, kemudian menutup panggilan itu.

“Terima kasih!” kata Hye Jin sambil menatap kepergian Won Seok yang semakin jauh. Tubuh kekar berseragam itu menjauh dan menghilang ditelan cahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Secret Of The "Black"   53. Love the Moment

    Hye Jin menata bunga mawar merah di vas, menggantikan bunga kamelia yang sudah layu. Bunga mawar merah dengan aroma yang menyegarkan sengaja dipilihnya untuk memberikan kesegaran di ruangan yang identik dengan aroma obat-obatan itu. Bibirnya melengkung setiap kali bunga-bunga itu tertata rapi, warna merah yang mencolok memberikan keindahan tersendiri.Vas bunga berisikan bunga mawar merah tersebut, sengaja diletakkan oleh Hye Jin di sisi jendela. Agar udara yang masuk ke dalam ruangan itu dapat menghantarkan aroma mawar ke seluruh penjuru ruangan.Gadis itu berdiri di pinggir jendela dengan tatapan kesal kepada Dong Joon yang sejak tadi menatap Hye Mi tanpa bergeming. “Ya! Park Dong Joon! Berhenti menatap adikku seperti itu!” tegurnya.Dong Joon melirik tidak peduli. “Nuna! Setelah kulihat-lihat seharian, ternyata Hye Mi lebih cantik daripada dirimu.”Gadis dengan pakaian Rumah Sakit berwarna putih dan biru, semul

  • Secret Of The "Black"   52. Grow Up!

    Musim dingin tahun ini berlangsung lama, semua orang berloma-lomba untuk bertahan di tengah-tengah suhu udara yang mencapai delapan derajat celsius. Makanan hangat menjadi pilihan utama yang selalu ada dalam deretan menu makan pagi, siang, dan malam. Musim dingin dilewati seperti biasanya.Bekas salju tadi malam memenuhi jalan raya hingga trotoar, petugas kebersihan mengerahkan tenaga lebih untuk membersihkan salju-salju tersebut agar tidak menghalangi pejalan kaki, atau pengguna jalan lain. Salju turun deras tadi malam.Musim dingin tahun ini, Hye Jin harus kembali menunjukkan wajahnya di media. Setelah sekian lama menjadi sosok di belakang layar, dengan tulisan-tulisan artikel yang baik. Sekarang dirinya kembali pada posisi semula. Ia berdiri pinggir lapangan luas bersama dengan para wartawan lainnya.Gadis itu merapikan kerah bajunya yang terlipat, memastikan tanda pengenalnya terpasang dengan baik, tatanan rambut pun dipastikan rapi untuk ditunjukkan di hada

  • Secret Of The "Black"   51. Park Hye Mi

    Setelah HanNews mengeluarkan surat pemberhentian Hye Jin dan Dong Joon, tempat bernaung untuk mereka hanya sebuah kafe di pagi hari, taman di siang hari, dan rumah di malam hari. Terlepas dari perusahaan, bukan berarti mereka bersantai-santai menikmati udara segar dengan secangkir kopi. Perjuangan belum selesai, setelah diketahui orang-orang di balik Black menghilang bak ditelan bumi.Jemari Hye Jin tidak berhenti menyebarkan informasi tentang Black, dengan gamblang ia menyebarkan wajah-wajah orang di balik organisasi illegal itu. Sejauh ini, dia tidak mengenal tombol backspace. Jari-jarinya bergerak tanpa ragu, tanpa kesalahan, seakan khatam tentang informasi organisasi kejam itu. Emosi masyarakat berhasil diaduk olehnya, semua orang ikut menghujat dan memaki orang-orang di balik organisasi itu.Dong Joon yang tumbuh dengan koneksi luas hingga mancanegara, memanfaatkan keuntungan itu untuk menyebarkan video wawancara ketiga gadis agar semua orang bisa ikut me

  • Secret Of The "Black"   50. Kang Dong Gu is a Problem

    Samar-samar terlihat nuansa putih atap ruangan yang luas, dinding kokoh dicat dengan warna yang sama. Aroma serbuk obat, hingga cairan yang entah apa namanya mulai mengusik hidung, ditambah aroma pengharum ruangan yang membikin perut mual. Hye Jin berhasil membuka seluruh matanya, hingga tampak seluruh ruangan itu. Tangannya yang kaku, bisa merasakan jarum infus yang menembus kulitnya, cairan-cairan di botol infus mengalir dengan baik ke dalam tubuh.Gadis itu menoleh menatap seseorang yang tertidur di samping ranjangnya. Seluruh tubuhnya yang lemah sulit untuk digerakkan, tetapi bibirnya bergerak tanpa aba-aba membentuk kurva.“Chagiya!” panggilnya pelan sambil mengelus kepala pria yang tergelatak lemah di ranjangnya.Won Seok terbangun dengan setengah kesadarannya. Pria itu memeluk tubuh kekasihnya dengan cepat setelah berhasil membuka mata. “Hye Jin-a! Kau baik-baik saja?” tanyanya mengelus kepala gadis itu.Hy

  • Secret Of The "Black"   49. Secret of the "Black"

    Kamar kosong dengan aroma debu yang menyengat, dipilih Hye Jin sebagai tempat untuk wawancara. Setelah mengerahkan sisa tenaganya untuk menyapu lantai yang berdebu, serta menyiapkan peralatan wawancara, ruangan itu tampak sempurna dengan cahaya yang terang.Ia sudah berada di balik laptopnya, sedangkan Dong Joon tengah bersiap-siap di belakang layar kamera. Ri Jin akan menjadi orang pertama, dan kini gadis itu sudah berada di posisinya. Duduk manis di atas kursi kayu, dengan tatapan yang mengarah pada kamera dengan berani. Walau dia tidak bisa menyembunyikan getaran gugup di tangannya.“Ri Jin-a, apakah kau sudah siap?” tanyanya memastikan dan dijawab dengan anggukkan pelan.“Song Ri Jin-Ssi, saya pernah melihat Anda bersama dengan Kim Jae Ha. Bisakah Anda jelaskan hubungan di antara kalian?” Mata Hye Jin tidak beralih sedikit pun dari Ri Jin, khawatir gadis itu merasa tertekan dan takut.Ri Jin menelan air liurnya kasar, kedua matanya t

  • Secret Of The "Black"   48. Lee Ji Ah Love Story

    Jalan setapak dengan belokan yang tajam, bebatuan memenuhi jalan yang hanya cukup dilalui oleh satu mobil. Nuansa hutan dengan pohon-pohon besar di kanan dan kiri. Jika matahari terbenam, lampu kendaraan adalah satu-satunya harapan untuk menelusuri jalan tersebut.Hye Jin memutar setirnya dengan kesal, mulutnya tidak berhenti mengutuk belokan tajam yang tiada habisnya. Ditambah kakinya yang pegal karena berkendara di jalan yang tidak mulus. Tangannya sesekali memukul setir, dan mulutnya berteriak setiap kali menemukan belokan lain.“Kenapa sih mereka harus menempuh jarak sejauh ini untuk bermesraan?” keluhnya lagi. Hanya demi berita kencan seorang aktris, Hye Jin harus menempuh jarak jauh, terperosok jauh dari nuansa kota.“Aku… telah membuang-buang waktu berharga hanya untuk mereka.” Hye Jin memarkir mobilnya di depan mini mart. Helaan napas panjang dengan udara malam yang segar, menemaninya rehat sejenak.Dia membuka lapto

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status